Tuesday, May 27, 2008

Bina Anak edisi JUNI 2008

Minggu 01 Juni 2008
Bahan Alkitab: Ulangan 10: 12 - 13

1. Pembahasan Nats

Nasihat ini datang dari seorang guru : “Jangan biarkan kesenanganmu menghalangi ibadahmu”. Peringatan ini sangat perlu diperhatikan anak-anak zaman sekarang ini. Bila tidak waspada, kesenangan sangat berpotensi merusak masa depan anak-anak.
Contoh yang dapat diutarakan yang dapat merusak ibadah anak-anak pada zaman sekarang ini adalah membaca buku komik, main play station, menonton film anak-anak yang bertema kekerasan pada setiap hari Minggu pagi, dan lain-lain yang depat merusak mental anak-anak. Kalau hal ini dibiarkan, maka kehidupan anak akan dikuasai oleh kesenangan yang dipertontonkan oleh kemajuan zaman. Imbasnya, anak-anak akan lebih mengakui dan mempercayai kekuatan duniawi yang dilihatnya daripada mengakui dan mempercayai kekuatan Yesus yang diperoleh melalui iman percaya.
Kitab Ulangan ini mengajak bangsa Israel dan anak-anak sekolah minggu untuk .....beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Allah melihat bangsa Israel tidak taat lagi kepada Nya dan telah hidup menurut selera atau kesenangan mereka sendiri. Allah yang bermurah hati tidak menginginkan umat yang dikasihiNya jatuh kepada kesenangan dunia dan Dia menginginkan bangsa itu tetap hidup beribadah kepada Tuhan. Allah mengarahkan bangsa itu tetap berpegang pada perintah dan ketetapan yang telah disampaikanNya.

Demikian jugalah Tuhan kepada anak-anakNya tetap menginginkan ibadah yang harum, ibadah yang baik bagi Tuhan dan masa depan anak-anakNya. Melalui Rasul Paulus, Tuhan mengatakan “...tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup maupun untuk hidup yang akan datang (1 Timotius 14: 8).
Dengan ketekunan beribadah kepada Tuhan, maka anak-anak akan mampu berjalan di jalan Tuhan dan takut kepadaNya. Lebih jauh lagi, anak-anak akan dapat membedakan mana yang patut dilaksanakan dan mana yang tidak patut dilaksanakan. Melalui ibadah juga, anak-anak Tuhan wajib bersyukur kepada Tuhan. Bintang-bintang saja tahu berterima kasih kepada Tuhan, Kucing mengeong, ayam berkokok, tikus mencicit, kambing mengembik. Tidak pernah ada kambing yang mengaum seperti singa.

Demikian jugalah Tuhan menginginkan anak-anak Tuhan dari dahulu sampai sakarang harus mau mengucap syukur kepada Tuhan disepanjang hidupnya. Melalui ibadah juga, anak-anak Tuhan menyampaikan dan mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhan. Kita memuji Tuhan dengan bernyanyi. Saya yakin semua anak-anak Tuhan bisa bernyanyi sesuai dengan kemampuannya, sehingga tidak ada seorang pun yang tidak bisa memuji Tuhan. Jika anak-anak Tuhan memuji Dia dengan segenap hati, roh, jiwa dan tubuh kita, maka puji-pujian itu akan menghantar segala doa/permohonan kita kehadirat Allah; sehingga hati Allah akan bergetar den tergerak untuk mengabulkan segala permohonan kita.
Karena itulah, kepada anak-anak Tuhan, demi kebahagiaan dan kemuliaan Tuhan serta untuk menjauhkan kita dari kuasa-kuasa dunia yang membelenggu dan yang akan menghancurkan hidupmu, “Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung padaNya (Mazmur 2: 11-12)”.

2. Ayat Hafalan : Matius 9: 9b

3. Thema : - Untuk anak kecil : Ikut Yuk
- Untuk anak tanggung Mengikut Yesus

4. Tujuan : - Untuk anak Kecil supaya anak dapat:
a. Menyebutkanh apa alasan mengikuti ibadah
b. Menyebutkan kerugian bila tidak mengikuti ibadah
- Untuk anak tanggung supaya anak dapat:
a. Menyebutkan apa alasan mengikuti ibadah
b. Menjelaskan manfaat dan kerugian ikut beribadah

5. Nyanyian : Mengikut Yesus Keputusanku

6. Metode Penyampaian
6.1. Untuk anak kecil
- Metode penyampaian: Bentuk Permainan dengan judul “Sambutlah Yesus Tolak Setan”
- Tujuan yang mau dicapai melalui permainan ini agar anak-anak sekolah minggu dapat memahami makna ibadah bahwa dengan ketekunan beribadah kita menyambut Yesus dan menolak setan.
- Cara permainan
Guru sekolah minggu menerangkan kepada anak-anak sekolah minggu:
a. Semua anak-anak sekolah minggu disuruh berdiri
b. Bila pemimpin permainan menyebut nama “Yesus”, maka gerakan anak-anak sekolah minggu seperti ketika Tuhan Yesus disalibkan.
c. Bila pemimpin permainan menyebut nama “Setan” maka gerakan anak-anak sekolah minggu seperti wajah dan tangan singa yang menerkam.
d. Bila pemimpin permainan menyebut “Tolaklah setan”, maka gerakan kedua tangan anak-anak sekolah minggu harus ke depan seperti orang yang sedang menolak.
e. Bila pemimpin permainan menyebut “Sambutlah Yesus”, maka gerak kedua tangan anak-anak sekolah minggu di silangkan di dada.
- Guru sekolah minggu sebagai pemimpin permainan melaksanakan permainan ini berulangkali sampai anak-anak sekolah minggu dapat memahami lebih bagus mengikut Yesus dari pada mengikut setan.

6.2. Untuk anak tanggung
- Metode penyampaian : Untuk permainan dengan judul “Waspadalah terhadap iblis”
- Tujuan yang mau dicapai melalui permainan ini agar anak-anak sekolah minggu dapat memahami bahwa melalui ketekunan beribadah kepada Tuhan kita menjadi waspada terhadap iblis.
- Sarana yang dibutuhkan untuk permainan : 1. Satu buah bangku kecil, 2. Satu buah bola plastik.
- Cara permainan
a. Permainan dilaksanakan di luar ruangan (dihalaman gereja).
b. Guru sekolah minggu mengajak anak-anak sekolah minggu untuk membentuk lingkaran. Kemudian bangku kecil itu diletakkan di tengah-tengah lingkaran. Bangku itu menjadi sasaran utama bagi peserta permainan untuk dilempari bola. Karena itu, di dekat bangku harus ada satu orang yang ditunjuk sebagai penjaganya untuk melindungi bangku itu dari serangan-serangan bola yang dilempar oleh peserta permainan. Penjaga itu harus berusaha agar bola yang dilemparkan ke bangku tidak mengenai bangku, tetapi ia tidak boleh menggunakan alat apapun, kecuali tangannya. Demikianlah permainan ini dilakukan berulangkali dengan mengganti peserta yang menjaga bangku setiap selesai satu permainan, dan peserta permainan secara bergiliran melempar bola ke bangku.
c. Setelah selesai permainan Guru sekolah minggu menerangkan makna permainan tersebut bahwa :
- bangku menggambarkan anak-anak sekolah minggu yang sering diserang oleh kuasa-kuasa iblis dan kesenangan daging
- bola yang dipakai untuk melempar bangku menggambarkan kuasa iblis yang menyerang anak-anak sekolah minggu di dalam hidupnya
- peserta yang menjaga bangku dari serangan bola menggambarkan Tuhan yang menjaga anak-anak yang dikasihiNya
- sehingga guru sekolah minggu menerangkan kepada anak-anak sekolah minggu bahwa dengan ketekunan beribadah dan selalu mengikut Yesus dalam hidupnya, kita akan dijaga Tuhan dan dijauhkan Tuhan dari segala kuasa-kuasa iblis yang akan menghancurkan masa depan anak-anak Tuhan

