Thursday, December 11, 2008

Artikel MBW Edisi Desember 2008 - Januari 2009

FOKUS :

PERANAN PENDETA HKI DALAM KEHIDUPAN BERIMAN WARGA HKI DI ZAMAN INI DAN MENDATANG
Oleh: Pdt. F. Sibarani, M.Th

1. Pendahuluan
Setelah lebih dahulu mengetahui situasi masa kini Kehidupan beriman warga HKI dan pelayanan Pendeta HKI secara umum, segera dilihat dan diakui bahwa peranan Pendeta HKI sangat dan akan semakin strategis dalam kehidupan beriman warga HKI. Dalam hal ini pendeta HKI harus melibatkan diri lebih nyata dalam kehidupan beriman warganya, tidak dalam kepassipan tetapi dalam peran yang aktif dan kreatif. Dari Pendeta HKI zaman sekarang sangat didambakan adanya kesanggupan secara langsung aktif dan efektif melaksanakan peranannya dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan beriman warga HKI.
Tentu ada banyak peranan Pendeta HKI dalam kehidupan beriman warganya. Tetapi disini akan diperhatikan apa peranannya secara lebih khusus berdasarkan beberapa kata kunci. Untuk maksud itu, tulisan ini hanya sedikit teoritis dan lebih bersifat praktis.

2. Peranan Sebagai Bapa, Ibu dan Nenek
Ada panggilan yang sangat istimewa kepada Pendeta HKI dari warganya. Pendeta laki-laki dipanggil “Amang” (Bapa) dan Pendeta wanita dipanggil “Inang” (Ibu). Panggilan itu adalah sebuah peranan, yaitu sebagai bapa di dalam iman dan sebagai ibu di dalam iman. Maka bagi Pendeta HKI, warganya adalah “anak” di dalam iman. Di Alkitab dicatat akan rasul Paulus yang memanggil Timotius sebagai anaknya yang sah di dalam iman (1 Tim 1 : 2).
Pendeta HKI juga mendapat panggilan “Ompung” (nenek) oleh warga jemaatnya. Teringat akan pengalaman saya kali pertama sebagai Pendeta di HKI Resort Tarutung Barat. Sekalipun belum menikah, saya langsung mempunyai ratusan cucu. Anak-anak sekolah minggu HKI bahkan anak-anak Kristen lainnya yang bukan HKI memanggil saya “Ompung”. Awalnya terasa lucu. Ternyata panggilan itu adalah peranan sebagai nenek di dalam iman. Di Alkitab ada disebutkan mengenai Lois nenek kandung Timotius yang juga memerankan peranan sebagai nenek di dalam iman baginya. (2 Tim 1 : 5).
Sejarah pelayanan pendeta HKI mencatat bahwa peranan sebagai bapa, ibu dan nenek di dalam iman menempatkan Pendeta HKI dalam kedudukan yang tinggi, hormat dan mulia di tengah-tengah warga HKI. Kedudukan ini sekaligus juga merupakan wibawa, kekuatan, kesempatan dalam membina kehidupan warga HKI yang beriman.
Melihat kenyataan di zaman ini, dimana warga HKI semakin membutuhkan Pemimpin iman, teladan iman, maka peranan pendeta HKI sebagai bapa, ibu dan nenek dalam iman bagi warga HKI harus dilestarikan dan ditingkatkan menjadi lebih nyata, lebih baik.
3. Peranan Sebagai Saluran Berkat
Kesediaan menjadi Pendeta HKI adalah kesediaan menjadi berkat bagi warga HKI. Kalau pepatah Romawi pernah mengatakan, bahwa manusia bagi sesamanya adalah serigala (homo homini lupus), maka Pendeta HKI tampil mencanangkan dan mengisi seluruh jiwa dan raganya menjadi berkat bagi warga HKI atau sesama (homo homini salus). Perjuangan Pendeta HKI sekali-kali bukan semata memperkaya diri tetapi memperkaya diri demi memperkaya warga HKI. Pendeta HKI boleh kaya, dan itu baik, tetapi jangan lupa akan peranannya sebagai bapa, ibu dan nenek adalah untuk menjadi berkat bagi warga HKI. Artinya, bagi warga HKI yang miskin dan sangat membutuhkan pertolongan baiklah Pendeta HKI membantunya. Walau Pendeta HKI miskin, ia tetap sebagai saluran berkat.
Tentu Pendeta HKI senang dan bersyukur bila mendapat “jalang-jalang”. Baiklah “jalang-jalang” itu diharapkan dan didoakan pada Tuhan agar selalu ada. Baiklah Warga Jemaat selalu bermurah hati memberi “jalang-jalang” kepada pendetanya. Tetapi sebaliknya pendeta HKI harus tergerak belas kasihan sehingga mau dan sukacita memberi “jalang-jalang” kepada warga yang kelaparan, yang sangat susah karena sakit dan tidak ada uang berobat. Ada saat menerima, ada saat memberi. Ya, jadilah Pendeta HKI sebagai saluran berkat dengan meneladani Kristus yang membuat jemaat menjadi kaya oleh (dari) kemiskinannya (2 Kor 8 : 9)
Karena Pendeta HKI adalah saluran berkat maka tak boleh ada yang sedih, menangis maupun menolak ditempatkan di daerah miskin atau desa terpencil. Juga tak boleh ada penundaan penempatan pendeta di suatu Jemaat, Resort, Daerah bila sangat dibutuhkan hanya karena rumah dinas belum tersedia, gaji belum bisa dipenuhi, sarana prasarana belum dilengkapi. Justru sebaliknya, Pendeta harus lebih cepat ditempatkan ke sana untuk membawa berkat, agar ia bersama warga dapat membangun rumah dinas, membuat gaji dapat dipenuhi., sarana prasarana dapat dilengkapi. Bila pendeta HKI ditempatkan di daerah terpencil dan miskin, itu adalah kesempatan berkarya untuk memperkaya warga jemaat setempat. Dengan demikian tidak ada lagi jemaat, resort atau daerah yang menolak penempatan pendeta karena alasan tidak mampu atau miskin. Justru sebaliknyalah yang akan terjadi, karena tidak mampu atau miskin, mereka memerlukan dan memohon penempatan pendeta dengan segera. Pendeta bukan beban yang dipikul jemaat melainkan turut memikul beban jemaat sehingga menjadi lebih ringan.
4. Peranan Sebagai Pendamai
Pendeta HKI mempunyai peranan sebagai tokoh pendamai atau juru damai. Pertama, pendamai bagi warga jemaat terhadap Allah. Abraham adalah tokoh pendamai yang tampak dalam usahanya bagi Sodom dan Gomora. Dia menaikkan doa syafaat untuk keselamatan Sodom dan Gomora yang sangat jahat di mata Tuhan, sekalipun hanya keluarga Lot yang diselamatkan (Kej. 19). Pendeta HKI berperan membawa Warga jemaat HKI yang berdosa untuk berdamai dengan Allah. Contohnya, bila ada warga jemaat yang kaya dari penghasilan yang haram, misalnya korupsi, Pendeta membawanya berdamai kepada Allah, artinya menuntunnya agar bertobat sehingga ia selamat. Jangan karena orang tersebut suka memberi uang ke gereja atau kepada Pendeta sendiri, maka Pendeta membiarkannya bahkan bergembira ria dengan keadaan itu. Hal sedemikian memperlihatkan bahwa Pendeta hanya perlu uangnya bukan keselamatan warganya. Pendeta disini bukan pendamai. Kedua, Pendeta HKI adalah pendamai bagi sesama pendeta. Terlebih di tahun Koinonia HKI 2008 ini, Pendeta HKI di semua struktur atau tingkatan harus membawa damai bagi sesamanya pendeta HKI. Hendaklah peranan pendamaian itu benar, jujur dan tulus demi keutuhan HKI sebagai Tubuh Kristus. Tidak patut ada persahabatan dengan seseorang atau segolongan demi kepentingan diri atau segolongan dengan memusuhi atau mendiskreditkan seseorang atau segolongan lain. Jangan pula ada dusta di dalam persahabatan. Jangan ada persahabatan seperti Herodes dan Pilatus yang demi merealisasikan kehendak atau kepentingan sendiri maupun segolongan menciptakan permusuhan kepada seseorang atau segolongan lain (bnd. Luk 23 : 12). Sesungguhnya damai dalam kehidupan HKI membutuhkan kurban pendamaian. Kurban itu adalah Pendeta HKI yang rela mengorbankan kepentingan diri demi damai di HKI. Peranan pendeta HKI sebagai pendamai terhadap sesama pendeta menjadi teladan damai bagi para pelayan HKI lainnya dan bagi seluruh warga HKI.
5. Peranan Sebagai Penyembah Sejati
Salah satu tujuan yang tidak boleh disepelekan oleh Pendeta HKI dalam melayani adalah agar semua warga HKI menjadi penyembah sejati Allah. Gereja HKI didirikan dan dipelihara oleh Allah untuk menjadi gereja penyembah sejati Allah. Sementara Pendeta HKI ditetapkan oleh Allah untuk menjadi hamba atau pemimpin penyembah sejati Allah.
Sebagai penyembah sejati tidak akan ada Pendeta HKI yang mengambil uang atau harta HKI demi kepentingan diri atau keluarganya. Pendeta HKI tidak akan menyelewengkan uang gereja sekalipun tidak ada uangnya. Pendeta HKI harus meneladani Abraham yang mempersembahkan anaknya Ishak kepada Tuhan (Kej. 22). Penyembah sejati mengorbankan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (bnd. Yoh 15 : 13). Sahabat-sahabat Pendeta HKI adalah warga HKI. Pendeta HKI mengorbankan segenap hati, pikiran, tenaga, apa yang ada padanya dan hidupnya sendiri demi warga HKI.
Sebagai pemimpin penyembah sejati Allah, pendeta HKI harus memimpin warga HKI menjadi gereja penyembah sejati Allah. Salah satu ciri dari gereja penyembah sejati Allah adalah kemandirian dalam memberi persembahan kepada Allah. Artinya memberi persembahan kepada Allah adalah dari apa yang ada padanya, bukan apa yang ada dari pihak lain. Sudah saatnya kita menjadi gereja penyembah sejati Allah dalam pembangunan gereja, penyelenggaraan Sinode, pembinaan warga jemaat dan kegiatan lainnya dengan kemandirian pendanaannya dari HKI. Tidaklah sejati bila biaya pelaksanaan penyembahan (ibadah) pada perayaan Natal, pembagian kasih Natal (seperti sembako) adalah hasil dari meminta-minta dari orang lain, perusahaan yang bukan warga HKI.
6. Penutup
Peranan pendeta HKI sangat strategis, yakni sebagai pemimpin iman, teladan iman, saluran berkat, pendamai bagi warga HKI dan pemimpin warga HKI menjadi penyembah sejati Allah. Sejatinya kehidupan beriman warga HKI yang terberkati, yang penuh sukacita dan damai sejahtera tidak terlepas dari peranan Pendeta HKI. Baiklah tiada Pendeta HKI tanpa peranan yang nyata bagi sekalian warga HKI.

Wawasan

PANDANGAN PROTESTAN TENTANG GEREJA KATOLIK DAN RELEVANSINYA DALAM KERJASAMA OIKUMENE
Oleh : Pdt. Langsung Maruli Sitorus

(Sambungan edisi lalu - Habis)
6. Sikap sekarang yang dilatarbelakangi perubahan pandangan terhadap RK
Semua gereja reformasi di Sumatera Utara tidak ada yang menyangkal keabsahan baptisan yang dilakukan oleh gereja Katolik. Tetapi gereja yang menganjurkan pembaptisan ulang, seperti GKII, menyangkal keabsahan baptisan (terutama baptisan anak dan baptisan percik) yang dilakukan oleh gereja reformasi dan gereja Katolik.
Dulu gereja reformasi masih menganggap kurang lengkap pendidikan konfirmasi yang diperoleh seorang pemuda Kristen dalam pelajaran konfirmasi yang diterimanya semasa dia masih Katolik. Sehingga apabila seorang pemuda/pemudi hendak menikah kepada pemudi atau pemuda di gereja reformasi, pekerja gereja di gereja reformasi masih meminta agar katolik itu harus belajar sidi lagi dan disidikan dalam acara kebaktian minggu. Sikap seperti itu masih berlaku hingga tahun 2000. Tetapi berkat pergaulan umat kedua gereja tersebut (Yang reformasi dan yang Katholik) dan berkat kesadaran bahwa mutu pelajaran konfirmasi dengan mutu pelajaran sidi sudah disadari sebagai tidak terlalu berbeda, kecuali dalam hal ajaran yang memang berbeda, maka gereja-gereja reformasi sudah meninggalkan sikapnya, yang menuntut agar anak Katolik yang hendak nikah di gereja reformasi harus disidikan terlebih dahulu.
Kalau dulu keluarga yang menyetujui anaknya nikah di katolik dan anak yang nikah di katolik diekskomunikasi atau sedikitnya dibuat menjadi anggota yang harus belajar ulang, sekarang ini sikap dan pandangan sedemikian tidak dijalankan lagi. Yang Katolik dan yang protestan sudah dapat lama-lama bersukacita menghantar putra/putri mereka menerima pemberkatan nikah di hadapan altar Tuhan yang di katolik maupun yang di gereja protestan, dan bersuka cita bersama memestakan atau rnengadatkannya. Tetapi memang seperti dicatat di atas, bahwa pendeta gereja protestan dan pastor katolik bersama-sama memberikan pemberkatan nikah untuk sepasang calon suami isteri di gereja protestan belum pernah dilaksanakan sampai sekarang. Mungkin RK sudah lebih maju dalam mengijinkan pastor dan pendeta gereja protestan bersama-sama memberkati pernikahan putra/putri di depan altar katolik.
7. Sampai sekarang gereja-gereja reformasi masih belum dapat menerima pelaksanaan sakramen perjamuan kudus seperti Katolik menjalankan misa atau ekaristi. Dan mungkin sekali gereja Katolik juga masih sangat menolak pelaksanaan perjamuan kudus yang diselenggarakan oleh gereja-gereja reformasi. Tetapi sewaktu gereja Katolik mengizinkan orang non-katolik menerima misa, anggota gereja reformasi tidak terlalu keberatan untuk dapat mengikutinya. Tetapi, apakah di masa depan, bahwa anggota gereja Katholik diizinkan menerima perayaan Perjamuan Kudus yang diselenggarakan gereja-gereja Reformasi. Mungkinkah kedua gereja (Protestan dan Katolik) dapat lebih berani mempercayai bahwa Tuhan Yesus sendiri yang melayankan Perjamuan Kudus itu, dan penerima/peserta Perjamuan Kudus atau Misa, tidak perlu mempersoalkan bagaimana Tuhan-Yesus melayankannya. Yang utama adalah, bahwa anugerah Tuhan yang diberikan melalui perayaan Perjamuan Kudus atau Misa itu yang perlu dinikmati oleh para peserta Perjamuan Kudus atau Misa yang diselenggarakan Tuhan dalam gereja-Nya. Cara Tuhan menjamu peserta perjamuan-Nya tidak dapat membatalkan anugerah Tuhan yang diserahkannya.
8. Pergaulan Protestan dan Katolik
Sudah kenyataan, bahwa umat Kristen yang Protestan dan yang Katolik berbaur di tengah masyarakat, terutama dalam Punguan Marga dan Perkumpulan Serikat Tolong Menolong. Dua organisasi Kristen ini di tengah umat Kristen dan Katolik, mengadakan kebaktian-kebaktian rutin sedikitnya sekali sebulan. Mereka dapat memuji Tuhan bersama, bersukacita bersama, tanpa terusik dengan kekatolikan dan keprotestanan. Kumpulan-kumpulan ini sangat lebih ekumenis dibandingkan dengan gereja protestan dan katolik dalam pergaulan antar gerejawinya. Mungkinkah gereja protestan dan gereja katolik secara bersama-sama mengejar ketertinggalan mereka dibanding masayarakat yang sudah lebih indah pergaulannya?

