Friday, December 18, 2009

Artikel Majalah Bina Warga HKI Edisi Desember 2009 - Januari 2010


DASAR TEOLOGIS PEMAKAIAN STOLA
Oleh : Pdt. Marhasil Hutasoit, M.Th
1. PENGANTAR
Stola telah dipakai oleh banyak Gereja meskipun diskusi tentang dasar pemakaiannya belum sepenuhnya memuaskan semua pihak. Pokok soal yang diajukan menyangkut peranyaan : Adakah Stola itu merupakan "pakaian jabatan" atau tidak? Dan kalau Stola itu pakaian jabatan, timbul pertanyaan lain : Adakah Gereja-gerja kita mengenal "pakaian jabatan", selanjutnya, apakah makna pemakaian stola dalam gereja?. Karena itu dalam uraian ini pertama-tama akan dijelaskan pandangan teologis terhadap "pakaian jabatan".
2. TINJAUAN TEOLOGIS TENTANG MAKNA PAKAIAN JABATAN
Para ahli telogia memberi jawaban yang tidak sama. Menurut Kuyper, Gereja Reformasi tidak mengenal "pakaian jabatan". Toga misalnya, sebelumnya adalah pakaian biasa yang dipakai oleh sarjana-sarjana akademis. Tetapi oleh gereja sebagaimana telah dilakukan oleh Synode Den Haag tahun 1854 diputuskan bahwa toga harus dipakai oleh pendeta-pendeta dalam pelayanan. Dengan pakaian itu tidak diletakkan fungsi "pakaian jabatan" sebagaimana pakaian seragam (uniform) angkatan bersenjata, pegawai pabean, dll. Pemakaian Toga lebih menampakkan fungsi simbolis. Ia adalah pakaian biasa. Ia dipakai di dalam gereja karena ia memperlihatkan keanggunan. Kuyper menguatkan pandangannya ini dengan menunjuk kepada ucapan para reformator, khususnya Zwingli yang mengatakan : "yang ditentang bukanlah pakaian yang sopan dan gagah, tetapi pakaian yang dengannya menganggap diri menjadi lebih tinggi daripada kaum awam". Karena itu hendaklah dihindari dua bahaya : Pertama, pendangkalan akan imamat-am-orang percaya. Dan Kedua : pendangkalan akan kegenapan ibadah Perjanjian Lama dalam Kristus. Menurut Kuyper, Jas, Toga dan pakaian apa saja dapat dipakai asal saja dipahami bahwa pakaian tidak menentukan isi pemberitaan. Janganlah karena pakaian membuat orang sombong, angkuh atau menganggap diri lebih tinggi dari orang lain.

Faber berpendapat lain. Menurutnya, "pakaian jabatan" bukanlah terutama soal teologis, tetapi lebih mengarah pada pemahaman bagaimana gereja melakukan pekerjaannya di dunia. Ia setuju bahwa "pakaian jabatan" tidak mempunyai kuasa penyelamatan. Tetapi dia juga berpendapat bahwa tanpa "pakaian jabatan" dapat menimbulkan pemahaman yang tidak benar. Toga misalnya dipakai di pengadilan tetapi juga digunakan oleh pelayan Gereja dalam fungsi yang berbeda. Lagi pula menurut dia, Reformasi tidak melarang adanya "pakaian jabatan". Luther memberikan kebebasan penuh kepada pengikut-pengikutnya di bidang ini dengan syarat, bahwa kebebasan itu tidak disalahgunakan. Dalil ini dia jelaskan dengan mengatakan bahwa tiap-tiap pakaian mempunyai bahasanya sendiri. Itulah rahasia mode. Maksud yang tersembunyi dalam hati seseorang dapat tercermin dari pakaian yang dia pakai. Antara psyche dan cara memakai pakaian terdapat suatu hubungan yang erat. Lebih tegas lagi dia mengatakan bahwa "bukan manusia saja yang memakai pakaian tetapi pakaian juga memakai manusia", maksudnya dengan memakai "pakaian jabatan" seseorang menyadari bahwa dia melakukan tugas tertentu. Selain itu, pakaian mempunyai pengaruh suggestif atas daerah sekelilingnya. Akan berbeda orang yang memakai toga pada pengadilan dengan orang yang memakai toga di Gereja. Karena itu, selama gereja masih mempunyai "jabatan" tidak terlepas dari kebutuhan akan adanya "pakaian jabatan", Pendapat ini didukung oleh Van der Leeuw yang mengatakan bahwa sebenarnya semua "pejabat" harus memakai "pakaian jabatan" sebab dengan itu terlihat atas penugasan mana dia melakukan pekerjaan.

Dari uraian itu dapat ditarik kesimpulan bahwa "pakaian jabatan" tidaklah hendak membedakan kedudukan anggota jemaat yang satu dengan yang lain. Mereka semua adalah pelayan, hamba. Namun karena gereja mempunyai "jabatan khusus’, maka gereja mengenal pelayanan umum ("jabatan umum") dan pelayan khusus ("jabatan khusus") dan kepada mereka yang bertugas di bidang pelayanan khusus ("jabatan khusus") diberikan pakaian khusus berupa : toga, dalmatik1), kasula 2), stola, dll. Pakaian "jabatan" bukan hanya pakaian yang gagah saja seperti dikatakan Kuyper dan ahli telogia yang lain. Apa yang gereja khususkan bagi "pejabat-pejabat"nya mempunyai sifat resmi, dan itu berhubungan dengan "jabatan" mereka.

3. SEJARAH PEMAKAIAN STOLA DAN PERKEMBANGANNYA

Tidak diketahui jelas asal-usul pamakaian stola oleh gereja sebab pada mulanya stola adalah merupakan tanda pangkat jabatan dalam kekaisaran Romawi.3) Tetapi pada abad ke-4 gereja Timur telah mengenal adanya stola yang dipakai oleh diaken: di Spanyol dikenal pada abad ke-6 dan di Roma mulai dipakai pada abad ke-8.4) Di Inggris stola diperkenalkan oleh gerakan oxford.

Stola (bahasa Yunani=kain penutup badan) adalah sepotong kain yang agak panjang seperti selendang berwana liturgi digunakan oleh orang-orang yang ditahbiskan, yaitu uskup, imam dan diakon. Uskup memakainya dari atas kedua pundak dan menjulur sejajar ke depan. Imam memakainya secara bersilang, sedang diakon memakainya secara miring dari pundak kiri ke pinggang kanan.

Stola bukan perhiasan melainkan bagian dari pakaian liturgis yang bersifat fungsional. Hal ini berarti orang yang memakainya sedang bertugas sebagai pelayan liturgi. Mereka yang memakai stola sedang diutus oleh Tuhan untuk suatu pelayanan dengan kewibawaan yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Stola menghadirkan kuk yang ditanggung oleh Kristus dan yang kemudian diembankan kepada para hamba-hambaNya. Karena itu, stola adalah symbol penampakan dalam hal mana gereja melalui khotbah pengajaran Firman dan pelayanan sakramen kudus mendapat otoritas. Dalam kaitan ini, perbedaan warna dan pemakaian stola tidaklah menunjukkan hierarkhi jabatan. Sebagaimana dinyatakan: "The Stole represents the yoke of Crist – differing colors used – no relationsfhip to ecclesiastical rank"5) Mengingat stola merupakan tanda jabatan kepemimpinan liturgi resmi, maka petugas liturgi yang tidak ditahbiskan tidak diperkenankan memakai stola.

Warna stola disesuaikan dengan warna liturgi Tahun Gereja yang warnanya sama dengan warna mimbar. Misalnya : warna hijau untuk hari-hari Minggu biasa, warna ungu untuk masa penyesalan seperti Advent dan Pra-Paskah, putih untuk Natal dan merah untuk hari Pentakosta.

Kini di Indonesia berkembang aneka motif stola. Ada model stola yang indah dan terbuat dari sutera ada model selendang (ulos) yang berasal dari pakaian adat daerah. Berbagai model motif itu berkembang seiring dengan upaya pengembangan pakaian liturgi yang inkulturatif.
4. KESIMPULAN

Stola adalah pakaian berupa selempang yang dipakai oleh pelayan tahbisan. Perbedaan tanda dan warna yang digunakan bukanlah menunjukkan tingkatan pangkat jabatan tetapi merupakan tanda penugasan yang berbeda dalam menjalankan pelayanan.

