Tuesday, May 27, 2008

Berita Kegiatan MBW Edisi Juni-Juli 2008

Rapat Praeses HKI


Sebagai bagian dari koordinasi pelayanan di HKI maka secara rutin dilaksanakan Rapat Praeses HKI. Pada tanggal 22 – 25 April 2008, bertempat di Kantor Pusat HKI, dilaksanakan Rapat Praeses Tahun 2008, yang dihadiri 7 dari 8 orang Praeses HKI. Rapat dibuka oleh Ephorus HKI, Pdt. Dr. B. Purba. Dalam sambutan dan arahan, Ephorus HKI menyampaikan bahwa Rapat Praeses kali ini lebih istimewa karena sekaligus dalam rangka persiapan Sinode ke 58 HKI. Untuk itulah dalam Rapat diundang para Kepala Departemen untuk mengevaluasi dan menginventarisir hasil pelaksanaan Program selama 3 Tahun terakhir.

Materi yang dibahas dalam Rapat Praeses 2008 adalah :
1. Laporan penatalayanan keuangan termasuk penggajian yang telah diterima pelayan penuh waktu di daerah masing-masing.
2. Pengumpulan Data Jemaat yang baru berdiri di setiap Resort terhitung mulai April 2005 s.d Maret 2008.
3. Pendataan Statistik Jemaat per Resort di setiap Daerah.
4. Laporan Pelaksanaan Program dan Keuangan & Inventaris dari masing-masing Resort di Daerah Pelayanan Praeses.
5. Evaluasi Kinerja BPKD, BPKR dan BPKJ.
6. Pembahasan Implementasi Pelatihan/Pembinaan BPKD, Pimpinan Daerah dan Bendahara Daerah.
7. Persiapan Sinode HKI ke 58
8. Pembahasan Usulan perubahan terhadap TTG HKI – Tahun 2005.
9. Warna Sari.

Hadir dalam Rapat Praeses yaitu Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus), Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal), Pdt. M. Saragi (Praeses HKI Daerah I Sumatera Timur I), Pdt. Tohap Sihombing, STh (Praeses HKI Daerah II Silindung-Pangaribuan), Pdt. Salome Br. Nainggolan, STh (Praeses HKI Daerah III Tobasa-Humbahas), Pdt. M.A.E Samosir, MTh (Praeses HKI Daerah IV Dairi-Tanah Karo-Kota Cane), Pdt. Karmen Simorangkir, STh (Praeses HKI Daerah VI Sumatera Timur II), Pdt. M.P Hutabarat, STh (Praeses HKI Daerah VII Tanah Jawa), dan Pdt. Epen Siregar, SmTh (Praeses HKI Daerah VIII Riau Sumbagsel).

Turut hadir dalam Rapat, Pdt. M. Lumban Gaol, STh (Ka.Dep. Marturya), Pdt. Tony Hutagalung, MSc (Ka.Dep. Koinonia), Pdt. Tigor Sihombing, STh (Ka.Dep.Diakonia), Pdt. Happy Pakpahan (Sekretaris Executive Pucuk Pimpinan), Pdt. Edwin Simanullang, STh (Staff Kantor Pusat HKI). Rapat ditutup pada Hari Jumat, 25 April 2008, dalam Ibadah yang dilayani oleh Ephorus HKI, Pdt. Dr. B. Purba. Wassalam. (hp,-)


Retraining on Preaching.

Gereja-gereja anggota UEM di Asia menyadari adanya beberapa krisis dalam pemberitaan Firman Tuhan, seperti krisis keyakinan, krisis professional, krisis dinamika khotbah, krisis khotbah yang pastoral, profetis, evangelistis, bijaksana dan konstruktif, juga krisis follow up khotbah. HKI sebagai salah satu anggota telah menyadari betapa pentingnya terus berlatih dan belajar tentang Berkhotbah sebagaimana diingatkan dalam Master Plan HKI. Pucuk Pimpinan HKI pada bulan April lalu mengutus 2 orang Pendeta HKI (Pdt. M. Lumban gaol, S.Th dan Pdt. Firman Sibarani, M.Th) untuk mengikuti Retraining on Preaching yang diselenggarakan oleh UEM Regional Asia yang dilaksanakan pada 13-20 April 2008 bertempat di Wisma AGAVE GKPI - Medan. Dalam kegiatan tersebut peserta menyadari tentang ganjalan-ganjalan liturgy dan peraturan gereja yang tidak mendukung pembaharuan khotbah.

Dalam Training tersebut, peserta dibekali oleh beberapa pembicara, yakni: Pdt DR Armand Barus (pengajar Biblika di STT-Cipanas) tentang memahami pesan Alkitab secara kontekstual, Pdt. DR. A. Munthe dengan memahami dan menggunakan Perumpamaan, metode "jaring terapung", Prof. Dr. Jerry L. Schmalenberge, memberi masukan tentang : Perkembangan dan Style pemberitaan firman di dalam Alkitab,dan Metode pemberitaan firman yang narrative, dengan lima rancangan (Plot) khotbah.(ML),-



Kongres Persatuan Wanita HKI Tahun 2008



Sesuai dengan Garis-garis Besar Pelayanan, Pembangunan dan Pengembangan (GBPPP) Huria Kristen Indonesia (HKI) Tahun 2005-2010, bahwa salah satu tujuan Pelayanan bidang Koinonia adalah membangun dan mempererat persekutuan disemua aras pelayanan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, dengan mempedomani PRT HKI Tahun 2005 dan Peraturan Pokok Lembaga Persatuan Wanita (PW) HKI, maka Lembaga Persatuan Wanita HKI telah melangsungkan Kongres Tahun 2008, pada hari Jumat-Minggu, tgl. 4-6 April 2008, bertempat di Gedung Serba Guna Kantor Pusat. Panitia Kongres yang diketuai : St. H. Br. Lumban Tobing (Ketua PW HKI Daerah I) ini, mengambil Thema : "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik dan janganlah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita" (Ibrani 10:24-25) dan Sub Thema " Melalui Kongres PW HKI Tahun 2008, kaum Wanita HKI berpartisipasi aktif dalam membentuk keluarga harmonis Kristiani".

Kongres dibuka oleh Pucuk Pimpinan HKI, Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus) dan Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal). Turut hadir dalam acara pembukaan, Pdt. Tony Hutagalung, MSc (Ka.Dep. Koinonia), Pdt. M. Lumban Gaol, STh (Ka.Dep. Marturya), Pdt. Jansen Simanjuntak, STh (Majelis Pusat), St. R.P.S. Janter Aruan, MH (Majelis Pusat), Pdt. S. Br. Nainggolan, STh (Praeses HKI Daerah III), Pdt. Happy Pakpahan (Sekretaris Executive PP HKI) dan Undangan lain.
Terpilih sebagai Majelis Persidangan Kongres yaitu : St. Risna Br. Pasaribu, Lely Suryati Br. Simanjuntak, St. R. Br. Banuarea, SPAK. Materi Kongres yang dihadiri + 150 Peserta perwakilan Lembaga PW HKI di 8 Daerah pelayanan ini, adalah :
1. Laporan & Pembahasan Laporan Pengurus Pusat PW HKI.
2. Ceramah :
  • a). Peranan Kaum Wanita HKI Dalam Membentuk Keluarga Hamonis Kristen.
  • b). Bahaya Narkoba dan HIV AIDS disekitar Keluarga Kristen.