9. Penutup
Mudah-mudahan catatan singkat mengenai ‘Pandangan Protestan tentang Gereja Katolik dan Relevansinya dalam kerjasama ekumene’, dapat membuka wacana peserta diskusi dan dialog ini untuk saling semakin memahami keadaan yang sebenarnya.

TRAINING HAM:
Gereja dan Penegakan HAM
Peran Gereja: Dimana?

Oleh Eliakim Sitorus
*)

Kita patut senantiasa bersyukur kepada Tuhan, yang telah menyatakan kasih dan pemeliharanNya terhadap umatNya di Sumut, melalui kehadiran Program Konsultansi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) bagi Gereja Anggota Sekretariat Bersama (Sekber) UEM.
Kegiatan yang baru saja terlaksana adalah Training/Pelatihan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) fokus pada hak ekonomi, sosial dan budaya (EKOSOB) juga hak sipil dan politik (SIPOL) bagi para pendeta dan pengerja gereja. Pelatihan ini berlangsung pada tanggal 10 – 14 September 2008, bertempat di training centre atau sopo Perhimpunan KSPPM di Girsang I, Kecamatan Sipangan Bolon Parapat, Simalungun.
Saat peresmian pembukaan pelatihan hadir Ephorus GKPS Pdt. Belman Dasuha, STh mewakili pimpinan Gereja Sekber UEM. Beliau, dalam kotbah pembukaan mendasarkan uraiannya dari Efesus 4 : 2 – 4, “Gereja harus memainkan peranan dalam perjuangan penegakan HAM dengan sikap selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar”. Inilah menjadi pijakan awal dalam seluruh rangkaian training tersebut. Peserta berjumlah 26 orang, berasal dari gereja-gereja anggota Sekber UEM di Sumut juga lembaga mitra, seperti Persekutuan Diakonia Pelangi Kasih (PDPK).
Dari HKI sendiri turut sebagai peserta latih adalah Pdt. Sadaventus Nadapdap dari HKI Tigalingga dan Vik. Pdt. Manamba Pasaribu dari HKI Ajibata. Sesungguhnya Konsultan KPKC Sekber UEM mengundang tiga orang peserta dari tiap gereja.
HAM adalah Pemberian Tuhan.
Pentingnya pelatihan sejenis ini, mengingat realitas perkembangan terkini dalam kehidupan masyarakat kita berbangsa dan bernegara menunjukkan masih terus adanya fenomena pelanggaran HAM. Misalnya pelarangan kegiatan ibadah agama tertentu oleh pihak lain, yang beda agamanya. Pengrusakan rumah ibadah dengan berbagai alasan, yang sering kali tidak masuk akal, melawan hukum dan sentimen agama. Kehidupan masyarakat sangat terganggu ketika pemerintah tidak dengan tegas memberikan perlindungan HAM bagi warganya dan menghukum pelaku pelanggaran HAM tersebut.
Walaupun Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM dan UU NO. 26 tentang Peradilan HAM sudah diberlakukan, maka tidak dengan serta merta pelanggaran HAM berhenti di negara kita. Termasuk juga walaupun konvensi PBB tentang HAK Sipil dan Politik, (SIPOL), Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (EKOSOB) sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia ke dalam bentuk undang-undang, namun sekali lagi pelanggaran hak masyarakat masih terus berlangsung.
Karena itulah, HAM yang adalah hak yang diberi oleh Tuhan kepada manusia ciptaanNya, yaitu hak hidup, hak berkeyaknan, hak menentukan pilihan ideologi, dan lain-lain, sesungguhnya sesuatu yang harus disyukuri, sebab itu adalah berkat Tuhan semata, bukan pemberian negara atau pemerintah kepada orang per orang. Jadi HAM melekat dalam diri setiap orang, begitu dia lahir menjadi manusia. Itu sebab disebut HAK ASASI yang tidak bisa dicabut oleh siapapun, termasuk oleh negara.
Turut hadir sebagai narasumber atau pelatihan dalam kesempatan ini antara lain Ibu Saur Tumiur Situmorang, SH. MCD yang memberi masukan tentang Nilai-nilai Kemanusiaan. Ini materi yang sangat menarik, sebab memang nilai kemanusiaan yang bersifat universal menjadi dasar bagi semua umat manusia di planet bumi untuk saling menghargai. Saur Tumiur, yang sehari-hari bekerja sebagai aktivist LSM CREDO juga menambahkan materinya tentang pengenalan secara mendasar apa itu HAM.
Lalu, Bapak Dr. Jayadi Damanik memperkenalkan dengan seksama Institusi Penegakan HAM, baik di tingkat nasional, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), di mana beliau bekerja sebagai staff peneliti, juga di level internasional seperti Dewan atau Komisi Tinggi PBB untuk urusan HAM. Damanik, yang menyelesaikan program doktoral Hukum HAM dari Univeritas Pajajaran Bandung itu, juga memberikan banyak contoh berbagai produk UU dan Peraturan di negera kita yang berpotensi melanggar HAM masyarakat. Berbagai Peraturan Daerah (Perda) berbias syarat Islam misalnya, sesungguhnya adalah pelanggaran HAM bagi warga negara ini yang tidak mensyaratkan syariat seperti itu dalam ajaran agamanya.
Dua pelatih atau narasumber lainnya, masing-masing Arifin Telaumbanua, SH yang adalah Sekretaris Pelaksana Perhimpunan KSPPM melatih asa dan akal kami peserta bagaimana menegakkan HAM di lingkungan kita dan gereja, serta membangun solidaritas sesama. Diikuti oleh Ibu Reantinova Gurusinga, SH, juga staff KSPPM, mengasah sensitivitas peserta latih dengan memberikan contoh-contoh konkrit pelanggaran HAM di sekitar kita. Dalam diskusi yang sangat menarik, peserta menggumuli keberhasilan dan kegagalan penegakan HAM di tengah msyarakat terkhusus hak ekonomi, sosial dan budaya. Peran Gereja: Dimana?
Di samping studi di kelas selama tiga hari, peserta juga melakukan anjangsana atau kunjungan lapangan ke dua tempat, yaitu Desa Siruar, Porsea, Tobasa dan ke Tanah Jawa Simalungun. Di dua tempat yang berbeda tersebut peserta exposure menyaksikan proses pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat negara dan atau pengusaha kepada masyarakat tani atau penduduk di tempat itu.
Ini sangat menarik, sebab selama ini banyak di antara peserta yang adalah pendeta dan pekerja sosial gereja, kurang peka terhadap masalah-masalah riil di lapangan seperti yang dilihat ini. Di bagian akhir proses pelatihan, ada semacam refleksi atas pertanyaan, ’apa yang harus kita lakukan setelah usai dari pelatihan ini?’. Setidaknya peserta berucap, tidak akan menjadi pelanggar HAM orang lain. Juga ada yang bermaksud segara akan mensosialisasikan ilmu pengetahuan tentang HAM yang diperolehnya di pelatihan ini kepada warga gereja dan sesama pelayan di gerejanya. Tentu belum banyak yang sudah diperleh, tetapi itupun jika diterapkan pasti sudah banyak faedahnya dalam pertumbuhan kesadaran warga jemaat.
Itulah memang harapan dari Program KPKC Sekber UEM, sebagaimana disampaikan oleh Eliakim Sitorus – konsultan KPKC Sekber UEM, baik di awal pembukaan maupun saat penutupan pelatihan tersebut. Harapannya adalah agar gereja semakin memainkan perannya dalam penanggulangan pelanggaran HAM yang masih marak di tengah masyarakat. Agar Gereja bisa menjadi pendorong penegakan HAM, maka sudah pasti greja jangan melakukan pelanggaran HAM bagi pekerjanya dan warganya.
Gereja harus berada di pihak korban. Lalu bersama institusi lain gereja menjadi kekuatan penekan bagi para pelaku pelanggaran HAM dan kekerasan lainnya. Hanya saja dalam penegakan HAM gereja harus senantiasa berdasarkan pada kelemahle,mbutan, panjang sabar dan berdasarkan kasih.
Tuhan Sang Raja Gereja kiranya menyertai dan menguatkan setiap jemaat dan pelayan untuk melakukan amat tugas agung:”Beritakanlah Injil (Kabar baik) kepada segala makhluk.” (Markus 16: 15B). HAM adalah salah satu dari antara kabar baik tersebut. Sejauh manakah HKI sudah hadir untuk mangabarkan kabar baik dalam wujud HAM itu? *) Penulis adalah konsultan program KPKC Sekber UEM.

Pentingnya Air Bagi Kehidupan Manusia
Oleh Leonard Simangunsong


Saat masih awal kuliah, saya pernah mendengar celotehan pengamen jalanan yang ada di atas bus kota. Pengamen tersebut mengatakan tentang pentingnya air bagi kehidupan manusia. Dia menyatakan bahwa seorang manusia butuh minum air sedikitnya 8 gelas setiap hari, karena bila tidak akan mempengaruhi kualitas kehidupan manusia tersebut.
Saya tidak ambil pusing dan menganggap itu adalah ilmu biasa yang sudah diketahui oleh semua orang di belahan dunia manapun. Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu saya kembali dikejutkan dengan fakta bahwa ternyata air tersebut memang sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia.
Perlu kita ingat, bahwa 80% tubuh manusia terdiri atas air. Kemudian, ternyata ada organ tubuh manusia yang memiliki kadar air lebih dari 80%, bagian tubuh itu adalah: Otak 90%, Darah 95%
Manusia akan dapat hidup normal jika mereka meminum air minimal 8 gelas setiap hari, dan jumlah itu harus ditambah jika kita adalah seorang perokok. Air yang kita masukkan ke dalam tubuh kita itu berfungsi menggantikan cairan yang keluar dari dalam tubuh kita dalam bentuk air seni, keringat, pernafasan dan lain-lain. Apa yang akan terjadi jika kita kurang minum air?
Tentunya tubuh akan mencoba menyeimbangkan kondisinya. Caranya? Tubuh kita akan menyedot air dari tempat-tempat/organ-organ tubuh yang lain, dan yang paling pertama adalah OTAK.

Otak akan dapat bekerja optimal jika tersebut cairan yang cukup di dalamnya. Itulah sebabnya, ada frase yang mengatakan otak encer untuk mereka yang pandai. Kenapa? Ya memang, hanya mereka yang otaknya tercukupi cairan-lah yang dapat bekerja secara optimal dan dapat mencapai tingkat kepandaian maksimal. Pernah melihat kondisi manusia yang terdampar di gurun pasir? Kondisi mereka kering dan sangat kehausan, sehingga akhirnya mereka tidak dapat berpikir rasional, karena otak mereka mengalami kekeringan.
Opsi lainnya, jika kebutuhan cairan tidak dapat terpenuhi, maka kebutuhan itu juga akan diambil melalui DARAH. Darah yang disedot airnya, akan menjadi kental. Kekentalan darah ini menyebabkan darah tidak dapat mengalir dengan lancar, akibatnya akan muncul banyak penyakit.


Saat melewati ginjal, maka ginjal akan bekerja lebih keras untuk menyaring darah. Ginjal memiliki saringan yang halus untuk menyaring darah, darah yang mengental akan menggumpal dan akan menyulitkan ginjal untuk melakukan tugasnya, bahkan tidak jarang terjadi perobekan pada glomerolus ginjal. Jika kondisi ini dibiarkan, maka lambat laun ginjal kita akan rusak dan kita akan mengeluarkan rupiah yang cukup banyak untuk melakukan CUCI DARAH.

Selanjutnya, darah yang tidak lancar akan mengakibatkan suplai makanan dan oksigen ke otak menjadi terhambat sehingga akibatnya otak tidak mendapat nutrisi yang cukup dan akhirnya sel-sel OTAK kita akan MATI.
Bila hal ini dibiarkan, maka yang muncul adalah STROKE. Inilah juga yang menjelaskan bahwa STROKE tidak hanya diderita oleh orang tua tetapi juga mungkin diderita oleh anak-anak, karena kurang cairan yang dikonsumsi.
Jadi... apa yang akan Anda lakukan?
Investasi sekarang dengan mengkonsumsi air minimal 8 gelas sehari,Atau
Menunggu semua terlambat dan Anda harus mengeluarkan setiap rupiah yang telah Anda tabung, untuk sekedar menyambung hidup Anda.
Pilihan ada di tangan Anda...

Leonard Mangunsong (Leonard Simangunsong adalah Pengurus Daerah PNB Daerah VII P. Jawa dan aktif sebagai Guru Sekolah Minggu HKI Taman Mini Resort Jakarta IV ). www.leoriset.blogspot.com
http://yukriset@yahoogroups.com/


HARI NATAL

PENDAHULUAN

Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Yesus). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Tidak ada yang tahu tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kebanyakan orang Kristen memperingati Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari itu, banyak yang pergi ke gereja untuk mengikuti perayaan keagamaan khusus. Selama masa Natal, mereka bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun holly, mistletoe, dan pohon Natal.

