Bina Warga HKI adalah Majalah Dwi Bulanan yg diterbitkan oleh Kantor Pusat Huria Kristen Indonesia (HKI) yg berkedudukan di P. Siantar-INDONESIA. Bina Warga HKI berdiri dan edar cetak sejak Juni 1981. Majalah ini merupakan bagian dari program PWG yang setiap edisi Cetaknya berisikan Bahan Khotbah & Epistel, berita kegiatan, wawasan, IPTEK, & Ruang Teologia.
Showing posts with label Berita Kegiatan. Show all posts
Showing posts with label Berita Kegiatan. Show all posts
BERITA TERBARU KEGIATAN PUCUK PIMPINAN (Jumat - Minggu, 14-17 Oktober 2010)
I. Jumat-Sabtu, 14-15 Oktober 2010; 1. Kegiatan Rapat Kedua Majelis Pusat yang dilaksanakan bertempat di Rumah Doa Sola Gratia, Pancur Batu (Kamis, 14 Oktober 2010) dan Balai Pelatihan dan Pendidikan Dinas Kesehatan Pemprovsu, Medan (Jumat, 15 Oktober 2010). 2. Kegiatan Rapat diawali dengan ibadah yang dimpin oleh Sekjend HKI dengan pengkhotbah dibawakan Pdt. Halomoan dan Doa Syafaat oleh Pdt. MAE. Samosir. Dalam kotbahnya Pdt. Halomoan mengangkat perikop dari Injil Lukas 8:1-15 tentang Perumpamaan Penabur. Dalam penjelasan khotbah disampaikan bahwa secara nyata pengalaman yang diumpamakan Yesus sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi kalangan petani. Pada masa menanam, bibit yang dibawa dari rumah tidak seluruhnya akan sampai ke lahan dimana bibit akan ditanam. Ada bibit yang akan jatuh di sepanjang perjalanan ke lahan (sawah). Yesus menjelaskan bibit-bibit yang jatuh itu ke tempat-tempat yang berbeda seperti di jalan, bebatuan, semak-semak, dan benih yang memang jatuh di tempat semestinya yakni di lahan/sawah. Semua benih akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Yesus memberi arti dari pertumbuhan setiap benih adalah untuk mengumpamakan perihal Kerajaan Sorga. Dimana, bahkan para murid yang bersama Yesus masih memepertanyakannya, padahal sesungguhnya sebagai umatNya, kita sudah diberi kemampuan untuk memahami tentang Kerajaan Allah, berbeda bagi mereka yang tidak percaya tidak akan mampu memahaminya. Akan tetapi, kemampuan yang ada pada diri kita menjadi tidak berfungsi karena keberdosaan dan kekerasan hati kita. Mengenai benih yang jatuh di jalan, Yesus mau menjelaskan mengenai mereka yang bertobat setengah-setengah dan tidak teguh dalam imannya sehingga dengan mudahnya meninggalkan imannya. Dalam konteks bergereja hal ini juga terjadi, banyak yang mengaku sudah bertobat, datang beribadah ke gereja, namun sekeluar dari pintu gereja mereka tidak lagi mengingat Firman Tuhan sebagai makanan rohani bagi mereka. Banyak yang datang ke gereja hanya untuk mencari-cari kesalahan dan melihat yang kurang dari para pelayan dan sebaliknya pelayan terhadap jemaatnya, sehingga kuasa Roh Kudus tidak ada pada mereka. Bagaimana benih yang jatuh di bebatuan? Pertumbuhan benih ini tidak akan lama. Sikap seperti ini akan menghasilkan iman yang tidak teguh dan mudah terlepas dari akarnya, dengan adanya permasalahan-permasalahan kecil atau besar di gereja, mereka kemudian menarik diri dan bahkan meninggalkan gereja. Bahkan harta kepemilikan yang Allah berikan kepada merekapun dapat menjadikan mereka lupa kepada Allah yang memberikannya dan membawa mereka menjauh dari Tuhan. Tentu saja bibit yang jatuh di tanah yang subur (lahan/sawah) adalah mereka yang terus berdiri teguh di dalam iman dengan pelbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Lalu apakah tugas dan tanggungjawab kita sebagai pelayan? Tanggungjawab kita adalah bisakah kita menjadikan bibit-bibit yang jatuh pada tiga lahan buruk menjadi bibit yang baik dan bahkan lahan itu sendiri (bebatuan, semak, dan jalanan) bisa menghasilkan buah yang berlimpah dan berkualitas. Semoga lewat rapat kita kali ini, akan membawa manfaat dan perubahan bagi HKI sebagai lahan dimana bibit-bibit disemai dan ditanam. 3. Rapat Majelis Pusat kemudian dibuka oleh Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh (Ephorus). “Bapak-bapak kita puji syukur bagi Tuhan karena diperkenankan untuk melaksanakan Rapat Kedua Majelis Pusat HKI guna membicarakan segala sesuatu demi pengembangan HKI”. Ungkap Ephorus, yang dilanjutkan dengan pengetukan sela sebanyak tiga kali sebagai tanda sah pembukaan Rapat Kedua Majelis Pusat HKI. 4. Dilanjutkan dengan Pemilihan Pimpinan Rapat Kedua Majelis Pusat HKI. Pada kesempatan ini, dipilih oleh forum atas usulan Ephorus sebagai Ketua dan Sekretaris adalah Pdt. Janiandar Pasaribu dan St. M. Panjaitan. 5. Dengan diarahkan dan dipimpin oleh Pimpinan Rapat, Rapat Kedua Majelis Pusat HKI berjalan sebagaimana mestinya sesuai agenda rapat yang ada dan menetapkan beberapa keputusan penting untuk masing-masing bidang di HKI dengan pembagian komisi-komisi antara lain: Marturia; Koinonia; Diakonia; Bidang Umum; Bidang Keuangan dan Pembangunan; dan Anggaran. Rapat berakhir Sabtu, 16 Oktober 2010 pukul 4.00am dengan doa oleh
II. Jumat, 15 Oktober 2010 1. Pagi pukul 9.00am Pucuk Pimpinan bersama dengan rombongan diterima tatap muka dan audiensi oleh Sekda Pemprovsu, Bapak DR. RE. Nainggolan di ruang kerja beliau, dan dilanjutkan dengan audiensi dengan Bapak Gubernur Sumatera Utara, Bapak H. Syamsul Arifin Silaban, SE diruangan beliau di Kantor Gubernur Sumatera Utara. Untuk berita dapat di akses di http://hariansib.com/?p=146461. Pada kesempatan ini, Pucuk Pimpinan menguraikan beberapa hal pokok tentang HKI dan tujuan kehadiran Pucuk Pimpinan dan rombongan yang kemudian tidak lupa juga memperkenalkan rombongan yang hadir bersama-sama dengan Pucuk Pimpinan. Mulai dari hasil Sinode HKI Ke-59 pada bulan Agustus 2010; Pencanangan tahun 2011 sebagai tahun pengembangan bagi HKI dengan harapan bersama-sama dengan pemerintah HKI mampu mengembangkan pelayanannya untuk mengembangkan kesejahteraan umat juga; kerjasama HKI dengan Pemerintahan dalam mengupayakan masyarakat yang damai di tengah-tengah kepluralisan masyarakat Indonesia, khususnya di Sumatera Utara; hingga rencana renovasi gedung perkantoran HKI di Pematang Siantar. Untuk itulah besar harapan HKI adanya dukungan dari pemerintahan Sumatera Utara untuk merealisasikannya. Oleh Bapak DR. RE. Nainggolan kemudian menyampaikan ucapan syukur dan selamat atas terpilihnya Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh dan Pdt. M.P. Hutabarat, STh sebagai Ephorus dan Sekretaris Jendral HKI periode 2010-2015. Berangkat dari penjelasan Ephorus perihal mutasi pelayan di HKI, Pak RE. Nainggolan memberikan apresiasi dan menambahkan bahwa memang sudah semestinya pemutasian harus didasari analisa dan evaluasi organisasi atas aspek-aspek terkait dengan organisasi dan sumber dayanya. “Sudahlah sangat bijaksana apa yang direncanakan oleh Bapak Ephorus”, ungkap Pak RE. Nainggolan. HKI juga diharapkan sebagai motor penggerak di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan khususnya di Sumatera Utara dalam mempertahankan kesatuan dan kebersamaan masyarakat Sumatera Utara. Sangat tepat yang disampaikan Bapak SBY, Presiden RI bahwa SUMUT sungguh luar biasa