Footnote:
  1. Pakaian liturgi resmi mirip seperti toga tetapi ujungnya dibuat persegi dengan motif hiasan berupa garis-garis salib besar.
  2. Berasal dari bahasa latin casula berarti gubuk kecil atau pakaian luar pengganti toga yang dipakai dari atas kepala menutupi seluruh tubuh.
  3. E.Martasujita, Memahami simbol-simbol dalam Liturgi, Yogyakarta, Kanisius, 1998
  4. T.N., tata Perayaan Sabat Hari Minggu dan Hari raya, Yogyakarta, Kanisius, 1989, hl.54

TARINGOT TU MANGULA DI HURIA
TARLUMOBI MA I ULAON SINTUA

1. Hombar tu aturan ni HKI (Tata Rumah Tangga HKI) Penatua (Sintua) ialah laki-laki atau perempuan yang telah menerima tahbisan (tohonan) kepenatuaan dari HKI (Sintua i ma : baoa manang daboru naung manjalo tohonan hasintuaon sian HKI). (PRT HKI pasal 18 g). Tajaha ma syarat boi gabe sintua di HKI di bagian ni PRT i. Jala taantusi ma sada-sada. Naeng ma nian na marumur saotikna 21 taon, asa dang be targoar dakdanak. Tontu naung malua sian panghakkungi, jala na dohot martanggungjawab taringot tu ulaon marbarita nauli. Ndang parsoalan atik naung marhajabuan manang dang. Sehat do di pardagingon dohot di partondion. Tontu ikkon sehat di haporseaon. Ndang gabe parpoda haliluon. Ondop do mandohoti parmingguon, jala sai dohot marulaon na badia, molo dipamasa huria. Sian i tarida, na so hona pinsang huria ibana. Molo dung marumur 21 taon jolma nunga patut ibana tammat/lulus sian SMP saderajat. Ringkot do na adong lulusna, ai jolma na songon i ma naung hea mampartanggungjawabhon parsikolaanna. Mansai denggan molo olo gabe sintua akka jolma na timbo parsikolaanna (S1, S2, S3). Tanda ni panolopion ni huria, ba na dipillit huria ma nian ibana gabe sintua di nasida. Mula-mula diusulhon sektor gabe calon sintua, dung i dibohali pandita manang guru huria ma taringot tu parsiajaran pangulaon ni akka sintua. Taringot tu na marsiajar on, saleleng mangolu do ikkon marsiajar. Alai dung marguru sataon, diarop roha ni huria nunga dapotsa be taringot tu pangulaon hasintuaon i, jala boi ma ditabalhon. Denggan do sai tambaan ni sintua I parbinotanna taringot tu hata ni Jahowa di bagasan Jesus Kristus, dohot tu taringot tu ruhut nang pangabahan ni pangulaon hasintuaon i, marhite na mandohoti akka sermon na dipamasa resort dohot huria. Rikkot do marlas ni roha, marpesta sada huria molo tamba sintuana. Ai takkas ma tamba di huria i na mangalehon ngoluna laho marhaladoi di huria i. Akka pardisurgo pe marpesta do molo tamba sintua ni huria.
2. Di bagasan Agenda ni HKI, bagian XIII “Pasahathon Tohonan Sintua”, adong do ualu (8) didok ulaon ni na targoar sintua.[1] Tajaha ma i, jala takkas tapeop di ngolunta, huhut taulahon. Naualu turgas i boi do i bagion tu tolu horong: 1) Ulaon marbarita nauli. 2) Ulaon pature parange ni jolma. 3) Ulaon manarihon pambangunan dohot ekonomi ni huria. Ulaon marbarita nauli i boi ma i didalanhon sintua marhite na marjamita ibana di partangiangan, di kebaktian khusus, di parmingguon di gareja. Tikki manghatahon barita nauli i, boi ma pakkeon ni sintua i sude parhataan sihatahonon ni pamangan (hata Indonesia, Batak, Karo, Jawa, Bugis, Papua, Cina, Arab, Rusia Tagalog, Jepang, dohot parhataan i akka jolma na adong di tanoon). Molo porlu, hombar tu pangaleon ni TONDI i, boi do ibana marhata ni tondi (berbahasa roh). Asing ni i boi do manghatai (marbaritanauli) sintua i marhite parhataan sipatudu (“bahasa isyarat”), i ma marhite akka gerak ni jari ni tangan, sein, tanda, sipatudu. Parhataan na songoan on mansai porlu tu akka na nengel. Alai porlu do nang parhataan sipatudu i pakkeon molo dao diri ni na manghatai tu na nipakkulinganna. Asing ni i, boi do pakkeon ni sintua i parhatan “pangalaho” laho marbaritanauli. Pangalaho ni sintua i gabe jamita na mangolu di tonga-tonga ni ngolu ni ruasna. Sada nari parhataan na boi pakkeon ni sintua laho marbaritanauli, i ma parhataan “hasil ni naniula” (“bahasa karya”). Molo martukkang do na boi sintua i, sai ditukkangi ibana akka dia na rikkot di huria I, hasilniniulana i sai manjamitai jolma jala marbarita nauli tu nasa na marnidasa. Molo dipasang sada sintua na opat massam parhataan i laho mangula hasintuaon i, takkas ma ibana sintua nadumenggan sian akka sintua nadenggan.
3. Tu ulaon lao pature parange ni jolma, ganup sintua ikkon takkas do mamboto piga ruas ni huria na dipasahat parmahanonna. Dang holan jumlah statistik ni ruas na ikkon dikuasai, alai dohot do akka rumang ni pangalaho dohot parrohaon ni ganup ruas i. Ala ni i do, mansai denggan molo holan 12 rumatangga ma nian diparmahan sada sintua, songon na binaen ni Tuhan Jesus mamillit siseanNa i. Ganup ruma-tangga boi do baenon adong tugasna lao mangalului ‘birubiru ni Tuhan” siparmahanonna. Na porlu situtu, ikkon botooon ni ganup sintua parrohaon ni ganup ruas na pinarmahanna. Ikkon botoonna aha do dalan ngolu ni ganup ruas i, songon dia parianakkononna. Songon dia paradatonna, partuturonna. Molo hurang ture, togutoguonna ma ruasna i tu na tumure. Huria ikkon mandukung ulaon ni akka sintua i, asa unang holan hata annon di sintua I, alai asa boi mardongan pangulaon. Unang holan maminsang ruasna diboto sintua. Dumenggan do molo dalan paturehon ngolu ni ruasna sai dipallehon sintua i. Gabe ringgas do ruas ni huria i marminggu, molo diboto ibana, ala ni panogunoguon ni sintuana ibana gabe denggan ngoluna, adong sibaenonna, jala gabe denggan parsaoranna tu huria, tu dongan sahutana dohot tu sisolhotna. Tutu sai adong do i na songon kacang na gabe lupa dilakkatna. Alai, dang i na gabe mambaen gale akka sintua. Ikkon malo do sintua manggunahon ruasna na gabe mamora dung gabe ruasna, jala ditogutogu. Akka ruas na mulai adong di ibana, lomo do roha ni i mambaen nadenggan tu huria. Denggan ma akka ruas na songon i ditogutogu, asa mantat serep ni roha. Denggan do molo gabe dipatujolo ibana laho gabe sintua, na laho marmahani ruas akka na martamba.
4. Tarmasuk tu turgas pature parange ni ruas do molo dijamoti sintua partondion ni akka dakdanak, ruas ni huria. Sian mulai ditingtinghon sorang dakdanak i, nunga ikkon leonon ni sintua rohana, tangiangna tu dakdanak i. Mansai tabo do panghilalaan ni natoras molo disungkun sintuana atik na sehat ianakkon ni ruasna. Molo ditopot tu jabu ni ruas i, takkas ma ditangianghon. Akka dakdanak naung boi dohot tu sikola minggu, disosoi ma asa diboan natorasna tu sikola minggu. Masitogitogianan ma akka na marhaha-maranggi dohot namariboto sian sada rumatangga lao ro tu sikola minggu. Molo boi sintua mangajari sikola minggu, tung mansai malo ma sintua i mangajari nasida. Ikkon gabe sintua haholongan ni sikola minggu ma sintu i. Molo so guru sikola minggu sintua i, takkas ma diparrohahon mutu ni pangajarion ni guru sikola minggu di parsikolamingguan. Denggan-denggan ma sintua i mardiskusi dohot guru sikola minggu i, tarsongon dia na dumenggan pangajarion tu anak sikola minggu i. Molo adong na marhalangan natoras mamboan anakkonna tu sikola minggu, naeng ma nian boi sintua i mangurupi lao mamboan dakdanak i tu sikola minggu.
5. Sai adong do sian ruas ni huria na mangae hadangolon na mambaen gabe marsak rohana. Sintua ma na parjolo mamparrohahon i. Molo na so adong be panganon ni ruas i, sintua i ma lao tu akka ruas na asing mangido pangurupion, asa adong allangon ni ruas na anturaparon i. Jala ikkon ma sude ruas ni huria olo mangurupi ruas na pogos i, jala olo mangaleon aha pinangido ni sintua i lao manarihon ruas napogos i. Sai mardongan tangiang dohot hata ni Jahowa dibagasan Jesus ma sude dipapungu pangurupion i dohot dipasahat tu na manghaporluhon. Molo adong ruas i na marsahit, las ma roha ni sintua molo ibana parjolo mamboto i asa pintor boi tangianghononna, manang boanonna tu rumasakit, manang mangalehon nasihat taringot tu pangubation songon dia na dumenggan tu na marsahit i. Denggan situtu molo pintor sahat barita taringot tu na marsahit i tu guru huria dohot tu pandita, asa dohot nasida manghalaputi akka na rikkot tu na marsahit i. Porlu do botoon ni ganup sintua, ia pangurupion laho asa boi dapot pangubation, tangiang dohot hata ni TUHAN lao mandongani na marsahit i, ummarga do i sian akka pangurupion hepeng sambing. Diusahahon sintua i ma ia sahit na niae ni ruasna i boi gabe dalan lao pasolohothon na marsahit i tu TUHAN i. Jamita na dumenggan disi, i ma ‘pendampingan’ (pandonganion) ni sintua i di bagasan hasolhoton na tulus.