Pdt. Norton Sinaga, S.Th


Tanggal, 08 Juni 2008
Bahan Alkitab:Yesaya 45: 6b - 8; 12a

I. Penjelasan Nats.
Manusia hidup di bawah ketidak pastian. Sebab tak seorang pun yang dapat memastikan apa yang akan terjadi dengan dirinya sendiri sedetik kemudian ataupun selanjutnya. Sadar atau tidak sadar, kita hidup bagaikan berjalan di tengah malam yang gelap gulita. Kita tidak melihat jalan yang akan kita tempuh, kita tidak tahu seperti apa bentuk jalan yang akan kita lalui. Dengan kata lain semua masih rahasia atau misteri.
Dengan menyadari bahwa semua masih misteri, maka kita sangat memerlukan pengetahuan dan terang yang akan menuntun kita. Inilah yang dimaksud dalam perikop ini, yang mengatakan bahwa oleh Dialah yang menciptakan terang dan gelap, nasib mujur dan malang, serta semuanya yang masih rahasia bagi kita (ayat 7-8). Yang dimaksud dengan menciptakan terang dan gelap bukan hanya berkaitan dengan siang dan malam serta matahari bulan bintang, tetapi juga berhubungan dengan penyingkapan misteri illahi yang masih gelap/rahasia/ditutupi bagi kita.
Tuhan adalah perancang dan pencipta yang maha bijaksana. Dia menciptakan semua dengan sengaja menaruhkan berbagai kekurangan dan kelebihan dalam diri setiap ciptaan. Dengan maksud agar semua saling membangun, membutuhkan, memberi, melengkapi, mengasihi, sehingga tidak ada lagi yang egois. Unsur inilah yang kita lihat dalam ayat 8, awan mencurahkan hujan dari langit supaya tanah menumbuhkan segala yang hidup di atasnya. Dalam siklus ini nampak bahwa tetesan/curahan awan dari langit sangat dibutuhkan tanah supaya ia dapat membangun/menghidupkan yang di dalamnya. Dan awan yang menumpuk di langit berasal dari pemberian/ penguapan segala tumbuhan yang telah dihidupkan oleh tanah. Demikianlah seluruh ciptaan ini saling membutuhkan, melengkapi, memberi, membangun.
Kemudian dikatakan, Tuhan mencipatakan manusia berada di atas segala ciptaan lainnya (ayat 12). Artinya, kita sebagai mahluk tertinggi harus mampu mengayomi ciptaan lainnya. Dengan memelihara alam, menanami bunga, penghijauan hutan, jangan mencemari mata air, laut, danau, dan tidak membuang sampah di sembarangan tempat apalagi ke sungai. Dengan melindungi ikan di laut dan binatang di darat, menjauhkan volusi udara, dan lain-lain sudah termasuk melakukan mandat Allah. Nah, jika mandat ini sudah kita lakukan, maka bumi dan segala isinya akan menjadi sahabat bagi kita yang dapat memberikan kehidupan yang nyaman dan sejahtera. Laut melengkapi kebutuhan nelayan, darat mengasihi petani serta berbagai pekerja yang mencari nafkah di darat, musim - udara menghembuskan kesegaran dan kelegaan. Dengan kata lain, tsunami, longsor, penyakit tidak akan muncul.
Namun perlu kita perhatikan bahwa walau semua perangkat alam sudah menjadi sahabat bagi kita, itu belum dapat menjamin kesejahteraan seutuhnya. Sebab Tuhanlah yang mengatur segala sesuatunya, dan yang belum terjadi adalah masih misteri bagi kita. Karena itu, mari kita memelihara, melestarikan alam demi tanggung jawab iman pada Tuhan sang pencipta. Dialah yang mengatur segala sesuatunya bagi kita.

III. Penerapan Menurut Umur;
1. Untuk Anak kecil
a Tema : TUNAS BARU
Menurut tema di atas, kita diarahkan melihat sisi Firman Tuhan dari sudut pelestarian lingkungan hidup. Tunas baru adalah merupakan bibit awal yang harus dijaga serta dipelihara secara sungguh-sungguh. Dan untuk menumbuhkan tunas baru yang sehat dan alami, kita harus merawat induk/pokok dimana tunas itu tumbuh. Anak-anak sebagai tunas baru juga harus mau merawat lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu anjurkanlah agar anak-anak cinta pada lingkungan. Misalnya mau menanam bunga baik di sekolah maupun di pekarangan rumahnya. Rajin menyirami, merawat bunga-bunga tersebut, serta mau melestarikan alam.

b. Metode: Cerita dan alat peraga.
KUNTUM-KUNTUM BUNGA MAWAR

Seorang perempuan kecil sedang jalan jalan dengan kakeknya. Ketika itu tangan si adik kecil menggandeng tangan si kakek. Sebuah tongkat kayu tergemgam erat terus di tangan sang kakek yang sudah keriput. Mereka tiba di kebun bunga yang berada di belakang rumahnya. Aroma bunga mawar yang begitu harum menebar sampai pada hidung sang anak. Kemudian sianak bertanya, “Dapatkah kakek mencium harum bunga­bunga mawar ini kek? Bunga-bunga ini bagus-bagus sekali ya kek! Sang kakek tersenyum dan berkata; Kamu tertarik dengan bunga ini? Ambillah sebanyak yang engkau inginkan. Untuk itulah bunga ini kakek tanam. Kakek menanamnya untuk membuat orang lain berbahagia. Meskipun kakek sendiri tidak bisa melihat bunga-bunga itu karena mata kakek sudah buta.
Cerita di atas mengajarkan kita agar mau melestarikan alam, menanam bunga di pekarangan rumah, karena itu dapat memberikan udara segar dan menebar aroma harum pada orang yang tinggal dekat bunga itu.

c. Alat Peraga : Pohon bunga yang bertunas dengan subur. Dan ceritakan bahwa itu adalah akibat perawatan yang penuh perhatian.

d. Nyanyian :
• Lihat kebunku.
• Pelangi-pelangi.

e. Ayat Hafalan : Efesus 2:10

2. Anak Tanggung
a. Tema : BERTUMBUH

Bertumbuh berarti ada yang menanam, menumbuhkan, menyiram, merawat, memupuk, dan lain-lain. Manusia dapat menanam tetapi Tuhan yang menumbuhkan melalui perawatan yang kita berikan. Pertumbuhan dapat terjadi dengan sehat apabila semua mendukung, baik cuaca, musim, cahaya, hujan, udara dan juga peranan manusia. Karena itu lestarikan alam supaya mereka menjadi sahabat bagi pertumbuhan tanaman kita. Dalam kotbah ini, anjurkan anak-anak agar mau melestarikan alam melalui penanaman bunga serta beberapa tanaman baru, agar lingkungan mereka sehat bestari.

b. Metode: Diskusi
Diskusikan alasan kenapa harus memelihara alam, apa tindakan nyata yang bisa kita perbuat, bagaimana merawat tanaman supaya bertumbuh dengan baik. Apa akibat yang terjadi apabila alam sudah rusak atau tidak bersahabat lagi, bagaimana mengatasinya?

c. Alat Peraga: Ambil tanaman bunga yang bertumbuh subur/sehat dan bunga/tanaman yang sakit. Berikan perbandingan. Lalu minta pendapat mereka kenapa demikian? Kemudian ambil gambar tanah longsor dan rumah yang hancur akibat tsunami, kemudian minta pendapat mereka kenapa itu bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya.

d. Nyanyian :
• Tuhan adalah gembalaku.
• Lihat kebunku.

e. Ayat Hafalan : Efesus 2 : 10



Minggu, 15 Juni
Bahan Alkitab: Mazmur 33: 4-9

I. Pendahuluan.

Pada umumnya setiap orang yang bersukaria maupun berdukacita akan nampak dari wajah serta gerak-gerik tubuhnya. Misalnya, orang yang wajahnya berbinar-binar, gerak tubuh lincah dan ceria, bernyanyi-nyanyi atau bersiul-siul dengan lagu yang gembira, berarti dia sedang bersukacita. Dan sebaliknya, orang yang selalu lesu, tidak bersemangat, muram, dan tidak tenang adalah pertanda bahwa dia sedang bermasalah atau berdukacita. Jadi bisa kita katakan bahwa jiwa seseorang akan nampak dari tampilan luarnya. Pada jiwa seseorang tersimpan kekuatan yang sangat mempengaruhi perasaannya. Dan di sinilah letak iman kita.
Sebagai orang percaya, pemazmur mengekspresikan imannya melalui nyanyian dan puisi. Inilah yang dapat kita lihat dalam perikop ini.

II. Penjelasan Nats
Biasanya setiap lagu maupun puisi selalu memiliki latar belakang tertentu. Latar belakang ini kalau kita cari tahu pasti nampak dari syaimya. Misalnya, ada sepasang kekasih yang sudah sejak lama berpacaran dan mereka sudah cukup erat dan mesra. Namun karena sesuatu hal, hubungan mereka berantakan dan tidak pernah lagi ketemu sehingga kemesraan pun berubah menjadi kesepian. Dalam pengalaman seperti ini dikaranglah lagu yang bersyair, “Mengapa harus begini, tiada lagi kemesraan.: “.
Lagu “mengapa harus begini.... “ tercipta akibat pengalaman yang sudah mengalami perubahan dari yang biasanya mesra, namun kini tidak lagi. Demikianlah kita dapat memahami ungkapan perasaan yang terkandung di belakang setiap lagu atau pun puisi.
Dalam teks ini dapat kita pahami apa kandungan perasaan yang termahtub di dalamnya. Pemazmur mengatakan bahwa firman Tuhan itu pasti benar, sehingga tidak pernah orang dikecewakannya. Karena memang Dia mencintai keadilan, kasih setia dan penuh dengan prakarsa. Tuhan sebagai sang pencipta yang maha bijaksana, menaruh fungsi setiap ciptaanNya untuk melayani yang lain dan melengkapi mereka. Demikian juga sebaliknya, ciptaan lain sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan serta kelangsungan hidupnya. Misalnya, Tuhan mengumpulkan air (laut) bagaikan bendungan, supaya ada empat hidup ikan, tumbuhan serta beberapa mahluk lain. Dan sini nampak dengan jelas bahwa ikan sangat membutuhkan bendungan itu, sebab di sanalah mereka hidup. Dan segala keindahan alam serta seluruh ciptaan ini pemazmur kagumi dengan sepenuhnya. Dan di balik semua ini pasti ada yang merancangnya, yaitu Tuhan Allah yang maha bijak. Inilah yang diimani pemazmur berdasarkan pengalarnan hidupnya sehari-hari.
Nah, kita juga sebagai manusia yang memiliki perasaan, penglihatan, pengalaman., halusinasi, apa yang dapat kita tuturkan setelah mengamati dunia dalam hidup kita? Setiap manusia mungkin memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Karena itu, ungkapan perasaan kita juga dapat berbeda­beda. Oleh karena itu, ungkapkanlah kekagumanmu terhadap keindahan alam, keunikan ciptaan Tuhan.