3. Sidang Komisi dan Pleno.
4. Olah raga bersama
5. Pemilihan Pengurus Pusat PW HKI
6. Pelantikan Pengurus Pusat PW HKI

Melalui Proses Pemilihan yang demokratis, terpilih sebagai Pengurus Pusat PW HKI hingga masa bhakti Tahun 2010 yaitu
1. Ketua Umum:St.Risna Br.Pasaribu (Daerah VI)
2. Ketua I : St. S. Br. Sianipar (Daerah I)
3. Ketua II : St.Dra.M. Br.Simanjuntak (Daerah I)
4. Ketua III : St. S. Br. Siregar (Daerah VII)
5. Sekretaris Umum : Rosmawati Br. Pakpahan (Daerah VI)
6. Sekretaris I : D. Br. Hutasoit (Daerah I)
7. Sekretaris II : Mindo Br. Silaban (Daerah III)
8. Bendahara : Ermida Linda Br. Rumapea, SPd (Daerah I)
9. Wakil Bendahara : L. Br. Silo (Daerah VII)

Koordinator Daerah :
· Daerah I : Tiarlin Br. Simamora, SPd
· Daerah II : St. E. Br. Simanjuntak
· Daerah III : Nilam Br. Simbolon, SE
· Daerah IV : St. Nurmala Br. Manik
· Daerah V : R. Br. Silaban
· Daerah VI : Mutiara Br. Simbolon
· Daerah VII : R. Br. Hutabarat
· Daerah VIII : Lely Suryati Br. Simanjuntak

Seusai Ibadah Minggu dan Pelantikan Pengurus Pusat terpilih, Kongres PW HKI ditutup oleh Pucuk Pimpinan HKI yang diwakili Pdt. Tony Hutagalung, MSc (Ka.Dep. Koinonia). Doa dan dukung kita kiranya Pengurus Pusat Persatuan Wanita HKI terberkati untuk menjadi Pelayan-pelayan TUHAN YESUS demi pengembangan KerajaanNya di Dunia. (hp,)


Kunjungan Rev. Wayne Zweck
(Secretary of Lutheran Church of Australia)




Kemitraan antara Huria Kristen Indonesia (HKI) dan Lutheran Church of Australia (LCA) telah berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Pada hari Selasa, 29 April 2008, bertempat di Kantor Pusat HKI, Pucuk Pimpinan HKI menerima kunjungan Rev. Wayne Zweck (Secretary of Lutheran Church of Australia) yang didampingi istri, Wendy.
Kunjungan diterima oleh Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus), Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal), Pdt. M. Lumban Gaol, STh (Ka.Dep. Marturya), Pdt. Tony Hutagalung, MSc (Ka.Dep. Koinonia), Pdt. Happy Pakpahan (Sekretaris Executive Pucuk Pimpinan) dan Pdt. Edwin Simanullang, STh (Staff Kantor Pusat).
Banyak hal yang menjadi materi sharing dan diskusi pelayanan, antara lain Pelaksanaan dan Hasil Program Kerjasama antara HKI dan LCA yang telah dilakukan, Manajement pengambilan keputusan di HKI dan LCA, usaha memaksimalkan pemakaian Tehnologi Informasi dalam pelayanan, Penjajakan bentuk-bentuk Program kerjasama yang akan dilakukan antara HKI dan LCA. Kita doa dan dukung kiranya kemitraan antara LCA dan HKI akan semakin menjadi saluran berkat buat banyak orang demi kemuliaan TUHAN YESUS semata. Wassalam. (hp,- ).



HKI Resort Bandung Melaksanakan PENGOBATAN GRATIS

Sebagai bagian dari program diakonia gereja, Huria Kristen Indonesia (HKI) Baleendah – Resort Bandung bekerja sama dengan Yayasan Sekar Galih Jl.lengkong Besar No. 117 Bandung, mengadakan pengobatan gratis pada Sabtu 19 Januari 2008. Pengobatan gratis ini dilakukan kepada semua anggota jemaat dan masyarakat sekitar dan mencakup tiga hal yaitu;
a. Konsultasi dan pemeriksaan (diagnosa). Setelah menerima kartu antri, kemudian dipersilahkan masuk ke gereja untuk diagnosa. Pada diagnosa ini ada sekitar 8 orang dokter yang khusus didatangkan guna menangani semua jemaat dan masyarakat yang datang untuk berobat gratis.
b. Pengobatan dan pemberian obat. Setelah selesai diagnosa dan konsultasi kepada jemaat menyangkut kesadaran akan bahaya penyakit dan pentingnya menjaga kesehatan, dokter memberikan hasil diagnosa dan registrasi obat yang akan diterima dari petugas apotek yang juga bersama dokter ada di gereja HKI Baleendah.
c. Pengobatan lanjutan: Bagi mereka yang penyakitnya tergolong lebih serius diberi rekomendasi oleh dokter Yayasan Sekar Galih untuk berobat lanjutan di Klinik Sekar Galih. Dan dalam hal ini ada beberapa orang anggota jemaat yang direkomendasikan.


Kita menyadari bahwa pentingnya kesehatan bagi umat manusia sebagaimana tulisan saya pada Bina Warga edisi Des.2007-Jan.2008. Apalagi di saat ini biaya pengobatan yang besar membuat banyak orang mengalami kesulitan finansial untuk membiayai pengobatan. Maka tak heran bilamana pada acara diakonia ini banyak anggota jemaat dan masyrakat yang datang. Dan saya yakin apa yang dilakukan oleh HKI Baleendah Resort Bandung bersama dengan Yayasan Sekar Galih ini dapat berguna dan menolong anggota jemaat maupun masyarakat sekitar. Tuhan memberkati.(Pdt.Hopol M.Sihombing,STh - Bandung)