karena bisa mempertahankan kerukunan di tengah kemajemukan masyarakatnya. Oleh karena itu, tidaklah mungkin akan dapat dipertahankan seperti apa yang disampaikan oleh Presiden kita, jika dalam kehidupan bermasyarakat kita memaksakan kehendak, kepercayaan dan keyakinan kita kepada orang lain dan hidup secara ekslusif. “Saya tertarik dengan lagu gereja “Aku tidak memandang Kau dari Gereja mana”, lagu ini dapat menginspirasi kita untuk mengembangkan kebersamaan membangun daerah untuk membentengi Sumut dari pengaruh-pengaruh tidak baik dan mengancam stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Lebih lanjut, Bapak RE. Nainggolan menceritakan pengalamannya bahwa sudah banyak orang yang mengatakan bahwa beliau sudah lama tidak memberi perhatian kepada pembangunan fisik gereja. Menurut beliau, sudah saatnya gereja-gereja berkonsentrasi untuk membangun sumber daya jemaat. Lewat pengembalaan yang mengangkat kesejahteraan umat, kehadiran gereja menjadi lebih nyata. Maka, secara otomatis jemaat juga akan memberikan konstribusinya bagi pembangunan gerejanya, dan ekses lebih luasnya lagi adalah dengan sejahteranya umat, maka para pelayanpun akan juga sejahtera. Hal ini bisa kita wujudkan misalnya dengan pengembangan koperasi-koperasi kecil (Credit Union) di kalangan jemaat sesuai dengan mata pencaharian mereka dan berdasarkan kemampuan masing-masing jemaat. Untuk agunannya, bisa saja digunakan keabsahan anggota mereka sebagai warga jemaat. HKI saat ini diharapkan harus mampu merespon pembangunan jemaat, sebab gereja yang utuh adalah jika jemaatnya utuh dan sejahtera secara jasmani dan rohani. Dengan demikian, HKI telah ikut memberikan konstribusinya untuk pembangunan kesejahateraan bangsa, khususnya Sumatera Utara. 2. Siang pukul 11.30pm, Pucuk Pimpinan bersama rombongan kembali diterima tatap muka dan audiensi dengan Gubernur Provinsi Sumatera Utara, Bapak H. Syamsul Arifin, SE di ruang kerjanya. Beberapa pesan yang disampaikan Gubernur antara lain adalah agar para pelayan HKI menjadi pelayan yang baik dan mengajak HKI sebagai Pilar Kedamaian di tengah-tengah kehidupan berbangsa, khususnya masyarakat Sumatera Utara. Gubernur pada kesempatan ini jug menyarankan agar memanfaatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk berdialog dan menerima masukan dari kalangan umat beragama lainnya, dilanjutkan dengan mengucapkan selamat atas terpilihnya Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh dan Pdt. M.P. Hutabarat, STh sebagai Ephorus dan Sekretaris Jendral HKI Periode 2010-2015 pada Sinode Ke-59 di bulaln Agustus 2010 lalu.
III. Sabtu, 16 Oktober 2010 Pagi pukul 10.00am Pucuk Pimpinan menggelar rapat bersama jajaran Praeses HKI bertempat di Balai Pelatihan dan Pendidikan Dinas Kesehatan Pemprovsu, Medan. Agenda rapat membahas anggaran pendapatan praeses dan sosialisasi hasil ketetapan Majelis Pusat HKI. Salah satu agenda terpenting adalah berkaitan dengan upaya dan strategi untuk merealisasikan sentralisasi keuangan di HKI mulai dari jemaat, resort, hingga daerah. Rapat yang dipimpin oleh Pucuk Pimpinan ini menghasilkan beberapa ketetapan di antaranya adalah anggaran pendapatan praeses yakni gaji dan tunjangan praeses. Rapat diakhiri pukul 5.30 pm dengan bernyanyi dan berdoa dipimpin oleh Ephorus.
IV. Minggu, 17 Oktober 2010 Pagi pukul 10.00am Ephorus memimpin Ibadah Minggu di Gereja HKI Patane Porsea sekaligus melantik Pdt. M.Togar Aruan, STh menjadi Praeses HKI Daerah III Tobasa periode 2010 – 2015 menggantikan Pdt. Salome Br. Nainggolan, STh (sekarang menjabat sebagai Majelis Pusat HKI). Dalam hotbahnya, Ephorus mengajak umat Tuhan untuk meneladani Paulus seperti perikop Khotbah yang diambil dari Pilippi 3: 17-21. Ephorus mengatakan umat kristiani hendaknya menjadi teladan yang pantas ditiru di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Lewat Firman Tuhan, Ephorus mejelaskan bahwa untuk membuat diri kita menjadi teladan dan tiruan sungguh-sungguh memerlukan iman kepada Tuhan Yesus yang menjadi teladan dan penyelamat manusia, karena dengan iman maka Tuhan Yesus lewat roh kudus akan memampukan kita menjadi teladan di tengah-tengah keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Ephorus mengatakan, hendaknyalah umat Kristiani tidak membuat kebutuhan perut menjadi Tuhan agar dia mampu menjadi tiruan dan teladan dalam kehidupan, “Memiliki harta duniawi adalah penting tetapi yang terpenting adalah berperangai sebagaimana diajarkan Yesus sehingga harta sorgawi juga menjadi milik kita,” sebut Ephorus. Hadir dalam kebaktian itu Bupati Tobasa Kasmin Simanjuntak dan istri, Wakil Bupati Liberti Pasaribu SH MSi, Ketua DPRD Sahat Panjaitan, Pelaksana Sekda Ir Saibon Sirait, Asisten I Drs Rudolf Manurung dan para pejabat teras Pemkab Tobasa. Undangan lainnya yang hadir antara lain Direktur PT TPL Juanda Panjaitan SE dan istri didampingi Lambertus Siregar dan para jemaat HKI se daerah Tobasa.
Sebelum kebaktian ditutup, Ephorus melantik Pdt Togar Aruan menjadi Praeses HKI Daerah III Tobasa. Sebelum melantik, Ephorus berpesan dan menjelaskan bahwa yang memilih Pdt. M.Togar Aruan, STh menjadi Praeses adalah Sinode. Oleh karena itu, hendaknyalah sebagai Praeses mampu melaksanakan segala program kerja yang ditetapkan Sinode di daerah pelayanannya. Selain itu, sebagai wakil ephorus di daerahnya maka Praeses harus bergandengan tangan dengan Pemerintah Daerah dalam memajukan jemaat dan pembangunan masyarakat. Pelantikan ditandai dengan serah terima jabatan dan penyampaian berkat oleh Ephorus Pdt DR Langsung Sitorus.
Acara pelantikan Praeses dirangkaikan dengan pesta pembangunan dan syukuran terpilihnya Putra Tobasa menjadi Ephorus HKI. Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh adalah Putra Narumontak Desa Patane IV Kecamatan Porsea Tobasa dan merupakan anak HKI Patane. Acara syukuran ditandai dengan makan bersama dan acara pesta pembangunan dilakukan dengan acara lelang berupa makanan dan lelang ulos. Pada acara lelang Bupati Tobasa Kasmin Simanjuntak tampil menjadi juru lelang dan secara merata membagi lelang kepada para staf Pemkab Tobasa. Suasana sukacita terlihat pada acara yang dihadiri hampir seribuan orang anggota jemaat HKI itu. Pada kesempatan itu, Jemaat HKI Daerah Tobasa memberikan ulos kepada Ephorus dengan didampingi Inang Ephorus, Bupati Tobasa Kasmin Simanjuntak dan istri, Wabub Liberti Pasaribu SH MSi dan Ketua DPRD Sahat Panjaitan. Beritanya dapat diakses di: http://hariansib.com/?p=146912). (yph)
Oleh Pucuk Pimpinan Periode 2005-2010 kepada Pucuk Pimpinan 2010-2015
Gedung Serbaguna HKI, Pematangsiantar, Jumat_3 September 2010
Menindaklanjuti Acara Serah Terima Jabatan antara Pucuk Pimpinan HKI Periode 2005-2010 kepada Pucuk Pimpinan HKI Periode 2010-2015 (yang terpilih pada Sinode ke 59 HKI, tgl.11-15 Agustus 2010 di Mikie Holiday Hotel Berastagi), pada hari Jumat, 03 September 2010 bertempat di Kantor Pusat HKI dilaksanakan Acara Serah Terima Inventaris dan Harta Kekayaan HKI.