III. Penerapan Menurut Umur
1. Untuk Anak kecil
a. Tema: BUMI

Kata bumi dalam tema ini adalah berkenaan dengan planet tempat manusia hidup. Secara geografi bumi yang dimaksud di sini adalah bumi tempat manusia serta ciptaan Tuhan lainnya hidup. Namun menurut perikop kotbah ini bahwa kata bumi tidak hanya menunjuk pada satu planet saja, tetapi sudah termasuk seluruh jagad raya ciptaan Tuhan. Pemazmur mengatakan bahwa jikalau Dia memberi perintah, maka semuanya ada. Berarti kata semuanya di sini adalah sudah termasuk seluruh yang ada, baik planet bumi, matahari, bulan bintang, dll. Pada usia ini kita hendak mengatakan bahwa bumi tempat kita berpijak ini adalah unik dan indah. Dan itu semua adalah ciptaan Tuhan. Pada anak usia Balita kita harapkan agar mereka mampu menyebutkan serta mengenal beberapa ciptaan Tuhan yang ada di bumi. Dan keunikan, keindahan yang dipancarkannya itu dapat mereka ungkapkan melalui nyanyian ataupun puisi.

b. Metode : Cerita bergambar (ceritalah berdasarkan gambar yang ada)
c. Alat Peraga : Globe dunia, atlas dunia
d. Nyanyian :
• Kj. No. 64,
• Pelangi-pelangi alangkah indahnya.
e. Ayat Hafalan : Mazmur. 33: 4

2. Untuk Anak Tanggang
a. Tema: BUMI DAN ISINYA
Arti bumi dalam usia ini adalah sama dengan yang di atas. Dan penerapan teks pada usia ini, diharapkan agar dapat memahami apa itu bumi dan apa keunikannya, untuk apa itu ada serta siapa yang membuatnya. Dengan memahami bumi serta isinya, sehingga mereka dapat mencintai, menjaga atau melestarikannya. Dan mereka juga dapat mendaftarkan tindakan nyata mengasihi alam serta isinya. Kecintaan serta kekaguman yang mereka miliki ini dapat diungkapkan melalui nyanyian ataupun puisi.

b. Metode: Tanya jawab dan nyanyian.
• Bagaimanakah bentuk bumi ini? Jawaban: Bumi bulat seperti bola
• Semua ciptaan yang ada di dalam bumi termasuk manusia harus hidup secara ketergantungan antara satu dengan yang lain. Apa usaha kita agar mereka semua hidup dengan bahagia? Jawaban: Usaha kita adalah dengan memelihara, menjaga, serta mencintainya.
• Coba adik-adik buat lagu atau puisi yang berhubungan dengan keindahan ciptaan Tuhan! Jawab: Lagu pelangi-pelangi, Puisi; Indahnya Alam ini.

c. Alat Peraga: Atlas dan globe dunia

d. Nyanyian:
• Dari Pulau dan Benua
• Allahku luar biasa

e. Ayat Hafalan: Mazmur 33: 4

Minggu, 22 Juni 2008
Bahan Alkitab: 1 Timotius 5:1-2

L Pendahuluan.

Memahami siapa saya, dimana posisi saya, dengan siapa saya berbicara dan apa yang mau saya sampaikan adalah hal yang sangat penting dalam berkomunikasi. Sebab setiap berkomunikasi kita harus memiliki tatakrama serta kesopanan. Kalau tidak maka kita akan kesulitan atau tidak dapat menyampaikan sesuatu dengan benar. Dan bukan hanya itu Tuhan juga akan marah. Oleh karena itu, kenalilah dengan siapa anda berbicara dan ikutilah rambu-rambu berkomunikasi dengan baik dan benar.

II. Penjelasan Nats.
Ada kata orang bijak, “Semut saja akan menggigit kalau dia dipijak....”. Artinya jangan pernah anggap remeh pada siapapun, karena mereka bisa marah bahkan menghabisimu. Setiap manusia memiliki keterbatasan kesabaran. Karena itu kalau seseorang sudah mencapai puncak batas kesabaran, maka dia akan marah. Jadi sebagai ungkapan pembelaan diri, dikatakanlah seperti yang di atas, “Semut saja akan menggigit kalau dipijak, apalagi manusia? “.
Setiap manusia akan merasa kurang dihargai kalau diperlakukan tidak sesuai dengan tarafnya atau yang seharusnya. Sebaliknya, manusia akan sangat senang, bangga, bahagia, kalau diperlakukan dengan sopan dan baik. Itulah sebabnya ada ungkapan, “Anda sopan, kami bangga”.
Inilah yang dianjurkan dalam perikop ini, yaitu supaya setiap orang memiliki tatakrama dalam berkomunikasi dengan siapapun. Dalam Bibel Toba terjemahan bahasa sehari-hari dikatakan, “Unang songgahi halak na matua, alai panghulingi ma ibana songon ama”. Terjemahan ini lebih mudah kita pahami dari pada terjemahan Bahasa Indonesia yang mengatakan, “Jangan engkau keras terhadap orang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapak”. Nats ini hendak mengatakan bahwa baiklah setiap orang memperlakukan orangtua itu sebagai orangtua. Walaupun dia salah, janganlah bersikap keras (disonggahi). Demikian jugalah terhadap saudara, ibu, adik dan siapapun.
Mungkin seseorang itu bersalah atau silap maupun khilaf, itu adalah wajar karena dia manusia dan bukan malaikat. Mungkin orang yang sudah tua, pintar, berpengalaman, terpandang sendiripun sering salah, apalagi mereka yang masih muda atau anak-anak. Jadi kalau anda menemui kesalahan seseorang, jangan langsung bersikap kasar/keras terhadapnya. Tetapi hargailah dia sebagai manusia yang sama denganmu, yang sama bukan hanya dalam hal manusia tetapi juga sama-sama bersalah. Sebab jika anda langsung keras terhadap dia, berarti anda sudah salah yaitu sudah tidak menghargai, tidak memberi kesempatan untuk merubah diri bahkan sudah memojokkan/menyudutkan. Dalam situasi ini, berarti anda berdua sudah sama-sama bersalah.
Memang tak dapat disangkal bahwa ada banyak orang yang tidak menempatkan dirinya sebagai orang tua, karena itu lawan bicaranya terpancing untuk tersinggung. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa pada awalnya kita bicara sopan, baik-baik, sangat menghargai dia, tetapi karena dia sendiri yang tidak menghargai dirinya sehingga kita dipaksa unok bersikap keras. Bagaimana menghadapinya? Ini jugalah yang dinasehatkan perikop ini, supaya kita menahan diri dengan tetap jangan bersikap keras, tetapi perbuatlah mereka sebagaimana sopannya. Firman Tuhan berkata, bahwa untuk membuat orang sadar atas dirinya adalah harus dengan kebaikan. Karena dengan kebaikan berarti kita sama dengan menaruh barah api di atas kepalanya. Sekali lagi, jangan balaskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi buatlah kebaikan balas kejahatan.
Secara psikologi kita dapat menghadapinya dengan mengingat-ingat semua kebaikan yang pernah dia perbuat pada kita, sehingga emosi dapat tertahankan atau tidak langsung keras/memarahinya. Dan anggaplah kesalahannya itu merupakan hal yang biasa karena manusia adalah sangat terbatas. Dengan demikian berarti anda sudah membuat dia sebagaimana kodratnya.