Sidang Pengurus Lengkap (SPL) PIP PNB HKI Tahun 2008

Dalam rangka evaluasi, penyusunan Program Kerja dan menguatkan sinergi pelayanan di tiap aras pelayanan Persatuan Naposo Bulung (PNB), maka pada tanggal 3-4 Mei 2008, bertempat di HKI Hinalang Balige, Pengurus Inti Pusat PNB (PIP) melaksanakan SPL Tahun 2008. SPL diikuti 80 orang Peserta yang terdiri dari PIP PNB, Koordinator Daerah PNB, Perwakilan Resort, dan perwakilan Mahasiswa HKI yang sedang menempuh pendidikan Jurusan Teologia di STT Abdi Sabda Medan. SPL di buka dalam Ibadah yang dilayani oleh Pdt. Hugo De Groot Nababan, STH ( memimpin Agenda), Pdt. S. Br. Nainggolan, STh (Khotbah) dan Pdt. Herlina Br. Gultom, STh (Doa Syafaat). Turut hadir dalam Pembukaan SPL yaitu : Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal HKI), Pdt. Tony Hutagalung, MSc (Ka.Dep. Koinonia), beberapa Pendeta yang melayani di Daerah III, Paduan Suara PNB HKI Hinalang Balige, Paduan Suara PNB HKI Sibuntuon Resort Lintong Ni Huta dan Undangan lainnya.
Dalam Sambutan Pembukaan SPL, Naro Saruksuk, SE (Ketua PIP PNB Periode 2005-2010) menekankan bahwa Pemuda HKI harus lebih konsentrasi mempersiapkan SDMnya dalam memamfaatkan peluang yang ada sekarang ini dan yang akan datang. Kaum Muda HKI jangan bersikap pasif layaknya menunggu durian jatuh, akan tetapi menjadi SDM yang kreatif, pemberi solusi, bisa membuka dan memamfaatkan peluang, dan militan terarah di tiap aktifitasnya baik di Sekolah, Kampus, Gereja dan Masyarakat, demi kemuliaan TUHAN semata. Dan diharapkan juga kepada semua orang tua, Parhalado, Pimpinan Gereja, tetap semakin memberikan kesempatan dan arahan kepada Pemuda dalam pengembangan pengetahuan dan SDM nya. Kaum muda jangan dikekang, jangan dibiarkan tetapi dituntut untuk berkembang.

Sekretaris Jenderal HKI, Pdt. R. Simanjuntak dalam Arahannya menyampaikan bahwa bercermin dari Sejarah berdirinya Bangsa Indonesia dan Sejarah Berdirinya Huria Kristen Indonesia Tahun 1927, maka kita akan melihat bahwa kaum muda sangat berperan secara signifikan. Untuk itu diharapkan agar PNB HKI saat ini dan kedepan sebagai bagian dari pelayanan HKI, agar memakai semangat mudanya untuk melahirkan sisi kreatif dan militansi dalam aktifitas pelayanan Gereja, serta di tiap aktifitasnya. Setelah memberikan arahan, Sekretaris Jenderal HKI kemudian membuka secara resmi SPL PNB HKI Tahun 2008. Ada beberapa Materi Kegiatan dalam SPL ini, a.l :

1. Seminar Oleh : Oleh Pdt. Yusak Purba, STh, MA, dengan Thema : " Peningkatan kualitas kehidupan spiritual pemuda dalam menghadapi pola kehidupan Hedonis saat ini"

2. Seminar dan pembekalan, Oleh : Pdt. Tony Hutagalung, MSc, dengan Thema : "Implementasi Planning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC) Dalam Menciptakan Pemimpin Yang Beriman, Tangguh dan Setia"

3. Sidang Pengurus Lengkap, dengan materi :

  1. Evaluasi Kinerja Pengurus,
  2. Laporan dan Evaluasi Program Kerja 2007,
  3. Pembahasan Rekomendasi PNB untuk dibawakan ke Sinode Kerja HKI ke 58,
  4. Analisa P3RT PNB,
  5. Penyusunan Program Kerja Tahun 2008

4. Ibadah Minggu & Ramah Tamah di HKI Hinalang, Balige
5. Wisata
6. Penutupan.


Beberapa Hal yang diputuskan dalam SPL PNB Tahun 2008, a.l :
1. Rekomendasi PNB HKI yang akan dibawakan dalam Sinode Kerja HKI ke 58:
  • PNB menjadi Biro tersendiri yang dipimpin oleh seseorang yang full timer.
  • Untuk mendukung kegiatan Lembaga (PA, PW, PNB, SM) disetiap aras pelayan, agar Gereja menganggarkan setiap tahun minimal 30 %. Lembaga tercantum secara Eksplisit dalam Struktur Gereja HKI,
  • Mengadakan kembali pelean namarboho bagi PNB
  • Mahasiswa Theologia harus mendapatkan Rekomendasi dari PP HKI, dan dimaksimalkan untuk melakukan pelayanan di PNB. Untuk itu perlu diperjelas kedudukan dan keberadaan Mahasiswa Theologia dalam Struktur HKI.
  • Pembuatan Balai Latihan Kerja (BLK)
  • Melatih dan mendayagunakan Pemuda HKI yang selama ini sulit mendapat pekerjaan untuk bekerja pada unit-unit atau Badan Usaha yang dimiliki HKI.
2. Program Kerja PIP PNB Tahun 2008

  • Melanjutkan pembuatan Data Base PNB HKI
  • Melaksanakan "Leadership Training For Youth". Dengan peserta Ketua, Sekretaris, dan Bendahara PNB dari masing-masing Resort. Pelaksanaan Training ini dibagi dalam 3 Regional, yakni : Regional 1 : Daerah I, IV, VI ; Regional 2 : Daerah II, III, V ; Regional 3 : Daerah VIII dan VIII
  • PIP PNB akan menentukan tempat dan waktu Pelaksanaan SPL PNB Tahun 2009.
3. Untuk memaksimalkan Analisa terhadap P3RT PNB maka PIP akan membentuk TIM Evaluasi P3RT PNB. SPL kemudian ditutup dalam sebuah Ibadah penutupan yang dilayani oleh Pdt. Tony Hutagalung, MSc, Kepala Departemen Koinonia HKI. Kita doa dan dukung kiranya pelayanan PIP semakin bertumbuh dan semakin menjadi saluran berkat. (disarikan dari Laporan Naro Saruksuk/ hp,-)


Pesta Pembangunan HKI Sigalingging.

Bertempat di halaman Gereja HKI Sigalingging, Resort Sigalingging, Daerah IV Dakota, telah diselenggarakan Pesta Pembangunan HKI Sigalingging. Acara berlangsung pada Minggu tgl. 06 April 2008, yang dipimpin Pdt. R. Simanjuntak, BD, Sekretaris Jenderal HKI. Turut hadir dalam acara tersebut, Pdt. M.A.E Samosir, MTh (Praeses HKI Daerah IV, Dakota), Pdt. Poltak Pakpahan, STh (Pendeta Resort Sigalingging), Pdt. Jonly Pasaribu, STh (Pendeta Resort Sumbul ), Pdt. Sehat Panjaitan STh (Pendeta Resort Sumbul Berampu, berserta undangan gereja tetangga dan Pemerintah setempat. (hp,-).