Molo adong di huta/sektor ni sintua i na sipelebegu dope, na so ruas ni hurianta dope, unang ma dihasogohon. Alai gumodang ma dibaen nadenggan tusi, daripada tu diri ni sintua i sandiri. Tujuanna, sampe ditanda nasida holong ni TUHAN i marhite pardonganonna tu sintua i. Dijaga sintua i ma dirina dohot ruas ni huria i asa unang gabe tartait tu nasida. Molo adong akka poda ni halak i, na so niantusan ni sintua i, disukkunhon ma i tu pandita manang tu guru huria, boha do sasintongna, jala tarsongon dia do manulak poda i asa unang gabe rarat tu ruas ni huria. Di tikki sisongon i, takkas do auhonon nanidok ni Jesus: “Molo so andul dumenggan hatigoranmuna (= paragamaonmuna) sian hatigoran (paragamaon) ni akka sibotosurat dohot Parise, ndang habongotan hamu harajaon banuaginjang i.” (Mat.5:20).

Di bagasan akka panogunoguon nabinaen ni sintua, ikkon sai ajar-ajaranna do ruas na pinarmahanna i mandok mauliate tu Jahowa di bagasan Jesus Kristus. Akka parbue ni roha mauliate ni ruas i ma sude pembangunan ni fisik dohot ekonomi ni huria, tarmasuk akka na rikkot tu pandita, resort, daerah, dohot pusat. Dison tarida situtu do sintua gabe pangula na so siida gaji, alai boi mambaen mardalan ‘roda’ ni ‘organisasi’ ni huria. Ikkon boi do tardok, ia bagas joro i boi dipauli sian mas dohot perak, holan ala ni hatuluson ni roha ni sintua do manogunogu ruas i mandok mauliate tu TUHAN i. Molo sintua disuru mangaradoti parhepengon ni huria, ikkon patar, unur, tikkos ma dipature parhepengon ni huria i. Ikkon takkas ingotonna, ia ibana na manjaga asa tongtong badia do hepeng i tu ulaon di harajaon ni Jahowa. Dang boi etongonna i hepengna sandiri. Beha pe posi ni sidabudabuan ni sintua i, sotung dibuat ibana sian hepeng ni huria i lao patukkon sidabudabuanna i. Molo naeng porlu di ibana hepeng, dihatai ma tu guru huria manang tu pandita, asa dibaen jalan keluar. Holan tu akka ulaon na rikkot tu harajaon ni Jahowa do hepeng ni huria pakkeon, ai tusi do i diparbadiai. Di bagasan pangantusion on do boi baenon ni pandita manang guru huria dispensasi, molo tung adong udan na so hasaongan ditaon bendahara ni huria manang ditaon ruas ni huria. (Bersambung ke edisi berikut).

[1] 1) Dongan jala pangurupi ni pandita rap dohot guru huria do hamu manghobasi nasa ulaon di huria Kristen Indonesia, laho manjamitahon Hata ni Debata na tarsurat di Padan Narobi dohot Padan Naimbaru.
2) Marmahani dohot manangkasi parange nang ulaon ni ruas ni huria; jala molo adong na hurang denggan parange ni manang ise ruas ni huria I, ingkon pinsangonmuna marhitehite Hata ni Debata, manang paboaonmuna tu Guru dohot tu Pandita, asa dipature.
3) Ma nogunogu ruas ni huria, asa ringgas marminggu, mandohoti sakramen, I ma pandidion na badia dohot ulaon nabadia, dohot parpunguan na patut siihuthonon ni halak Kristen.
4) Manogunogu jala mandasdas akka dakdanak, asa ringgas ro tu parmingguan mangguruhon hata ni Debata.
5) Manopot jala mangapuli akka na marsak, na mardangol, napogos dohot na patut siurupan, asa masihohot nasida marhaporseaon di Tuhan Jesus Kristus.
6) Manopot jala mangapoi akka na marsahit jala paturehon akka na rikkot di nasida, olat ni na tarpatupa hamu, alai na rumikkot pasingothon hata ni Debata dohot manangianghonsa.
7) Manogunogu dohot mangapoi akka sipelebegu, nang akka parpodahaliluon, asa dohot nasida marsaulihon hangoluan na pinatupa ni Tuhan Jesus.
8) Manogunogu ruas ni Huria asa marroha hamauliateon, jala olo pasahathon akka pelean tu huria ni Tuhan Jesus, ro di nasa na rikkot tu harajaon ni Debata.
Medan/Indrapura tgl. 19 September 2009
Dipasahat tu akka dongan sintua HKI saresort Indrapura
Dohot tu akka sintua ni HKI sa Resort Tigalingga tgl. 21 Sept 2009
Di Taman Wisata Iman Sidikalang Napasahathon: Pdt. Langsung Sitorus
MENGELOLA PEMBERIAN ALLAH DENGAN BENAR (JAKOBUS 5: 1 – 6)

Pendahuluan

Kitab Yakobus diawali dengan memperkenalkan penulisnya dengan nama Yakobus hamba Allah dan Yesusn Kristus. Dengan identitas yang sangat terbatas demikian dan alamat yang tidak dicantumkan, membuat beberapa ahli berbeda pendapat tentang siapakah penulis ini sebenarnya. Sebab nama Yakobus pada zamannya merupakan nama yang cukup banyak (biasa) digunakan. Memang ada beberapa faktor yang dicoba digunakan sebagai alat penelitian, seperti faktor bahasa, nada surat dan isi suratnya, namun hal itu tidak dapat menolong, sehingga sampai sekarang masih belum ditemukan kepastian yang mutlak, siapa penulis buku ini sebenarnya.