Acara di awali dengan Ibadah yang di pimpin Pdt. M. Saragi (Mantan Praeses HKI Daerah I Sumatera Timur I). Dalam Khotbahnya yang mengacu pada Nehemia 8 : 10b, Pdt. M. Saragi menerangkan bahwa setiap Pelayan dan Warga HKI wajib mensyukuri pemberian TUHAN, dan ini harus menjadi dorongan melakukan terbaik bagi pelayanannya. Termasuk bagi Pucuk Pimpinan baik yang mengakhiri jabatan maupun yang mulai mengemban jabatan. Para Pelayan di tiap aras pelayanan (MP, BPKP, Praeses dll), hendaknya mensyukuri kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya untuk menjadi pelayan dan mengemban jabatan pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Kesadaran dan sikap mensyukuri ini hendaknya terimplementasi dalam pelayanannya yang tetap takut akan TUHAN. Setiap pelayan yang sudah mengakhiri jabatannya harus mengikuti teladan Tuhan Yesus yang rela menjadi manusia untuk menebus manusia dari dosa. Jangan kuatir akan masa depan karna Tuhan Yesus pasti menyertai.
Mengawali Acara Serah Terima, Pucuk Pimpinan HKI membacakan Memori Tugas Pelayanan (dibacakan Mantan Ephorus, Pdt. Dr. B. Purba), poin penting di antaranya adalah: 1). Perihal Konven Pendeta HKI, 2). Pembangunan Fisik HKI, 3). Kerjasama dengan Yasuma, dan 4). Pengelolahan Panti Asuhan Zarfat HKI. Usai Pembacaan Memori Tugas Pelayanan, dilaksanakan Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Inventaris dan Harta Kekayaan HKI yang dimulai oleh Pdt. Dr. B. Purba (Mantan Ephorus HKI ; Periode 2005-2010), Pdt. R. Simanjuntak, BD (Mantan Sekretaris Jenderal HKI ; Periode 2005-2010), Mewakili Majelis Pusat Periode 2005-2010 y.i Pdt. M.P Siregar, MTh, Pdt. T. Lumban Tobing STh, Pdt. Naomi Simarmata, MTh. Dilanjutkan oleh Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh (Ephorus HKI Periode 2010-2015), Pdt. M.P Hutabarat, STh (Sekretaris Jenderal HKI Periode 2010-2015) dan Mewakili Majelis Pusat HKI Periode 2010-2015, y.i : Pdt. JOH Siagian, STh, Pdt. Salome br. Nainggolan, STh, St. W. Saruksuk. Usai Penandatanganan Berita Acara, dilaksanakan serah terima dokumen Badan Pemeriksa Keuangan Pusat (BPKP), dari St. Dr. TY. Gultom,SE, Ak (Mewakili BPKP Periode 2005-2010) kepada BPKP Periode 2010-2015 y.i St. Bichner Panjaitan, St. Arifin Lumban Tobing, St. Marihot Silalahi.
Usai Ibadah dan Acara Serah Terima, dilaksanakan Acara Kata Sambutan a.l. oleh Pdt. Dr. B. Purba (Mantan Ephorus HKI - Periode 2005-2010), “Setelah tidak lagi menjadi Ephorus, maka kamipun siap untuk menjadi Pendeta Resort, dan siap untuk ditempatkan dimana saja”, disampaikan beliau membuka sambutannya, dan dengan rendah hati kemudian memohon maaf kepada semua elemen HKI jika selama ini ada, baik perkataan dan perlakuan beliau yang tidak berkenan. “Tidak mudah mengemban tanggungjawab sebagai Ephorus, seluruh permasalahan gereja terpusat di Ephorus, mulai dari tingkatan jemaat hingga HKI secara global, untuk itu menjadi pemimpin dan gembala yang melayani adalah kuncinya”, pesan beliau sembari menyampaikan selamat bertugas kepada Pucuk Pimpinan baru Pdt. Langsung Sitorus, MTh (Ephorus HKI 2010-2015) yang adalah juga junior beliau semasa kuliah. “Doakanlah kami untuk dapat meneruskan pelayanan dan memberikan yang terbaik bagi HKI ke depannya. Dan, kami siap untuk dikonfirmasi ulang berkaitan dengan hasil serah terima yang telah dilaksanakan” ungkap Pdt. Dr. Burju Purba mengakhiri kata sambutannya. Kata sambutan dilanjutkan oleh St. Dr. TY Gultom, SE.Ak (Mantan BPKP - Periode 2005-2010), belliau berpesan agar sistem pemeriksaan keuangan dapat dilakukan lebih baik lagi kedepannya agar tidak keseleo dan diakhiri dengan mengucapkan selamat bertugas bagi BPKP baru, dan terlebih Pucuk Pimpinan. Diikuti oleh Diak. Drs. T. Sinaga (Mantan Kepala Kebun Kelapa Sawit HKI), dan diakhiri oleh St. W. Saruksuk (Majelis Pusat Periode 2010-2015). Dalam sambutannya, St.W. Saruksuk mengharapkan adanya perbaikan sistem manajerial di tubuh HKI, dan kiranya Pucuk Pimpinan dapat serasi dalam menjalankan kepemimpinannya, sehingga perbedaan tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan tanggungjawab yang telah dimandatkan”.
Acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan dan pesan dari Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh sebagai Ephorus HKI Periode 2010-2015. “Ingatkah kita pada saat yang sama sekarang ini pada tahun 1946 apa yang dialami HKI? HKI mulai “terorganisir” ungkap beliau saat mengawali sambutannya. Kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan terimakasih kepada Ephorus dan Sekjend lama, dan menyampaikan harapannya kiranya dapat melakukan yang lebih baik, dan mengajak kerjasama Pucuk Pimpinan lama agar masih mau berbagi untuk kemajuan HKI. Beliau juga mengucapkan terimakasih kepada semua yang hadir, khususnya parende Persatuan Wanita Gereja HKI Melanthon, Pematangsiantar dan terlebih kepada Sekjend baru Pdt. MP. Hutabarat, STh yang mulai mengenal beliau, “Terimakasih buat semua yang hadi, khususnya parende, dan terlebih Sekjend yang mulai belajar mengenal saya”, demikian disampaikan beliau. Dalam pesannya, beliau juga menyampaikan bahwa akan dilaksanakan Rapat Gabungan Pucuk Pimpinan, Majelis Pusat, BPKP dan Praeses Periode 2010-2015 selesai acara serah terima. Pesan khusus disampaikan kepada para praeses agar mardosroha terkait penempatan mereka, dan semua praeses harus bersedia untuk saling membantu. Bagi yang daerahnya surplus, harus bersedia membantu untuk daerah yang kurang surplus. “Misalnya, Daerah Tobasa yang kalau tidak dibantu oleh sokongan dana oleh Amang Reinward Simanjuntak, yakni 10 juta setiap tahunnya, maka akan sulit untuk menjalankan tugas-tugasnya”, ungkap Ephorus. Kemudian dilanjutkan dengan pemberitahuan rencana penempatan pendeta di setiap Departemen yang ada. Dijelaskan beliau, ada lima departemen yang harus diisi, dengan kriteria; sudah memiliki jejaring dan mahir berbahasa inggris serta mampu menggerakkan roda organisasi tanpa harus bergantung pada Pucuk Pimpinan dengan tetap bertanggungjawab kepada Pucuk Pimpinan HKI. Khusus untuk Kepala Departeman Keuangan dan Bendahara, hingga saat ini masih mengalami kesulitan untuk mencari orang yang tepat, yakni orang yang bisa memberikan waktu dan kemampuan untuk bersama-sama memenuhi kebutuhan HKI kedepannya dalam menjalankan program-programnya. Ditambahkan Ephorus, bahwa dalam kurun waktu enam bulan kedepan akan diupayakan sentralisasi dapat terwujud, “Kuncinya kita harus bersama-sama dan mau melaksanakannya”, ungkap beliau. Ephorus juga menyampaikan bahwa, mengenai keuangan yang ada di setiap resort akan dicek baik surplus atau tidak dan segala laporan keuangan mulai dari jemaat, resort dan daerah akan diperiksa oleh koordinasi BPKJ, BPKR, BPKD bersama BPKP, baru di serahkan kepada Pucuk Pimpinan. Mengakhiri sambutannya, Ephorus berpesan agar kantor pusat dan gedung serbaguna HKI dapat dijadikan pusat pelatihan, untuk itu perlu pembenahan diantaranya pengadaan AC di masing-masing tempat, beliau mengajak peran serta dari yang hadir untuk mau membantu pengadaannya. Dan, ditambahkan lagi, bahwa akan diupayakan di Pematangsiantar harus ada 15 rumah dinas HKI, bertujuan untuk mendukung kelancaran tugas-tugas di kantor pusat, sehingga kantor pusat dapat bergerak. “Doakan kami, agar semua yang direncakan dan dikerjakan dapat berjalan dengan baik”, dikatakan Ephorus dengan rendah hati menutup kata sambutannya. Setelah Ephorus, kata sambutan terakhir disampaikan oleh Pdt. M.P Hutabarat, STh (Sekjend HKI Periode 2010-2015), beliau berpesan agar semua elemen HKI untuk sehati sepikir melayani di HKI dan sekaligus pemaparan Program Kerja 2011. Beberapa di antaranya adalah membangun pelayanan katagorial di HKI, pembenahan administrasi HKI, mengembangkan SDM HKI, pembangunan fisik Kantor Pusat dan pembangunan ekonomi umat serta meningkatkan jejaring baik pemerintahan, antar denominasi gereja, lembaga non kristen dan lembaga-lembaga yang berada di luar negeri dengan fokus untuk kemajuan HKI. Untuk mengakhiri sambutannya, Sekjend HKI mengajak semua warga jemaat dan pelayan HKI untuk saling mendoakan agar rencana-rencana yang ada menjadi kenyataan.