Jubileum 75 Tahun HKI Sinaga – Simatupang

Dalam rangka mensyukuri 75 Tahun HKI Sinaga-Simatupang, maka pada tgl. 29-30 Maret 2008, Jemaat HKI Sinaga-Simatupang, Resort Pangaribuan Timur, Daerah II Silindung Pangaribuan, telah merayakan Jubileum 75 Tahun. Pada perayaan Puncak, Minggu 30 Maret 2008, kebaktian dilayani oleh Pdt. R. Simanjuntak, BD, Sekretaris Jenderal HKI. Acara tersebut juga dihadiri Pdt. T. Sihombing, STh (Praeses Daerah II Silindung-Pangaribuan), Pdt. T. Hasibuan ( Pendeta Resort Tarutung Timur I), Pdt. T. Br. Lumban Tobing, STh ( Pendeta Resort Pangaribuan Tengah ), Pdt. S. Situmorang, STh (Pendeta Resort Pahae Jae), Pdt. Leo Simanjuntak, STh, dan para Undangan lain. Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal menekankan danmengajak jemaat HKI Sinaga-Simatupang segera mengurus surat pertapakan Gereja HKI Sinaga Simatupang, agar dikemudian hari tidak terjadi silang sengketa yang dapat menyebabkan ketidak harmonisan peribadahan dan persekutuan seperti telah terjadi dibeberapa jemaat HKI. Surat dimaksud bukan hanya sebatas surat hibah, tetapi hingga Serifikat BPN - sebagaimana menjadi salah satu program seluruh Gereja HKI. Secara khusus, bapak Sekjend. menghunjuk bpk. St. Harinuan sebagai salah satu tetua di jemaat tersebut. Dan respon dari salah satu anak ranto sungguh luar biasa, beliau menyanggupi segala biaya untuk pengurusan surat dimaksud. (hp,-)



6 Orang Guru Jemaat Dinyatakan Lulus LPP 1 dan menjadi Calon Pendeta

Dengan mempertimbangkan kemampuan melayani dilapangan, kelengkapan persyaratan administrasi dan potensi yang ada, maka pada tanggal 21 April 2008 bertempat di Kantor Pusat HKI, 6 Orang Guru Jemaat yang telah melayani di HKI mengikuti LPP I untuk diuji menjadi Calon Pendeta HKI. Ke 6 Guru Jemaat tamatan STT HKI tersebut adalah adalah : 1. Gr. Effendy Nadeak – saat ini melayani di HKI Effrata – Resort Medan VI 2. Gr. Helen Br. Lumban Tobing - saat ini melayani di HKI Patane – Resort Patane Porsea 3. Gr. B.F Siahaan – saat ini melayani di HKI Dumai – Resort Dumai 4. Gr. Donal Silaban – saat ini melayani di HKI Bengkong Indah – Resort Batam 5. Gr. Harry Hutagalung – saat ini melayani di HKI Brastagi – Resort Tanah Karo 6. Gr. Saroha Bintang – saat ini melayani di HKI Sampe Raja – Resort Tornagodang
Materi yang dilaksanakan adalah Ujian Pengenalan Isi Alkitab, Ujian Pengenalan HKI dan Orientasi Tugas Pelayanan, yang di ujikan oleh Pucuk Pimpinan dan Ka. Dep. Marturya. Hadir dalam acara Pembukaan LPP I a.l Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus) dan Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal), Pdt. M. Lumban Gaol, STh ( Ka.Dep. Marturya), dan Pdt. Happy Pakpahan (Sekretaris Executive Pucuk Pimpinan). Pada akhir kegiatan, Pucuk Pimpinan mengumumkan, bahwa berdasarkan hasil Ujian dan proses LPP 1 ini, dinyatakan ke 6 Peserta lulus LPP 1 dan kemudian diterima menjadi Calon Pendeta HKI. Diharapkan masing-masing Calon Pendeta untuk lebih memaksimalkan pelayanannya dilapangan dan tetap memberikan Laporan Tertulis 1 kali 2 bulan untuk kemudian dapat mengikuti proses LPP selanjutnya. (hp,-)

Artikel MBW Edisi Juni Juli 2008


Merancang Pelayanan Khusus Jemaat Buruh
Oleh Eliakim Sitorus

Pada tanggal 14 dan 15 April 2008, telah dilangsungkan pelatihan dan lokakarya tentang pelayanan bagi buruh untuk para pendeta dan majelis gereja-gereja anggota UEM di Batam. Pelatihan ini merupakan kerjasama antara Program Konsultansi KPKC Sekber UEM dengan Perkumpulan Satu Dalam Misi (PSDM).
Lokalatih ini bertujuan untuk mempertemukan persepsi yang mungkin berbeda dan beragam di kalangan hamba Tuhan di gereja-gereja anggota UEM tentang pentingnya pelayanan bagi warga jemaat yang berprofesi sebagai buruh pabrik industri. Lalu jika persepsi itu sudah relatif sama, pada gilirannya boleh meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelayanan gereja bagi warganya. Tujuan lainnya adalah mendorong para pendeta dan majelis agar sudi bekerja sama dan sama-sama bekerja melayani umat gereja yang mayoritas adalah buruh di Batam. Program bisa saja berbagai jenis, demikian juga metode penerapannya, tidak harus seragam. Itu tergantung kepada kreativitas masing-masing.

Adalah sangat tidak masuk akal, apabila warga jemaat kita di Batam mayoritas kerja sebagai buruh dan sektor informal, namun gereja kita tidak punya perhatian sama sekali terharap dinamika kehidupan perburuhan di Batam. Dengan bahasa lain, kita hanya perduli apa yang disampaikan oleh jemaat kepada gereja, sementara gereja tidak perduli apa yang hendak diberikannya kepada umat. Tidak perlu menyebut Gereja Buruh, jika memang tidak ada program khusus pelayanan bagi kaum buruh.

Sebanyak 80 orang pendeta dan pertua, sintua, syamas, guru huria juga diakones dari gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP, BNKP, GKPA dan GKPPD yang ada di Batam hadir ambil bagian dalam pelatihan ini. Tampil sebagai pelatih pada hari pertama adalah Pdt. Gomar Gultom, MTh, Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia PGI Jakarta. Pdt. Gomar dengan tegas menandaskan:"Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh buruh seperti pengupahan, kondisi keselamatan kerja di pabrik, jaminan sosial tenaga kerja dan sebagainya, tidak semata-mata hanya urusan perusahaan dan pemerintah, melainkan juga urusan gereja". Mengapa? Sebab gereja diutus ke dunia untuk turut serta membenahi kondisi manusia yang kurang baik. (Bandingkan dengan Lukas 4: 18 – 19).

Mengorganisir Potensi Jemaat
Karena itu jika gereja yang jemaatnya adalah buruh di pabrik industri di kawasan
perkotaan atau desa, tetapi gereja tersebut tidak menaruh perhatian atas sistem pengupahan yang timpang bagi para buruh, kondisi keselamatan dan keamanan pekerja, maka bisa dikatakan bahwa gereja tersebut melawan hakekatnya.
Gereja terpanggil untuk melakukan tugas suruhan melakukan advokasi (pembelaan) hak-hak buruh, konseling (mendengar dan menguatkan) juga konsultasi berbagai permaasalahan yang dihadapi buruh dalam kehidupannya sehari-hari. Di akhir sesinya, Pdt. Gomar, yang menulis tugas akhir untuk magisternya di STT Jakarta tentang pelayanan gereja terhadap buruh, merekomendasikan gereja-gereja anggota UEM di Batam menata ulang makna panggilan di tengah komunitas yang lemah. Perumusan ulang tidak harus menantikan ada gerakan di tingkat nasional atau sinodal. Gereja-gereja di Batam yang ditempatkan di tengah kondisi Batam selaku pulau kota yang kompleks bisa saja merumuskan ulang makna panggilannya (koinonia, marturia dan diakonia).