SEJARAH DAN PERAYAAN NATAL DI MASA LALU

Kisah Natal berasal dari Injil Lukas dan Matius dalam Perjanjian Baru. Menurut Lukas, seorang malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikuti bintang terang yang menunjukkan kepada mereka di mana Yesus berada. Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Di tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya kafir karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula. Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.

PERAYAAN KEAGAMAAN

Bagi kebanyakan orang Kristen, masa Xmas mulai pada hari Minggu yang paling dekat dengan tanggal 30 November. Hari ini adalah hari raya Santo Andreas, salah satu dari keduabelas rasul Kristus. Hari Minggu tersebut disebut hari pertama masa Adven, yaitu masa 4 minggu saat umat Kristiani mempersiapkan perayaan Natal. Kata adven berarti datang, dan mengacu pada kedatangan Yesus pada hari Natal. Untuk merayakan masa Adven, empat buah lilin, masing-masing melambangkan hari Minggu dalam masa Adven, diletakkan dalam suatu lingkaran daun-daunan. Pada hari Minggu pertama, keluarga menyalakan satu lilin dan bersatu dalam doa. Mereka mengulangi kegiatan ini setiap hari Minggu dalam masa Adven, dengan menambahkan satu lilin lagi setiap kalinya. Sebuah lilin merah besar yang melambangkan Yesus, ditambahkan pada lingkaran daun-daunan itu pada Hari Natal. Untuk kebanyakan umat Kristiani, masa Adven memuncak pada Misa tengah malam atau peringatan keagamaan lain pada malam sebelum Natal (Malam Natal), tanggal 24 Desember. Gereja-gereja dihiasi dengan lilin, lampu, dan daun-daunan hijau dan bunga pointsettia. Kebanyakan gereja juga mengadakan perayaan pada hari Natal. Masa Natal berakhir pada hari Epifani, tanggal 6 Januari. Untuk gereja Kristen Barat, Epifani adalah datangnya para majus di hadirat bayi Yesus. Menurut umat Kristen Timur, hari tersebut adalah perayaan pembaptisan Kristus. Epifani jatuh 12 hari setelah hari Natal.

TUKAR MENUKAR KADO

Kebiasaan untuk tukar menukar kado pada sanak-saudara dan teman-teman pada hari khusus di musim dingin kemungkinan bermula di Romawi Kuno dan Eropa Utara. Di daerah-daerah tersebut, orang-orang memberikan hadiah pada satu sama lain sebagai bagian dari perayaan akhir tahun. Pada tahun 1100, di banyak negara-negara Eropa, Santo Nikolas menjadi lambang usaha saling memberi. Menurut legenda, Santo Nikolas membawakan hadiah-hadiah untuk anak-anak pada malam sebelum perayaannya, tanggal 6 Desember. Tokoh-tokoh yang bukan keagamaan menggantikan Santo Nikolas di berbagai negara tak lama setelah reformasi, dan tanggal 25 Desember menjadi hari untuk tukar-menukar kado. Kini di Amerika Serikat, Santa Claus membawakan hadiah untuk anak-anak.


MALAM NATAL 24 Desember, Hari libur keagamaan dan sekuler
Karena pada dasarnya malam Natal adalah hari raya keagamaan, hari tersebut tidak dianggap sebagai hari libur resmi. Gereja-gereja mengadakan perayaan pada malam itu. Orang-orang memperhatikan gua Natal (replika dari kandang domba tempat Yesus lahir, dengan patung-patung Yesus, Maria, Yosef, gembala-gembala dan hewan-hewan) sambil menyanyikan lagu-lagu Natal. Orang-orang dewasa minum eggnog, semacam susu telur madu, yaitu campuran krim, susu, gula, telur kocok dan brandy (semacam minuman beralkohol) atau rum. Menurut kisahnya, pada malam Natal, Santa Claus menaiki kereta salju penuh hadiah, ditarik oleh delapan ekor rusa kutub. Santa Claus lalu terbang menembus awan untuk mengantarkan hadiah-hadiah itu kepada anak-anak di seluruh dunia. Untuk mempersiapkan kunjungan Santa, anak-anak Amerika mendengarkan orangtuanya membacakan The Night Before Christmas (Malam Sebelum Natal) sebelum tidur pada Malam Natal. Puisi tersebut dikarang oleh Clement Moore di tahun 1832.
Dulu, anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian. Santa turun dari cerobong asap dan meninggalkan permen dan hadiah-hadiah dalam kaus kaki itu untuk anak-anak. Kini, tradisi itu tetap diteruskan, namun kaus kakinya digantikan oleh tas kain merah berbentuk kaus kaki. Xmas juga secara tradisi merupakan saat untuk berhenti bertengkar. Hari Raya Natal (Pesta Natal) 25 Desember Hari ini merupakan hari libur keagamaan maupun sekuler. Umat Kristiani merayakan peringatan kelahiran Yesus dari Nazareth.

SEJARAH NATAL
Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kisah Natal berasal dari Perjanjian Baru dari Alkitab. Seorang malaikat menampakkan diri pada para gembala dan memberitahu mereka bahwa Sang Juru Selamat telah lahir ke dalam keluarga Maria dan Yusuf di sebuah kandang domba di Betlehem. Tiga orang bijak dari Timur, yang disebut para majus, mengikuti bintang istimewa yang menuntun mereka kepada bayi Yesus, yang mereka sembah dan beri hadiah emas, kemenyan dan mur. Tradisi Perayaan Natal diawali oleh Gereja Kristen terdahulu Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

PERAYAAN NATAL
Karena sebetulnya Natal merupakan hari raya keagamaan, hari tersebut bukan merupakan hari libur resmi. Namun, karena kebanyakan orang Amerika Serikat adalah orang Kristen, hari itu adalah hari di saat kebanyakan bisnis tutup dan hari di mana paling banyak pekerja, termasuk karyawan pemerintah, diliburkan. Pulang ke rumah (termasuk pulang kampung) merupakan kebiasaan yang sangat dihormati. Selain dari tradisi yang sangat bersifat keagamaan, kebanyakan kebiasaan di saat Xmas juga dilakukan oleh orang-orang yang tidak relijius atau tidak memeluk agama Kristen. Biasanya, umat Kristiani merayakan Xmas menurut tradisi gereja mereka masing-masing.
Ada berbagai macam ibadah keagamaan di gereja yang dilakukan oleh keluarga-keluarga sebelum mereka keliling untuk mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman.

Natal menurut tradisi Amerika:
Tukar menukar kado

Mengirim kartu ucapan kepada sanak-saudara dan teman-teman. Menjadi populer sejak tahun 1800-an. Lagu-lagu Natal, yang disebut carol, dinyanyikan dan didengarkan selama masa liburan. Menjadi populer sejak tahun 1800-an. Menghias rumah. Kebanyakan orang Amerika menghias pohon Natal, yaitu pohon cemara atau pohon buatan, di rumah-rumah mereka. Lampu-lampu dan lingkaran daun-daunan dari pohon empat musim, mistletoe dan ucapan Selamat Natal diletakkan di dalam dan di luar banyak rumah. Menjadi populer sejak tahun 1800-an. Makan Malam Natal, seringkali dengan kalkun. Selain itu, banyak yang mengadakan pesta perjamuan persis sebelum dan sesudah Natal.

Santa Claus.
Tokoh ini berasal dari kisah lama tentang seorang Santo Kristiani bernama Nikolas dan dari dewa Norwegia yang bernama Odin. Para imigran membawa Bapa Natal atau Santo Nikolas ke Amerika Serikat. Namanya lambat laun berubah menjadi Santa Claus, dari nama Belanda untuk Bapa Natal abad ke-empat, Sinter Claas. Sekalipun asalnya dari mitologi Norwegia sebelum ajaran Kristen, Santa Claus baru menjadi tokoh yang kita kenal sekarang di Amerika Serikat. Orang Amerika memberikannya janggut berwarna putih, mendandaninya dengan baju merah dan menjadikannya seorang tua yang riang dengan pipi yang merah dan sinar di matanya. Santa Claus adalah tokoh mitos yang dikatakan tinggal di Kutub Utara, di mana beliau membuat mainan sepanjang tahun Amal. Natal juga merupakan saat di mana orang Amerika menunjukkan kemurahan hati kepada orang-orang yang kurang beruntung. Uang dikirimkan ke rumah sakit dan panti asuhan atau dibuat dana khusus untuk membantu fakir miskin. Xmas secara tradisi merupakan saat untuk menghentikan segala macam pertempuran dan pertikaian.

KESAKSIAN


“Kehendak Mu Bukan Kehendak ku”

Saya adalah warga jemaat HKI yang menjadi anggota Jemaat HKI Depok, Resort Depok, Daerah VII P.Jawa. Sebagai umat Kristus dan warga HKI saya merasa terpanggil untuk ikut serta membangun iman percaya umat Tuhan secara khusus saudara-saudara seiman yang berada di lingkungan HKI melalui pengalaman-pengalaman pribadi bersama Tuhan. Untuk itu dibawah ini saya ingin membagi satu pengalaman yang sungguh luar biasa yang tidak dapat saya bayangkan, dan inilah keyakinan saya bahwa PERTOLONGAN TUHAN TIDAK AKAN PERNAH TERLAMBAT, DAN KASIHNYA TETAP MENGALIR KEPADA SETIAP ORANG YANG DI KASIHINYA.

Kisah ini bermula dari perjalanan kami dari Cibitung menuju Cikarang, Bekasi. Saat itu Rabu, 17 Pebruari 1999, sudah pukul 06.30 wib, sebetulnya keberangkatan kami menuju Cikarang tempat kami bekerja sudah terlambat, sementara kami masuk kerja jam 07.00 wib. Ini di sebabkan karena sopir yang akan membawa kami ke Cikarang belum tiba. Akhirnya dengan yakin salah satu teman rombongan kami menawarkan diri untuk menyetir kendaraan tersebut. Saudara perlu saya informasikan kami adalah satu perusahaan dan kendaraan yang akan membawa kami tersebut adalah kendaraan antar jemput karyawan yang berupa kendaraan Mini Bus.

Kami berangkat. Awalnya saya duduk di bagian tengah, tetapi di tengah perjalanan salah satu teman yang duduk di depan turun dan tidak meneruskan perjalanan dan saya mengambil inisiatif untuk menggantikan posisinya, duduk di depan. Kami melanjutkan perjalanan. Dengan kecepatan +/- 80 km/jam kami meluncur menuju Cikarang, tempat kami bertugas.

Awalnya semua tenang, tidak ada tanda-tanda, tidak ada firasat, kami masih dapat tertawa dan bercanda. Jalan yang kami lalui adalah jalur lambat dan tergolong sepi kecuali jalur cepat yang agak merayap meskipun kedua jalur ini akan memasuki pintu tol Cibitung.

Saat yang mengerikan
Kurang lebih 15 menit dari keberangkatan kami tadi, kami sudah berada kira-kira 200 meter dari pintu tol Cibitung. Saya tidak tahu persis berapa jaraknya, tiba-tiba di depan kami tampak sebuah mobil box besar yang baru keluar dari pintu tol Cibitung dan tiba-tiba masuk ke jalur kami dan melintang persis di hadapan kendaraan kami. Pada saat itu, saya tidak tahu apa-apa lagi. Saya tidak sadar. Tiba-tiba pandangan saya gelap, dan pada saat itulah kecelakaan maut itu terjadi. Kami ada 13 orang.

Saya baru sadar ketika sudah di Rumah Sakit, di ruang UGD, sepintas terdengar suara yang mengatakan : “Pak, celana panjang Bapak kita gunting ya?” hanya itu dan kembali saya tidak sadar, hingga esok harinya dan saya sudah berada di ruang ICU. Saya berada di ruang ICU selama 4 hari. Pada saat itulah saya tahu, bahwa saya telah mengalami musibah besar yang sungguh luar biasa. Saudara, akibat dari kecelakaan ini saya mengalami : Tulang paha sebelah kiri patah 2 titik, Tulang kecil pergelangan kaki sebelah kanan dan kiri patah, Pembuluh darah betis sebelah kiri putus, Tengkorak telapak kaki sebelah kiri (hasil rontgent) tampak tidak beraturan, Tulang pinggul ( mungkin Soit=bhs batak) bergeser dari posisinya dan gigi atas bawah patah 10 buah. Saya tidak pernah membayangkan musibah ini terjadi.

Hari kelima saya di perbolehkan meninggalkan ruang ICU yang saya pikir sangat angker itu. Rasanya saya terbebas dari rasa takut yang menyelimuti setiap malam.

Hari itu tepat hari Minggu. menjelang siang, begitu banyak kerabat, saudara dan teman-teman seiman yang datang menjenguk saya, jam 19.00 wib baru mereka pamit pulang. Tinggallah kami, saya, orang tua dan istri saya (pada saat kejadian itu, istri saya sedang mengandung 2 bulan). Saya tidak tahu mengapa, tiba-tiba tubuh saya terasa dingin yang luar biasa, tetapi saya juga merasakan deman yang tinggi. Saya kembali meronta, saya tidak kuat, antara sadar dan tidak sadar saya melihat wajah-wajah orang yang saya kasihi, dan sekeliling tempat itu adalah seperti di liputi salju dan kapas.

Apakah ini Penglihatan ?
Saya tidak tahu, apakah ini mimpi, apakah karena rasa sakit dan deman yang tinggi ? pada saat itu saya seolah sedang berlari dan mengelilingi keluarga saya hingga saya tidak dapat menghentikan lari saya, kemudian, tampak bagi saya seolah saya sedang bermain ayunan dan tangan saya berpegangan pada besi yang melintang di atas kepala saya. Sama seperti waktu berlari tadi, saya tidak dapat menghentikannya sampai saya terus berputar layaknya sebuah baling-baling. Saya tidak kuat, tangan saya terlepas dan saya tidak terjatuh tetapi terlempar ke atas, jauh, terus dan semakin tinggi dengan posisi kepala diatas hanya sekali-kali saya melihat kebawah yang di sana tampak anggota keluarga dan kerabat dekat, diantara mereka ada yang mengatakan “Sudahlah Inang, kita relakan saja kepergian lae itu”.

Saudara-saudara, pada saat itu selama saya terlempar keatas, cuma satu kata yang saya ucapkan : YESUS...YESUS..YESUS...Saudara dari sekian kerabat yang saya lihat adalah seorang yang beragama Islam, dia mengatakan : “Kamu jangan sebut nama itu, kamu tidak akan selamat”. Tapi saya tetap menyebut nama itu, hingga pada satu saat yang menegangkan, ketika saya melihat keatas, tampak oleh saya sebuah titik, kecil, tetapi semakin dekat semakin jelas, semakin terang, bahkan terkesan silau dan berbentuk sebuah lingkaran dan lama-kelamaan terang itu berubah seolah-olah berwana hijau ke biru-biruan. Hampir saja saya sampai di titik terang itu, dan tiba-tiba kembali saya tidak tahu lagi apa yang terjadi, dan peristiwa itu pun lenyap begitu saja.