III. Penerapan Menurut Umur
1. Untuk Anak kecil
a. Thema: AKU DAN TEMAN, ORANGTUA, BIBI, NENEK

Berdasarkan tema di atas kita diajak agar dapat mengajar anak untuk mengenal siapa teman bicaranya. Misalnya dia sedang bicara dengan teman, saudara, orangtua, kakeknya. Dan Bagaimana seharusnya dia berbicara. Kita mengajar anak untukk bersikap manis, sopan, bertatakrama dalam berbicara dengan siapapun. Dan agar mereka mengerti mana kata-kata yang tidak patut diucapkan, misalnya beberapa kata-kata yang tidak sopan.

b. Metode: Cerita
Selamat Pagi, Mirna!
Mirna merasa jengkel pada ibunya karena semua yang dia lakukan selalu dipersalahkan ibunya. “Saya kan sudah besar. Mengapa bekerja harus dipaksa paksa? Kena pukul sama mama itu sudah biasa, kenapa harus saya yang mama suruh terus sementara kakak masih ada dan lebih mampu,.... “ Demikianlah sungut-sungut Mirna dalam hatinya. Karena itu beberapa hari ini Mirna tidak mau cakapan sama ibunya. Untuk apa bicara sama ibu, muak aku melihat wajahnya, apalagi kritingnya yang kayak popmi. Sang ibu yang bijaksana mengerti kenapa Mirna memilih berdiam diri.
Suatu hari Mirna mau jalan-jalan sama temannya, tetapi karena ia tidak cakapan sama ibunya akhirnya dia segan untuk memulai bicara untuk permisi. Akhirnya dia hanya menulis secarik kertas lalu diletakkannya di atas tempat tidur ibunya. Isi kertas itu adalah, “Ibu, tolong bangunkan Mirna besok pagi cepat dan sesudah itu Mirna permisi yea bu, Mirna mau jalan-jalan bersama teman”. Sesudah ibunya bangun pagi-pagi dilihat ada kerts di atas tempat tidurnya, lalu dibaca dan dibalas dengan bunyi, “Bangun Mir... ! Pergilah, cepat pulang yea nak!”. Lalu diletakkan kembali di atas tempat tidur Mirna. Namun karena Mirna terbiasa bangun lama, akhirnya dia terlambat bangun dan tidak jadi pergi jalan-jalan bersama temannya.
Berdasarkan cerita ini, sianak diajar agar mau berkomunikasi dengan baik pada orangtua. Jangan menutup diri dengan bersungut-sungut dalam hati, tetapi lebih baik terbuka dan ungkapkan dengan ucapan yang sopan segala keluhanmu pada orangtua.

c. Alat Peraga : Boneka

d. Nyanyian :
• Kucinta keluarga Tuhan
• Oh saudaraku
• Bahasa Cinta

e. Ayat Hafalan : 1 Timoteus 5: 1

2. Untuk Anak Tanggung
a. Tema: AKU DAN FAMILIKU

Famili bukanlah hanya mereka yang masih semarga, yang ada ikatan darah dengan kita, tetapi dalam Yesus semua menjadi famili atau saudara bagi kita. Baik orang lain yang sudah tua, teman atau adik, mereka semua adalah famili. Karena itu sebagai seorang famili, tentu sikap kita juga harus sopan, baik, manis terhadapnya. Karena mereka juga baik, mau menolong dan menemani kita. Untuk itu, GSM harus memampukan anak SM untuk dapat mendaftarkan seberapa banyak perbuatan baik yang mereka lakukan dan terima dari familinya. Dan mereka harus memahami siapa famili, kenapa jadi berfamili dan untuk apa berfamili. Karena hal itu sangat mempengaruhi sikap mereka terhadap semua orang.

b. Metode: Tanya jawab.
• Coba terangkan siapa-siapa sajakah yang termasuk familimu?
• Coba sebutkan apa-apa saja perbuatan baik yang telah dilakukan familimu terhadap kamu!
• Coba beberkan apa yang telah engkau perbuat pada semua familimu!
c. Nyanyian:
• Kucinta keluarga Tuhan
• Dalam Yesus kita bersaudara

d. Ayat Hafalan: 1 Timotius 5: 1

Minggu, 29 Juni
Bahan Alkitab: II Raja-raja 18:26

I. Pendahuluan.
Sesama orang Batak (yang paham bahasa Batak) bertemu dimanapun biasanya selalu memakai bahasa daerah. Bahasa daerah ini dapat dipergunakan orang untuk menyembunyikan sesuatu hal (rahasia) dari orang yang tidak mengerti bahasa tersebut. Misalnya, dengan mengejek orang jawa (yang tidak tahu bahasa Batak) dengan bahasa Batak. Demikian juga orang Cina sering menyimpan rahasia harga jualannya dengan bahasa Cina. Oleh karena itu, hanya sesama orang Cina-lah (yang paham bahasa Cina) yang mengerti berapa harga jualannya itu dengan sebenarnya. Dan penjelasan ini dapat kita pahami bahwa bahasa dapat mengelabui orang yang tidak mengertinya. Demikianlah utusan Raja Hiskia meminta utusan Raja Assyur agar memakai bahasa Aram yakni bahasa yang tidak dimengerti rakyat Yehuda, supaya mereka tidak mengerti apa yang mereka perbincangkan. Permintaan mereka ditolak dan akhirnya utusan Raja Assyur tersebut memakai bahasa yang dimengerti oleh rakyat yaitu bahasa Ibrani.

II. Penjelasan Nats.
Bahasa adalah alat atau sarana untuk menyampaikan sesuatu hal kepada orang lain. Dengan berbahasa maka kita dapat berkomunikasi dengan siapapun. Namun karena banyak daerah dan suku bangsa, maka banyak pulalah bahasa. Jadi untuk menyatukan bahasa ini, dibentuklah satu bahasa persatuan, seperti kita bangsa Indonesia disebut dengan bahasa Indonesia. Dan pada skop persatuan dunia disebut dengan bahasa Internasional.
Orang bijak berkata, “siapa yang bisa berbahasa, maka dialah yang bisa menjelajahi dunia”. Dari perkataan ini kita diajak untuk mengerti banyak bahasa. Misalnya bahasa daerah; Batak Toba, Simalungun, Angkola, Karo, Jawa, dll. Bahasa persatuan bangsa; Indonesia, Inggris, Prancis, Mandarin, Yunani, Ibrani, Aram, dll. Jadi jangan kita hanya mengerti bahasa Batak saja sementara bahasa Indonesia buta sama sekali. Atau sebaliknya, karena kita lahir di kota kita tahunya hanya bahasa Indonesia sementara bahasa Ibu yakni bahasa Batak dilupakan. Itulah sebabnya banyak orang menghabiskan uang, tenaga dan pikirannya hanya untuk mempelajari bahasa. Mereka kursus dimanamana, mulai dari tempat yang sederhana hingga yang elit. Mereka pergi bertamasya mencari orang yang memakai bahasa yang mereka pelajari (native speaker). Mereka juga membeli banyak buku-buku, kaset, serta alat canggih lainnya yang dapat mempermudah mereka belajar bahasa tersebut.
Dengan mengerti banyak bahasa maka akan semakin sedikit kemungkinan kita dapat dikelabui bahasa orang. Dan bukan hanya mengerti, tetapi juga harus mengusai bahasa itu dengan baik dan benar. Sebab kalau tidak, maka bisa terjadi seperti peristiwa pembangunan menara Babel dahulu kala. Karena tiba-tiba mereka memakai banyak bahasa yang tidak saling dikuasai/dimengerti, maka pembangunanpun tertunda. Dengan mengerti banyak bahasa juga, kita dapat meraih sebuah profesi yang mulia (guidance/pengantar) yang tak kalah dengan profesi lain seperti dokter, pengusaha, pejabat, dan lain-lain.
Berbicara yang baik dan benar bukan hanya paham dengan seluruh tata bahasa, kalimat, tetapi unsur pengucapan juga sangat perlu. Misalnya dua orang berbicara yaitu yang sumbing dengan yang sehat, pasti lebih mudah kits mengerti ucapan pembicara yang sehat. Kenapa? Karena pengucapannya, vocalnya lebih jelas. Demikian jugalah kita dalam setiap kali berbicara, harus jelas dimana penekanan/intonasi, vocal, lambat dan jelas, volume suara yang tepat, dan lain-lain. Untuk itu, pakailah bahasa yang baik dan benar, kuasailah bahasa sebanyak mungkin dan jangan lelah belajar untuk maju. Dan sesudah maju, jangan mempergunakan bahasa tersebut untuk mengelabui orang yang tidak memahaminya, tetapi haruslah mengajari mereka yang belum mengerti. Sebab itulah yang dikehendaki Tuhan.

III. Penerapan Menurut Umur;
1. Untuk Anak kecil
a. Thema: BERBICARA DENGAN BENAR

Untuk dapat berbicara dengan baik dan benar, maka anak-anak harus banyak meniru atau membeo orang yang sudah pandai berbicara. Misalnya, untuk mengajar anak yang belum tahu bicara, kita harus banyak berbicara di hadapannya. Demikian jugalah untukk anak sekolah minggu, kita harus banyak menirukan pembicaraan, mengulangi dengan beberapa kali. Dan langsung memarahinya kalau mulai belajar kata-kata kotor.
b. Metode : Panggung boneka
c. Alat Peraga : Boneka
d. Nyanyian :

• Ajarilah kami bahasa cintaMu.
• KNE No. 11, 14, 19

e. Ayat Hafalan : 1 Korintus 13: 1


2. Untuk Anak Tanggang
a. Tema : BAHASAKU

Bahasa adalah perlu dan melalui bahasa orang bisa berkomunikasi. Bukan hanya itu, bahasa juga budaya yang dianugerahkan Tuhan. Karena itu belajar bahasa sangat perlu dan berbahasa yang baik dan benar adalah ciri khas anak Tuhan. Untuk itu ajarkanlah anak-anak etika berkomunikasi yang benar, supaya mereka dapat mengerti ada apa dengan bahasa. Untuk apa belajar bahasa, dan apa keunikan yang terkandung dalam bahasa.

b. Metode : Ceramah

c. Alat Peraga : Gambar orang yang sukses akibat menguasai bahasa.
d. Nyanyian :
• KasihNya seperti sungai.
• Ajarilah kami bahasa cintaMu.
e. Ayat Hafalan : 1 Korintus 13: 1
MP

Bina Anak edisi JULI 2008


Minggu, 06 Juli
Bahan Alkitab: Kis. Rasul 17:10-15

I. Pendahuluan.

Memiliki banyak teman adalah banyak rejeki. Sebab dengan teman, banyak pekerjaan yang bisa kita terima, banyak informasi yang kita dapat, banyak bantuan yang dapat kita minta, dan lain-lain. Itu sebabnya dikatakan orang bijak, “Seribu teman terlalu sedikit dan satu lawan terlalu banyak”. Nah bagaimana cara memperoleh banyak teman? Dan bagaimana sikap kita terhadap teman, apalagi dia masih pendatang baru bagaimana menjalin hubungan dengannya supaya kita jadi berteman?