Apabila kita mendorong gereja sebagai institusi agama, persekutuan orang Kristen agar melakukan advokasi, konseling dan konsultasi bagi umat ang berlatar belakang mata pencaharian sebagai buruh dan sektor informal, bukan berarti pendeta atau para majelis menjadi pengacara, atau semua akan menjadi konsultan dan konselor, melainkan mengorganisir potensi yang ada di jemaat. Bukankah gereja kita punya jemaat yang bekerja sebagai lawyer/penasehat hukum, atau pegawai dinas tenaga kerja dan sebagainya. Tentu gereja kita juga ada yang pengusaha, maka kita ajaklah dia bermitra dengan kita dalam pengembangan kapasitas burunnya yang adalah warga jemaat geeja kita. Potensi itulah yang harus diketahui oleh pendeta dan majelis, lalu mengorganisirnya hingga bisa menjadi program pelayanan khusus yang tangguh bagi buruh.

Ini bukan tugas tambahan sebagai pelayan di gereja, melainkan tugas yang terintegrasi dengan yang lain dalam tri tugas panggilan gereja. Yang perlu diatur lebih jauh adalah pembagian tugas di antara majelis dan pendeta. Jangan semua pekerjaan di geeja hendak diborong oleh pendeta.
Senada dengan itu, dua pembicara selanjutnya yakni Surani Sihombing dan Immanuel Purba tampil bersamaan dalam sesi diskusi panel. Surani adalah seorang buruh, aktif di Punguan Naposo Bulung (PNB) HKI, sedang Immanuel kerja sebagai pengurus serikat buruh, dan melayani sebagai pertua di GBKP. Dengan mensitir teks Lukas 4 ayat 18 – 19, Surani berharap gereja memberitakan kabar baik bagi buruh ("Beritakan Kabar Baik itu Kepada Kami"). Dia mengeksplorasi berbagai penderitaan kaum buruh di Batam. Kalau dulu Batam mungkin pernah dianggap sebagai tujuan empuk mencari pekerjaan, sekarang sudah lain. Di Batampun bertabur pengangguran, sebab sistem kontrak (out sourching) yang diijinkan oleh Pemerintah Indonesia lewat UU NO. 13 tahun 2003, membuat banyak buruh kehilangan pekerjaannya dalam waktu tak terduga. Pertua Immanuel Purba pun menyampaikan segudang permasalahan yang menghimpit kaum buruh yang bekerja di Batam. Buruh butuh pertolongan dan pendampingan. Salah satu kunci menoling buruh, sebenarnya adalah masuk serikat buruh atau serikat pekerja.

Merancang Program Bersama
Sebagaimana sudah diketahui, bahwa sesungguhnya pimpinan gereja kita di UEM sudah menyepakati berdirinya Perkumpulan Satu Dalam Misi (PSDM) menjadi satu wadah bersama dalam pelayanan kepada buruh. Namun selama dua tahun ini, kurang lancar. Banyak faktor yang menjadi kendala dan hambatan. Karena itu pada sesi ketiga, tampillah Ketua dan Sekretaris Badan Pengurus PSDM, Pdt. Rudi Sembiring (GBKP) dan Donald Manalu (GKPI) memaparkan apa, siapa dan bagaimana PSDM.
Betul ada banyak kelemahan dalam perjalanannya, tetapi sesungguhnya diyakini bahwa PSDM bisa menjadi alat yang kuat, yang bisa digunakan gereja-gereja dalam pengembangan pelayanan bagi jemaat berprofesi sebagai buruh di Batam. Salah satu butir rekomendasi Konsultasi Internasional ke-4 UEM tentang JPIC yang diadakan di Batam pada tanggal 10 – 17 Pebruari 2008 lalu, adalah anjuran agar gereja mendukung kegiatan PSDM. Rekomendasi itu cukup kuat gaungnya, sebab sebagaimana disampaikan oleh Ketua PSDM, peserta konsultasi dari tiga benua (Asia, Afrika dan Jerman/Eropah) itu menilai keberhasilan PSDM sebagai panitia pelaksana konsultasi. Artinya bisa mengorganisir pertemuan selevel nternasional, maka tidak diragukan lagi bisa mengorganisir pelayanan tingkat lokal Batam. Masalah utama di sini adalah komitmen.

Yang kedua, dana. Patut saya catat, bahwa pada hari kedua, tinggal 63 orang yang hadir. Yang lain tidak datang lagi. Padahal hari kedua inilah lokakarya di mana akan dirancang program secara bersama-sama atau sendiri-sendiri. Memang sesuai usul utusan gereja, saat merancang kegiatan lokalatih ini, peserta tidak menginap. Alasannya karena mereka harus melayani di gereja dan jemaat pada malam hari.


Sesi pertama pagi hari kedua ini adalah sharing dari Pdt. Martongo Sitinjak. Dia melayani di HKBP Singapura, yang banyak melakukan pelayanan dan pendampingan kepada migrant workers di Klang atau Malaka, Malaysia selama ini. Mendengar dan mengetahui, sebagai perbandingan, bagaimana gereja lain di tempat lain (termasuk luar negeri), melakukan pelayanan khusus bagi pekerja, adalah modal untuk membenahi pelayanan gereja kita bagi umat yang kerja sebagai buruh. Kunci utamanya, menurut Pdt. Sitinjak adalah kerja sama. Itulah yang membuahkan banyak buruh non Kristen yang datang dari luar negeri ke Malaysia akhirnya memutuskan memilih Yesus, sebagai buah pelayanan bersama gereja-gereja di Malaysia. Kerja sama, itulah intinya.
Segera setelah itu, saya memandu sesi lokakarya. Peserta dibagi menjadi empat kelompok, setiap kelompok membahas pertanyaan pemandu yang sudah saya siapkan. Setelah diskusi yang sangat menarik di setiap kelompok, maka dihimpun dalam sesi pleno. Dari situlah dirumuskan berbagai program strategis untuk dilakukan oleh gereja-gereja secara bersama melalui PSDM dan sendiri-sendiri di jemaat-jemaat masing-masing. Kita berbangga hati, bahwa di antara gereja-gereja Sekber UEM di Batam, yang telah menyediakan pendeta khusus pelayanan buruh adalah GKPS dan GKPI. Ini pun sesungguhnya direkomendasikan oleh Konsultasi JPIC UEM yang lalu.
Kiranya, setelah training dan workshop tentang pembangunan program pelayanan khusus bagi jemaat buruh ini, para pelayan gereja kita di Batam semakin bergairah melakukan tugas panggilan, melayani Tuhan, bukan untuk dilayani umat. Saya percaya jika pelayanan kepada buruh (program advokasi, konseling dan konsultasi) bisa dijalankan dengan baik, maka warga jemaat kita tidak akan suka lagi pergi berkelana mengikuti ibadah ke gereja-gereja lain. Kita buat mereka enjoy atau at home di gereja kita. Semoga. (*)


Penulis, adalah Konsultan JPIC untuk gereja-gereja anggota Sekber UEM.