Keesokan harinya saya sudah berada di ruang Isolasi, selama satu hari saya berada di sana dan esok harinya kembali saya menjadi penghuni ruang ICU, selama satu minggu saya merasakan dinginnya dan angkernya suasana ruang itu.

Setelah itu, baru saya dapat menjalani perawatan biasa di ruang umum, hal itu berlangsung selama 2 bulan. Tetapi siksaan terhadap badan saya belum berakhir, selama 30 hari saya harus tidur dengan posisi terlentang, segala aktifitas saya lakukan dengan posisi terlentang dan itupun harus dengan bantuan orang lain. Sakit rasanya. Badan saya seperti di Press tidak bisa berbuat apa-apa, ini di karenakan luka yang luar biasa dan patah tulang sehingga pihak dokter berbuat sedemikian rupa seolah-olah badan saya menyatu dengan tempat tidur. 30 hari saya lalui, Saudara dapat bayangkan, kulit punggung saya seolah-olah terbakar dan kulit melepuh, kulit ari terkelupas, mungkin karena panasnya busa tempat tidur yang saya pakai.

Kehendak Mu bukan kehendak ku
Saudara, setelah saya dinyatakan selamat, saya mulai menjalani perawatan sebagaimana pasien lainnya. Terapi, belajar berjalan ( mungkin ada rasa takut, pada awalnya saya tidak dapat melangkahkan kaki, saya tidak punya keberanian untuk melangkah bahkan saya ragu bagaimana caranya melangkah, karena mungkin karena total 1,5 bulan saya hanya bisa tidur di tempat tidur.) Pada saat itulah saya tahu bahwa sebelumnya pihak Dokter melalui para atasan tempat saya bekerja mengatakan, bahwa kemungkinan saya selamat hanya 20% saja, ini mereka ceritakan setelah mereka tahu saya sudah mulai pulih dan siap untuk mendengar pernyataan itu.

Ternyata Tuhan berkendak lain, Ia menyatakan saya harus sembuh dan pernyatakan dokter tersebut Dia balikkan 180%. Berlahan tapi pasti kesembuhan itu datang, meskipun saya harus kembali mengalami rawat jalan selama 5 bulan lagi. Selama perawatan ini saya menghadapi 4 kali operasi.

Melaui kesaksian ini, saya ingin mengatakan bahwa segala sesuatu yang kita hadapi, alami adalah atas kehendak Tuhan. Bukan kehendak kita, bukan kehendak dokter. Untuk itu, apapun yang kita hadapi, aminkan itu dalam hati, dan yakini bahwa Tuhan ada didalamnya. Yang terpenting sekarang, cari tahu apa maksud dan rencana dari semua itu, sehingga Tuhan mengijinkan hal itu terjadi pada hidup kita.
Kiranya pengalaman saya bersama Tuhan ini pun boleh menjadi berkat dan menguatkan Iman kita kepada Tuhan Yesus, bahwa Dia lah Juru Selamat, Penolong dan Penyelamat kita. Tuhan memberkati.


Bakti Marudut Tua Gultom, Kel.Sukatani RT.03/03 Cimanggis Depok, HKI Depok

Wednesday, December 10, 2008

Berita Kegiatan MBW Edisi Desember 2008 - Januari 2009

RAPAT MAJELIS PUSAT MENETAPKAN TAHUN 2009 SEBAGAI TAHUN DIAKONIA
Untuk menjabarkan Keputusan Sinode serta Membahas Program dan Anggaran Kerja Tahun 2009, pada tgl. 17-19 September 2008 Majelis Pusat mengadakan Rapat. Rapat ini merupakan Rapat ke IX Majelis Pusat Periode 2005-2010. Kegiatan diawali Ibadah yang di layani oleh Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus HKI) dan yang kemudian membuka Pelaksanaan Rapat. Terpilih sebagai Ketua dan Sekretaris Persidangan yaitu Pdt. Marhasil Hutasoit, MTh dan Pdt. Naomi Simarmata, STh.
Ada beberapa Keputusan yang dihasilkan Rapat, antara lain :
1. Rapat meminta agar Pucuk Pimpinan HKI membuat standarisasi harga yang menjadi pedoman dasar dalam setiap pelaksanaan program dan mengeluarkan keuangan .
2. Penetapan Program-Anggaran Pendapatan Belanja Tahun 2009.
3. Menetapkan Tahun 2009 sebagai Tahun Diakonia HKI.
4. Departemen Marturia supaya melaksanakan program yang telah diputuskan oleh Sinode ke 59 HKI di Berastagi dengan skala prioritas, yaitu :
  • Peningkatan Mutu berkotbah
  • Rekruitmen para pelayan
  • Penerbitan buku panduan baptis dan pra nikah
  • Latihan Penginjilan pada Masyarakat Majemuk
  • Peningkatan pelayanan rohani melalui media.
  • Pembekalan Teologi dan Dogma Lutheran dan Konfessi Augsburg 1530,
  • Membuat edaran kepada warga Jemaat tentang STT yang diakui HKI.
  • dan beberapa keputusan lain.
5. Departemen Koinonia supaya melaksanakan program yang telah diputuskan oleh Sinode ke 59 di Berastagi, dengan skala Prioritas a.l :


  • Sekolah Minggu : Pelatihan guru-guru Sekolah Minggu yang mencakup seluruh Daerah pelayanan HKI.
  • Remaja dan Pemuda : Pelatihan Kepemimpinan dan Pembinaan ketrampilan kerja bagi pemuda warga HKI.
  • Persatuan Wanita : Perayaan Minggu Gerejawi (Natal, Pentakosta, HDS), Sosialisasi seragam PW.
  • Persatuan Ama : Program Parheheon, Seminar Kepemimpinan dalam Keluarga.
  • Pencetakan buku: Bina Anak, Bina Wanita, Peraturan pokok Lembaga-lembaga.
  • dan beberapa keputusan lain.

6. Departemen Diakonia supaya melaksanakan program yang telah diputuskan oleh Sinode ke 59 di Berastagi dengan skala Prioritas :

  • Melanjutkan Pelatihan peternakan-pertanian-perikanan organik,
  • Mensosialisasian Departemen Diakonia melalui media yang ada di HKI
  • Membuat spesifikasi organik HKI serta mendaftarkannya untuk mendapat hak paten.
  • Mempersiapkan maket pembangunan TC HKI untuk didiskusikan pada rapat yang akan datang.
  • Mempersiapkan pelaksanaan tahun 2009 sebagai tahun diakonia dengan acuan dasar program sebagaimana yang telah diajukan pada rapat MP ke IX.
  • dan beberapa keputusan lain.
7. Departemen Umum :
  • PP mengadakan dan mensosialisasikan sistem dan format pelaporan program kerja dan keuangan yang baku dari tingkat Pusat sampai ke tingkat Jemaat selambat-lambatnya sampai akhir tahun 2008.
  • Merekomendasikan kepada PP agar menerbitkan SK pemekaran Daerah III Toba Samosir Humbang menjadi dua Daerah (Daerah III Toba Samosir dan Daerah IX Humbang). Kemudian menempatkan Pelaksana Praeses untuk daerah IX dalam rangka mempersiapkan sarana dan prasarana serta menyelenggarakan pelayanan sebagaimana termaktub dalam ruang lingkup tugas Praeses sampai penempatan Praeses Dafinitif pada Sinode ke 59.
  • Menyesuaikan umur pensiun Guru Jemaat, Diakones, Bibelvrow dengan Pendeta. (Agar Tata Dasar dan Peraturan kepegawaian yang menyangkut hal tersebut juga diperbaiki)
  • dan beberapa keputusan lain.
8. Departemen Keuangan
  • Untuk tetap memonitor setoran dari masing-masing jemaat dengan mengacu kepada sistem dan format pelaporan dan keuangan yang berlaku di HKI.
  • Mempersiapkan konsep Badan Pengelola Usaha HKI yang akan dibicarakan pada rapat MP yang akan datang.
  • dan beberapa keputusan lain.
9. Departemen Penelitian dan Pengembangan
  • Mengangkat Kepala Departemen Umum (sesuai dengan aturan kepersonaliaan HKI) yang sekaligus dapat menjadi konsultan Hukum di HKI.
  • PP agar memberdayakan Jemaat yang bisa untuk membantu dalam hal penelitian dan pengembangan menunggu pengangkatan Kepala departemen Litbang dengan memanfaatkan jejaring yang ada.
  • PP sesegera mungkin untuk menerbitkan pedoman pengangkatan Kepala Departemen.
  • PP diminta untuk merumuskan konsep visitasi dan mengatur pelaksanaannya.
  • PP membuat pedoman kerja untuk Pendeta diperbantukan untuk dibicarakan pada konven Pendeta yang akan datang.
  • dan beberapa keputusan lain.
Hadir dalam rapat a.l : Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus), Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal), Pdt. DR. Langsung M. Sitorus, MTh, Pdt. Jansen Simanjuntak, STh, Pdt. H. Simangunsong, BD, Pdt. R.Naomi Simarmata, STh, Pdt. Marhasil Hutasoit, MTh, Pdt. Toljun Lumbantobing, STh, Pdt. Johannes Panjaitan, STh, St. Gayo Gultom, SH, MKes, St. John RP. Hutabarat, SE, MA, St. Raja PS. Janter Aruan, SH, MH. Turut hadir a.l : Pdt. M. Lumban Gaol, STh (Ka.Dep. Marturia), Pdt. Tony Hutagalung, MSc (Ka.Dep. Koinonia), Pdt. Tigor Sihombing, STh (Ka.Dep. Diakonia), Pdt. Happy Pakpahan (Sekretaris Eksekutif Pucuk Pimpinan) dan Pdt. Edwin Simanullang, STh (Staff Pucuk Pimpinan). Keputusan Rapat Majelis Pusat yang menetapkan Tahun 2009 sebagai Tahun Diakonia HKI perlu mendapat dukungan kita bersama (Parhalado dan Jemaat). Untuk memaksimalkan pelaksanaan Tahun Diakonia, Rapat juga memutuskan agar Departemen Diakonia menyusun Petunjuk Pelaksanaan Tahun Diakonia untuk disosialisasikan ke tiap aras pelayanan. Sehingga pelayanan Diakonia di HKI lebih dapat menjangkau kebutuhan holistik warga Jemaat HKI dan masyarakat secara umum (dengan tidak meninggalkan pelayanan Marturia dan Koinonia). (hp).





BERITA PELATIHAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) BAGI GEREJA-GEREJA ANGGOTA SEKBER UEM, Parapat 10 – 13 September 2008

Mengingat HKI perlu berpartisipasi dalam penegakan hukum dan HAM maka Pucuk Pimpinan mengutus 2 orang Peserta yaitu Pdt. Adventus Nadapdap, STh dan Cln. Pdt. Manamba Pasaribu, STh untuk menghadiri pelatihan HAM yang dilaksanakan oleh Konsultan program Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Sekber United Evangelical Mission (UEM). Pelatihan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran di kalangan warga jemaat dan para pendeta dan pelayan lainnya tentang hak-hak warga negara.
Kegiatan ini dilaksanakan pada tgl. 10 – 13 September 2008 di Training Centre/Sopo Perhimpunan Kelompok Study dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Sipanganbolon, Parapat–Kabupaten Simalungun. Pelatihan yang dihadiri 28 Peserta, utusan dari Gereja-gereja Sekber UEM, ini diawali dengan ibadah pembuka, dipimpin oleh Ephorus GKPS Pdt. Belman P. Dasuha, S.Th yang sekaligus untuk membuka acara pelatihan tersebut. Sebagai trainer dan fasilitator dalam pelatihan tersebut adalah Bapak Ir. Eliakim Sitorus (Konsultan KPKC Sekber UEM), Dr. Jayadi Damanik (Doktor di bidang HAM yang bekerja di Komnas HAM dan Staf pengajar di Universitas Nasional Jakarta), Saur Tumiur Situmorang, SH (Staf KSPPM dan CREDO), Arifin Telaumbanua, SH (Sekretaris Eksekutif KSPPM), Nova Gurusinga SH (Staff KSPPM).
Topik-topik pembahasan dan kegiatan latihan dalam pelatihan tersebut adalah:

  1. Menggali nilai-nilai kemanusiaan
  2. Pengantar dan Sejarah HAM
  3. Menggali masalah-masalah HAM
  4. Pengenalan dan Penggunaan dokumen HAM (Instrumen HAM Internasional dan Nasional dalam Sipil politik dan Ekonomi sosial budaya ).
  5. Perjuangan, Penegakan HAM dan solidaritas Sosial
  6. Pengenalan Institusi KOMNAS HAM
  7. Kunjungan lapangan dan membuat laporan kunjungan
  8. Diskusi kelompok
  9. Evaluasi dan rencana tindak lanjut.
Metode yang dipakai dalam pelatihan ini adalah metode partisipatif, dimana peserta dan nara sumber sama-sama saling memberi kontribusi pemikiran tentang topik bahasan.
Rangkuman Pelatihan
Dalam pelatihan, tiap Peserta menggali bersama tentang nilai-nilai kemanusiaan dan apa itu hak asasi manusia baik itu secara teologis dan filosofis. Dari proses diskusi pemahaman peserta, disimpulkan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah sebagai mitra kerja Allah untuk mengelola dan memimpin seluruh ciptaanNya. Sebagai gambar Allah manusia diberikan Allah harkat dan martabat yang tidak boleh diambil, dirampas dan ditindas oleh siapa pun. Harkat dan martabat manusia inilah yang menjadi hak asasi manusia. Jika ada manusia yang harkat dan martabatnya ditindas berarti telah terjadi pelanggaran HAM dan dehumanisasi. Pada salah satu sesi yang disampaikan oleh Dr. Jayadi Damanik peserta diperkenalkan tentang dua instrumen HAM secara nasional dan internasional, yaitu:
1. Instrument nasional terdiri dari :
  • Peraturan perundang-undangan dari yang tertinggi hingga yang terendah (UUD 45 hingga perda). Peraturan mengenai HAM pada dasarnya telah tercantum dalam peraturan perundang-undangan yang ada akan tetapi untuk memayungi itu maka dibuat UU HAM (UU no 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU no 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM).
  • Konvensi Internasional yang telah disahkan pemerintah Republik Indonesia. Pemerintah Indonesia hingga kini telah meratifikasi (mensahkan) sebanyak 8 instrumen Internasional HAM ke dalam bentuk UU.
2. Instrument internasional : Yang tergolong menjadi instrument utama HAM (International Bills of Human Rights) adalah :
  • Deklareasi Universal Hak-hak asasi manusia 1984 (Universal Declaration of Human Rights)
  • Konvenan Internasional tentang hak-hak sipil dan politik 1966 (International Convenant on Civil and Political Rights)
  • Konvenan International tentang Haka-hak ekonomi, sosial, politik, 1996 (International Convenant on Economic, social, and cultural rights)
Jayadi Damanik memaparkan tentang instrument HAM ini juga secara praktis dan sesuai untuk orang awam di bidang hukum dan HAM. Kepada peserta dalam sesinya, Jayadi memaparkan tentang sejarah KOMNAS HAM di Indonesia, struktur KOMNAS HAM dan mekanisme penanganan pengaduan pelanggaran HAM.
Dan bercermin dari pemaparan diatas melihat realita hasil kunjungan lapangan di daerah sekitar Danau Toba, peserta melihat bahwa begitu sulitnya masyarakat desa untuk memperoleh hak asasinya untuk hidup menikmati lingkungan yang bersih, hak untuk memperoleh kesempatan yang sama untuk mengusahakan dan mengelola kekayaan alam. Hak masyarakat desa akan tergusur dengan kekuatan modal dari pengusaha. Pemerintah juga dalam hal ini sangat lemah untuk melindungi hak-hak rakyatnya. Untuk itu gereja sebagai yang diutus Allah ke dunia ini untuk mewartakan Damai Sejahtera harus berperan aktif dalam mendampingi warga jemaatnya yang Hak Asasinya dengan sengaja atau tidak sengaja dirampas dan tertindas. Bagi Warga Jemaat atau Pelayan yang berminat untuk mendapatkan copy Pelatihan HAM ini dapat menghubungi departemen Diakonia HKI dengan alamat email : dep.diaconia@hki-online.or.id . Salam keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. (disarikan dari Berita Kegiatan kiriman Pdt. Adventus Nadapdap./hp)

Festifal Koor Resort Medan IV
Sejak tahun 2002 HKI Resort Medan IV telah berkomitmen untuk melaksanakan pembinaan paduan suara disetiap sektor untuk itu perlu diadakan Festival. Maka dimulailah kegiatan Festival antar sektor HKI Resort Medan IV pada bulan Mei 2004, kemudian pada bulan Mei 2006, dan Festival ke 3 pada 15 Juni 2008. Pelaksanaan Festival kali ini terasa lebih meriah karena diikuti Jemaat Persiapan yang baru berdiri pada Maret 2008 yaitu HKI Tani Asli Tanjung Gusta yang masih beranggotakan 14 kk.
Acara dimulai dengan kebaktian singkat yang dipimpin Pdt.J.Pasaribu MTh yang mengatakan bahwa Melalui Koor kita dapat memuji Tuhan, memasyurkan NamaNya sebab doa orang Kristen sekarang ini sudah cenderung menjadi daftar belanja meminta ini dan meminta itu tetapi lupa memuji Tuhan.
Setelah makan bersama maka Panitia yang di Ketuai oleh St.B.Bintang menerima Piala Bergilir dari Sektor III HKI Jl Sempurna sebagai pemenang I, tahun 2004 dan 2006. Festival dipimpin oleh Dewan Juri 1). Gr Efendi Sihombing Bac, 2) Pdt.Anto Waren Simatupang STh dan 3). Pdt.Rimhot Simamora STh.
Adapun hasil Festival ini:
  • Juara I : Sektor III HKI Jl Sempurna (juara 3x berturut-turut)
  • Juara II : Sektor IV HKI JI Sempurna,
  • Juara III: Sektor Gabungan HKI Sei Semayang.
  • Harapan I : Sektor Gabungan HKI Gloria Dwikora,
  • Harapan II : Sektor Gabungan HKI Muliorejo,
  • Harapan III : Sektor II HKI J1 Sempurna.
  • Favorit I : Sektor Gabungan HKI Anugerah Martubung
  • Favorit HKI Tani Asli.
Manurut Dewan Juri kemampuan Kontingen Koor kali ini dari segi kwalitas sudah meningkat sebab lagu-koor yang dinyanyikan para peserta mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi, dan sangat membutuhkan konsentrasi penuh dalam menyanyikannya. Lagu “ Haleluya amen” itulah judul lagu wajib ciptaan Composer terkenal: Georg Friedrich Handel (1747). Kegiatan ini akan dipertahankan setiap satu tahun sekali. Dalam sambutannya, St.Drs.S. Sianturi STh mewakili peserta dan St.UTH. Sinambela mewakili Majelis Resort menyatakan sangat senang bila festival ini berlanjut sehingga ada sarana untuk semakin berprestasi memuji Tuhan. Kegembiraan semangkin lengkap setelah Tropi dan dana pembinanaan diberikan oleh panitia pada setiap peserta. Sebelum menutup kegiatan ini, Pimpinan HKI Resort Medai IV dan Majelis Resort mengumumkan bahwa pelaksanaan kegiatan Festival antar sektor tahun 2010 akan dilaksanakan bulan Mei di HKI Muliorejo. Medan, 16 Juni 2008 Panitia (J.P)

Pesta Pembangunan Jemaat (Persiapan) HKI Motung Resort Parapat.

Sekitar + 6 km dari Ajibata – Parapat ke arah puncak bukit – dataran tinggi di Desa Sibisa, berdiri Jemaat (persiapan) HKI Motung. Jemaat ini masih berusia muda, berdiri 3 (tiga) bulan yang lalu, tepatnya 01 Juni 2008. Dan dalam pelayanan HKI, Jemaat HKI Motung ini masuk dalam wilayah pelayanan Resort Parapat.
Sebagai Jemaat yang baru berdiri, maka keadaan masih serba sederhana/darurat. Selama ini kebaktian dilakukan di rumah anggota Jemaat. Namun, anggota jemaat yang saat ini terdiri dari 62 Kepala keluarga tersebut tetap berjuang dan disatukan oleh rasa kebersamaan bergotong royong dalam membina persekutuan. Kerja keras dan kebersamaan jemaat berbuahkan hasil dimana Jemaat HKI Motung kemudian mendapat sebidang lahan seluas 400m2 – sumbangan salah satu keluarga di Jemaat. Dan belakangan ini Ibadah dapat dilakukan diatas lahan tersebut dengan menggunakan tenda. Dan atas perencanaan bersama, diatas lahan tersebut akan dibangun Gedung gereja HKI Motung, Resort Parapat.
Untuk merealisasikan rencana diatas maka pada hari Minggu, tgl 31 Agustus 2008, diadakanlah Pesta Pengumpulan Dana. Pesta tersebut dipimpin oleh Pdt. R. Simanjuntak, BD, Sekretaris jenderal HKI. Turut hadir : Pdt. M. Saragi (Praeses HKI Daerah I Sumatera Timur I), Pdt. B.T Panjaitan (Pendeta HKI Resort Parapat), Koor Persatuan Ama HKI Martoba (Resort Siantar III), Jemaat HKI se-resort Parapat, Rombongan HKI Jawa Tonga, Jemaat HKI Balata, Jemaat HKI Bah Sampuran dan Undangan dari Gereja tetangga. Acara berlangsung hikmat dan meriah, dan dana yang terkumpul sebesar Rp. 85.000.000,-.
Kita doakan dan dukung, kiranya semangat pengembangan dan pembangunan di HKI Motung semakin berkembang dan maksimal demi kemuliaan Tuhan Yesus Raja Gereja. (hp)

HKI Palembang Semakin Eksis di Sumatera Selatan
“Na metmet dimulana i sai di pararat Ho do i” menjadi salah satu motto yang terus membara dan menyemangati hati warga dan pelayan HKI di Palembang. Bila dulu orang-orang memandang sebelah mata kepada HKI di Palembang, sekarang HKI patutu berbangga hati. Dengan kerja keras diiringi doa, Tuhan telah menjawab. Kini Gedung Gereja HKI Palembang yang terletak di di Ponorogo-Sukatani menjadi salah satu Gereja terbesar dan termegah di ibukota Propinsi Sumatera Selatan berukuran 18x24 m. Bukan hanya itu, disamping gereja juga dibangun gedung khusus untuk Sekolah Minggu.
Untuk semakin memperkenalkan HKI secara luas di propinsi ini, HKI Palembang memberanikan diri mengikuti Kegiatan akbar se Provinsi Sumatera Selatan yaitu pada Pesta Paduan Suara Gerejawi yang menjadi seleksi bagi kontingen Sumatera Selatan untuk Pesparawi tingkat Nasional yang akan dilaksanakan di Kalimatan Timur.
Jelas tujuan utama mengikuti kegiatan ini bukan untuk meraih juara Pertama. Namun bukan berarti tidak serius. HKI Palembang khusus mendatangkan pelatih untuk mempersiapkan kontingennya, dan Pendeta resort sendiri, Pdt. J. Panggabean, turut menjadi anggota paduan suara tersebut. Dan sungguh nyata, banyak orang dalam kegiatan tersebut baru kenal gereja HKI. Cukup membanggakan, pada kesempatan ini, kontingen HKI menjadi juara Harapan I dari 14 kontingen. Maju HKI. (Pdt. J. Panggabean, Sm.Th)

Pesta Peresmian dan Pembangunan Rumah Dinas HKI Resort Kandis

Salah satu program Pelayanan HKI untuk mengefisienkan pelayanan adalah lewat pemekaran resort. Satu dari resort yang dimekarkan di daerah VIII Sumbagsel adalah Resort Kandis. Setahun sudah berjalan persiapan untuk pembentukan resort, maka pada Minggu, tgl 31 Agustus 2008 - Resort ini resmi menjadi Resort Kandisyang dilayani oleh Pdt. Berton Silaban, STh, sebagai Pendeta Resort. Acara Peresmian dipimpin oleh Ephorus Pdt. Dr. Burju Purba di dampingi oleh Pdt. E. Siregar, SmTh (Praeses daerah VIII Riau-Sumbagsel) sebagai Liturgis. Turut hadir dalam kebaktian Pdt. Edwin. JP. Simanullang, STh (Staf Pucuk Pimpinan HKI) yang juga membacakan SK Peresmian Resort Kandis sesuai dengan SK Pucuk Pimpinan HKI No. 444/PP.HKI.DU/VIII/2008 tanggal 31 Agustus 2008.

Jemaat yang termasuk dalam Pelayanan Resort Kandis adalah:

  1. Jemaat HKI Kandis I Km. 82 (Zetel),
  2. Jemaat HKI Kandis II Km. 86,
  3. Jemaat HKI Muara Basung,
  4. Jemaat HKI Jaya Makmur (Persiapan),
  5. Jemaat HKI Parsaoran (Persiapan).

Juga hadir dalam pesta itu, Pdt. L. Manalu, STh (Pendeta HKI Resort Khusus Simpang Padang Duri). Pdt. M. Hasibuan, STh (Pendeta HKI Resort Okuli Babussalam) Pdt. S. Simanungkalit, STh (Pendeta HKI Resort Riau I Dumai). Dan Pdt. N. br. Hutasoit, STh (Pendeta HKI Resort Sebanga- Duri). Lewat Khotbah dari nats Pengkhotbah 5: 17-19, Ephorus menekankan Bekerja adalah berkat dari Tuhan bukan kutuk dari Tuhan, inilah menjadi iman orang percaya. Setiap orang percaya harus bekerja bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri tetapi lebih khusus menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan dan berkarya untuk kemulian Tuhan Pencipta. Tuhanlah yang memberkati pekerjaan kita sehingga kita dapat menikmati hasil dari pekerjaan itu. Orang Kristen harus menjadi pekerja-pekerja yang tangguh dan bukan pemalas. Karena pemalas (orang tidak bekerja) akan membuat orang menjadi miskin. Harta benda bukan menjadi disembah karena Tuhanlah yang patut untuk disembah. Tuhan selalu menyertai orang-orang yang selalu berharap padanya dan mengandalkan Tuhan dalam setiap pekerjaannya.

Susunan Panitia Pesta Peresmian Resort dan Pembangunan Rumah Dinas HKI Kandis adalah : Ketua: B. Siregar, Wakil Ketua: R. Silitonga, Sekretaris St. J. Hutabarat, Bendahara adalah P. Simanjuntak serta dibantu oleh 6 Seksi yaitu: Seksi Dana, Seksi Lelang, Seksi Konsumsi, Seksi Perlengkapan & Dekorasi, Seksi Humas& Undangan dan Seksi Keamanan.

Acara kebaktian minggu dihadiri sekitar 500 orang dari terdiri dari Jemaat HKI se-Resort Kandis, PW HKI Simpang Padang Duri, PW HKI Sebanga-Duri, dan utusan dari gereja-gereja tetangga dan Undangan lainnya. Setelah acara Ibadah selesai, dilanjutkan dengan makan bersama yang sebelumnya doa makan dipimpin oleh Praeses Daerah VIII Riau Sumbagsel : Pdt E. Siregar, SmTh dan diselingi dengan acara lelang oleh panitia dan Manortor serta pemberian cenderamata(ulos kehormatan). Untuk Menghibur para jemaat dan undangan yang hadir juga tampil Trio Pendeta di Daerah VIII (Pdt. L. Manalu, Pdt. M. Hasibuan dan Pdt. S. Simanungkalit) melantunkan suara emasnya dari Lagu Batak yang Berjudul “Poda” untuk dilelang. Dalam akhir sukacita Pesta yang meriah, Panitia mengumumkan hasil pesta untuk pembangunan Rumah Dinas HKI Kandis sebanyak Rp 117.481.000,- (Seratus Tujuh Belas Juta Empat Ratus Delapan Puluh Satu Ribu Rupiah) Dan setelah itu Pesta ditutup sore menjelang malam hari dengan doa oleh Ephorus HKI (Pdt. Dr. B. Purba). (EJPS).


Pesta Pembangunan HKI Resort Riau I (DUMAI)
& Pestifal Koor AMA se-Daerah VIII Riau Sumbagsel

Dengan semangat pelayanan yang tinggi dan rasa cinta kasih terhadap seluruh jemaat HKI yang secara khusus di Daerah VIII Riau- Sumbagsel, Ephorus HKI beserta rombongan Menempuh jalan darat dari Pematang Siantar hingga ke Dumai untuk menghadiri Acara Puncak Pesta Pembangunan HKI Resort Riau I (Dumai) tgl. 14 September 2008 yang dipusatkan di kompleks gereja HKI Dumai.