II. Penjelasan Nats.
Teman yang sejati adalah apabila dia teman dalam suka maupun duka. Mencari teman yang sejati sangat sulit. Sebab banyak orang mau berteman dengan kita, hanya ketika kita dalam keadaan bahagia. Misalnya lagi punya uang, lagi memiliki sesuatu, dan lain-lain. Dan sesudah kita tidak punya apa-apa lagi atau ketika kita mengalami kesepian, kesulitan, mereka semua menjauh.
Punya banyak teman tidaklah rugi, pasti untung dan enak. Kalau kita pergi ke gereja lain, di sana kita punya teman, wah bahagianya. Kalau di setiap kelas di sekolah kita ada teman karib, wah pasti mengasikkan. Kalau di setiap gang di kota atau di kampung kita, ada teman dekat, wah aman karena tidak ada yang mengganggu. Singkatnya, kalau dimana-mana kita punya teman, maka di mana-manapun kita akan aman dan tenteram. Sebaliknya, kalau punya satu musuh, dia akan mengajak temannya lebih banyak lagi untuk menghabisi/memusihi kita, sehingga gerak langkah kita akan terbatas dan nyawa terancam.
Berangkat dari kenyataan ini, berarti punya satu teman adalah sangat mengasikkan, apalagi punya banyak pasti lebih nyaman. Tetapi sebaliknya, kalau punya satu musuh saja sangat menjengkelkan apalagi semua orang jadi musuh. Nah, sekarang yang perlu bagi kita, bagaimana meraihnya? Untuk menggaet mereka kita harus banyak berkorban, mengasihi dengan iklas, suka menolong dan suka membuka diri untuk ditemani, jangan pernah membohonginya, jangan menyakitinya, tetapi lemparkanlah senyum dan tegorlah mereka setiap kali bertemu/berpapasan. Cara yang kita tawarkan ini tidaklah mudah, melainkan sangat sulit bagi orang yang tidak mau berteman. Untuk itu, Firman Tuhan harus tumbuh dalam batin kita agar minat untuk berteman ada dan mau mencari teman sebanyak-banyaknya. Demikianlah yang terjadi dalam perikop ini, karena Firman Tuhan sudah mendarah daging bagi orang Jahudi yang tinggal di kota dari pada yang tinggal di Tesalonika, maka Paulus dan Berea lebih suka tinggal di kota tersebut. Hal ini terjadi karena orang Yahudi yang tinggal di kota lebih sering (setiap hari) menyelidiki/membaca kitab suci dengan segala kerelaan hati, sehingga hatinya lebih banyak
didiami Fiman Tuhan dan jelas menjadi lebih baik pada semua orang. Dari perikop ini dapat kita ketahui bahwa Firman Tuhan menggerakkan setiap orang untuk hidup berdampingan dengan banyak teman, suka bertamu, menjauhkan diri dari sikap kesombongan, tidak mau menghasut, menghindari permusuhan, dan lain-lain.

III. Penerapan Menurut Umur;
1. Untuk Anak kecil
a. Tema: MENERIMA

Menerima Firman Tuhan berarti membuka diri untuk bertumbuh dalam kebaikan. Menerima teman, menjamu tamu/menerima tamu berarti membuka diri untuk menjalin persahabatan. Memang memberi lebih mulia dari pada menerima, tetapi kalau menerima dalam arti menerima sumber yang memotivasi kita menuju kebaikan, jauh lebih mulia lagi. Karena dengan Firman, nasehat orang bijak yang kita terima maka hidup kita dibekali agar mau memberi. Untuk itu, ajarilah mereka agar mau membuka diri terhadap Firman Tuhan dan mau memberi diri untuk mencari sahabat, menjadi sahabat sejati bagi seluruh manusia.

b. Metode : Dialog dan tanya jawab
(Coba sebutkan kata menerima beberapa kali, kemudian terangkan apa artinya? • Bagaimana kita harus menyambut teman baru?)

c. Nyanyian : • Kasih-kasih
• Dalam Yesus kita bersaudara

d. Ayat Hafalan: Ibrani 12: 3

2. Untuk Anak Tanggung
a. Tema: MEMBERITAKAN FIRMAN

Memberitakan Firman Tuhan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebab pemberitaan tanpa pelaksanaan adalah omong kosong. Jadi teladan, bersikap yang benar ditambah dengan pemberitaan adalah satu-satunya cara untuk menanamkan Firman. Dengan memberitakan Firman agar bertumbuh dalam batin setiap orang, maka usaha mencari teman dan mau menerima setiap orang menjadi sahabat akan berhasil. Oleh karena itu, tanamkanlah Firman dalam hati anak-anak sedini mungkin agar mereka mau mencari teman dan menjadi teman yang baik bagi sesamanya. Dan ajarilah mereka supaya tahu cara menolong orang lain, cara berkorban demi teman, cara menjauhkan permusuhan.

b. Metode: diskusi (bagaimana memberitakan Firman, menolong orang menderita)

c. Nyanyian : • Hati-hati gunakan mulutmu.
• Dalam Yesus kits bersaudara.

d Ayat Hafalan: Ibrani 12: 3






Minggu, 13 Juli
Bahan Alkitab: Keluaran 23: 1-9

I. Pendahuluan.

Menolong setiap orang adalah ciri khas umat kristiani. Menjadi penolong tidaklah mudah, karena penolong bisa dituduh sebagai dalang kejahatan. Misalnya untuk menolong orang yang kena tabrak di jalan raya, Sering dituduh pihak tertentu menjadi penabrak. Menolong orang yang kecopetan di pasaran, sering terbunuh oleh sipencopet. Menolong orang yang tenggelam di sungai, danau, laut, sering menjadi ikut tenggelam. Tetapi walaupun demikian, jangan berhenti atau takut untuk menolong setiap orang yang membutuhkannya. Karena menolong adalah perbuatan mulia dan disenangi oleh Tuhan. Nah, bagaimana caranya? Orang yang bagaimana yang bisa kita tolong? Dan bagaimana membuat pertolongan itu menjadi pertolongan yang benar?

II. Penjelasan Nats.
Dalam perikop ini ada hukum Tuhan yang mengatur tentang perihal tolong menolong. Dengan peraturan ini, kita dituntun untuk tahu bagaimana menolong, siapa yang berhak kita tolong dan kenapa harus menolong. Secara garis besar isi hukum tersebut dapat kita rampungkan demikian; Jangan engkau berpihak atau berdiri di jalan orang jahat, tetapi kasihilah musuhmu dan jangan mengambil yang tidak bagianmu serta jauhkan fitnah atau saksi dusta.
Memang dengan membela hak-hak setiap orang sesuai dengan perkaranya adalah perbuatan yang menolong. Bicara yang jujur serta tulus berarti menolong orang dari ketersesatan. Membantu musuh berarti mengampuninya serta membuka jalan untuk perdamaian. Membantu orang miskin untuk mendapatkan haknya secara benar adalah mengumpulkan berkat di sorga.
Menolong memang harus bijaksana, sebab pertolongan dapat menimbulkan celaka bagi sipenolong itu sendiri. Orang bijak berkata, “Air setetes sangat dan paling berharga bagi orang yang haus di padang gurun, dari pada air satu tong bagi orang yang tinggal di tepi sungai”. Artinya, untuk memberi pertolongan itu harus tepat sasaran, kalau tidak pertolongan itu tidak berharga, malah jadi menimbulkan persoalan. Misalnya, mengajari orang tua memakan bubur adalah tidak tepat sasaran, karena mereka sudah lebih tahu dan terbiasa makan bubur. Nah, inilah yang dimaksud dengan menolong dengan bijaksana. Demikian jugalah menolong orang yang tertabrak, harus ada saksi bahwa kita sebagai penolong, bukan pelaku penabrak. Kecuali dalam keadaan darurat, setelah pihak berwajib ataupun orang lain tidak bisa kita panggil, maka selamatkan orang lain dari kenaasannya. Tuhan melihat dan akan membantu kita dalam memberikan pertolongan tersebut.
Di situasi belakangan ini banyak orang yang butuh uluran tangan kita. Dan yang paling anehnya, kita saja sebagai penolong sangat membutuhkan pertolongan orang lain. Nah, bagaimana menolong orang lain, kalau kita pun harus ditolong? Orang tua berkata, kalau anda tidak bisa menolong, usahakan jangan menyusahi. Kita sebagai umat Kristen punya iman bagi Yesus Kristus bahwa kita akan dimampukan menjalani kesulitan hidup ini. Dengan kata lain, iman kita harus mampu menghibur dan menguatkan kita di tengah-tengah penderitaan. Dengan demikian, berarti walaupun kita sama-sama mendenita, tetapi kita sudah dapat mengatasinya sendiri oleh iman. Maka kita bisa menolong saudara yang sependeritaan dengan kita, dengan cara membangkitkannya dari keterpurukan tersebut. Karena itu hendaknya hukum Tuhan harus tetap melekat dalam batin kita dan usahakanlah menolong setiap orang sedapat mungkin dengan bijaksana.