Usai Kata-kata Sambutan, dilaksanakan Makan Siang Bersama yang dijamu oleh Ir. Reinward Simanjuntak, MM (Mantan Ketua Umum Pencanangan Tahun Diakonia HKI 2009). Hadir juga dalam Acara, a.l. Mantan Majelis Pusat HKI (Periode 2005-2010) Pdt. Toljun Lumban Tobing, STh, Pdt. MP Siregar, MTh, dan Pdt. Naomi Simarmata, MTh. Mantan Praeses Periode 2005-2010 a.l. Pdt. M. Saragi,STh, Pdt. Tohap Sihombing, STh, Pdt. Salome br. Nainggolan, STh, Pdt. MAE Samosir, STh, Pdt. Pdt. C. Siahaan, Smth, Pdt. K. Simorangkir,STh, Pdt. Epen Siregar, SmTh, Pdt.Firman Sibarani, MTh.Majelis Pusat Periode 2010-2015 a.l Pdt. Salome br. Nainggolan, STh, Pdt. MAE Samosir, MTh, Pdt. Halomoan Simanjuntak, STh, Pdt. Janiandar Pasaribu, MTh, Pdt. Rudolf Simanjuntak, BD, Pdt. JOH Siagian, STh, St. Ir. Jonner Togatorop, St. RPS Janter Aruan, SH, Mhum, St. Bangun Hutasoit, St. Wajib Saruksuk, St. S. Nainggolan, dan St.Drs. Marojahan Panjaitan, MPd. Serta Praeses Periode 2010-2015, Pdt. HR Panjaitan, DMin (yang juga Ketua Konven Pendeta HKI), Pdt. Toljun Lumban Tobing, STh, Pdt. Keppler Bakara, STh,Pdt. Jansen Simanjuntak, STh,Pdt. Surungan Situmorang, STh, Pdt. Lamsihar O. Siregar, STh, Pdt. Epen Siregar, Sm.Th. Paduan Suara PW HKI Jl. Melanthon Siregar, dan Undangan lainnya baik Pelayan dan Jemaat HKI di wilayah Medan, P. Siantar dan Simalungun serta perwakilan unsur pemerintah setempat.
Kita doakan kiranya Pucuk Pimpinan HKI, Majelis Pusat, Badan Pemeriksa Keuangan, Praeses HKIPeriode 2010-2015 serta Jajaran Pelayan di tiap aras pelayanan tetap dapat dipakai TUHAN Yesus Raja Gereja demi pengembangan Kabar Sukacita dan Damai Sejahtera dalam Gereja Tuhan, khususnya di HKI serta masyarakat secara umum di dalam rumah besar NKRI. Tuhan Memberkati. (yph)
Pada Acara Ramah tamah dengan jemaat HKI Patane, Porsea
Minggu, 29 Agustus 2010
Awalnya, lama sebelum sinode 2010 berlangsung, setelah di sinode tahun 2005 tidak terpilih menjadi Sekjen HKI, saya sudah tidak ada lagi berharap besar untuk menjadi pucuk pimpinan. Biarlah saya cukup menjadi dosen atau pendeta resort. Namun, terimakasih buat Tuhan dan kita semua yang kemudian menetapkan saya untuk menjadi Ephorus HKI. Menjadi Sekjen tidak diberi, malah menjadi Ephorus.
Dalam proses menjelang sinode 2010 kemarin, dalam mempersiapkan diri, banyak saya temui kabar-kabar yang tidak bertanggungjawab dan mau membunuh profil saya dari pelbagai pihak. Misalnya: gelar Doktor palsu, dalam kriteria pencalonan sebagai Ephorus ada upaya untuk menghambati, dengan memasukkan salah satu poin kriteria yakni harus pernah melayani sebagai pendeta resort selama 10 tahun, dan dituduh melakukan money politic dalam pengumpulan suara di sinode, yang ternyata tidak ada politik uang.
Dengan berakhirnya sinode dan oleh kehendak Tuhan telah dipilihnya para pengurus HKI, maka hendaklah kita bersama-sama memberikan dukungan, bukan malah menimbulkan rasa kebencian. Dan begitu juga untuk semua jemaat yang ada saat ini di Patane, agar kita semua membawa kabar yang baik sesuai dengan kebenaran yang ada.
Saat ini di kantor pusat tidak ada uang. Sama seperti 10 tahun sudah saya di PGI SUMUT. Tapi kita percaya Tuhan akan memberikan kemudahan dan mencukupkan. Di tengah-tengah kekosongan keuangan ini, juga diperhadapkan pada beberapa tujuan dan cita-cita yang harus tercapai selama 5 tahun ini. Diantaranya, HKI harus mampu menyekolahkan para pelayannya memperoleh gelar Doktor. HKI harus memiliki 6 orang Doktor dengan berbiaya 280juta/orang. Dan gelar Master Teologia dengan biaya 100juta/orang. Untuk itulah kita diharapkan untuk saling mendukung. Kita juga akan diperhadapkan pada masa pensiun. Di tahun 2012, akan ada kurang lebih 10 orang Pendeta pensiun. Kita tidak menginginkan, para pendeta yang telah pensiun dibiarkan begitu saja, harus ada bekal yang sepantasnya bagi mereka untuk menjalani masa pensiunan mereka. Paling sedikit harus ada 40juta/orang yang harus disiapkan pusat. Darimanakah semua dana itu dapat dikumpulkan? Dari kantong Tuhan, dengan cara saling membantu dan mendoakan. Mengenai kebun sawit, kita berharap dapat memberikan hasil yang baik untuk kedepannya.
Diharapkan jemaat atau para pelayan, jangan mau diprovokasi atau memprovokasi satu dengan yang lain. Ada wacana yang tersebar di kalangan Pendeta, bahwa jika pemutasian dilakukan dengan tidak sesuai dengan kehendak para Pendeta, maka akan terjadi keributan atau perlawanan. Ini adalah provokasi yang tidak pantas untuk di dengarkan. Sesungguhnya, bukan persoalan mutasinya yang harus di takuti atau dikwatirkan. Tapi, jika kemudian pucuk pimpinan tidak memperhatikan kesejahteraan para pendeta yang ditempatkannya, barulah dapat dibenarkan adanya ketidakberersan. Untuk para pendeta harus mengingat prinsip dan semangat kependetaan untuk siap ditempatkan dimana saja, siap memberitakan Firman Tuhan dimana saja dan dalam segala kondisi, dan siap mati untuk Injil.