Acara Pesta Pembangunan dilaksanakan pada tanggal 12-14 September 2008. Sebelum memasuki acara Puncak Pesta Pembangunan, pada tanggal 12-13 September 2008 telah diadakan pelaksanaan Festival Koor Ama se- Daerah VIII Riau - Sumbagsel yang dibuka secara resmi oleh Pdt. E. Siregar, SmTh. (Praeses Daerah VIII Riau-Sumbagsel). Pengumuman pemenang Festival Koor Ama oleh dewan juri yang terhormat yang tidak bisa diganggu gugat, maka hasilnya : Juara 1: HKI Pekan Baru, Juara 2 : HKI Simpang Padang –Duri, Juara 3 : HKI Perawang. Juara Harapan 1 : HKI Babussalam. Juara Harapan 2 : HKI Dumai dan Juara Harapan 3 : HKI Sebanga.

Acara Puncak Pesta Dalam Kebaktian Minggu dipimpin langsung oleh Ephorus HKI: Pdt. Dr. Burju Purba sebagai Pengkhotbah dan Pdt. E. Siregar, SmTh (Praeses Daerah VIII Riau-Sumbagsel) sebagai Liturgis. Pembawa Doa Syafaat : Pdt. M. Saragi (Praeses Daerah I Sumatera Timur I) sekaligus sebagai orang yang ditugaskan Pucuk Pimpinan HKI untuk visitasi ke HKI Resort Riau I (Dumai). Turut hadir dalam kebaktian Pdt. Sumarlin Simanungkalit,STh, Pendeta HKI Resort Riau I Dumai. Pdt. Edwin. JP. Simanullang, STh (Staf Pucuk Pimpinan HKI), Pdt. L. Manalu, STh (Pendeta HKI Resort Khusus Simpang Padang Duri). Pdt. M. Hasibuan, STh (Pendeta HKI Resort Okuli Babussalam), Pdt. N. br. Hutasoit, STh (Pendeta HKI Resort Sebanga- Duri, Pdt. Berton Silaban, STh (Pendeta HKI Resort Kandis). Pdt. Robert Simanjuntak, STh (Pendeta HKI Resort Khusus Agape). Pdt. Joman Siregar, STh (Pendeta HKI Resort Pasir Putih). Pdt. M. Sipahutar, STh (Pendeta HKI Resort Bagan Batu) dan Pdt. R. Nainggolan, STh (Pendeta HKI Resort Khusus Pekan Baru) serta Pdt. E. Pasaribu, MTh (Pendeta HKI Resort Jambi).

Dalam Khotbah dari nats Yesaya 1: 21-26, Ephorus HKI menekankan Tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Kasihnya lebih besar daripada murka-Nya. Dia memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dan Tuhanlah yang senantiasa memelihara manusia itu. Tuhanlah juga yang mendirikan gereja. Oleh sebab itu kita janganlah memegahkan diri, korupsi dan tinggi hati jika kita menjadi pemimpin atau penggagas berdirinya suatu gereja dengan mengatakan: “Sayalah yang mendirikan gereja dan gereja ini adalah milik ku” Tetapi Tuhanlah yang mendirikan gereja. Kita harus bersyukur, Tuhan masih memberikan kesempatan dan memakai kita sebagai alat kesaksian Tuhan untuk membangun rumah-Nya yang kudus dan menerima berkat atas segala yang kita lakukan tersebut. Dalam setiap pergumulan kita, kita harus memohon agar Tuhan memenangkan kita atas pergumulan tersebut dan Tuhan yang mengangkat kita selalu sebagai anak-anak Allah. Kita juga harus percaya sebagai umat kepunyaan Allah, Dia akan menyertai kita sepanjang zaman.

Susunan Panitia Pesta Pembangunan HKI Resort Riau I (Dumai) adalah: Ketua Umum : N. Hutasoit, Ketua Pelaksana: Tumpak Sibarani, S.IP. Sekretaris Umum : A. Sibarani. Sekretaris Pelaksana : Drs. M. Simanjuntak. Bendahara Umum : E. Sitorus. Bendahara Pelaksana: M. br. Siahaan.

Acara kebaktian minggu dihadiri sekitar 700 orang dari terdiri dari Jemaat HKI se-Resort Riau I (Dumai) dan Seluruh Peserta Festival Koor se Daerah Riau – Sumbagsel, utusan dari gereja-gereja tetangga dan Undangan lainnya. Setelah acara Ibadah selesai, dilanjutkan dengan makan bersama yang sebelumnya doa makan dipimpin oleh Pdt. Sumarlin Simanungkalit, Pendeta Resort Riau I (Dumai) dan diselingi dengan acara lelang oleh panitia dan Manortor serta pemberian cenderamata(ulos kehormatan). Untuk menyemarakkan pesta dalam pesta tersebut juga diadakan pelaksanaan penarikan hadiah Lucky Draw : Hadiah Utama, Kulkas : S. Sinambela (Jemaat HKBP Dumai), TV: Drs. Paruntungan Pane (HKI Dumai=Ketua PPRN), Mini Compo : Hutasoit (HKI Simp. Padang Duri), VCD : Nyonya Silalahi (HKI Dumai), DVD, Rice Cooker dan Hadiah Hiburan dimenangkan oleh Jemaat HKI Simp. Padang Duri.
Dalam Pesta Pembangunan itu terkumpul dana sebanyak Rp 245.000.000,- (Dua Ratus Empat Puluh Lima Juta Rupiah). (by. EJP)


Pesta Pembangunan HKI Resort Khusus Agave

Diatas lahan seluas 1640 m2, Gereja HKI Resort Khusus Agave-Pekanbaru yang telah berdiri sejak Juli 2004 merencanakan pembangunan Gereja secara Permanen. Untuk itu, pada hari Minggu tgl 24 Agustus 2008, bertempat di halaman Gereja HKI Agave, telah berlangsung Pesta Pengumpulan Dana.

Pesta diawali dengan Kebaktian Minggu dan dilanjutkan dengan acara Pesta Pembangunan, yang dipimpin oleh Pdt. R. Simanjuntak, BD, Sekretaris Jenderal HKI. Atas kerja keras Panitia, Parhalado dan seluruh anggota Jemaat HKI Agave, acara terselenggara dengan lancar, tertib dan meriah dan berhasil mengumpulkan dana pembangunan sebesar Rp. 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah).

Turut hadir dalam Acara Pdt. E. Siregar (Praeses HKI Daerah VIII Sumbagsel), Pdt. Robert Simanjuntak, STh (Pendeta Resort Khusus Agave), Pdt. Joman Siregar, STh (Pendeta Resort Pasir Putih), Pdt. Manonggor Hasibuan, STh (Pendeta Resort Babusalam), Pdt. Rinto Nainggolan, STh (Pendeta Resort Pekanbaru) ; Panitia Pesta Pembangunan : P. Sitohang (Ketua Umum), M. Siahaan (Ketua I), M. Sormin (Ketua II), D. Bakkara (Sekretaris), M Hutabarat (Bendahara), Jemaat HKI dari Pekan Baru sekitarnya dan para undangan lainnya.

Kita doa dan dukung, kiranya persekutuan dan pelayanan HKI Resort Khusus Agave semakin maksimal demi kemuliaan Tuhan Yesus Raja Gereja. (hp)

PESTA PARHEHEON ANTAR di SEKTOR HKI JEMAAT ASUHAN STADION
Jumat - Minggu,22-24 Agustus 2008

Thema : Asa sada nasida saluhutna (Joh, 17:21 a)

Sub Thema : Marhite pesta Parheheonon lam sadama hita, saroha, sapingkiran, sapangkilalaan, marsiurupan dibagasan holong nasian Kristus.

Untuk meningkatkan kesatuan dan rasa persaudaraan diantara sesama Jemaat khususnya pada Jemaat HKI Asuhan Stadion yang tersebar di lima sektor (Selama ini masih banyak Jemaat yang tidak saling kenal satu lama lain,Red), maka Jemaat HKI Asuhan Stadion membuat satu pesta Parheheon,yang tujuannya adalah membangkitkan rasa cinta akan HKI dan menciptakan rasa saling kenal diantara sesama Jemaat. Acara berlangsung tgl. 22 Agustus 2008 s%d 24 Agustus 2008, yang mempertandingkan 13 jenis lomba. Untuk memperlancar pelaksanaan pesta ini, Majelis mengangkat Panitia Pelaksana antara lain sebagai berikut:

  • Ketua :St.P.Situmorang,B.A.
  • Sekretaris :St.M.Sinaga
  • Bendahara :St.A.Samosir, SH
  • Sie Koor :St.J.Pangaribuan
  • Sie Tortor :Pdt.N.br.Manalu, STh
  • Sie Olahraga :Cal.St.F.Siburian
  • Sie Ibadah :Cal. Pdt.A.br.Simanjuntak, STh
  • Koordinator :T.Butarbutar (Sektor Stadion)
  • Koordinator :S.Sitorus (Sektor Pardomuan)
  • Koordinator :St.R.br.Butarbutar (Sektor Termin II)
  • Koordinator :St.Dra.M.br.Simanjuntak ( Sektor Termin III)
  • Koordinator :St.E.Nainggolan ( Sektor Pasar Batu)

Puji Syukur pada Tuhan, rangkaian kegiatan pada Pesta Parheheon tersebut dapat terlaksana dengan baik walaupun disana sini terdapat kelemahan, namun seluruh warga Jemaat dapat merasakan sukacita penuh.

Pada Ibadah Minggu (sekaligus Ibadah Penutupan) tgl. 24 Agustus 2008 yang, Bpk.Praeses HKI Daerah I Sumatera Timur I (Pdt.M.Saragi) menyampaikan pesan kotbah agar seluruh Jemaat saling mengenal kekurangan masing masing dan mau mengakui kelebihan sesama, hingga tidak terjadi sungut-sungut seperti Aron dan Miryam. Jika hal initercipta maka berkat Tuhan akan selalu melimpah bagi UmatNya. Pesta Parheheon ditutup dengan doa oleh Pimpinan Jemaat HKI Asuhan Stadion setelah pengumuman dan pemberian hadiah bagi Juara di masing-masing kegiatan. (St.J. Pangaribuan-Sek. Jemaat)


Dr. Uwe Hummel : Pembangunan Training Centre Diakonia Sebagai Pusat Pelatihan Peternakan-Pertanian-Perikanan Organik Adalah Sebuah Program Yang Inovatif.

Pada hari Jumat tanggal 10 Oktober 2008, Pucuk Pimpinan HKI menerima kunjungan Dr. Uwe Hummel, (Sekretaris Asia-UEM). Kunjungan ini adalah kunjungan perdana Dr. Uwe Hummel sejak di pilih menjadi Sekretaris Area Asia dalam General Assembly UEM, di Borkum Jerman, Juli 2008. Turut hadir menerima kunjungan Dr. Uwe Hummel antara lain Pdt. M. Lumbangaol STh (Ka. Dep. Marturya), Pdt. TL. Hutagalung, MSC (Ka. Dep. Koinonia) dan Pdt T.P. Sihombing, STh (Ka. Dep. Diakonia), Pdt. Happy B.K. pakpahan, STh (Sekretaris Eksekutif Pucuk Pimpinan), Pdt Edwin JP. Simanullang, STh (Staff Pucuk Pimpinan HKI) serta St. L. Butarbutar (Bendahara Kantor Pusat HKI).

Dalam kunjungan, Dr. Uwe Hummel menyampaikan bahwa kedatangannya adalah bagian kunjungan memperkenalkan dirinya sebagai Sekretaris Asia-UEM, kepada gereja-gereja anggota UEM secara khusus yang ada di Sumatera Utara. Dr. Hummel juga memaparkan Prioritas Program UEM dan Struktur Baru UEM hasil General Assembly UEM di Borkum Jerman pada bulan Juli Tahun 2008 lalu, yang juga di ikuti Ephorus HKI Pdt. Dr. B. Purba sebagai Ketua UEM Asia Executive Board dan Sekretaris Jenderal : Pdt. R. Simanjuntak, BD - sebagai utusan HKI.

Pucuk Pimpinan dalam kesempatan ini memperkenalkan Profil HKI dan Gambaran umum program Kerja Departement-departeman yang telah dan akan dilaksanakan. Ephorus HKI juga menyampaikan bahwa tahun 2009 yang akan datang adalah Tahun Diakonia bagi HKI. Untuk itu ada beberapa program yang menjadi Prioritas pada tahun 2009 sebagai Tahun Diakonia antara lain Pembangunan Training Centre Diakonia dilahan yang telah disediakan di daerah Tiga Dolok Kabupaten Simalungun. Training Center ini akan dijadikan sebagai Pusat Peternakan-Pertanian-Perikanan Organik selaras alam yang akan melibatkan Warga Jemaat Gereja anggota UEM dan masyarakat secara umum. Hal ini mendapat sambutan baik dan dukungan dari Dr. Hummel karena dianggap satu program yang inovatif menyentuh kebutuhan jemaat.

Di akhir perbincangan, Ephorus beserta Sekjend HKI menyematkan Ulos Batak kepada Dr. Uwe Hummel atas kesediannya berkenan berkunjung ke HKI. Setelah makan malam, Dr. Uwe Hummel menyampaikan sangat terkesan dan juga mengucapkan terima kasih atas penyambutan HKI dan mengharapkan kerjasama dan dukungan dari Pucuk Pimpinan HKI dalam pelaksanaan tugasnya sebagai Sekretaris Asia untuk mensukseskan Program bersama melalui UEM di Asia.[hp]


PP HKI Menerima Kunjungan Rev. Dr. Claudia Waehrisch-Oblau (Executive Secretary for Evangelism UEM)

Dalam rangka membangun Program Pekabaran Injil yang lebih efektif di masing-masing konteks dimana Gereja anggota UEM berada, maka pada tanggal 21 Oktober 2008, Pucuk Pimpinan menerima kunjungan Rev. Dr. des. Claudia Waehrisch-Oblau (Executive Secretary for Evangelism United Evangelical Mission yang berkantor di Wuppertal jerman). Kunjungan Claudia Waehrisch-Oblau disamping membahas evaluasi dan kelanjutan program Pekabaran Injil yang dilakukan secara bersama oleh 35 Gereja yang tergabung dalam UEM juga untuk mempelajari kondisi-peluang-dan tantangan Misi yang dihadapi oleh Gereja-gereja anggota UEM secara khusus HKI.