III. Penerapan Menurut Umur;
1. Anak kecil
a. Thema: JADILAH PENOLONG

Menolong bagi anak kecil susah, karena mereka masih butuh pertolongan dengan sepenuhnya. Misalnya memakaikan baju, celana, sepatu saja harus ditolong lalu pertolongan apa yang bisa mereka berikan? Nah, jangan bingung. Menolong tidak harus pekerjaan yang berat, misalnya mengangkat beban, dan lain-lain. Tetapi mereka juga dapat menolong tergantung apa yang sudah bisa mereka lakukan. Misalnya membelikan bapak sebungkus rokok ke warung, mengambilkan sendok dari meja ke kamar mandi, menjaga adik-adiknya, dan lain-lain. Yang perlu kita tekankan, biarlah mereka bertumbuh dengan berjiwa penolong.

b. Metode: Cerita
Repot

Suatu pagi hari ketika terik matahari, ibu bergegas menjemur padi mereka yang baru diambil dari sawah. Ketika ibu masih menjemur di halaman rumah, si adik kecil tertidur dengan lelap di ayunannya sehingga padinya dengan cepat siap dijemur. Nah, entah kenapa sesudah ibu siap menjemur tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung, pada hal ibu sudah mulai memasak di dapur, dan ketika itu ia sedang menggoreng ikan jahir.
Sudah menjadi kebiasaan ibu, setup pagi harus melapor dulu ke kamar mandi untuk buang air kecil. Namun, pada pagi hari itu dia tidak sempat ke kamar mandi hanya gara-gara semangatnya melihat matahari yang terik. Dengan maksud agar cepat­cepat siap menjemur padinya, sehingga timbul prinsipnya demikin, “biar menjemur dulu baru nanti memasak sebentar kemudian melapor ke kamar mandi”.
Lalu tiba-tiba terdengar suara hujan turun di atas atap rumah, lalu si ibu bergegas mengumpulkan padi yang baru dijemurnya, sementara ikan sedang digoreng dan si ibu juga sesak mau ke kamar mandi, si adik juga terbangun dan menangis-nangis, sehingga semua mendesak ingin didahulukan. Lalu ibu pun panik. Nah, anak-anak apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu ibu dalam situasi repot ini?
Melalui cerita ini, anak-anak dididik agar mau membantu orangtua apalagi dalam keadaan sangat repot.

c. Alat Peraga : Gambar seorang ibu yang panik.

d. Nyanyian : • Melayani-melayani lebih sungguh
• Yesus itulah satu-satunya

e. Ayat Hafalan : Keluaran 3: 7


2. Untuk Anak Tanggung
a. Tema: BANTULAH ORANG YANG MENDERITA
Biasanya membantu adalah pengorbanan. Untuk itu ajarlah anak agar berani membuang sikap egois, dan jangan terus mengharapkan imbalan atas semua pengorbanannya. Tanamkan bahwa membantu orang apalagi dalam keadaan menderita akan diberkati oleh Tuhan. Sebab sama seperti membangun rumah, tukangnya tidak mendapat upah dari rumah yang dibangun, tetapi didapat dari sipemilik rumah. Anak-anak juga harus demikian, jangan mengharap upah dari orang yang dia bantu, tetapi biarlah dari Tuhan sendiri. Dan dalam setiap memberikan pertolongan, biarlah mereka menolong dengan bijaksana.

b. Metode: Diskusi
• Diskusikan tentang bagaimana menolong orang yang disandera penjahat, dan penjahatnya berkata, “Jangan mendekat, kalau berani akan kutembak”
• Ada pengemis yang kaya hanya dari hasil minta-minta. Dan sebelumnya kita tidak tahu kalau dia adalah seorang kaya dari hasil mengemis itu. Di suatu persimpangan kita bertemu dengannya dan nampaknya dia jorok, kakiknya dibalut perban dan ada yang masih berdarah, pada hal itu semua hanyalah tipu belaka dan tubuhnya tidak ada yang terluka. Namun dia pura-pura terluka dan dibalut dengan perban serta disemprot dengan obat merah. Karena kita kasihan, lalu kita beri uang. Setelah itu kita tahu kalau dia kaya dan penipu, apa yang kita perbuat?

c. Nyanyian:
• Kukasihi kau dengan kasih Tuhan
• Melayani-melayani lebih sungguh

d. Ayat Hafalan: Keluaran 3: 7
MP



20 Juli 2008 (Hari Alpha Omega)
Nats : Yesaya 42: 16


Pendahuluan

Semua orang ingin agar hidupnya senang karena berkecukupan apa yang dibutuhkan dalam hidupnya misalnya ia dapat memperoleh yang diinginkannya, sehat jasmani dan rohani. Tetapi tidak dapat dipungkiri, ada banyak manusia di dunia ini yang kurang beruntung karena lahir tidak sempurna jasmani ataupun rohaninya atau sering disebut cacat. Tetapi ada orang yang menjadi demikian sesudah dia lahir yaitu karena sakit, mengalami kecelakaan atau karena korban kekerasan. Orang-orang yang menderita dalam hidupnya selalu merindukan kelepasan dari derita yang dialaminya. Di sisi lain, banyak orang yang mencoba membanding-bandingkan beratnya beban dari setiap jenis penderitaan itu misalnya antara lumpuh dengan tuli, atau dungu, cacat mental atau buta. Tetapi, di antara segala orang yang tertekan, yang cacat, yang miskin, yang tuli dan sebagainya, maka orang butalah yang paling memerlukan pertolongan dan kepadanya sering dijanjikan pertolongan Tuhan (band. Yes 29: 18; 35: 5; 42: 7; Mzm 146: 8), dan mereka itu menjadi contoh keadaan sisa Israel yang dikasihani Tuhan (Yer 31: 8). Mereka sangat dikasihani karena tidak dapat bepergian kemana-mana jika tidak dituntun orang lain, sementara hidup ini adalah sebuah gerakan yang akan dilakukan oleh setiap pribadi yang hidup, sedangkan kematian artinya tidak ada lagi gerakan.

Penjelasan Nats dan Penerapan
Kepada umat Tuhan yang hidup dalam penderitaan, seperti halnya orang Israel yang hidup di pembuangan Babel, Tuhan berkata melalui nabi Yesaya, bahwa Ia akan memimpin mereka. Mereka sama dengan orang-orang buta yang sedang berjalan di jalan yang tidak mereka kenal. Mereka adalah orang-orang yang belum pernah mengetahui atau mengerti sesuatu dan sering disebut sebagai orang buta. Bagi mereka, seluruh dunia ini adalah gelap sehingga tidak dapat berjalan kemana-mana, tidak dapat mencari jalan keluar dari penderitaannya. Namun demikian, Allah mengasihi umatNya sehingga Ia berkenan membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang. Itulah bukti kasih Allah kepada manusia. Apa yang paling penting dalam hidup manusia itu dipikirkan Allah, hanya saja manusia sering lari dari hadapan Tuhan. Manusia memberontak, sengaja melakukan apa yang tidak dikehendaki Allah sehingga manusia itu dihukum. Apa yang indah, menyenangkan dalam hidup manusia menjadi kesengsaraan. Apa yang terang menjadi kegelapan. Artinya, apa yang seharusnya menjadi milik kepunyaan manusia tidak dapat diperoleh dan dinikmati. Tuhan Yesus juga pernah berkata: “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu” (Mat 6: 22)

1. Untuk Balita/ Anak Kecil
1.1. Thema : KASIHAN
1.2. Uraian Thema :
SUPAYA BALITA DAPAT:
- Menyebutkan kata kasihan
- Menyebutkan siapa yang pantas dikasihan


1.3. Methode : ALAT PERAGA+CERITA+AKSI
Dibutuhkan sapu tangan untuk menutup mata, lalu di depan kelas diminta kesediaan 2 atau 3 orang anak berjalan dengan mata tertutup.