Khusus untuk Gereja Patane, pelayan dan jemaat untuk jangan pernah berhenti membangun. HKI Patane merupakan “wajah” dari HKI secara keseluruhan dan sebagai sumber pancaran sinar untuk menerangi perjuangan HKI di semua tempat. Telah direncanakan agar HKI Patane memiliki dua Pendeta yang melayani baik mulai dari resort hingga pagarannya. Untuk itu, diharapkan bagi para pendeta untuk dapat saling bekerjasama dalam satu tempat yang sama.
Mengenai para calon-calon pendeta untuk HKI, dan yang masih belajar, perlu mendapatkan pembenahan pendidikan yang lebih serius. Ada direncanakan untuk penabalan calon pendeta harus terlebih dahulu menjalani beberapa tahun masa praktek.
Banyak yang harus dipersiapkan dan dikerjakan untuk ke depan, untuk itu bantulah kami pucuk pimpinan. Jika ada selama ini dari kami, yang tidak berkenan terhadap jemaat HKI Patane tolonglah dimaafkan dan doakanlah kami. (yph)
Perjalanan Ziarah Ephorus dan Rombongan
Senin, 23 Agustus 2010
Senin, 23 Agustus 2010, perjalanan ziarah untuk kali pertama Pdt. L. Sitorus, MTh yang juga di dampingi oleh Inang Ephorus, setelah sebagai Ephorus HKI 2010-2015 (dilantik setelah Sinode ke 59 di Brastagi), diawali dengan mengunjungi makam tokoh perintis pendiri dan lahirnya HChB yang kemudian menjadi HKI yaitu makam Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean, di Batu Opat, Pantoan, Pematangsiantar (23/8/2010). Kunjungan ziarah dilaksanakan bersama rombongan yang di antaranya diikuti para pengurus pusat HKI untuk masa pelayanan 2010-2015 seperti Pdt. S. Nainggolan, STh, Pdt. MAE. Samosir, MTh dan St. J. Aruan, SH masing-masing sebagai Majelis Pusat dan juga dihadiri Pdt. J. Simanjuntak, STh selaku Praeses HKI, beberapa pendeta HKI lainnya dan tokoh-tokoh masyarakat di Pematangsiantar. Kehadiran Ephorus dan rombongan disambut hangat dan penuh kekeluargaan oleh pihak keluarga dari keturunan keluarga besar Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Di antaranya Inang St. M. Br. Hutapea (parumaen Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean yang menikah dengan anak bungsu beliau Gr. Posman Panggabean)
Kegiatan ziarah diawali dengan pelaksanaan Ibadah bersama, tepat di depan Makam Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Ibadah langsung dipimpin oleh Pdt. MAE. Samosir, MTh sebagai Liturgis dan Pelayan Firman. Dan untuk memimpin Doa Syafaat dipimpin oleh Pdt. J. Simanjuntak, STh. Dalam Khotbahnya Pdt. MAE. Samosir, MTh mengambil nats Firman Tuhan dari Ibrani 13:7, disampaikan: “Bahwa penderitaan yang dialami para Bapa-bapa Gereja abad I tidak menyurutkan semangat mereka mengabarkan Injil Tuhan Yesus Kristus. Malah oleh kekuatan dan penyertaan Roh Allah yang mereka rasakan, mereka semakin gencar melakukannya hingga pada generasi-generasi berikutnya. Demikianlah semestinya kita saat sekarang ini, perjuangan dan semangat yang dimiliki oleh para tokoh-tokoh gereja kita HKI, seperti Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean dalam menghadapi pelbagai kesulitan dan penderitaan untuk menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan haruslah kita lanjutkan untuk semakin mengembangkan Injil Tuhan lewat kehadiran Gereja HKI.” Ditambahkan beliau, “Kedirian HKI seperti yang kita rasakan saat sekarang ini, semata-mata awalnya hanya didorong oleh semangat Iman kepada Kristus. Bukan oleh banyaknya uang, malah tantangan begitu berat untuk menghambati perjuangan Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean, baik yang datang dari zending dan pemerintahan Belanda. Lewat Firman Tuhan yang menjadi kekuatan dan yang senantiasa membakar semangat mengembangkan Kerajaan Allah di Tanah Batak, yang tertulis dalam Yakobus 22:1, “..untuk menjadi pelaku-pelaku Firman”, Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean akhirnya kemudian berhasil mendirikan Gereja Tuhan yang disebut HChB dan sekarang menjadi HKI pada 1 Mei 1927. Demikianlah, untuk kemajuan Huria HKI sekarang ini, semangat iman yang mendorong para tokoh terdahulu harus tetap dipertahankan dan mendorong kita untuk sama-sama berjuang memajukan HKI sekarang dan di masa yang akan datang”, demikian Pdt. MAE Samosir, MTh (mantan Praeses HKI daerah IV Dakota)
Seusai ibadah, dilanjutkan dengan sambutan dari pihak keluarga Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Pesan yang begitu mendalam diutarakan oleh Inang St. M. Br. Hutapea mengawali sambutannya. Beliau berkisah bagaimana beratnya tantangan yang dihadapi Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean dalam memperjuangkan berdirinya HChB. Namun, sekarang beliau menjumpai kondisi yang memilukan hatinya dari para pelayan HKI, khususnya pendeta yang melayani di HKI Batu Opat, Pantoan. “Sempat beberapa lama Gereja HKI Batu Opat, Pantoan tidak memiliki pendeta yang mau melayani, oleh karena minimnya kesejahteraan yang dapat diberikan oleh jemaat”, demikianlah dikisahkan beliau dengan wajah sedih dan mencucurkan air mata. Ditambahkan lagi, “Saya sering menangis di makam amang ini, melihat kondisi Gereja HKI yang ada di sini”. Dengan penuh harapan, Inang St. M. Br. Hutapea berharap ada perubahan untuk yang lebih baiknya lagi di Gereja HKI Batu Opat, Pantoan. Sebelum mengakhiri sambutannya, Inang St. M. Br. Hutapea juga mengkisahkan asal usul gelar “Sutan Malu” dari Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Dulu, kata beliau, Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean, dapat dikatakan seorang yang pintar dan cerdas, telah banyak tempat di jalani beliau untuk menjalankan tugas di bidang hukum dan pada suatu saat, ada seorang rekan kerja dan sekaligus pimpinan beliau yang menyarankan agar beliau meninggalkan Kekristenan dan masuk agama lain untuk memperoleh kedudukan dan jabatan yang lebih tinggi lagi. Namun, oleh karena keteguhan iman kepercayaannya kepada Kristus Yesus, beliau menolaknya. “Saya MALU meninggalkan agama saya!”, ditirukan oleh Inang St. M. Br. Hutapea Sejak itulah kemudian rekan-rekan sekerjanya menggelari beliau sebagai “Sutan Malu”. Dan kemudian menjadi gelar yang melekat pada diri beliau.” Sambutan dari pihak keluarga kemudian ditambahkan oleh cucu Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean (anak dari Inang St. M. Br. Hutapea) yang mengharapkan adanya renovasi makam dari Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. “Sebagai warga HKI saya sering merasa sedih melihat makam dari ompung saya, banyak orang bertanya, tentang makam Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean, misalnya, “Benar ini tokoh pendiri HKI?, dan dengan berat dan sedih saya menjawabnya. Jadi amang Eporus kami, tolonglah ada pemugaran dari makam opung kami ini (Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean), tidak banyak hanya Rp. 100.000.000,- (seratus juta) saja”, ditambahkan beliau yang kemudian disambut dengan tepuk tangan meriah dan hangat dari para rombongan yang hadir.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ephorus HKI, Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh. “Saya senang melihat kekompakkan kita saat ini. Dan, baru sekarang ini saya mengetahui persis tentang gelar Sutan Malu yang dipakai oleh Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Gelar yang disematkan dengan makna yang begitu dalam dari kegigihannya mempertahankan imannya kepada Yesus Kristus. Dan itu, harus kita teladani” diungkapkan beliau dalam mengawali sambutannya. Dalam sambutan beliau, ada beberapa pesan yang disampaikan untuk semua yang hadir dan Gereja HKI secara keseluruhan di antaranya adalah untuk jemaat dan pelayan di HKI Batu Opat, Pantoan, agar melaksanakan kegiatan gereja yakni pada masa buhabuha ijuk (acara gereja menjelang paskah) dan pada 1 Mei setiap tahunnya harus dilaksanakan kebaktian memperingati hari berdirinya HKI di makam Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Kemudian ditambahkan Ephorus “Bahwa, ada yang hampir terlupakan sebagai yang juga tokoh HKI lainnya, yakni Guru Posman Panggabean. Beliau adalah tokoh yang memiliki semangat persatuan. Beliaulah yang menjadi inisiator menyatukan HChB, GKB dan HKI pada tahun 1977. Semangat kesatuan ini, pada konteks kekinian HKI, haruslah kita miliki untuk menyatukan gereja-gereja Lutheran khususnya. Saya ingat pesan dari bapak saya Pdt. T.J. Sitorus (Ephorus HKI pertama), untuk menyatukan kembali Huria ke bona na.” ungkap Ephorus. Selain pesan untuk para jemaat dan pelayan di HKI Batu Opat, Pantoan, Ephorus juga berpesan, “Kepada para pendeta HKI yang melayani di HKI Batu Opat, Pantoan, agar jangan kuatir dan takut untuk menjadi pelayan di sini karena kurangnya kesejahteraan. Kita akan bersama-sama untuk memenuhi kesejahteraan para pendeta secara merata”, janji Ephorus. Menanggapi rencana pemugaran yang diharapkan pihak keluarga, Ephorus berpesan, “Sudah bisa dimulai dengan langkah-langkah sederhana untuk memperbaiki makam, misalnya dengan menata makam menjadi lebih indah, menunggu terkumpulnya dana renovasi. Kalaupun harus selesai selama 2 tahun kedepan. Apa yang bisa kita perbuat untuk saat ini meskipun kecil, itu sudah sangat beharga. Dengan memperbaiki makam ini, sebagai pertanda bahwa HKI atau jemaat-jemaat HKI semakin memperbaiki kepercayaannya”. Akhir dari sambutannya, Ephorus mengingatkan kembali bahwa adalah tanggungjawab para jemaat dan pelayan HKI dimanapun berada untuk tidak melupakan tokoh-tokoh Huria HKI, dengan memberikan diri untuk sama-sama berjuang memajukan HKI dengan semangat yang dahulu ada pada para tokoh. Sehingga di seluruh Indonesia, karya Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean dapat dirasakan. Boleh berbeda pendapat dan berbeda pendapatan, tetapi harus tetap satu dalam perjuangan dengan semangat iman untuk mengembangkan HKI.