Surat ini ditujukan kepada 12 suku yang tinggal di perantauan (diaspora). Hal ini menunjukkan bahwa surat ini tidak ditujukan pada satu jemaat, melainkan kepada jemaat-jemaat di berbagai tempat, baik di desa maupun kota. Dari beberapa isi surat ini dapat dipastikan bahwa Yakobus sangat memprihatinkan hidup orang Kristen yang sudah jauh menyimpang dari kebenaran. Penyimpangan dimaksud seperti, mereka cenderung menyesuaikan diri kepada dunia ini (4:4), mereka saling mencela (4: 11), kurang berdoa (4: 2), sombong (4: 13).

Mencermati pola hidup di atas, Yakobus dengan kewibawaan yang ada padanya menuliskan suratnya kepada orang Kristen dimanapun berada pada saat itu, agar “way of life” mereka benar-benar mencerminkan iman percaya mereka. Dengan kata lain, Yakobus dalam suratnya menekankan sikap dan tingkah laku orang Kristen dalam hidup sehari-hari, satu diantaranya tentang pengelolaan pemberian Allah yang benar, yang menjadi nas khotbah ini.

Penjelasan Nas dan Aplikasi
1. Mengelola harta dengan benar
Dapat dipastikan bahwa Yakobus bukanlah anti kekayaan. Tetapi Yakobus mempunyai kerinduan agar orang kaya pengikut Kristus dimanapun berada, baik yang dikenal atau tidak dikenal secara fisik, agar waspada dan masing-masing mengoreksi diri. Sebab di dunia sekitar mereka, sangat kuat mempengaruhi, dan yang pasti mereka sangat rentan dengan pengaruh itu, yang dapat menghilangkan wujud iman percaya mereka. Dalam hal ini, Yakobus mengingatkan bahwa orang kaya tidak pantas bersukaria, berfoya-foya dengan hartanya yang bergelimang, tetapi sebaliknya mereka pantas menangis. Adapun dasar Yakobus mengatakan demikian, karena mereka telah mengelola kekayaanya dengan pengelolaan yang salah. Karena pengeloaan yang salah itu, seharusnya harta kekayaan ang dimiliki dapat memberi sukacita, telah berganti menjadi duka yang sangat menyakitkan.

Pengelolaan harta sering salah dikarenakan adanya kekuatiran yang besar dalam diri orang yang mengelolanya. Oleh karena itu Yesus menegur murid dan pengikutnya agar jangan kuatir (Matius 6: 19 – 34). Harus dikaui bahwa hidup manusia di dunia ini, masih terus dilingkupi rasa kekuatiran. Seperti: petani kuatir apakah hasil panennya akan cukup untuk kebuttuhan mereka sepanjang tahun, apakah ia sanggup menyekolahkan anaknya, membeli pakaian untuknya dan anaknya? Pekerja kuatir tentang pekerjaannya, apakah ia masih mampu bersaing dengan pekerja yang masih muda dan energik? Orang kaya kuatir, apakah saldo banknya masih aman, rumahnya aman dari ancaman pencuri? Dll.
Tetapi Yesus berkata “jangan kuatir akan hidupmu, pangan, sandang, dan masa depanmu dan jangan mengumpulkan harta di bumi”. Artinya, Yesus mengingatkan agar pengikutnya tidak materialistis, yang hanya memikirkan apa yang dapat diperoleh dan dimiliki di dunia ini, sebab hal seperti itu adalah musuh rohani siapapun. Tetapi sebaliknya, Yesus menasihati pengikutnya agar “mengumpulkan harta di Sorga.” Harta di Sorga adalah kiasan yang menunjuk pada berkat yang tidak terbayangkan, yang telah disediakan Tuhan bagi mereka yang mengasihi Dia (1 Kor 2: 9; bdk. Yes 64: 4). Mengumpulkan harta di sorga dilakukan dengan cara: Pertama, mengumpulkan harta dengan kesetiaan mengabdi kepada Tuhan. Kedua, harta terkumpul dengan mencari kerajaan Allah dan kehendakNya. Ketiga, menggunakan harta untuk menolong orang lain (Mat. 10: 42).

Jadi mengelola harta dengan benar adalah menggunakan kekayaan (materi) dunia ini untuk mengupulkan harta sorgawi yang dilakukan dengan cara tidak memakai uang dengan sembrono, atau karena menggap uang itu tidak spiritual, sehingga tidak menanganinya secara jujur. Tetapi seharusnya, kita menggunakan harta dengan bijaksana untuk mencapai tujuan spiritual kita. Orang Kristen tidak boleh sama dengan orang duniawi, pikiran kita harus tertuju pada hal-hal sorgawi, dan kita harus kaya di hadapan Allah (Lukas 12: 21).

2. Berbagi dengan orang lain

Ada ungkapan yang mengatakan “hepeng do mangatur Negara on” artinya, uang yang mengatur Negara ini. Memang, sepertinya uang begitu “kuat” di dunia ini, sebab segala sesuatu dapat diperoleh, dilakukan, diatur oleh uang. Masalah ini sudah terjadi sejak awal peradaban manusia, dan menjadi bagian hidup manusia. Pada zaman Yakobus, banyak orang kaya memperkaya diri dengan cara tidak mempedulikan orang lemah dan miskin. Yang seharusnya upah para pekerja, ditilep (diambil) oleh orang kaya, dan ia kebal hukum karena ia memiliki uang untuk melindungi dirinya, di pihak lain, orang miskin dan orang lemah tidak mempunyai payung hukum yang jelas yang melindunginya. Tindakan seperti itu merupakan sikap kelobaan, tidak jujur dan pemerasan (bdk. Ul 24: 14-15; Mal. 3: 5).

Sama seperti pada saat Kain membunuh adiknya Habel, darah habel berteriak, demikian situasi yang digambarkan Yakobus, bahwa terdengar kuat dan telah sampai ke telinga Tuhan, teriakan upah buruh yang ditahan oleh orang kaya.

Sebagai orang Kristen, sepatutnya hidup dalam ajaran Yesus Kristus, dimana Yesus mengajarkan agar manusia memelihara hubungan dengan baik kepada Tuhan, selanjutnya memelihara hubungan dengan sesama manusia dengan cara bersedia berbagi dengan orang lain (Mark 10: 17 - 31). Dalam pengajaran ini, Yesus memperlihatkan kehidupan banyak orang di dunia ini yang sangat terikat dengan harta, bahkan sepertinya manusia tidak dapat hidup tanpa harta, sehingga ketika manusia diminta untuk memilih antara Allah dan hartanya, manusia lebih banyak memilih harta. Dan hendaklah disadari bahwa harta, sangat mudah dan sering memperdaya manusia (orang Kristen). Banyak orang Kristen berkata: kalau saja saya memiliki lebih banyak uang, saya akan memberikan lebih banyak demi pekerjaan Tuhan; saya akan senang kalau saya mempunyai ini dan itu; tak beda dengan orang kaya, mereka juga menginginkan harta yang lebih banyak lagi. Jika mentalitas di atas terus menerus merasuki hidup manusia, ia akan tetap dalam penderitaan kekal.

Melalui perumpamaan tentang “orang kaya yang bodoh” (Lukas 12: 15-21), Yesus mengingatkan bahwa adalah tindakan kebodohan yang menimbun harta, dengan dengan merobohkan tempat hartanya karena tidak muat lagi, lalu membangun tempat yang lebih besar lagi. Sesungguhnya hal seperti ini masih banyak di jumpai hingga saat ini, bahkan ada yang menghalalkan cara demi mendapatkan harta. Kepedulian dengan sasama apalagi “marpanarihon tu sundut na parpudi” sangat sulit ditemukan. Padahal sebagai orang Kristen seharusnya menyadari dalam setiap harta yang dimiliki, ada rencana Tuhan yaitu mau berbagi kepada sesama.
Penutup
Harta adalah anugerah Allah. Sebagai anugerah Allah, maka setiap orang yang dipercayakan Tuhan harta baik kecil ataupun besar, dituntut untuk mengelolanya dengan baik dan benar. Mengelola harta dengan baik dan benar adalah dengan memakai harta yang dimilikinya untuk menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama. Dan apabila harta itu telah menghalangi jalinan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, sebaiknya harta itu diberikan kepada orang miskin, demikian resep yang Yesus berikan dalam pengelolaan harta.