Guru menanyakan kepada anak-anak, apa yang terjadi jika mata tidak dapat melihat. Tentu dunia ini adalah gelap. Kegelapan membuat manusia hidup susah dan menderita. Guru membimbing anak-anak untuk mengerti penderitaan atau kesulitan orang-orang yang tidak dapat melihat. Mereka butuh penolong. Tugas menolong orang buta itu menjadi tanggungjawab sesama manusia yang dapat melihat. Tuhan memberikan tugas itu dengan cara membuat kita dapat melihat. Tentu orang yang buta itu tidak menginginkan mereka buta. Kitalah yang harus mengasihi mereka. Mengapa orang Kristen harus saling mengasihi? Karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita (baca Yoh 13: 34). Tentu bukan hanya orang buta yang perlu dikasihani. Ada banyak orang yang membutuhkan pengasihan di dunia ini. Ada banyak orang yang menderita yang memerlukan pertolongan di sekitar kita. Guru membimbing anak-anak untuk mengerti orang-orang yang perlu dikasihani yang ada di sekitar mereka, bagaimana cara menolong mereka. Kalau ada teman mereka, tetangga, teman sekampung yang mengalami penderitaan sedemikian agar tidak diejek oleh anak yang sehat. Sianak dibimbing untuk memahami penderitaan orang lain Pertolongan apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak seusia mereka, karena mereka juga anak-anak yang masih ditolong orangtuanya. Inilah yang perlu direnungkan anak-anak Sekolah Minggu, agar sejak dini dilatih hidup saling mengasihi dan saling menolong. Mengasihi sesama manusia berarti mengasihi Allah.

1.4. Alat Peraga : GAMBAR PENGEMIS, ORANG BUTA, DLL
Guru menjelaskan gambar-gambar pengemis, orang buta tentang kesulitan mereka, kerinduan mereka dan pertolongan apa yang paling mereka butuhkan.

1.5. Nyanyian Thema : - ADA ORANG BUTA
- KETIKA PETRUS ADA DI BAIT ALLAH

1.6. Ayat Hafalan : 1 PETRUS 4: 9

2. Untuk Anak Tanggung
2.2. Thema : MEMBANTU ORANG CACAT
2.3. Uraian Thema : SUPAYA ANAK DAPAT:
- Menyebut arti thema
- Menjelaskan mengapa orang cacat perlu dikasihani
- Mendaftarkan cara membantu orang cacat

2.4. Methode : ALAT PERAGA
Dibutuhkan sapu tangan untuk menutup mata, sebuah tongkat, lalu di depan kelas diminta kesediaan 3 orang anak berjalan dengan mata tertutup dan seorang menjadi penuntun; satu orang berjalan sendiri, orang ke-2 berjalan memakai tongkat, dan orang ketiga berjalan dituntun.

Guru menanyakan kepada anak-anak, apa yang terjadi jika mata tidak dapat melihat. Tentu dunia ini adalah gelap. Kegelapan membuat manusia hidup susah dan menderita. Guru membimbing anak-anak untuk mengerti penderitaan atau kesulitan orang-orang yang tidak dapat melihat. Guru menjelaskan bagaimana menderitanya orang buta berjalan sendiri tanpa penolong. Guru juga menjelaskan bagaimana orang yang berjalan memakai tongkat, juga sangat menderita karena tongkat itu tidak dapat memandu, dan orang yang dituntun oleh orang lain akan sangat tertolong dalam hidupnya. Ini menunjukkan bahwa mereka butuh penolong. Tugas menolong orang buta itu menjadi tanggungjawab sesama manusia yang dapat melihat. Tuhan memberikan tugas itu dengan cara membuat kita dapat melihat. Tentu orang yang buta itu tidak menginginkan mereka buta. Kitalah yang harus mengasihi mereka. Mengapa orang Kristen harus saling mengasihi? Karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita (baca Yoh 13: 34). Tentu bukan hanya orang buta yang perlu dikasihani. Ada banyak orang yang membutuhkan pengasihan di dunia ini. Ada banyak orang yang menderita yang memerlukan pertolongan di sekitar kita. Guru membimbing anak-anak untuk mengerti orang-orang yang perlu dikasihani yang ada di sekitar mereka, bagaimana cara menolong mereka. Kalau ada teman mereka, tetangga, teman sekampung yang mengalami penderitaan (cacat) agar tidak diejek oleh anak yang sehat. Sianak dibimbing untuk memahami penderitaan orang lain, misalnya menuntun orang buta jika ada sedang berjalan kesulitan di tengah jalan, dan lain-lain. Pertolongan apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak seusia mereka, karena mereka juga anak-anak yang masih ditolong orangtuanya. Anak-anak perlu dilatih untuk bersedekah kepada orang-orang cacat dengan menyisihkan sebagian dari uang jajannya. Ini perlu dijadwalkan oleh guru Sekolah Minggu. Inilah yang perlu direnungkan anak-anak Sekolah Minggu, agar sejak dini dilatih hidup saling mengasihi dan saling menolong. Mengasihi sesama manusia berarti sudah mengasihi Allah yang tidak dapat dilihat manusia. Mengasihi bukan dengan perkataan atau denganlidah tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yoh 3: 18).

2.5. Alat Peraga : ---
2.6. Nyanyian Thema :

- KETIKA PETRUS ADA DI BAIT ALLAH
- MENGASIHI LEBIH SUNGGUH
- BAGAIMANA AKU HARUS MENGATAKANNYA
2.7. Ayat Hafalan : 1 PETRUS 4: 9



BAHAN BINA ANAK
TANGGAL 27 JULI 2008
Nats : GALATIA 5: 13 – 15


I. Pendahuluan
Surat galatia ditulis oleh rasul paulus bagi orang-orang bertobat tapi sekarang dalam keadaan bahaya karena orang0orang meminta balikkan kebenaran injil tentang kemerdekaan Kritesn. Kemerdekaan dalam kritus tidak merarti kebebasan melakukan apa saja yang kita ingin. Kemerdekaan dalam kristus adalah kebebasan untuk saling melayani dalam kasih sama seperti kasih Yesus yang telah meyelamatkan manusia d an dosa karena itu setiap orang percaya hendaknya selalu hidup saling mengasihi.

II. 1. Untuk balita/ Anak Kecil
Thema : Aku Mengasihi Temanku
Uraian Thema
Di dalam hidup kita pasti kita punya teman, ada teman di rumah ada teman digereja ada teman di sekolah. Apa yang kita miliki tidak semuanya dimiliki teman kita dan apa yang dimiliki teman kita tidak semua kita miliki.


2. Untuk Anak Tanggung
Thema : Bagaimana Mengasihi Sesama
Uraian Thema :
Siapakah sesama kita? Apakah hanya orang yang mempunyai hubungandarah dengan kita? Tidak, sesama manusia ciptaan Tuhan adalah sesama kita, sama seperti Tuhan yang mengasihi kita haruslah kita mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan apakah dia punya hubungan darah dengan kita atau tidak mengasihi sesama tidak harus mendapatkan imbalan jasa tetapi harus dengan hati yang tulus karena bagaimana kita mengasihi Tuhan sedangkan sesama tidak kita kasihi?


Metode : Diskusi
Bagai manakah sikap orang yang mengasihi
Apakah saya sudah mengasihi?
Siapakah yang harus di kasihi ?
Apakah ciri-ciri kasih itu?

Alat peraga : Gambar suasana lingkungan yang saling mengasihi

Nyayian Thema :

- Ku kasihi kau dengan kasih Tuhan
- Kasih itu lemah lembut

Ayat hafalan : 1 korintus 13: 4
Karena itu kita saling membutuhkan dan saling berbagi. Teman sangat penting bagi kita, coba bayangkan apabila kita sendiri pasti tidak senang, khan? Karena itu kita tidak boleh jahat sama teman tetapi harus mengasihinya dengan berbuat baik kepadanya.

Metode : Cerita
Di sebuah desa, hidup dua orang tetangga yang seorang sangat kaya sedangkan yang satunya lagi sangat miskin, si kaya terkenal sebagai orang yang angkuh kikir dan dengki, lain halnya dengan si miskin di kampungnnya ia terkenal sebagai orang lemah dan suka menolong. Mata pencaharian si miskin ialah mencari kayu bukakn ke hutan dan dijualnya ke pasar. Ia tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur pada Tuhan setelah kayu bakarnya dijual ia membeli beras dan lauk pauk, suatu hari datanglah pengemis tua ke rumah si kaya minta supaya di kasihani tetapi si kaya itu mengusir kemudian dengan langkah gontai pengemis mendekati rumah si miskin dan si miskin mengasihi dia memberi dia makan walaupun dengan seadanya. Apakah artinya kaya kalu kita tidak mengasihani sesama?