Sebagai acara penutup, semua rombongan bersama keluarga kemudian makan siang bersama, dan kegiatan ziarah ditutup dengan doa dari Pdt. Surungan Situmorang, STh. (yph)
Perjalanan Ziarah Ephorus dan Rombongan
Kamis, 26 Agustus 2010
Perjalanan ziarah selanjutnya, Ephorus di dampingi Istri bersama dengan rombongan di antaranya Pdt. S. Nainggolan, STh, Pdt. N. Sinaga, STh dan Pdt. K. Sirait, STh, Pdt. F. Simamora, STh dan Pdt. L. Simamora (Pendeta Resort HKI Tarutung Barat), dilaksanakan pada Kamis, 26 Agustus 2010 ke makam Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI sekaligus Pendeta Pejuang HKI, Pdt. MH. Manullang di Tarutung, setelah terlebih dahulu menghadiri acara pengambilan janji dan syukuran Bupati (Bapak Drs. Maddin Sihombing, Msi) dan Wakil Bupati (Bapak Drs. Marganti Manullang) Humbang Hasundutan. Rombongan di sambut hangat oleh keluarga besar di antaranya cucu dari Pdt. MH. Manullang, Amang St. SMT. Manullang (Sintua di HKI Siualuompu), yang kemudian dijamu makan bersama. Di sela-sela makan bersama, amang St. SMT. Manullang banyak berkisah mengenai riwayat dan perjuangan Pdt. MH. Manullang dan yang kemudian diperluas oleh Amang Ephorus.
Sekilas mengenai riwayat dan perjuangan Pdt. MH. Manullang. Tokoh yang memiliki nama lengkap Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang, disapa dengan “Tuan Manullang”, lahir di Tarutung, 20 Desember 1887 dari ayah Singal Daniel Manullang dan ibu Chaterine Aratua br. Sihite, dan meninggal di Jakarta, 20 April 1979 (dimakamkan di Tarutung). Pendidikan beliau Sekolah Raja di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara dan Senior Cambridge School, Singapura, 1907- 1910. Tentang karirnya di antaranya adalah Pendiri dan penerbit surat kabar Binsar Sinondang Batak (BSB), 1906; Guru Sekolah Methodist, 1910; Pendiri organisasi social politik Hatopan Kristen Batak (HKB); Pendiri dan Pemimpin Redaksi surat kabar Soara Batak (1919-1930); Memprakarsai Persatuan Tapanuli (1921) dan Persatuan Sumatera (1922); Kepala dinas propaganda Jepang tahun 1943-1945; Pendeta HKI ditabiskan pada tahun 1940; dan pernah dipenjara di Cipinang 1922-1924 akibat tulisannya menentang penjajah Belanda. Penghargaan yang telah diterima dari Pemerintahan Indonesia pada tanggal 2 Oktober 1967 dianugerahi penghargaan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia.
Pendeta Mangaraja Hezekiel Manullang telah membantu melayarkan suatu perahu, yang didalamnya Batak dan Indonesia menyatu, untuk mengarungi dunia menuju dunia yang baru. Itu perahu, yang dia turut memberi namanya Huria Kristen Indonesia, suatu gereja yang baru, sampai akhir zaman akan laju. Dari dia orang dapat tahu, berpolitik dan berpartai bukan suatu hal yang tabu, pendeta pun bisa menjadi pelaku, asal demi bangsa, kerukunan dan kemajemukan yang menyatu dan kalau perlu menjadi abdi negara pembawa damai yang bahu-membahu. Perjuangan beliau yang sengat dirasakan adalah penolakkannya terhadap aneksasi tanah Batak, suaranya yang menolak penyingkiran orang Batak di tanah leluhurnya, pasti tidak akan pernah redup dan masih relevan hingga sekarang. Dengan semangat beliau, dapat kita katakan sekarang, Tanah Batak adalah milik orang Batak. Register-register yang dibuat Belanda dulu, bukan legitimasi bagi pengusaha maupun pemerintah zaman sekarang untuk mencaplok tanah Batak. Seruan beliau: “ula tanom ulang digomak, ulando” berlaku juga sekarang. Para pemilik modal (kapitalis) tidak boleh menguasai sejengkalpun tanah Batak, tetapi mereka harus membantu orang Batak “mangula tanona” (mengolah tanahnya). Orang Batak tunduk pada pemerintah yang mengayomi tanah Batak, dan bukan yang merampas atau menjajah tanah Batak.
Sebagai seorang yang lahir dalam suatu keluarga ‘pahlawan,’ dan kepahlawanan sang ayah ditingkatkan oleh sang anak. Dengan menonjolkan sang ayah sebagai ‘perwira intel raja Sisingamaraja’ yang didutakan ke Peanajagar dekat Tarutung. Ompu Singal Manullang (melalui pendidikan keluarga) berhasil menanamkan jiwa ‘merdeka’ dalam diri Mangihut Mangaraja Hezekiel Manullang. Dari kecil Pdt. MH. Manullang dipersiapkan mengemban makna nama ‘baptis’ yang diberikan missionaris kepadanya. Karakternya diharapkan seperti Hezekiel di Alkitab, dan sang tokoh diharapkan ‘mengikut’ (mengihut) karakter itu dan nantinya berjuang di tengah bangsanya dengan cara damai tanpa kekerasan; memperbaiki dan mempersatukan bangsanya yang telah ‘berserak-serak’ (seperti di pembuangan). Kemudian dia mendapat nama Mangaraja, suatu nama kehormatan, baik di Angkola, maupun di Toba. Nama itu mendekatkan sang tokoh kepada rajanya (Singa-Mangaraja), tetapi tidak melangkahi rajanya. Dia bisa ‘mangaraja’ tetapi sang raja yang meng-singa (merancang). Nama itu menempatkan dirinya dengan baik di tengah kaum ‘hula-hula-nya’, kaumnya Batak-Toba, dan negeri yang kepadanya dia mengabdi. Nama itu juga, dengan didukung oleh kepintaran yang dimilikinya, memungkinkan sang tokoh dipanggil ‘Tuan Manullang’, yang bermkna lebih hormat dibanding dengan gelar-gelar tuan yang dilekatkan kepada berbagai ‘kakek-moyang’ orang Batak. Nama panggilan ini, yang menjadi semacam ‘identity card’, menyamakan dirinya dengan kaum sibontar mata.