Artikel MBW Edisi Juni Juli 2008


ENAKNYA MENDAPAT TRANSFER
(Lamser Aritonang, HKI Cawang Cililitan, Editor bulletin En Theos)


Bila kita mendengar kata transfer, pikiran akan segera mengarah pada bank. Sementara bank identik dengan uang. Sehingga kata transfer otomatis berhubungan dengan uang. Apakah itu salah?
Sama sekali tidak salah! Hanya saja kasihan sekali kalau kita hanya mengaitkan transfer dengan uang. Masih banyak hal yang berhubungan dengan kata ajaib tersebut. Paling tidak ada 3 komponen lain misalnya dunia pendidikan, kerohanian/gereja dan manusia sendiri.

Dalam dunia pendidikan apa yang ditransfer? Uang? Ya, uang memang salah satu hal yang ditransfer bila kita mengingat makin banyak sekolah atau perguruan tinggi yang melayani pembayaran SPP melalui bank. Bayangkan kalau tidak ada teknologi on line di bank. Berapa panjang antrian, berapa lama menunggu serta betapa capeknya proses membayar uang sekolah. Itulah gunanya kemajuan teknologi, memudahkan dan mempercepat proses kerja. Hasilnya juga diharapkan lebih berkualitas.

Tetapi bukan uang yang paling penting ditransfer dalam dunia pendidikan! Objek yang ditransfer itu adalah ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter anak. Itulah tugas yang disandang oleh semua pelaku pendidikan terutama oleh guru. Guru berperan membuat anak yang belum tahu menjadi tahu, memotivasi anak supaya rajin belajar dan membuat PR, mengubah anak yang bodoh menjadi pintar, mengajak anak supaya saling menghargai dengan teman-temannya dan terutama dengan orang tua.
Bagaimana proses itu berjalan? Yang pasti tidak semudah mentransfer uang yang cukup dengan menulis sejumlah uang, dan memberikan nomor rekening. Di situ diperlukan antara lain penguasaan materi pelajaran, keterampilan menjelaskan dari guru, pemahaman guru terhadap kondisi anak didiknya, konsistensi sikap dan perilaku guru , serta ketersediaan fasilitas belajar mengajar.

Di dunia kerohanian/gereja masalah transfer ini agaknya kurang disadari sehingga kurang diperhatikan. Kalau di bank yang ditranfer uang, di dunia yang ditransfer adalah ilmu pengetahuan dan karakter, maka dalam dunia kerohanian yang ditransfer tentu saja adalah iman, pengharapan dan kasih. Kita prihatin bila kebanyakan gereja lebih senang mentransfer perintah, kewajiban-kewajiban (iuran, ucapan syukur, PTB=Persembahan Tetap Bulanan), dan peraturan-peraturan.
Dunia kerohanian/gereja melakukan transfer melalui pengajaran, pelatihan, keteladanan dan ibadah seremonial. Masing-masing kita dapat melihat apakah kita mendapat pengajaran, pelatihan dan teladan yang cukup di gereja. Seperti anak sekolah yang mempunyai kurikulum, perusahaan mempunyai program rekrutmen dan pelatihan, Gereja perlu merumuskan pengajaran dan pelatihan yang sistematis. Misalnya, pengetahuan, keterampilan dan karakter apa yang minimal dimiliki oleh seorang lulusan STT sebelum menjalani masa vikariat. Demikian juga untuk tingkat sintua, pengurus lembaga kategorial, guru sekolah minggu dan naik sidi. Rasanya kita tidak dapat mengandalkan proses pengajaran hanya pada melalui khotbah sekali seminggu melalui langgatan!
Namanya juga transfer, orang yang mentransfer adalah orang yang memiliki apa yang mau ditransfer. Patut diingat bahwa yang melakukan transfer tidak harus yang paling: paling pintar, paling kaya, paling tua, paling banyak anak, paling tinggi pendidikan, paling senior, dsb. Karena biasanya yang dianggap berhak mentransfer hanyalah kalangan pendeta, guru jemaat, sintua dan majelis. Kasihan sekali mereka dituntut untuk memberikan yang belum tentu mereka miliki! Kondisi ini akan menempatkan semua pihak dalam posisi susah. Bukan saja karena susah mencari orang yang serba paling tersebut, tetapi juga tidak mendukung pertumbuhan jemaat. Karena bisa saja ada seseorang yang ahli di bidang keuangan di kantornya, tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengurus keuangan jemaat hanya karena dia belum sintua, misalnya.
Bentuk transfer yang lain adalah transfer dalam bentuk manusia. Contohnya, kalangan pendeta menghadapi kemungkinan transfer setiap periode. Contoh lain, anak sekolah yang telah lulus merantau ke Jakarta lalu menjadi anggota di salah satu gereja. Inilah transfer yang paling menguntungkan sepanjang orang tersebut benar-benar berkualitas. Dari segi kerohanian dia punya iman, pengharapan dan kasih. Dia berkarakter bagus dan mau melayani. Apalagi bila dia juga mempunyai pekerjaan yang memungkinkan dia bisa memberikan sumbangan keuangan untuk kebutuhan pelayanan.
Sampai detik ini, belum pernah ditemukan ada orang mendapat transfer uang tetapi mengeluh. Kalaupun mengeluh, mungkin karena transfernya kurang banyak saja jumlah nol di belakang. Demikian juga kiranya kalau transfer ilmu pengetahuan, iman, pengharapan, kasih, karakter dan transfer orang berkualitas terjadi di satu gereja, atau antar gereja HKI. Jangan sampai salah alamat, kita mentransfer ke gereja lain padahal gereja HKI masih sangat membutuhkan.
Kalau transfer berjalan dengan baik dan teratur tentulah mendatangkan dampak positif. Melalu transfer akan terbangun kedewasaan rohani, kepedulian sosial, kecerdasan dan pemerataan kehidupan. Melalui transfer akan tercipta hubungan saling menolong antara pihak-pihak yang saling terlibat. Transfer menghilangkan kecemburuan, menghilangkan kemiskinan serta menghilangkan egoisme dan kesombongan.

Artikel MBW Edisi Juni Juli 2008



PILKADA DAN HARAPAN BARU
(Pdt.Hopol M.Sihombing,STh - Bandung)


Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya. (Daniel 6:4)