Mengelola harta dengan baik dan benar, dapat terjadi apabila ada keyakinan bahwa Tuhan adalah Allah pemelihara yang mencukupkan segala keperluan kita, dan puas dengan apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Ketentraman jiwa adalah sangat penting. Orang yang tentram jiwanya tidak akan merasa cemas walaupun ia kaya atau miskin menurut ukuran dunia, sebab mereka tahu bahwa mereka kaya di hadapan Allah. Karena itu, serahkan hidupmu pada Tuhan, sebab Ia lebih bijaksana mengatur hidupmu. Mintalah tuntunan Tuhan mengelola hidup dan setiap apa yang Tuhan percayakan kepadamu, agar Tuhan mempercayakan yang lebih besarlagi kepadamu. Amin.
Depok, Medio Oktober 2009
Pdt. Hotman Hutasoit, M.Th
Pendeta HKI Resort Depok

Peran dan Tanggung Jawab Penatua dalam Pemeliharaan Keutuhan Ciptaan
Makalah untuk peserta pembinaan pembekalan penatua Huria Kristen Indonesia (HKI) se Resort Tanah Jawa di Hermina Retreat Centre - Parapat
tanggal 22 Oktober 2009.

Oleh Eliakim Sitorus
Konsultan Program KPKC Sekber UEM


Di balik keprihatinan besar perihal kerusakan sumber daya alam di berbagai tempat, masih ada juga harapan, bahwa semakin banyak orang sadar bencana yang mengintai akibat perusakan alam ini. Menurut hemat saya telah muncul kesadaran baru bahwa Gereja dan warga gereja sesungguhnya turut bertanggung jawab atas kondisi planet kita dan juga bertanggung jawab atas situasi aktual lingkungan hidup di mana warga gereja tersebut berada. Semoga kemunculan kesadaran baru itu mendorong lahirnya pula keprihatinan orang tentang sikap yang benar dalam pengelolaan sumber daya alam di sekelilingnya.

Gereja memegang peranan penting dalam melestarikan sumber daya alam yang tersedia, serta usaha-usaha mulia peningkatan derajat kehidupan warganya, tanpa harus merusak alam. Merusak alam, semata-mata untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi semata, bukan pilihan yang teologis bagi komunitas Kristen. Dalam kaitan ini, penatua, selaku elemen pelaku di dalam dinamika organisasi Gereja, tentu sangat strategis, meskipun jarang sekali diperbincangkan. Baiklah percakapan ini kita mulai dari Gereja secara institusional, lalu nanti menukik ke kelompok penatua di HKI.
Dasar Keterlibatan Gereja dalam Menjaga Keutuhan Ciptaan
Pertama, dasar keterlibatan Gereja dalam membenahi bidang kehidupan jemaat sesungguhnya menjadi fondasi utama dari pelayanan Gereja bagi warganya. Bahkan sebenarnya adalah keharusan. Landasan teologianya cukup kuat. Yaitu Penciptaan. Maka, ‘Allah melihat segala sesuatu yang diciptakanNya itu ‘baik adanya’, demikian kita baca dalam Alkitab. (Kejadian 1). Bahkan ada tafsir yang mengasikkan, bahwa Tuhan Allah sesungguhnya menciptakan alam ciptaanNya lebih dahulu, barulah kemudian manusia. Sekalipun manusia adalah peta dan gambarNya (citra), tetapi karena diciptakannya belakangan, jangan-jangan sesungguhnya Allah juga mengutamakan ciptaanNya, jika tidak sama dengan manusia. Bukan saatnya kita untuk memperdebatkan tafsir teologis ini sekarang. Yang perlu kita catat adalah Tuhan Allah melihat bahwa CiptaanNya itu BAIK ADANYA. Teologia Taman Eden. Allah tidak mencipta alam yang rusak.
Dalam perkembangan pemahaman teologia kita selalu saja dinamis. Ada perubahan ada pergeseran. Pergeseran itu antara lain, kehidupan manusia dilihat menjadi dua bagian, yakni kehidupan jasmani (fisik/daging) dan kehidupan rohani (non fisik/tondi). Ada kalangan Gereja yang memilah hal itu sangat kontras (separatif). Ada Gereja yang hanya mengurusi kerohanian warganya, melupakan kehidupan riil dan nyata fisik warganya. Seolah Gereja itu adalah departemen transmigrasi, yang hanya akan memindahkan warganya dari bumi ke surga (pietis). Karena itu yang terpenting adalah hidup nanti di surga. Di sini di planet ini, hanya persinggahan belaka. Tetapi ada juga kalangan gereja yang samar-samar, tidak ada penekanan, apakah yang lebih diutamakan kehidupan rohani atau badan. Bisa jadi ada juga Gereja yang lebih menekankan pelayanan “duniawi” jemaat, kurang dalam bidang kerohanian.

Syukurlah dalam perkembangannya akhir-akhir ini, di aras internasional, dan sudah mulai di tingkat nasional, juga lokal ada kesadaran bersama di antara para pemimpin aliran-aliran teologia yang berbeda itu, bahwa warga gereja yang kita layani itu harus secara utuh (holistic), jangan dipilah-pilah roh dan jasmaninya. Pelayanan gereja bagi warganya harus konprehensif, lengkap dan menyeluruh. (Bandingkan dengan Lukas 4 : 18 – 19). Kerelaan Allah menjadi manusia, guna melepaskan manusia yang berdosa dan lingkup hukuman yang semestinya diterima, sering dijadikan inspirasi bagi Gereja dan perangkatnya, bagaimana Allah yang juga “mengurusi” fisik manusia, tidak hanya roh. Sebutlah ini Mandat Ilahi.
Secara khusus untuk ungkapan keperdulian terhadap alam dan sumber daya yang ada, maka Kejadian 2: 15 – 17, menjelaskan bahwa Allah menugaskan manusia untuk mengawasi dan mengelola alam ini, berikut semua sumber daya yang terkandung di dalamnya. Tugas itu, pernah disalahartikan. Seolah manusia diberi mandat untuk menguasai dan memberlakukan alam ini sesuka hatinya. Hingga sekarang pun tentu saja ada pemikiran demikian, bahwa manusia “berkuasa” atas alam. Sehingga alam ciptaan dieksploitasi tanpa batas. Hutan ditebangi habis. Sehingga menjadi gundul, akibatnya tidak ada lagi kanopi menahan air hujan, tidak ada akar pohon menahan air dalam tanah. Dampak berikutnya banjir pada musim hujan, dan kering kerontang saat musim kemarau. Ada juga eksploitasi mineral dari perut bumi yang dilakukan dalam skala besar-besaran. Sehingga tidak bisa tidak menggangu keseimbangan ekologis alam. Selanjutnya kehidupan manusia terganggu.
Atas dasar itulah, maka Gereja mempunyai peran penting dalam seluruh proses kehidupan warga jemaatnya di dunia ini, baik keterlibatannya dalam bidang pertanian, peternakan, perindustrian dan perikanan karena manusia memang hidup dengan memanfaatkan produksi bidang pertanian dan peternakan dan perindustrian yang ramah lingkungan.

Dalam Tata Dasar HKI, Bab III Usaha, Pasal 11, huruf (F) ditulis “Memelihara keutuhan ciptaan Tuhan (Kejadian 2: 15; 1: 28; Mazmur 104). Ini harus dikaitkan dengan Bab V Pelayan, Pasal 14, bahwa Petanua juga masuk dalam kategori pelayan tertahbis yang bertugas mengimplementasikan tugas Gereja (Epesus 4: 11 – 12).

Kedua, dalam hal partisipasi pengelolaan lingkungan hidup (LH)P, maka Gereja sebagai lembaga resmi yang memiliki anggota, berhak dan berkewajiban turut serta di dalamnya. Gereja berada eksis di dunia ini dan bekerja di lingkup masyarakat, bangsa dan negara tertentu, maka dengan demikian sahlah kehadiran dan keterlibatannya dalam aktivitas peningkatan taraf kehidupan anggotanya, yang adalah bagian integral dari masyarakat di mana gereja itu bekerja, melayani dan bersaksi. Karena itu HKI, sebagai lembaga keagamaan yang resmi diakui oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia, maka berhak untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik sekaligus berkewajiban turut serta memelihara kelestarian sumber daya alam (SDA).