Alat peraga : Gambar Lambang Kasih
Nyayian Thema : Kasih itu lemah lembut
Kasih pasti murah hati
Ayat Hafalan : 1 kor 13 : 4

Thursday, April 03, 2008

EDITORIAL


Editorial
DIRGAHAYU 81 Tahun HKI

81 tahun sudah HKI berupaya menunaikan tugas panggilannya sebagai alat Tuhan untuk menyampaikan Firman Keselamatan yang telah dinyatakan Yesus Kristus kepada dunia. Bermodalkan semangat swadaya dan dimulai dari satu jemaat kecil di Pantoan, kini telah berjumlah 718 jemaat yang dibagi kepada 117 resort dan 8 distrik yang tersebar dibelahan nusantara.
Setapak demi setapak, HKI berupaya menepis anggapan orang-orang yang menganggap enteng dan mencibir atas keberadaan HKI yang konon SDM baik pelayan maupun anggota jemaat yang kurang diperhitungkan. Namun syukurlah, atas kemurahan dan berkat Yesus sang Kepala Gereja kita boleh berbangga hati. Dari pernyataan LWF sebagai salah satu lembaga persekutuan gereja-gereja Lutheran di dunia disebutkan, bahwa HKI adalah gereja anggota LWF terbesar ke-3 di Indonesia dan para pelayannya telah dapat berkiprah bahkan menempati posisi strategis di lembaga-lembaga Oikumene Gereja Nasional dan Internasional.
Motto pendiri HKI dulu adalah “mandiri dibidang dana, daya dan Teologia”, sedikit demi sedikit telah direalisasikan para pemimpin di HKI dengan mengupayakan usaha dan lahan yang nantinya dapat membiayai kebutuhan pelayanan. Perkebunan Kelapa Sawit “GIHON” di Negeri Lama yang sempat kurang menghasilkan kini bahkan telah menghasilkan lahan baru “Efrat” di Teluk Panji yang luasnya lebih dua kali lipat dan diharapkan tahun 2009 akan mulai menghasilkan.
Disamping itu, untuk lebih dapat memberikan peran sosial yang nyata HKI telah memberangkatkan pelayan untuk mengikuti training di Jepang agar pelayanan diakoni lebih dirasakan anggota jemaat bahkan masyarakat. Dua orang Pendeta HKI telah kembali dan telah berkarya membantu warga jemaat meningkatkan kehidupan ekonomi lewat pembinaan dan pelatihan Pertanian dan Peternakan yang selaras alam. Untuk lebih mengefektifkan kegiatan ini, HKI telah membeli sebidang tanah di Tiga Dolok Simalungun yang dirancang sebagai Pusat pelatihan (Training center).
Memang, dalam banyak hal masih banyak yang harus dikerjakan untuk menunaikanTri tugas panggilan Gereja; menyatakan Keberadaan Kerajaan Allah di dunia ini. Namun kita percaya:Tuhan pasti akan memberkati usaha-usaha dalam melakukan tugas suruhanNya itu. Kalau kita senantiasa berusaha keras dan sehati sepikir dan dipimpin oleh Pemimpin yang berdedikasi harapan itu akan semakin dekat. Baiklah kita selalu mengingat Firman Tuhan sebagaimana dikatakan Paulus: “... hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia” (Fil. 2:2-3). DIRGAHAYU 81 HKI. pemred.
Catatan redaksi : Berhubung satu dan hal terkait, Redaksi memohon maaf jika Majalah Bina Warga HKI edisi April-Mei 2008 belum bisa edar hingga hari ini. Dimaksimalkan hari Senin, 7 April akan edar bagi seluruh Pelanggan. Untuk itu, di Web ini di muat Bahan Jamita untuk tanggal 06 April 2008. Terimakasih.
Hormat Kami.
Pemimpin Redaksi
Pdt. M. Lumban Gaol, STh

Jamita 06 April 2008


Jamita tu Minggu Miserecordias Domini
Tanggal, 06 April 2008
Nats : Psalmen 33:4-9
Pdt. Gom F.H Tampubolon, S.Th
Pendeta HKI Resort Siantar IV

Ditatap Jahowa do angka Partigor
1. Psalmen (Tehillim=bhs Heber) ima sada bentuk sastra ni halak Israel marummanghon angka ende-ende na marisihon ungkapan perasaan ni parsalmen, domu tu pengalamanna di parsaoranna dohot Debata. Alani i do umbahen na gabe masuk (dipangke) Psalmen on di ibadah ni Israel. Marragam do isi ni psalmen i, hombar tu angka pengalaman na parpsalmen i sandiri. Adong do i marummang puji-pujian tu Debata (bd. 145-150), tangiang laho mangido sipangidoanna (bd 6+7), tangiang mangido hasesaan ni dosa (bd. 51+85), tangiang namanganggukhon parniahapanna (bd. 13&0, dna. Adong do sifat na khusus jumpang di buku psalmen, ima na mansai tangkas mangondolhon taringot tu Debata, ndada taringot tu hajolmaon, atik pe dihatahon i marhite kesaksian secara pribadi, punguan manang bangso pe. Mansai tangkas do hajongjongan ni psalmen dibagasan peribadahan ni bangso Israel. Boi dohonon sada bagian utama jala na terpadu do ibadah dohot psalmen i, jala ganup psalmen manghatindanghon Debata hombar tu situasi parngoluon ni bangso Israel di penderitaan nang di las ni roha pe.

2. Pujipujian di hagogoon, habasaon dohot hatigoran ni Debata i do na gabe judul ni turpuk on. Memang mangihuthon naskah asli Heber ndan adong judul ni psalmen on jala dianggap na so karangan ni si David. Mangihuthon isi dohot rumangna termasuk tu ende pujipujian ni ruas/bangso Isarel do psalmen on jala somal diendehon di tingki ari Pesta di Bagasjoro di Yerusalem, na marojahan tu angka barita ni angka panurirang dohot guru habsuhon. Ia psalmen 33 on boi do dibagi tu bagasan 3 bagian :
1. Ayat 1 – 3 : Patujolo : Joujou laho mamuji Tuhan i.
2. Ayat 4 – 19 : Isi ni pujipujian. Ayat on boi dibagi muse gabe :
- ayat 4 - 9 : Debata marhite HataNa manompa nasa na adong
- ayat 10 - 12 : Debata do na manontuhon pardalanan ni ngolu (sejarah) bangsoNa.
- ayat 13 - 15 : Ditatap Debata do saluhut jolma manisia.
- ayat 16 - 19 : Malua do jolma na mabiar mida Debata.
3. Ayat 20 – 22 : Panutup : Panindangion haporseaon.

3. Marpsalmen manang marende ima sada sian marragam cara mamuji Deata. Jala pujipujian ingkon pasahaton do dibagasan las ni roha, pola ingkon marolopolop (bersoraksorai), tarlumobi tu angka jolma partogor dohot angka na unjur marroha. Ai nasida do na talupmarende. Dihalomohon Debata do angka partigor dohot angka na unjur marroha jala marhasurungan do nasida diadopan ni Debata (bd. 33:1, 1:6; 5:13, dna). Partigor dohot naunjur marroha ima angka halak na dibagasan las ni roha mangoloi lomo ni roha ni Debata jala olo manolsoli dosana huhut mangido hasesaan ni dosa sian Debata. Holan angka partigor dohot na unjur marroha do na boi mangulahon dohot na mandalanhon uhum i dibagasan hatigoran jala uhum na tigor i, i ma na marojahan di Hata ni Debata. Hata ni Debata ndada holan marisihon jamita alai dohot do haburjuon, hatigoran dohot uhum na marojahan tu hasintongan. Ndang tarsirang hatigoran sian uhum. Dipatupa uhum jala didalanhon dibagasan hasintongan asa dapot tujuan ni uhum i, ima hatigoran (keadilan). Molo mardalan do uhum dibagasan hatigoran, gabe gok hamuliaon dohot asi ni roha ni Debata ma portibion (ayat 4 – 5).
Marhite Hata ni Debata na marhasintongan i, manjadi do portibi on ro di nasa isina. Jala saluhutna i mardalan dibagasan hadengganon (keteraturan). Sude ditompa Debata jala tipak do diinganan na be dibahen (ayat 6-7). Hombar tu panompaon i, jumolo do di tompa Debata sude angka na ringkot di ngolu ni jolma, i ma portibion dohot nasa isina, baru pe parpudi di tompa Debata jolma i. Dibagasan hadengganon (keteraturan) do portibion di tompa Debata, tangan ni jolma do na manegai na dibagasan hadengganon i ditompa Debata. Marhite panompaon ni Debata tu portibion dohot nasa isina i, pataridahon pargogo na so hatudosan do Debata. Holan manghuling do Ibana, gabe manjadi do sian na so adong gabe adong (creation ex nihilo), mandokhon do Ibana jadi jongjongma. Portibion ro di nasa isina, pamatang ni joma ro di tondina, Debata do na manompa jala holan Debata do na mangarajai. Ndang adong tudosan ni Debata, alani i ingkon marhabiaran tu Debata do jolma i nang sandok tano on. Jala pangisi ni portibion pe ingkon marsomba do tu na manompasa. Biar mida Jahowa dohot marsomba tu Ibana, ima songon respon ni jolma dohot portibi on di hagogoon ni Debata di atas ni sandok portibi on. (ayat 8-9).

4. Las do roha jala mansai lomo do roha ni Debata tu angka partigor dohot na unjur marroha, alani i dipasupasu Debata do angka na tigor roha (bd. 5:13) jala ditatap Jahowa do angka partigor i (bd. 34:16). Alani i tama do pujion ni jolma i Tuhan i, ai pujipujian sian angka jolma na sisongon i do na dihalomohon ni Debata. Patar do saluhutna i diadopan ni Debata, ai pargogo na so hatudosan do Ibana jala na manompa na sa na adong di portibion. Alani i tama do pujion jala sombaon ni jolma i Tuhan Debata. Ai Debata do na manompa, manarihon jala marmudumuduhon nasa na tinompaNa i. A m e n.