Menyebutkan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tak heran bilamana dianggap atau seolah menyebutkan perkancahan politik, karena memang pilkada sarat dengan politik dan partai politik. Sedang kita dari pihak gereja berbicara soal politik tak heran pula bila dianggap suatu pembicaraan yang sekuler. Saya pikir boleh-boleh saja karena satu hal dari sekian banyak, dalam politik sudah menjadi rahasia umum "tiada sahabat yang abadi". Walaupun politik diimbangi dengan "tiada musuh yang abadi", politik memang masih melekat dengan beberapa hal yang perlu digarami oleh firman sebagai tugas gereja. Demikian pada kesempatan ini, saya tidak hendak membicarakan hal politiknya pilkada tetapi harapan baru berhubungan dengan pilkada bahwa khususnya bagi generasi muda gereja sungguh mungkin dan memiliki kesempatan menjadi pemimpin bangsa di hari mendatang
Berhubungan dengan otonomi daerah (otda-2003), maka sudah menjadi keharusan bagi setiap daerah untuk melaksanakan pemilihan para pemimpin di daerah itu apakah di tingkat propinsi, kabupaten sampai level kepala desa. Tentu pemimpin-pemimpin ini selain orang yang layak memimpin juga diutamakan dari putra/i daerah itu. Memang tidak menutup kemungkinan di suatu daerah bahwa pemimpin daerah itu berasal dari daerah lain karena satu dua hal kecemerlangannya. Maka dalam hal ini juga dapat menguatkan harapan baru bagi generasi muda untuk memiliki akses menjadi pemimpin di daerah-daerah (di daerahnya sendiri atau daerah lain), apakah menjadi seorang lurah/ kepala desa, camat, bupati, gubernur bahkan tanpa embel pilkada untuk menjadi seorang menteri.
Mungkin bagi beberapa orang harapan seperti ini adalah suatu optimisme yang berlebihan. Namun bisa saya katakan justru pilkada telah membuka pintu dan peluang yang besar bagi khalayak ramai termasuk kepada anak-anak dari jemaat HKI. Terserah dan kita tidak mempersoalkan anak dari keluarga siapa, tetapi yang jelas saya mempunyai kerinduan kalau nanti pemimpin itu ada dari anak-anak jemaat HKI. Memang sekarang boleh saja bahwa kita tidak memiliki begitu banyak tahu teori ilmu pengetahuan dan trik-trik sedetail mungkin bagaimana untuk meloloskan seseorang dalam pilkada. Tetapi paling tidak kita telah memiliki visi dan keinginan untuk disampaikan kepada seluruh anggota jemaat bahwa pilkada memberikan harapan baru. Untuk itu pula bolehlah kita mulai mensosialisasikan serta
mendoakan kiranya Tuhan memberikan hikmat dan kecemerlangan bagi anak-anak anggota jemaat HKI. Sehingga bila suatu saat nanti kerinduan itu menjadi nyata pasti menjadi kebanggaan bagi HKI serta syukur kepada Tuhan. Beberapa waktu lalu di Jawa Barat kita dapat melihat spanduk-spanduk 3 paket pasangan kandidat gubernur dan wakil gubernur. Tentu usai pilkada tanggal 13 April 2008 nanti maka pertama kali di tingkat I Jawa Barat kita akan tahu pasangan mana yang akan duduk dan berkantor di gedung Sate atas pilihan rakyat. Begitu juga ketika saya ke Sumatera Utara untuk mengikuti rapat pendeta di Pematangsiantar pada tanggal 11-14 Maret 2008, saya juga melihat spanduk-spanduk di sepanjang jalan dan saya tahu ternyata ada 5 paket pasangan kandidat gubernur/ wakil gubernur yang akan dipilih pada 16 April 2008.
Saya dengan sederhana bertanya; "Apa tidak mungkin suatu saat nanti bahwa anak-anak HKI ikut menjadi kandidat dan menang/ terpilih dalam pilkada?" Maksud saya di berbagai daerah atau propinsi seluruh Indonesia. Saya pikir peluang itu mungkin apalagi jika secara serempak setiap jemaat merindukan dan mengharapkan kemenangan seperti itu.

Saya juga mulai mencari-cari informasi, apakah ada anak jemaat HKI sedang atau pernah menjabat sebagai gubernur, bupati, camat? Kepala desa mungkin banyak. Kalau begitu, saya pikir ini peluang. Untuk itu alangkah baiknya bilamana anak-anak jemaat HKI mulai melirik kesempatan yang baik ini. Begitu juga kiranya bahwa orang tua dan gereja mulai mempersiapkan, mendukung cita-cita mulia ini.

Memang di saat sekarang, pilkada sangat mengutamakan para kandidat berasal dari partai, dan hal itu menjadi suatu kesulitan tertentu. Namun, apa tidak mungkin juga kalau masa mendatang bahwa sistem bisa berubah dimana para kandidat diperbolehkan dari kalangan independent.
Untuk pengharapan, kita boleh meniti ulang perjalanan Daniel di Babel (di daerah/ negara dan bangsa lain). Seorang Yahudi bisa jadi pemimpin besar di Babel. Apa itu mungkin? Itu boleh terjadi atas kuasa Tuhan. Bayangkan bahwa menurut Dan.6:2-4, pada waktu itu di Babel ada 120 orang pejabat dan disebut sebagai wakil-wakil raja di seluruh daerah. Untuk membawahi 120 orang ini diangkat pula 3 orang pejabat tinggi termasuk satu di antaranya adalah Daniel. Luar biasanya, kemudian raja berkehendak mengangkat Daniel menjadi satu-satunya pemimpin di bawah raja dan di atas dua orang temannya pejabat tinggi itu. Sungguh ini berkat dan kesempatan besar sebab seorang tak terpandang (buangan) boleh menjadi pemimpin besar. Memang ditegaskan bahwa Daniel didukung oleh kesalehan dan kecemerlangannya sebagaimana ditulis dalam kitab Dan. 6:4, "....sebab Daniel memiliki Roh yang luar biasa" (Tondi nasumurung).

Karena itu kita boleh percaya dan berharap dalam pengaharapan yang baru; bilamana Tuhan turut bekerja dan menghendakinya, kita akan melihat perbuatan Tuhan yang besar. Cita-cita kita; Bilamana Tuhan berkehendak bagi anak-anak jemaat HKI, itu bisa terjadi. Jika demikian, mulailah berkeinginan dan supaya setiap jemaat mempersiapkan anak-anak yang saleh, cemerlang dan memiliki Roh yang luar biasa itu. Atau paling tidak untuk turut mensosialisasikan kepada anak-anak kita bahwa kesempatan dan peluang itu benar-benar ada bagi setiap orang termasuk anak-anak dari jemaat HKI, syalom.

Artikel MBW Edisi Juni Juli 2008



HARI KENAIKAN TUHAN YESUS SEBAGAI
HARI RAYA SEPI KRISTEN DAN RELEVANSIYA DENGAN KITA
Pdt. Firman Sibarani, M.Th
(Pendeta HKI di Resort Medan I).

1. Hari Raya Kenaikan Yang Sepi, Itu Alkitabiah

Hari Raya kenaikan Tuhan Yesus ke sorga adalah hari raya kristen yang paling sepi sepanjang sejarah. Memang hari raya itu adalah hari raya sepi. Itu Alkitabiah. Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus itu adalah peristiwa sepi. Kenapa? Pertama, kenaikan itu terjadi di tempat sepi, persisnya di bukit Zaitun (Kis 1 :12 ) dekat desa Batania (Luk 24 : 50). Kedua, orang yang turut dalam peristiwa itu sangat sedikit, hanya murid-murid Yesus (Luk 24 : 36,50). Ketiga, kenaikan itu adalah perpisahan antara Yesus dengan murid-muridnya. Di Lukas 24 : 51 dikatakan : " Ketika Yesus sedang memberikati mereka, ia berpisah dengan mereka dan terangkat ke sorga".