Pertemuan di awali pembahasan evaluasi dan program lanjutan Pekabaran Injil di HKI. Pertemuan di adakan di ruang Ephorus HKI, hadir dalam pertemuan Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus), Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal), Pdt. M. Lumban Gaol, STh (Ka.Dep. Marturya), Pdt. Tony Hutagalung, MSc (Ka.Dep. Koinonia), Pdt. Happy Pakpahan (Sekretaris Eksekutif Pucuk Pimpinan) dan Pdt. Edwin Simanullang, STh (Staff Pucuk Pimpinan).

Kemudian kegiatan berlanjut pada pertemuan dengan para Pendeta – Guru Jemaat dan beberapa Penetua dari HKI Daerah I Sumatera Timur I. Pada pertemuan ini di bicarakan kondisi umum Program Pekabaran Injil yang dilakukan oleh UEM, baik di Jerman, Asia termasuk Indonesia. Dari diskusi yang berlangsung secara interaktif yang dipandu oleh Ephorus HKI Pdt. Dr. B. Purba di dapati beberapa kenyataan, antara lain :

  1. Peluang-Tantangan dan Konsep Pekabaran Injil yang kontekstual tidak terlepas dari kondisi real dan budaya-politik-cara berpikir masyarakat di masing-masing tempat.
  2. Sikap teloransi dan menghargai perbedaan antar Agama-antar denominasi Gereja, sangat diperlukan untuk memaksimalkan Pekabaran Injil yang relevan.
  3. Gereja-gereja yang bergabung dalam UEM berkomitmen utk tetap ber Pekabaran Injil (dengan kemurnian Injil) dan menggunakan budaya lokal.
  4. Dan beberapa masukan tentang tantangan Pekabaran Injil di Indonesia antara lain ke kristenan yang kurang mengakar, PB2 Menteri dan Perda-perda lokal (produk daerah yang otonomi) yang nota bene menghambat kekebasan menjalankan Ibadah.

Diakhir pertemuan, atas nama seluruh hadirin, Pdt. R. Simanjuntak (Sekretaris Jenderal) memberikan ulos kepada Claudia Waehrisch-Oblau sebagai ungkapan terimakasih dan harapan baik bagi pelayanan Claudia. Kita doa dan dukung kiranya Tuhan Yesus Raja Gereja semakin memperlengkapi HKI untuk melaksanakan Program Pekabaran Injil yang kontekstual. Syalom. [hp]

PUCUK PIMPINAN MENERIMA KUNJUNGAN MAGNE VATLAND DARI NORWEGIAN LUTHERAN MISSION

Pada hari Kamis, 23 Oktober 2008, bertempat di Kantor Pusat HKI, Pucuk Pimpinan menerima kunjungan Magne Vatland, Project Supervisor Norwegian Lutheran Mission-Indonesia. Kunjungan Magne Vatland sebagai Project Supervisor Norwegian Lutheran Mission-Indonesia adalah dalam rangka memperkenalkan NLM-Indonesia dan Program Pelayanan antara lain Pengembangan Lembaga Sekolah Minggu dan Pekabaran Injil. Diterangkan Vatland bahwa Norwegian Lutheran Mission adalah salah satu lembaga Misi Gereja-gereja di Norwegia yang berlatar belakang Lutheran, dan salah satu Kantor pelayanannya ada di Medan. Salah satu Program yang sedang di kerjakan NLM-Indonesia adalah menerbitkan Buku Pedoman Mangajar untuk Guru-guru Sekolah Minggu, Buku dimaksud berjudul “Yesus Sahabarku”.

Pucuk Pimpinan HKI menyambut baik kedatangan Magne Vatland sebagai Project Supervisor Norwegian Lutheran Mission-Indonesia. Ephorus HKI, Pdt. Dr. B. Purba dalam pembicaraan juga mepaparkan kondisi umum HKI dan program Pelayanan yang telah-sedang dan yang akan dilakukan mengacu kepada Master Plan HKI, secara khusus pengambangan Lembaga seperti Sekolah Minggu dan Program Penginjilan. Gereja HKI tetap concern terhadap pengembangan Lembaga Kategorial seperti Sekolah Minggu, dengan asumsi bahwa jika kita maximal dan tepat memberikan pembinaan bagi anak Sekolah Minggu maka itu sama artinya kita sedang mempersiapkan masa depan Gereja. Karena anak-anak Sekolah Minggu lah nantinya menjadi pilar pembangunan dan pertumbuhan Gereja seperti HKI. Untuk itu HKI sangat terbuka untuk kemitraan Program pelayanan dengan Norwegian Lutheran Mission.

Hadir menerima kunjungan, a.l Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus), Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal), Pdt. M. Lumban Gaol, STh (Ka.Dep. Marturya), Pdt. Tony Hutagalung, MSc (Ka.Dep. Koinonia), Pdt. Happy Pakpahan (Sekretaris Eksekutif Pucuk Pimpinan) dan Pdt. Edwin Simanullang, STh. (hp)

PA Zarfat HKI Menerima Bantuan 1 Unit Laptop dari Bank Indonesia

Untuk membantu pendidikan dan pengembangan SDM anak-anak di Panti Asuhan Zarfat HKI, Bank Indonesia melalui Program BSR ( Bank Indonesia Sosial Responsibility) memberikan satu unit Laptop kepada PA Zarfat HKI. Bantuan disampaikan pada hari Rabu, 3 September 2008 di Kantor Pusat HKI oleh Bpk. Maurids H. Damanik – Peneliti Ekonomi Madya Senior – Kepala Tim Ekonomi & Moneter Bank Indonesia Medan/Korwil BI Sumut & NAD didampingi Bpk Hanafi. Bantuan diterima oleh Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal) dan Diakones Risma Sihombing (Pengasuh Zarfat HKI). Turut hadir Pdt. M. Lumban Gaol, STh (Ka.Dep. Marturya) dan Pdt. Happy Pakpahan (Sekretaris Eksekutif Pucuk Pimpinan HKI).

Maurids H. Damanik, yang juga Sintua HKI, aktif melayani di HKI Resort Khusus Medan Kota menyampaikan bahwa program BSR ini adalah salah satu wujud nyata kepedulian Bank Indonesia kepada lembaga Sosial termasuk yang dikelola Gereja seperti HKI. Diharapkan dengan Program ini membantu pengembangan sumber daya anak-anak yang diasuh oleh Panti Asuhan Zarfat.

Sekretaris Jenderal, Pdt. R. Simanjuntak, BD pada kesempatan ini menyampaikan secara garis besar program pembinaan yang dilaksanakan di PA Zarfat. Bahwa disamping pendidikan formal di Sekolah dan pembinaan kerohanian-keasramaan, anak-anak juga diberikan pembinaan ketrampilan seperti menjahit, bertukang, beternak organik, bertenun ulos, dan belakangan ini dilatihkan pendidikan komputer. Untuk itu Pucuk Pimpinan HKI dan Pengasuh Zarfat serta seluruh anak-anak asuh di PA Zarfat HKI, menyampaikan terimakasih kepada Pimpinan dan Jajaran Bank Indonesia atas kepeduliaan dan bantuan yang disampaikan kepada PA Zarfat HKI. Kiranya kerjasama pembinaan dan kepedulian sosial ini semakin berlanjut dan menjadikan Bank Indonesia dan PA Zarfat yang dikelola Gereja HKI semakin menjadi saluran berkat. (hp)

Sekretaris Jenderal dan Praeses HKI Daerah I Mengunjungi dan Memberi Sipirnitondi Kepada Parhalado-Jemaat Gereja HKI Sipolpol Yang Terkena Bencana Alam

Pada tanggal 5 Agustus 2008 yang lalu, Gereja HKI Sipolpol, Resort Tanah Jawa – Daerah I Sumatera Timur I mengalami musibah. Pada waktu itu terjadi angin kencang dan memporakporandakan Gereja HKI Sipolpol hingga rata dengan tanah. Akibatnya, untuk sementara, segala aktifitas pelayanan termasuk Ibadah Minggu diadakan di rumah anggota Jemaat.

Melihat kondisi ini, maka pada hari Minggu tanggal 28 September 2008, Pucuk Pimpinan HKI : Pdt. R. Simanjuntak (Sekretaris Jenderal HKI) dan Ibu, bersama Pdt. M. Saragi (Praeses HKI Daerah I Sumatera Timur I) mengunjungi jemaat HKI Sipolpol. Kehadiran Sekretaris Jenderal sekaligus melayani Ibadah Minggu dan memberi “Sipirnitondi” bagi jemaat tersebut.

Kita doakan, agar jemaat HKI Sipolpol tabah dan tetap semangat dalam melakukan kegiatan pelayanan. Dan bagi Jemaat – Resort – Daerah atau secara Pribadi yang berniat memberikan bantuan kepada Jemaat Sipolpol, dapat disampaikan langsung atau melalui Kantor Pusat HKI. (hp)

RETREAT SEKOLAH MINGGU HKI TAMAN MINI VILLA PUTIH, CISARUA – JAWA BARAT 30 – 31 Agustus 2008

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia serta sekaligus mengisi sisa liburan di sekolah, anak Sekolah Minggu HKI Taman Mini beserta dengan orangtua, Majelis dan rekan-rekan dari Remaja mengadakan kegiatan Retreat Sekolah Minggu HKI Taman Mini di wilayah Puncak Jawa Barat, dengan tema SMART IN GOD.

Rombongan berangkat pukul 09.30 WIB setelah berdoa bersama dipimpin oleh Guru Jemaat HKI Taman Mini, St. N.R. Simanjuntak. Jumlah rombongan yang berangkat sekitar 150 orang, terdiri dari anak-anak, orang tua, guru sekolah minggu, majelis dan pendeta. Rombongan tiba di lokasi tepat pada pukul 12.00 WIB dan disambut oleh team pendahulu. Setelah makan siang, dimulailah kebaktian pembuka. Kemudian tibalah acara yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak sekolah minggu, GAMES. Games dibagi dalam 3 bagian, yaitu untuk kelas kecil, sedang dan besar. Anak-anak begitu bersemangat dan terlihat antusias untuk memenangkan setiap pertandingan (betul-betul anak-anak yang smart.).

Sorenya, setelah beristirahat dan mandi, acara dilanjutkan dengan Session I, yang dibawakan oleh GSM, Leonard Mangunsong. Dalam session ini disampaikan bahwa untuk menjadi anak-anak yang SMART ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu: 1. Menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan 2. Memberikan yang terbaik bagi Tuhan, dengan cara: rajin beribadah, rajin berdoa, tidak melawan orang tua dan lain sebagainya.
Setelah session, diadakan NONTON BARENG. Film yang dipilih pun tidak main-main, yaitu EVAN ALMIGHTY. Film ini menceritakan seorang calon anggota kongres bernama EVAN BAZTER yang disuruh Tuhan membangun sebuah bahtera, akan tetapi Evan berusaha menolak, kehidupan keluarganya berantakan dan keluarganya meninggalkan dia. Setelah film selesai, Pendeta Janto Sihombing pun memberikan renungan sehubungan dengan film tersebut. Setelah menonton film, seharusnya diadakan api unggun, akan tetapi karena kondisi di luar hujan, acara itupun dibatalkan dan seluruh peserta diwajibkan untuk tidur. Akan tetapi sebelum tidur, para orang tua diberikan formulir permohonan doa yang kemudian akhirnya seluruh orang tua dikumpulkan dan pokok doa tersebut dibawakan di dalam doa oleh Pendeta.
Esok paginya, setelah sarapan diadakan Kebaktian Minggu yang dibawakan oleh Pendeta Janto Sihombing. Beliau berpesan agar anak-anak sekolah minggu menjadi anak-anak yang baik, taat pada orang tua, guru sehingga dapat berguna bagi kerajaan Allah. Setelah ibadah minggu, diadakan lomba khusus untuk orang tua dalam bentuk kuis Alkitab. Lucu juga sih, melihat orang tua berjuang mengingat-ingat cerita Alkitab yang mungkin pernah mereka dengar sewaktu mereka di sekolah minggu.

Acara resmipun selesai, selanjutnya acara bebas. Seluruh peserta retreat diajak untuk berenang bersama dan menikmati suasana alam pegunungan. Semua bersukaria dan sangat bersemangat dalam acara ini. Akhirnya, tepat pada pukul 16.00 WIB setelah berfoto bersama, rombongan berangkat pulang kembali ke Jakarta dan tiba di gereja pada pukul 19.30 WIB. Sayonara, mari kita menjadi anak-anak yang SMART di mata Tuhan. ( Berita Kiriman Leonard Simangunsong -Pengurus Daerah PNB HKI D.VII P.Jawa dan GSM HKI Taman Mini ).

Retreat Naposo Bulung-Remaja HKI Stadion, P. Siantar.

Untuk memotivasi keaktifan Naposo Bulung dan membekali mereka melewati masa muda yang dikenal dengan masa pancaroba, BPH PNB HKI Stadion melaksanakan Program Retreat PNB – Remaja, pada hari kamis, 2 Oktober 2008. Program ini mendapat dukungan dari Majelis – Parhalado HKI Stadion, Resort Asuhan Stadion.

Kegiatan dilaksanakan di Pantai Kasih – Sidamanik, yang juga milik kel. S.F.Damanik, SE/St. Br. Tobing (warga jemaat HKI Perumnas Batu Anam). Acara diikuti oleh sekitar 40 Naposo Bulung-Remaja dan Majelis antara lain : Pdt. N. Br. Manalu, STh (Pendeta Resort), Ca.Pdt. Ance Br. Simanjuntak, STh, St. P. Lubis, St. J. Pangaribuan, St. L. Siahaan, St. F. Siburian.

Ada beberapa materi kegiatan, a.l

  1. Ibadah yang dilayani oleh Pdt. N. Br. Manalu, STh dan Ca.Pdt. Ance Br. Simanjuntak, STh
  2. Ceramah oleh Pdt. Happy Pakpahan (Kantor Pusat HKI/Komite HIV AIDS HKI)
  3. Ceramah : Kesehatan Reproduksi Oleh St. Br. Tobing (Majelis Daerah dan juga Ketua PW Daerah I Sumatera Timur I)
  4. Permainan
  5. Acara keakraban

Dalam Ceramah di paparkan dan di diskusikan bahwa masa muda adalah masa yang menyenangkan sekaligus penuh tantangan. Salah satunya adalah masalah yang berkaitan dengan kenakalan remaja, pergaulan seks bebas, dan persoalan terkait HIV AIDS dan kesehatan reproduksi. Untuk menghadapi hal itu, setiap kaum muda dan remaja harus memahami baik-buruk dan efek dari setiap perilaku yang dilakukan. Persoalan HIV AIDS dan kesehatan reproduksi misalnya, masalah ini sangat dekat dengan kaum muda yang sangat rentan dengan perilaku “seks coba-coba” hingga seks bebas. Untuk itu memahami cara mengantisipasi penyebaran HIV AIDS dan persoalan kesehatan reproduksi harus diawali sikap membentengi diri melalui iman dan perilaku yang benar.