Pdt. MH. Manullang digambarkan sebagai pemuda yang merdeka, gesit dalam belajar dan erat dalam bergaul, suaranya didengar di kalangan kelasnya. Beliau mampu menggerakkan kawan-kawannya untuk ‘demo’ memprotes hal-hal yang dipandang kurang beres menurut ukuran kekristenan yang sudah tertanam dalam dirinya mulai dari rumah dan jemaat yang mendidiknya. Beliau murid Sekolah Anak Raja (SAR) di Narumonda, tetapi mampu juga menguasai ilmu jurnalisme dan cetak-mencetak. Walau tidak tamat, tetapi mendapat bekal menunjukkan dirinya sebagai penggerak yang didorong oleh ketidak-puasannya melihat kondisi bangsanya. Itu yang terjadi pada dirinya setelah dipecat dari SAR, beliau menjadi aktivis, yang berhadap-hadapan bukan dengan pendeta pribuminya, melainkan dengan pendeta Eropa yang memicingkan mata melihat pribumi ingusan. Penerbit BSB menjadi tampilan orang yang berjiwa ‘merdeka’. Orang tuanya, yang berjiwa merdeka, ingin agar puteranya mendapat pendidikan yang sesuai jiwanya, ‘merdeka’, sehingga dia dikirim belajar ke Singapura. Pendidikan Methodist lebih menerampilkannya, tetapi rupanya sanubarinya telah dirasuk ‘kemerdekaan Kristen’ yang diajarkan kaum Lutheran. Dia menjadi perintis beberapa jemaat Methodist di Jawa, tetapi di matanya terpampang ancaman derita yang akan dialami bangsanya, Batak, sewaktu melihat derita penduduk Jawa yang sudah lama dijajah Belanda. Di Jawa dia sudah menyadari perlunya; Pendidikan untuk semua, dan pendidikan harus terjangkau oleh rakyat semiskin apapun. Walaupun dia membawa keluarga ke Jawa, tampaknya panggilan kampung halaman lebih kuat.
Pdt. MH. Manullang menjadi penggerak kesadaran kemerdekaan bangsanya. Sang Tokoh memilih Balige menjadi tempat awal perjuangannya di tanah leluhurnya, dan menjadikan Balige sebagai sentra pergerakannya. Dia memberi contoh, bahwa seorang terpelajar harus dapat menafkahi diri dan keluarganya dengan usahanya sendiri, dan usaha itu dapat dibuat berdampak kemajuan dan menyadarkan bangsa untuk pergerakan nasional. Dia cermat melihat perkembangan situasi dan gerak-gerik penjajah. Semangat ‘kemerdekaannya’ menggelegak, sehingga dia dapat merubah kumpulan koor “Hadomuan” yang dimasukinya/dipimpinnya di Balige menjadi tempat mendiskusikan situasi ‘tanah air orang Batak’ dan menjadi alat yang menyuarakan bahaya yang telah mengancam tanah Batak, dan menjadi gerakan politik yang diberi nama HATOPAN KRISTEN BATAK. Pemimpin gereja di Balige setuju atas gerakan itu sehingga tidak ada keberatan sewaktu pendirian organisasi ini dilakukan tanggal 21 September 1917 di gereja Batakmission Balige. Para Zendeling pada mulanya melihat rencana Belanda mengkonsesi tanah Batak kepada kaum pemilik modal. Itu jelas selagi ketua HKB dipegang oleh guru Polin Siahaan, dan Mangaradja Hezekiel Manullang hanya sebagai wakil ketua. Para Zendeling mulai gusar dan mulai menolak HKB setelah MH Manullang menjadi ketua pergerakan ini pada Kongres HKB tanggal 25-28 Januari 1918. Kegusaran itu dilatarbelakangi oleh pengenalan mereka tentang sang tokoh yang sudah berani mengatakan tidak setuju kepada pendapat Zendeling, sejak dia sekolah di SAR Narumonda. Ternyata HKB berhasil menyadarkan orang Batak, bahwa darah kemerdekaannya harus dipelihara dan diperjuangkan, dan mulai bergerak untuk itu dalam berbagai lini kehidupan termasuk lini kehidupan kegerejaan.
Meskipun Pdt. MH. Manullang tidak ikut dalam pendeklarasian tiga gereja mandiri di Sumatera tahun 1927 (Huria Christen Batak/Huria Kristen Batak, Punguan Kristen Batak, dan Mission Batak), tetapi perjuangan/pergerakan yang dirintis beliaulah yang mendorong para pencetus gereja mandiri tersebut mendeklarasikan kemandiriannya. Tuan Manullang masuk menjadi hamba TUHAN di Huria yang sesuai dengan semangat perjuangannya. Jiwa nasionalisnya kemudian ditunjukkannya melalui peranannya menuntun Huria Christen Batak, yang menahbiskannya menjadi pendeta tahun 1940 dan menempatkannya melayani di Siaualompu Tarutung, untuk menyesuaikan diri dengan semangat perjuangan nasional Indonesia. Beliau tahu bahwa HChB merupakan dampak dari demam kemandirian yang sudah tercanang di Tanah Batak, yang sedikit banyak sebagai imbas pergerakan HKB yang pernah dipimpin sang tokoh. Dengan penuh kesadaran beliau menempuh jalan masuk menjadi pendeta di Huria mandiri ini. Beliau tahu banyak pergolakan di huria yang dimasukinya, tetapi dia tidak ikut mencampurinya. Tetapi sewaktu tiba masanya, bersamaan dengan waktu sesudah NKRI diproklamasikan, dia ikut menuntun Huria yang dilayaninya tersebut memasuki ‘suasana’ nasional yang mulai bersinar. Maka walaupun tidak dicatat terlalu banyak tentang peranannya di sinode HChB yang diadakan di Jemaat HChB Patane Porsea tanggal 16-17 Nopember 1946, dapat dipastikan bahwa sang tokoh menuntun Huria mandiri ini (HChB) mengubah namanya menjadi Huria Kristen Indonesia (HKI).
Mungkin semangat itu sebagai pencapaian sementara cita-citanya yang menginginkan adanya Gereja Raya di Tanah Batak atau di Indonesia. Pengalaman dipenjarakan Jepang (1942) dan panggilan tugas di pemerintahan Jepang (kepala dinas propaganda Jepang) tahun 1943-1945 membuat sang tokoh tidak dapat ditempatkan menjadi pendeta yang penuh waktu di resort HKI. Tetapi setiap minggu beliau melayani, berkhotbah di Jemaat HKI di mana beliau berada. Beliau menjadi penopang pucuk pimpinan HKI yang dipimpin oleh Pdt. Thomas Josia Sitorus mulai pada tahun 1946 dalam menghadapi perkaranya dengan FP Soetan Maloe yang terus memimpin HChB yang tidak mengakui keputusan sinode HChB di Patane Porsea. Walaupun berperan sebagai abdi negara di zaman kemerdekaan, Pdt. Mangaradja Hezekiel Manullang terpilih juga menjadi anggota Pucuk Pimpinan HKI tahun 1955-1959 dan 1959-1960. Sewaktu beliau sudah berdomisili di Medan tahun 1950 dan bekerja sebagai patih (sampai pensiun 31 Maret 1958) beliau terus membantu perkembangan jemaat-jemaat HKI Medan. Setelah beliau pindah ke Jakarta agar bersama keluarga puteranya sejak tahun 1967, beliau mendaftar menjadi anggota jemaat HKI di HKI Pulomas yang sudah berdiri sejak 2 April 1967 (gereja HKI tertua di Pulau Jawa), dan kemudian ikut menggerakkan berdirinya HKI Cililitan yang berdiri tanggal 30 Agustus 1970. Beliau menjadi gembala yang menasihati jemaatnya agar utuh bila terjadi riak-riak dalam kehidupan jemaatnya.