2. Hari Raya Kenaikan Yang Sepi Itu Membuat Hidup Sangat Bersukacita
Jangan kita lupa, sukacita dapat kita miliki bukan hanya dari ibadah yang meriah, ramai, lagu-lagu dengan instrument yang hidup-hidup, khotbah yang berapi-api. Hidup yang sangat bersukacita dapat kita miliki dari keadaan sepi yang kita buat sebagai ibadah atau dari ibadah yang kita buat sepi. Keadaan sepi pada kenaikan Tuhan Yesus menjadi ibadah yang sepi bagi murid-muridnya, yang membuat mereka sangat bersukacita. Di Lukas 24 : 52 diberitahukan : "Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita". Dalam ibadah yang sepi itu mereka dapat eling kepada Tuhan. Mereka dapat mengingat, menghayati dengan baik dan percaya pada Firman Tuhan, khususnya akan apa yang telah dikatakan Tuhan Yesus sebelum ia naik ke sorga, yaitu : "Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu : Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapaku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku" ( Yoh 14 : 28 ). Dalam ibadah kenaikan yang sepi itu para murid memahami dan mempercayai bahwa Yesus pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka di sorga dan akan datang membawa mereka kesana (Bnd Yoh 14 :1 – 3). Pemahaman dan iman dari ibadah sepi itu membuat hidup mereka sangat bersukacita.

3. Hari Raya Kenaikan Yang Sepi Itu Melahirkan Keinsafan Akan Misi
Setelah peristiwa Kenaikan yang sepi itu, lahir keinsafan akan misi memberitakan Injil dalam diri murid-murid Yesus. Tak dapat dipungkiri,
keinsafan itu lahir dari perenungan mereka akan Firman Tuhan (bnd. Luk 2 : 19) dalam ibadah yang sepi di tempat dan keadaan yang sepi. Ketika murid-murid menatap ke langit waktu Yesus naik, tiba-tiba dua orang yang berpakaian putih berdiri dekat mereka, dan berkata : "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga" (Kis 1 : 10 – 11; bnd. Luk 21 : 27). Segera sesudah itu murid-murid kembali ke Yerusalem dan menanti-nantikan kedatangan Roh Kudus menyertai mereka dalam misi memberitakan Injil. Hal ini mereka lakukan sesaat setelah mereka memahami dan insaf akan apa yang telah dikatakan Yesus untuk mereka lakukan, yakni misi memberitakan Injil (Yoh 15 : 26 ; 16 :7; Luk 24 : 49; bnd. Kis.1:15ff) ]

4. Relevansi Hari Raya Kenaikan Yang Sepi Itu Dengan Kita
a. Baiklah Hari Kenaikan Yesus menjadi hari raya sepi kristen. Tetapi sepi bukan kerena kita tidak respon, tidak peduli atau karena malas merayakan, melainkan karena sungguh-sungguh merayakannya dalam keadaan sepi atau dengan ibadah yang sepi. Hari raya sepi ini dapat kita laksanakan dengan menyepi tetapi bukan harus sendiri dan menyendiri, entah di gereja, di rumah, di bukit atau di tempat sepi lainnya. Hari raya kenaikan ini tidak perlu dengan ibadah yang meriah. Dan setelah ibadah, hari raya itu tidak perlu di isi dengan kegiatan lain yang meriah. Sehariannya biarlah sepi. Ingatlah, bahwa sepulang dari peristiwa kenaikan Yesus, para murid kembali ke Yerusalem. Mereka berkumpul bersama beberapa perempuan pengikut Yesus dan saudara-saudara Yesus di ruang atas sebuah rumah. Mereka bertekun dalam doa (Kis 1 : 12 – 14). Maka baiklah kita secara pribadi atau sekeluarga suka bertekun dalam doa, dan bersukacita menyanyikan koor walau yang mendengar hanya Tuhan.

b. Belakangan ini bermunculan kelompok-kelompok kristen yang mengadakan kebaktian di rumah-rumah, ruko, gedung-gedung besar seperti Plaza dengan ibadah yang selalu meriah. Mereka menggunakan lagu-lagu dengan instrument yang hidup-hidup, khotbah yang berapi-api. Banyak warga gereja-gereja tradisional (main stream) terutama muda-mudi mengikutinya. Mereka merasa tertarik dan bersukacita. Namun, harus dikatakan bahwa sukacita sejati atau sukacita penuh tidak dapat kita peroleh hanya dengan ibadah yang selalu meriah, dengan lagu-lagu dan instrument yang hidup-hidup dan dengan khotbah yang selalu berapi-api, tetapi juga dengan ibadah yang sepi. Didalam diri kita ada ruang meriah, ada juga ruang sepi. Sentuhan meriah dibutuhkan demikian juga sentuhan sepi. Karena itu tidak semua hari raya adalah meriah dan harus meriah. Ada hari raya sepi dan harus sepi demi makna, demi sukacita sejati, seperti hari raya kenaikan Tuhan Yesus.

c. Kehidupan kita sekarang ini dipenuhi dengan hari-hari raya yang meriah. Disamping hari-hari raya kristen, ada hari-hari raya masyarakat, yaitu Bona Taon, Ujung Taon, Ulang Taon Parsahutaon, Parmargaon, Parsarikkaton (STM) dan lain sebagainya. Semua berlomba ramai dan meriah. Benar ada banyak hal yang baik di sana, tetapi ada yang membuat tidak baik dan berbahaya. Apa itu? Hari-hari raya meriah itu sendiri dan kemeriahannya menjadi "Ultimate Meaning" (nilai tertinggi) dan "Ultimate Goal" (tujuan utama dan akhir). Ya, kemeriahan pesta-pesta gereja, Sinode bahkan Jubileum yang diperkosa (yang sebenarnya hari raya pembebasan dengan memberi uang kepada warga yang miskin dan menderita sesuai Imamat 25 tetapi telah merupakan hari raya meminta uang, juga dari warga yang miskin dan menderita) menjadi Ultimate Meaning dan Ultimate Goal. Semua misi menjadi
proses demi mencapai kemeriahan pesta. Arti, makna dan tujuan sebenarnya terkorbankan demi kemeriahan.

Dalam mencapai ultimate meaning dan ultimate goal seperti disebut tadi biasanya sepi doa dan sepi perenungan. Oleh karena itu sangat relevan, kena mengena dengan kita selalu mengadakan doa sepi bukan sepi doa, mengadakan banyak perenungan sepi bukan sepi perenungan. Dalam doa dan perenungan sepi itulah kita dapat menemukan dan menyadari sesuatu misi yang bermanfaat bagi kehidupan warga jemaat, baik kehidupan rohani, ekonomi, budaya, politik maupun kehidupan lainnya.

Khusus dengan ibadah hari raya kenaikan yang sepi, kita menemukan paling tidak dua titik berat. Pertama adalah apa yang akan kita lakukan untuk Tuhan, yakni menaati Dia untuk memberitakan Injil. Kedua adalah apa yang akan kita lakukan untuk manusia dengan keluar dari egoisme kepada memikirkan kepentingan orang lain, keluar dari eksklusivisme untuk menjadi "Saksi" Kristus bagi orang lain.