Untuk kita di Indonesia, Undang-undang No. 23 Tahun 1997 X) tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup sudah mengatur hal tersebut, meski tidak secara eksplisit menyebut gereja di dalamnya, melainkan orang perseorangan dan/atau kelompok orang, dan/atau organisasi badan hukum. Bab III “Hak, Kewajiban dan Peran Masyarakat”, pada Pasal 5 (hak) hingga Pasal 6 (kewajiban) sudah dengan rinci mengaturnya.

Saya kutip selengkapnya Pasal 5;
1> Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
2> Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup.
3> Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penjelasan ayat (2) di atas: “Hak atas infomasi lingkungan hidup suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup, di samping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data, keterangan, atau infomasi lain yang dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat, seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup, laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup, baik pemantauan penataan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup dan rencana tata ruang”.
Penjelasan ayat (3) di atas: “Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan, baik dengan cara mengajukan keberatan, maupun dengan pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup. Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup”.
Selengkapnya Pasal 6:
1> Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup seerta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.
2> Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akuran mengenai pengelolaan lingkungan hidup.

Penjelasan ayat (1):”Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagaimana anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagaimana individu dan makhluk sosial. Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. Misalnya, peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup, kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup”. Ayat (2):”Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggungjawab usaha dan/atau terhadap ketentuan peraturan perundangan-undangan”.

Sedangkan Pasal 7 selengkapnya demikian: 1. Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolan lingkungan hidup. 2. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas, dilakukan dengan cara:
a> Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan;
b> Menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat;
c> Menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial;
d> Memberikan pendapat saran;
e> Menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan.

Dari uraian itu, maka tampak jelaslah peran dan tanggungjawab yang bisa dimainkan oleh lembaga keagamaan (baca: gereja, termasuk HKI) dalam keikutsertaannya mengelola sumber daya alam dan konservasi lingkungan hidup.

X) Saya mohon maaf, bahwa sesungguhnya UU No. 23 tahun 97 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, sesungguhnya sudah diganti dan diperbaharui dengan UU No. 32 tahun 2009 tentang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang saya belum sempat beli bukunya. Tetapi secara substantif, tidak terlalu banyak perubahan dalam ranah partisipasi dan keterlibatan warga Negara dalam pengelolaan lingkungan hidup, yang dalam bahasa kita di Gereja, kita sebut Keutuhan Ciptaan.

Bagaimana penerapannya di lapangan :
Penatua dan Petani di kawasan pedesaan.

Ketiga, secara teknis muncul dan berkembang luas di kalangan masyarakat petani, bahwa penggunaan sarana produksi pertanian beracun pada saatnya akan merugikan petani sendiri. Sedangkan untuk jemaat Gereja kita di perkotaan, tidak boleh tidak harus dimunculkan pemahaman baru tentang sikap dan tindak pengelolaan sampah yang lebih bagus dari sebelumnya.
Bahan dan sarana produksi yang mengandalkan penggunaan bahan kimia anorganik seperti pupuk kimia, pestisida[1] di samping menurunkan tingkat kesuburan tanah, juga memberi dampak negatif bagi kesehatan lingkungan di samping melambungkan (menaikkan) ongkos produksi. Untuk itu, sudah banyak petani dan peternak di berbagai penjuru bumi yang kembali ke sistem pertanian dan pertanian selaras alam atau pertanian organik.(Back tu nature). Yaitu sistem pertanian yang mengurangi sedemikian rupa penggunaan in put dari luar proses pertanian dan meningkatkan penggunaan bahan-bahan alamiah yang tersedia di lingkungan pertanian itu sendiri.
Pengetahuan dan keterampilan pertanian selaras alam ini sesungguhnya bukan barang baru, sebab sudah dilakukan oleh para pendahulu petani dan peternak. Justru penggunaan pupuk kimia dan pembasmi hama/penyakit kimia itulah yang relatif masih baru diintrodusir ke dunia ketiga (negara-negara sedang berkembang) oleh para pemilik perusahaan penghasil pupuk dan pestisida kimia dari luar negeri. Ada juga pemodal yang telah membangun pabrik pupuknya di negara-negara dunia ketiga di Asia dan Amerika Latin, tetapi sesungguhnya modal masih didominasi dari negara maju. Itulah sebabnya harga pupuk dan pestisida kimia cenderung akan menaik dan mahal, apalagi pemerintah kita yang dulunya masih bersedia memberi subsidi untuk harga pupuk sekarang sudah dicabut atau mengurangi atas saran dari lembaga keuangan internasional. Ini sisi buruknya proses globalisasi yang sudah melanda dunia.
Karena itu, tugas Gereja sebagai lembaga sosial yang berkepentingan dengan keselamatan dan kesehatan warganya untuk terus mendampingi petani supaya suatu saat nanti menghentikan sama sekali penggunaan segala bahan dan input yang beracun di dalam proses produksinya. Di samping menjaga kesehatan tubuh, kelestarian lingkungan juga mengurangi secara drastis ongkos produksi. Memang bagi petani yang sudah tergantung terhadap pupuk kimia dan pestisida akan mengajukan keberatan terhadap gagasan ini. Bertani dengan menggunakan bibit unggul import, pupuk kimia dan pestisida buatan pabrik seolah lebih ringan, gampang dilakukan, tetapi sesungguhnya merugikan secara keseluruhan proses produksi tani.
Tetapi pengalaman petani di negara/daerah yang sudah maju, yang sudah lebih dahulu menjadi “korban” industrialiasi pertanian membuktikan “kembali ke alam” merupakan jalan terbaik daripada semakin terperosok ke lembah racun. Untuk konteks lokal kita di Sumatera Utara, barangkali petani kita baru satu generasi yang sudah sangat tergantung terhadap produk pabrik industri pupuk kimia dan pestisida. Petani dan peternak generasi baru, sudah banyak yang menyadari salah kaprah tersebut dan dengan tekun menggunakan pupuk hijau, taru-taru, ugan-ugan, kompos, bokashi, serasah, mikrobia, dan lain sebagainya bentuk bahan yang sesungguhnya tersedia di alam sekitar kita ini. Sama halnya dengan bidang lain seperti kesehatan, masyarakat bersedia mencari alternatif lain dari obat-obatan produk pabrik kimia selama ini. Tujuannya ganda, pertama mengurangi beban biaya, yang kedua mengurangi dampak negatifnya bagi tubuh dan lingkungan. Masalahnya adalah apakah kita mau atau tidak merubah diri dari kebiasaan ketergantungan semua bahan bermuatan kimia tersebut!
Di sinilah, menurut saya kata kunci, bagaimana Peran dan Tanggung jawab Penatua Gereja dalam hal Pemeliharaan Keutuhan Ciptaan, sebagaimana tama diskusi kita ini. Penatua adalah eleman garus depan (front liner) pelayanan Gereja kepada umat atau warga gereja kita. Dengan begitu, Penatua yang berprofesi (bermata pencaharian) sebagai petani, harus yang pertama dan terutama menerapkan pertanian selaras alam ini. Harus diyakinkan bahwa, tugas menjaga keutuhan ciptaan, adalah juga tugas kepenatuaan.
Dengan demikian tidak ada alasan bagi penatua HKI untuk mengelak dari tugas pelestarian sumber daya alam atau menjaga keutuhan ciptaan Tuhan, sekalipun dalam Peraturan Rumah Tangga HKI, Bab V, Pasal 15, huruf (g), tidak atau belum dengan tegas disebut tugas penatua ‘turut mengaja keutuhan ciptaan’. Tugas-tugas yang ditulis di PRT HKI, masih sangat kecil lingkupnya dan internal sifatnya. (Halaman 27, “Tata Gereja HKI 2005 – Termasuk Revisi dan Perubahannya”).
Keempat, keluhan petani yang sudah memproduksi hasil pertanian melebihi dari apa yang sekedar dimakan (subsisten) adalah masalah pemasaran. Hampir semua komoditi petani kita mengalami kejatuhan harga pada saat panen tetapi saat membeli bibit dan pupuk harganya melambung[2]. Tentu saja ini masalah struktural yang membutuhkan kerjasama antara pemerintah dengan petani sebagai produsen. Namun, kita sebagai Gereja tidak bisa hanya berpangku tangan. Harus ada yang dilakukan. Salah satu di antaranya adalah mengatur jadual tanam seturut dengan musim dan kemampuan pasar menyerap produksi semua jenis komoditi petani warga jemaat kita.
Gereja tidak bisa membiarkan warganya berjuang sendiri untuk memperoleh pasar bagi produksi mereka. Untuk ukuran skala kecil terbatas, patut pula dipikirkan untuk memasarkan produk pertanian warga jemaat di pedesaan kepada warga jemaat gereja di kota. Petani adalah produsen sedangkan penduduk kota adalah konsumen. Baik produsen di desa maupun konsumen di kota sebagian adalah warga gereja kita. Mengapa kita tidak mencoba menyambungkan kedua kelompok warga tersebut?.
Untuk maksud itu, maka sangat diperlukan organisasi petani dan organisasi warga konsumen, dalam bahasa umum disebut organisasi rakyat basis. Gereja bisa memperkuat organisasi petani di lingkungan di mana gereja itu melayani dan menghubungkannya dengan organisasi warga di kota yang akan menjadi konsumen bagi produk pertanian warga gereja tertentu. Sukarkah itu dilakukan oleh gereja? Sesungguhnya tidak. Sebab gereja mempunyai akses dan keterkaitan dengan warga, penatua penyambungnya sehingga relatif lebih gampang melakukan penguatan organisasi petani, ketimbang organisasi lain semacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ikatannya dengan kelompok warga petani masih sangat longgar dan harus dibangun dari dasar. Menumbuhkan kepercayaan di antara LSM dengan petani membutuhkan waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Banyak contoh memang LSM atas dasar kemanusiaan sudah berhasil memberdayakan organisasi rakyat, termasuk petani. Sementara gereja, sebagaimana disebut tadi, memiliki keterkaitan langsung (petani adalah jemaat gereja), maka akan lebih mudah mengorganisir jaringan pemasaran produk pertanian. Sekali lagi memang di sini dipertanyakan, apakah gereja sudah memiliki komitmen untuk “hidup bersama petani”? Jika ya, maka tidak ada dalih, bahwa gereja tidak bisa membantu meningkatkan kesejahteraan umatnya yang berprofesi sebagai petani. Jika jemaat sejahtera, maka gereja pun sejahtera. Orientasi pelayanan memang harus semakin diarahkan ke bidang-bidang kehidupan nyata warga jemaat gereja.
Penutup
Oleh karena penatua adalah bagian dari warga jemaat, maka perubahan temperatur oleh karena perubahan iklim/cuaca (climate change), secara langsung berpengaruh kepada kita, maka sudah selayaknyalah kita bersikap. Tentulah kita sudah membaca atau mendengar tentang Pemanasan Global (global warming), yaitu perubahan suhu planet yang semakin ekstrim, disebabkan perubahan keseimbangan ekologis di bumi dan angkasa. Hal itu terjadi karena pembakaran yang terjadi secara besar-besaran, efek rumah kaca, menciutnya permukaan bumi yang tertutupi oleh kanopi, sehingga menaikkan temperatur bumi, melelehkan gunung es (gletsyer) di kutub, mengalir ke laut dan memperluas permukaan air yang menutupi darat.