Di bidang pendidikan, Pdt. MH. Manullang dapat disebut sebagai penopang untuk kemajuan lembaga pendidikan yang diselenggarakan gereja. Tuan Manullang adalah tokoh yang berpendidikan tinggi dan punya pengalaman pendidikan di luar negeri. Gereja yang dimasukinya juga adalah gereja yang harus mendidik putra-putrinya secara mandiri. Di awal HChB, sekolah-sekolah HChB terkenal sebagai sekolah-sekolah liar (wilde school). Kehadiran Tuan Manullang di pemerintahan Republik ini membuat pengurusan sekolah-sekolah itu menjadi sekolah-sekolah bersubsidi. Sebagai Abdi Negara yang menjalankan misi damai, demi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Dan di zaman mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan sekarang ini, mudah-mudahan cita-cita beliau tentang “Gereja Raya” dapat diterjemahkan gereja-gereja masa kini dalam usaha menyatukan (bahkan kalau perlu melebur) gereja-gereja Lutheran yang ada. Semangat perdamaian di tengah-tengah bangsa, harus ditularkan menjadi semangat perdamaian di seluruh gereja-gereja yang ada, sehingga sekat-sekat denominasi bisa terhapus.
Menjelang masa-masa tuanya dan ujung hidup Pdt. MH. Manullang, oleh Jemaat jenazah beliau diberangkatkan Siwaluompu, sesudah beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir di Jakarta tanggal 20 April 1979, setelah menerima perjamuan Kudus di Rumah Sakit Cikini Jakarta, dan kemudian disambut jemaat HKI bersama semua pendeta HKI di Silindung di Siualuompu untuk memberikan penghormatan terakhir dan menghantar beliau ke tangan Allah Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus. Tanggal 7 Mei 1979, jemaat HKI Siualuompu yang dilayaninya dalam awal kependetaannya (1941/dua tahun setelah jemaat ini berdiri tanggal 7 Mei 1939) memberikan tanda penghormatan dan surat penghargaan atas jasa-jasa beliau dalam membangun HKI. HKI harus melihat akhir hidup sang tokoh, dan terus bergumul untuk melanjutkan cita-citanya. (dikutip dan disesuaikan dari catatan Amang Ephorus, Pdt. L. Sitorus, MTh dalam bedah buku TUAN MANULLANG ditulis oleh Dr. PTD. Sihombing, M.Sc., S.Pd di Jakarta 24 Mei 2008).
Akhirnya Ephorus berpesan diakhir acara ziarah kepada yang hadir dan HKI secara umum untuk mengingat setiap para tokoh-tokoh gereja HKI terdahulu dan bersama melanjutkan perjuangan dan cita-cita mereka. Kegiatan ziarah kemudian diakhiri dengan bernyanyi dan berdoa yang langsung dipimpin oleh Amang Ephorus. Sebagai dokumentasi diikuti dengan foto bersama di depan makam dan dilanjutkan dengan foto bersama dengan keluarga besar di depan rumah yang dulunya sebagai tempat tinggal Pdt. MH. Manullang bersama orangtua dan sanak keluarga lainnya. (yph)
Perjalanan Ziarah Ephorus dan Rombongan Minggu, 29 Agustus 2010
Bersama dengan rombongan, seusai ibadah dan temu ramah dengan jemaat di HKI Patane, Porsea, pada Minggu, 29 Agustus 2010, Ephorus dengan didampingi oleh Inang Ephorus, kembali melakukan kunjungan ziarah ke makam Pdt. T.J. Sitorus, Ephorus kedua di HChB sejak tahun 1946 – 1978.
Bersama Ephorus juga hadir, Drs. Hulman Sitorus (Mantan Kadis Pendidikan Tobasa), Pdt. S. Nainggolan, STh (Majelis Pusat HKI), masing-masing beserta keluarga, Pdt. C.H. Siahaan, SmTh didampingi istri, dan Pdt. H. Togatorop, STh.
Setelah selesai mengadakan kebersihan di sekitar makam, di dalam pesan-pesannya kembali Ephorus mengharapkan dan mengajak semua pihak yang ada di HKI secara umum untuk mengingat, meneladani dan melanjutkan semangat, perjuangan dan cita-cita dari para tokoh pendahulu di HKI.
Mengenang perjalanan hidup dari Pdt. T.J. Sitorus (11 November 1914 – 5 Oktober 2002), yang tidak lain adalah Bapak (Bapak Uda) dari Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh; Ephorus mengisahkan bahwa perjalanan hidup Pdt. T.J. Sitorus yang dianugerahi delapan anak (5 laki-laki dan 3 perempuan) senantiasa berpedoman pada pesan Firman Tuhan dalam Matius 6:33 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”, (ayat ini kemudian diukirkan pada nisan dari Pdt. T.J. Sitorus). Semasa hidupnya, terlebih di dalam kependetaannya, beliau senantiasa menghidupi Firman Tuhan ini dan mengerjakannya, dan percaya bahwa yang lain (kebutuhan hidupnya) akan ditambahkan Tuhan kepadanya. Beliau tidak pernah mengeluh terhadap kesejahteraan semasa mengemban tugasnya sebagai pendeta di HKI. Dan semuanya nyata dialami beliau, lewat hasil haumanya, Tuhan mencukupkan segala kebutuhan keluarga. Hanya satu yang menjadi kegelisahan beliau, tidak adanya dari anak-anak beliau yang mau untuk melanjutkan sekolah ke sekolah kependetaan. Meskipun, seorang anak beliau akhirnya mau melanjutkan sekolah di sekolah kependetaan, namun menjelang akhir sekolahnya Tuhan berkehendak beda, Tuhan terlebih dahulu memanggilnya. Kejadian ini, yang kemudian membawa istri beliau, E.br. Manurung (10 Juli 1966 – 17 Desember 1984) menjadi depresi berkepanjangan hingga tutup usia. Sebagai pendeta dan orator handal, cukup sedikit yang dapat diperoleh hasil buah pikiran beliau (berupa bahan-bahan khotbah), hal ini disebabkan bahan khotbah yang beliau tuliskan tatkala hendak berkhotbah hanya penggalan-penggalan garis besarnya saja. Meskipun demikian, khotbah beliau tetap kontekstual dengan pesan Firman Tuhan dalam nats yang menjadi bahan khotbah. Bahan Khotbah beliau yang dapat dibaca lengkap, hanya dapat ditemui dalam Almanak HKI untuk Khotbah Tahun Baru. Dalam perjalanan pelayanan dan perjuangan beliau sebagai pendeta di HKI, beliau dikenal sebagai seorang yang berkarisma dan berwibawa yang datangnya dari Tuhan. Beberapa masalah yang pernah ada baik di dalam gereja dan masyarakat, selalu berakhir dengan damai dan baik jika beliau sudah hadir dan memberikan nasehat dan pandangannya. Meskipun, suatu saat beliau pernah diancam ditembak oleh seorang warga jemaat, ketika sedang berkhotbah, namun kemudian dapat berdamai. Dikisahkan Ephorus kepada rombongan yang ikut serta.
Ada satu semangat yang pantas untuk di teladani hingga saat ini dari Pdt. T.J. Sitorus, (yang oleh dorongannya kepada Pdt. Dr. Langsung. Sitorus MTh, kemudian membawa Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh melanjutkan sekolahnya ke sekolah kependetaan pada tahun 1973 dengan cita-cita yang dipesankan untuk membawa kembali huria tu bona na, dan menjadi cita-cita dan perjuangan yang masih terus dikerjakan oleh Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh hingga saat sekarang ini), yakni semangat beliau yang tidak akan mundur atau menyerah untuk mempertahankan yang baik dan benar. Tekadnya adalah untuk menghadirkan HKI hingga dikenal baik di ruang lingkup nasional dan internasional. Kerinduannya untuk keesaan dan kesatuan gereja-gereja yang ada senantiasa menjadi cita-cita luhur dalam perjuangannya. Itulah tugas dari HKI saat sekarang ini yang harus terus diperjuangkan. “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka (Ibrani 13:7)”, pesan Ephorus menutup kisah perjalanan hidup Pdt. TJ. Sitorus.
Kegiatan ziarah di akhiri dengan meletakkan bunga dan doa yang dipimpin oleh Pdt. CH. Siahaan, SmTh. (yph)