Diakhir acara ceramah Naposo Bulung-Remaja bertekat menjadi Surat dan Duta Kristus dimana mereka berada, menghapuskan stigma terhadap HIV AIDS, bertekat mampu melindungi diri dari penyebaran HIV AIDS dan menjadikan wadah PNB-Remaja HKI semakin menjadi wadah pembekalan demi pertumbuhan iman dan pembinaan diri. ( Berita kiriman Chandra Siburian).

Kebun Kelapa Sawit GIHON dan EFRAT Mengatasi kelangkaan Pupuk Dengan Memproduksi Pupuk Organik

Ditengah langka nya pupuk dan semakin melonjaknya harga Pupuk, salah satu jalan keluar yang paling tepat adalah memproduksi sendiri pupuk organik seiring dengan pembudidayaan peternakan system organik. Beberapa tahun terakhir ini Departemen Diakonia HKI telah giat mensosialisasikan dan melatih warga jemaat dan masyarakat secara umum untuk bertani dan beternak dengan cara organic. Karena system organic mempunyai banyak kelebihan antara lain menghasilkan daging atau hasil tanaman yang lebih sehat karena tidak memakai pupuk atau zat yang bersifat kimiawi, pertumbuhan tanaman dan ternak yang cepat, biaya yang jauh lebih murah (karena memakai sumber daya alam yang ada), efektif melestarikan alam karena menghindari pemakaian zat-zat kimia yang merusak tanah, udara dan air dan yang terpenting saat ini adalah menghasilkan pupuk organik yang berkualitas baik.

Pada hari Selasa, 26 Agustus 2008, atas gagasan Drs. T.H Sinaga (Pimpinan Kebun Kelapa Sawit GIHON dan EFRAT HKI), dilaksanakan Pelatihan Peternakan Ayam Organik di Kebun GIHON HKI, Tanjung Haloban. Peserta Pelatihan ini antara lain ; Karyawan Kebun GIHON, Karyawan Kebun EFRAT-Teluk Panji, beberapa Jemaat HKI dan masyarakat dari daerah Riau dan Langkat. Hadir memberikan Pelatihan, Pdt. Tigor Sihombing (Ka.Dep. Diakonia HKI).

Diharapkan dengan Peternakan Ayam Organik, juga dapat menghasilkan Kompos Organik yang memang sangat dibutuhkan tanaman pada perkebunan Kelapa Sawit HKI baik di Kebun GIHON maupun Kebun EFRAT serta untuk mengatasi ketergantungan pada Pupuk Kimia dari Pabrik yang harganya semakin tinggi. Diharapkan juga dengan pelatihan ayam organik ini, dapat menjadi alternative pendapatan ekonomi karyawan, warga jemaat dan masyarakat pada umumnya, yang berminat mengembangkan peternakan organik.

Bagi jemaat, Dinas/Instansi Pemerintah, LSM atau pihak yang berminat mendapatkan informasi dan mengadakan pelatihan cara peternakan secara organik (Babi, Ikan, Unggas, dll) dapat menghubungi Departemen Diakonia HKI di Kantor Pusat HKI, melalui email : dep.diaconia@hki-online.or.id atau langsung menghubungi Kepala Departemen Diakonia HKI, Pdt. Tigor Sihombing, STh di Kantor Pusat HKI, Jl. Melanthon Siregar No. 111 KP. 21128, P. Siantar. Terimakasih. (hp)


KONSULTASI INSTITUSI TEOLOGIA GEREJA-GEREJA LUTHERAN ASIA

Tiga puluh empat peserta dari Gereja-Gereja anggota Lutheran World Federation (LWF) yang ada di Asia bertemu di Bangkok Tailand dari tanggal 21-23 Agustus 2008 membicarakan kemungkinan membentuk suatu “Jaringan di antara sesama Institusi Teologia Gereja-Gereja Lutheran di Asia : Mencari Relevansi Gereja-Gereja Lutheran dalam Konteks Asia yang terus-menerus Berobah” (Networking among Theological Institutions in Asia: Research on the Relevance of the Lutheran Church in the Changing Asian Context”).

Konsultasi ini diorganisir oleh Departemen Missi dan Pengembangan (Deparment for Mission and Developmen-DMD) LWF seksi Asia untuk Institusi Teologia dan Gereja-Gereja Lutheran di Asia. Peserta yang hadir dalam konsultasi ini datang dari Papua New Guinea, Thailand, Jepang, India, Filipina, Malaysia, Taiwan, Hongkong, Indonesia, Australia, Jordan dan Holy Land, Mengkong Mission Forum, dan staff DMD-LWF. Peserta dari Indonesia tiga orang, yaitu: Pdt. Dr. J.R.Hutauruk (Anggota Council LWF-Ephorus Emeritus HKBP), Pdt. Dr. Burju Purba (Ephorus HKI), dan Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga (Puket I STT - Jakarta dari GKPS). Dari Staff DMD yang hadir ialah Dr. Kjell Nordstokke (Direktur DMD); Pdt.Dr.Ginda Harahap (DMD Area Secretary untuk Asia dan Middle East); Mr. Abebe Yohannes (DMD HRD Secretary); dan Ms Sally Lim (LWF Regional Expression Coordinator for Asia).

Tujuan dari konsultasi ini ialah mempelajari dan mereview bagaimana Institusi-Institusi Teologi dapat semakin memberdayakan Gereja-Gereja Lutheran secara khusus, dan komunitas Kristen pada umumnya dalam regional Asia ini untuk melakukan trasnformasi. Issu utama untuk diperhatikan dalam usaha membantu Gereja-Gereja untuk melakukan transformasi ini ialah perubahan-perubahan yang sedang berlangsung dalam koteks Asia.

Apabila kita berbicara tentang perubahan-perubahan yang sedang berlangsung dalam konteks Asia, kita juga harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh pengaruh dari globalisasi baik pada Negara-negara yang sedang berkembang dan maupun pada Negara-negara yang sudah maju sektor ekonominya. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari globalisasi telah berakibat pada kehidupan spiritual, ekonomi (terjadinya ketidakadilan ekonomi, eksploitasi tenaga buruh yang murah), ideologi, ekologi, rasial, kultur, konflik agama dan fundamentalisme. Walaupun perubahan-perubahan harus terjadi, akan tetapi kita harus berusaha untuk mencari cara bagaimana kita memberi response baik secara reaktif maupun proaktif dalam pelatihan-pelatihan teologia dan dalam kehidupan gereja di Asia. Untuk itu, maka dibutuhkan pembaharuan dan perluasan jaringan dan partnership sesama Gerja-Gereja dan Institusi-Institusi Teologi Lutheran di Asia. Pdt. Dr. B. Purba ( Ephorus ),-


RAPAT PRAESES HKI MENETAPKAN TEMA TAHUN DIAKONIA HKI :

" Terpanggil Menghadirkan Tahun Rahmat Tuhan Untuk Kesejahteraan Manusia dan Keutuhan Ciptaan " (Lukas 4: 18-19).

Untuk memaksimalkan pelaksanaan Keputusan Sinode ke 58 HKI yang telah terlaksana pada tanggal 22-25 Juli 2008, di Mikie Holiday Hotel Berastagi, maka pada tanggal 15-16 Oktober 2008 diadakan Rapat Praeses bertempat di Kantor Pusat HKI.

Rapat dihadiri oleh 7 dari 8 Praeses HKI yang ada. Antara lain :
1. Pdt. M. Saragi (Praeses Daerah I Sumatera Timur I)
2. Pdt. T. Sihombing, S.Th (Praeses Daerah II Silindung-Pangaribuan)
3. Pdt. S. br. Nainggolan, STh (Praeses Daerah III Tobasa Humbahas)
4. Pdt. MAE. Samosir, MTh (Praeses Daerah IV Dakota)
5. Pdt. E. Sihotang, SmTh (Praeses Daerah V Tapteng-Tapsel)
6. Pdt. K. Simorangkir, S.Th (Praeses Daerah VI Sumatera Timur II)
7. Pdt. M.P. Hutabarat, STh (Praeses Daerah VII Pulau Jawa)


Rapat yang Pimpin oleh Pucuk Pimpinan HKI : Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus) dan Pdt. R. Simanjuntak, BD (Sekretaris Jenderal) ini beragendakan antara lain :

1. Menelaah/memahami serta menjemaatkan Keputusan Sinode ke 58 HKI a.l Revisi TTG 2005 dan Pemekaran Daerah III.

2. Target Wajib Jemaat, Pelean Namarboho dan Tugas Praeses

3. Pemekaran Resort di Daerah

4. Sosialisasi Program dan Agenda Program Departemen Tahun 2009.


Beberapa Keputusan yang di hasilkan antara lain :

  1. Sekretaris dan Bendahara adalah termasuk unsur Pimpinan. Hal ini berlaku di tingkat Daerah, Resort dan Jemaat.
  2. Menghidupkan kembali pelean-plean Namarboho untuk lembaga-lembaga
  3. Agar Daerah Melaksanakan Sistem pelaporan mulai dari tingkat Jemaat, Resort dan Daerah yang didasarkan pada Sistem Akuntansi Indonesia (SAI) yang sudah disosialisasikan oleh Pucuk Pimpinan HKI.
  4. Mensosialisasikan Tahun 2009 sebagai Tahun Diakonia 2009 di Di Daerah, Resort dan Jemaat dengan Tema : " Terpanggil Menghadirkan Tahun Rahmat Tuhan Untuk Kesejahteraan Manusia dan Keutuhan Ciptaan " (Lukas 4: 18-19). Dalam waktu dekat Pucuk Pimpinan melalui Departemen Diakonia akan menerbitkan Panduan Pelaksanaan Tahun Diakonia dan akan diedarkan ke Daerah untuk disosialisasikan sampai ke tingkat Jemaat.
  5. Pemekaran Daerah Tobasa-Humbang telah dilaksanakan dengan pembagian daerah sebagai berikut :
  • Daerah III Toba Samosir, terdiri dari : 1. Res. Patane Porsea. 2. Res. Parparean. 3. Res. Simpang Opat Porsea. 4. Res. Sitorang. 5. Res. Nainggolan Samosir. 6. Res. Habinsaran. 7. Res. Borbor.
  • Daerah IX Humbang, terdiri dari : 1. Res. Lintong ni Huta. 2. Res. Dolok Sanggul. 3. Res. Nagasaribu. 4. Res. Paranginan. 5. Res. Siborongborong. 6. Res. Hutasoit Simamora. 7. Res. Pakkat Tarabintang. 8. Res. Muara.

6. Dan beberapa keputusan lainnya.

Rapat berakhir pada hari Kamis 16 Oktober 2008 dan ditutup oleh Ephorus HKI. Kita doa dan dukung Implementasi Hasil Keputusan Sinode ke 58 HKI- secara khusus melalui Pencanangan Tahun 2009 sebagai Tahun Diakonia HKI - kiranya semakin membuat kita menjadi saluran berkat bagi seluruh Ciptaan melalui pelayanan bersifat Holistik. Syalom



Pesta Peresmian dan Pembangunan Rumah Dinas HKI Resort Amborgang Daerah IV DAKOTA Berjalan Hikmat dan Meriah.

Parhalado dan Panitia Pesta Peresmian dan Pembangunan Rumah Dinas - HKI Resort Amborgang Daerah IV DAKOTA (Dairi, Karo dan Tanah Alas) telah berhasil mengadakan Pesta dengan Sukses dan meriah pada tanggal 28 September 2008. Terlaksananya pesta tersebut tidak telepas dari antusias dan kerjasama anggota Jemaat, mulai dari awal pembentukan Panitia Pesta hingga terlaksananya Pesta.

Acara kebaktian Minggu dipimpin langsung oleh Ephorus HKI, Pdt. Dr. Burju Purba sebagai Pengkhotbah, Pdt. MAE. Samosir, MTh (Praeses daerah IV DAKOTA) sebagai liturgis, dan Pdt. Drs. J. Pasaribu, STh sebagai pembawa doa syafaat. Lewat Khotbah dari nats 1 Yoh. 3: 11-15, Ephorus menekankan bahwa Kasih adalah simbol dari orang Kristen. Jika kita mengaku Kristen, maka kita telah mengikatkan diri kita serta merta dengan hidup di dalam kasih. Tetapi dalam prakteknya; mengasihi itu masih sangat sulit kita lakukan atau aplikasikan, karena masih banyak tantangan, hambatan dan keperluan jasmani kita. Tetapi sebagai orang yang percaya kita harus mengasihi, karena Allah dalam diri Yesus Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita manusia yang berdosa. Terutama dalam pembangunan bait Allah, kita harus memberikan yang terbaik, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita(2 Kor. 9:7). Percayalah Tuhan akan menyertai kita sepanjang zaman dan memberikan apa yang kita perlukan di dalam hidup kita, jika kita melakukan kasih.

Hadir dalam kebaktian dan rangkaian acara a.l. Pdt. Edwin. JP. Simanullang, STh (Staff Pucuk Pimpinan HKI) yang sekaligus membacakan SK Peresmian HKI Resort Amborgang sesuai dengan SK Pucuk Pimpinan HKI No. 455/PP.HKI.DU/IX/2008 tanggal 26 September 2008, Pdt. H. Harianja, SH, M.Min (Pendeta HKI Resort Amborgang), Pdt. Sehat W. Panjaitan, STh (Pendeta HKI Resort Sumbul Berampu) Pdt. Poltak H. Pakpahan, STh (Pendeta HKI Resort Sigalinging), Jemaat HKI se Resort Amborgang, PW HKI Sidikalang Kota, PW GKPI Amborgang, PW HKI Sigalingging, utusan dari gereja-gereja se DAKOTA dan Undangan lainnya.

Setelah acara Ibadah selesai dilanjutkan dengan acara kata-kata sambutan dari Ketua Panitia Pesta, Anggota DPRD Dairi, Mewakili UD Tani Jaya, Mewakili Undangan gereja Tetangga dan oleh Ephorus HKI dan sekaligus membuka acara Pesta. Setelah itu dilanjutkan dengan makan bersama, lelang, manortor, dan pemberian cenderamata/ulos kehormatan. (hp)