Pada akhirnya, terjadi dampak negatif bagi kehidupan fauna dan flora di bumi. Gereja secara global sudah menaruh perhatian terhadap ini. Warga gereja harus ikut ambil bagian secara pro aktif mengurangi dampak pemanasan global, yaitu dengan menanami sebanyak mungkin pohon, mengurangi pemakaian energi tak terbarukan, menjaga kebersihan danau, tidak mencemari sungai, mengurangi penggunaan sampah anorganik. Dan secara khusus bagi petani, mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida seraya menaikkan jumlah pemakaian pupuk organik.
Tuhan menyertai kita melaksanakan tugas mulia ini! (***)
Terima kasih! Parapat, 22-10-2009.

[1] Pestisida berasal dari bahasa Inggris, kata pesticide artinya obat pembunuh hama pengganggu tanaman. Khusus untuk gulma atau rumputan tanaman pengganggu disebut herbicide. Khusus untuk pembasmi jamur disebut fungicide.

[2] Ini seperti lingkaran setan , harga jual petani rendah, padahal ongkos produksi tinggi karena harga sarana produksi pertanian (saprotan: bibit, pupuk dan pestisida) tinggi. Rantai itu harus diputus, dengan menghentikan pemakaian pupuk kimia dan pestisida, sehingga meskipun harga jual produk rendah, tetapi margin keuntungan bagi petani produsen sudah memadai, sebab biaya produksi rendah.

Berburu Beasiswa Ke Luar Negeri
Oleh : Fernando Sihotang

Capailah cita-cita mu sampai ke negeri cina. Kiasan ini mungkin bukan hanya sekedar kata yang sering diucapkan oleh guru ataupun berupa nasihat dari orang tua, akan tetapi kali ini saya capai hingga ke Eropa.

Buat sebagian orang pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang terjangkau oleh kantong dan otak, tapi tidak sedikit juga yang berpikiran untuk mencapai pendidikan jauh dinegeri orang. Mengecap pendidikan di luar negeri adalah harapan dan sekaligus impian setiap orang untuk mendapatkan nya dikarenakan mutu pendidikan dan juga prestise yang didapatkan. Pada dasarnya impian itu bukan hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan secara finansial, mereka yang tidak memiliki finansial yang memadai juga bisa merasakan peluang yang sama untuk mengecap pendidikan di luar negeri. Berbagai hal ditempuh untuk mendapatkan impian tersebut, salah satunya adalah dengan berburu beasiswa. Ini bagi kebanyakan orang dianggap sebagai jalan alternatif jika kondisi keuangan tidak memungkinkan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Bukan hal yang mudah bagi setiap orang bisa mewujudkan impian tersebut, selain ketekunan yang menjadi syarat utama juga banyak prosedur yang harus dilakukan. Jika dilihat dari persyaratan yang harus dipenuhi, sekilas dapat mematahkan semangat para pencari beasiswa. Tidak hal yang sulit lagi saat ini mendapatkan informasi kesempatan mendapatkan beasiswa dari lembaga-lembaga donor bagi warga negara indonesia yang semakin banyak ditawarkan. Banyak peluang yang bisa didapatkan dengan menggunakan teknologi seperti halnya browsing di internet dan semakin banyak nya komunitas pencari beasiswa yang dapat diikuti. Komunitas tersebut dapat saling menukar informasi beasiswa seperti yang saya lakukan dengan bergabung di mailling list.

Pengalaman saya mendapatkan dua kali study (beasiswa) di Eropa tidak terlepas dari intensitas yang banyak saya tujukan untuk melakukan pencarian beberapa situs di Internet, dan barangkali banyak orang menyangka bahwa saya lama di Internet hanya sekedar membuka Facebook dan bermain Poker. Internet sangat menjanjikan dalam penyediaan informasi tersebut yang pada akhirnya saya dapat mengecap pendidikan di Serbia pada awal tahun 2009 dan yang sudah menerima kepastian adalah di Swiss pada tahun 2010. Jika anda tertantang dengan informasi yang tersedia anda dapat menjelajahi nya jika application nya sedang lagi ditawarkan oleh pihak pemberi beasiswa tersebut yang beragam jenis seperti beasiswa short course, internship, international conference serta beasiswa gelar (S1, master maupun PhD). Walaupun peluang pertama ini saya dapatkan berawal dari niat yang masih hanya sekedar mencoba keberanian diri karena saya menyadari bahasa inggris saya masih jauh di bawah standard dan hanya bermodalkan percaya diri serta juga Tuhan. Selanjutnya saya mengirimkan berkas-berkas yang diminta lewat email lembaga tersebut setelah saya mengisi application nya selama satu bulan – seharusnya satu hari mungkin bisa selesai jika kompeten. Puji Tuhan saya dipanggil untuk mengikuti interview di kampus UI – Depok dengan perasaan pesimis setelah melihat Curiculum Vitae peserta lain yang sudah melanglang buana ke luar negeri. Akan tetapi sekali lagi saya katakan bahwa saya hanya mampu meyakinkan mereka untuk mengembangkan bahasa saya selama dua bulan sehingga mereka tertarik dengan tantangan yang saya sampaikan dalam interview tersebut. Alhasil saya lulus.

Kembali dari Serbia, saya memulai untuk mencari informasi beasiswa lain nya – tanpa syarat TOEFL – di internet yang kebetulan Lutheran World Federation (Swiss) sedang memberikan peluang Internship untuk pemuda Kristen di seluruh dunia. Rasa pesimis itu muncul lagi dengan melihat syarat yang jauh lebih berat dari apa yang saya bayangkan yaitu penguasaan bahasa selain bahasa Inggris serta juga lembaga ini hanya memberikan peluang kepada satu orang. Terbayang sesaat jika yang mengajukan diperkirakan ratusan bahkan ribuan orang. Akan tetapi doa meyakinkan ku untuk berjuang sekeras tenaga walaupun pendaftaran nya akan tutup dalam tempo 10 hari dan harus menemui amang Ephorus untuk meminta dukungan dalam hal pernyataan saya sebagai anggota jemaat HKI dan juga keterlibatan saya di PNB HKI. Usaha itu saya lakukan dengan menemui amang Ephorus secara resmi . Akhirnya dengan dukungan Letter of Recommendation dari Pucuk Pimpinan HKI dan Letter Of Reference salah satunya dari Pdt. Happy Pakpahan serta motivasi dari amang Ephorus serta tantangan yang saya lalui membuat saya semakin yakin "SAYA PASTI LULUS".

Banyak dari antara kita mungkin masih beranggapan bahwa mendapatkan surat pernyataan/rekomendasi dari HKI sangatlah sulit dan hanya segelintir orang (keluarga pendeta/majelis pusat) yang bisa mendapatkan nya. Saya merupakan anak seorang pendeta HKI (Pdt. Eli M.B Sihotang) dan tidak pernah mengatasnamakan orang tua untuk hanya memohon atau pun bertemu dengan Pucuk Pimpinan HKI. Bahkan orang tua saya sendiri tidak mengetahui rencana ini sampai saya dinyatakan lulus seleksi dan akan berangkat ke Swiss. Siapapun personal nya jika memiliki keinginan kuat disertai kemampuan yang memadai, HKI akan selalu memberikan dukungan yang terbaik.

Pada tanggal 30 October saya mendapat informasi dari Lutheran World Federation (Swiss) bahwa saya diterima study selama 10 bulan dengan mendapat biaya full yang akan ditempatkan bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai satu-satu nya utusan Pemuda dari seluruh dunia setelah melewati dua tahap seleksi termasuk interview lewat telepon. Saya merasa bangga sebagai pemuda HKI yang berhak mendapatkan peluang tersebut dan memberikan nilai plus bagi HKI dimata dunia Internasional nantinya. Bagaikan mimpi.

Saya menyadari tidak semudah yang kita pikirkan memperoleh peluang itu. Motivasi adalah kunci utama yang saya bangun sendiri dengan dibalut oleh doa dan itu menjadi senjata utama saya bisa mendapatkan peluang tersebut. Diawal saya merasa pesimis dengan kemampuan dan keahlian saya termasuk pengetahuan bahasa saya yang dahulunya bisa dikatakan "tidak layak", namun motivasi itu lah yang kemudian menjadi guru terbaik dengan semangat belajar sendiri – karena tidak punya dana untuk ikut kursus.

Banyak program beasiswa ditawarkan dan itu semua tersedia di Internet yang sudah mudah di akses di manapun. TOEFL Internasional memang banyak dijadikan sebagai syarat mutlak beberapa pemberi beasiswa ke luar negeri. Mungkin ada beberapa dari antara anda yang memiliki nasib sama dengan saya, (tidak mampu secara finansial untuk membayar Tes TOEFL – kira-kira 2 juta rupiah – dan juga bahasa Inggris yang masih standard) anda bisa mencari alternatif dengan mencari beasiswa yang tidak menjadikan TOEFL sebagai syarat utama. Program Internship yang pernah saya dapatkan di Serbia dan yang saat ini saya dapatkan di Swiss tidak meminta syarat tersebut akan tetapi kita diwajibkan membuat essay – tergantung akan isu dan program yang sedang digeluti. Sebagai contoh saya membuat essay tentang hak asasi manusia yang menjadi salah satu fokus UN Commitee for Human Rights di Swiss yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman sosial saya. Ini digunakan oleh beberapa orang sebagai batu loncatan untuk mendapatkan Beasiswa Master atau PhD dikarenakan penguasaan bahasa yang pasti akan semakin baik dan juga pengalaman internasional serta kepercayaan diri yang semakin tinggi.

Tidak banyak yang bisa saya sampaikan dalam tulisan ini akan tetapi saya terbeban untuk sharing dan berbagi pengalaman dan informasi bersama teman-teman PNB HKI dengan membangun komunikasi dengan saya. Besar harapan saya kita bisa memantapkan kualitas sebagai seorang anak HKI yang punya semangat juang yang bisa membanggakan gereja, orang tua dan orang Kristen. Saya bangga mempersembahkan tulisan dan pesan ini kepada orang-orang khususnya PNB HKI. Saya diingatkan oleh amang Pdt. HP yg bertugas di Kantor Pusat HKI bagaimana globalisasi semakin membuka peluang kita untuk berkarya di kancah internasional. Artinya juga orang Indonesia (termasuk PNB HKI) tertantang untuk berkompetisi SDM dengan anak-anak dari bangsa lain. Semangat ini harus di sharingkan salah satunya lewat tulisan kepada PNB HKI agar kiranya bersama-sama kita berjuang untuk mendapatkan pendidikan dan juga pengalaman di luar negeri untuk kemudian pengalaman itu dipersembahkan melalui pengabdian kita kelak kepada TUHAN melalui Gereja HKI yang kita cintai. Ini juga jadi harapan saya nantinya kita dapat membangun Gereja secara umum dan juga PNB secara khusus lewat mutu pendidikan serta prestasi yang kita capai. Jangan pernah malu untuk bermimpi karena semuanya pasti dimulai dengan "MIMPI". Semangat berjuang dan raihlah cita-cita mu. Tuhan beserta kita. Amin
Telp : 085275872494
Email : fernando.sihotang@gmail.com

Berita Kegiatan MBW Edisi Desember 2009 - Januari 2010



KEGIATAN DIAKONIA PW HKI ASUHAN STADION
Penyuksesan Tahun Diakonia HKI 2009, maka HKI Resort Asuhan Stadion, melalui program PW (Punguan Wanita) HKI mengadakan pelayanan sosial terhadap anak-anak Panti Asuhan Zarfat. Kegiatan pelayanan sosial diadakan pada tanggal 13 April 2009 tepatnya pada hari Paskah ke-II. Pelayanan Sosial tersebut diikuti oleh seluruh anggota PW HKI Asuhan Stadion, anak-anak Panti Asuhan Zarfat. Demikian juga disertai beberapa Parhalado, Majelis Jemaat HKI Asuhan Stadion, dan PNB HKI Asuhan Stadion. Kedatangan PW HKI Asuhan Stadion disambut baik oleh anak-anak Zarfat dan pembina (Diak. R. Br. Hombing dan Diak. Br. Tobing)
Kegiatan pelayanan PW ditandai dengan rasa kepedulian dan memberikan perhatian khusus serta hidup saling mengasihi. Hal ini terlihat dari penyambutan anak-anak Panti Asuhan Zarfat terhadap PW HKI Asuhan Stadion dan dalam sambutan yang penuh kasih sayang dari ibu-ibu PW HKI Asuhan Stadion terhadap anak-anak Panti Asuhan Zarfat.
PW HKI Asuhan Stadion memberikan kesan-kesan yang indah bagi anak-anak Zarfat, melalui kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah:
1. Kebaktian Bersama.
2. Makan Siang bersama
3. Ramah Tamah
4. Hiburan-hiburan
Hal yang berkesan bagi PW HKI Asuhan Stadion, ketika mereka meninggalkan tempat, anak-anak Panti Asuhan Zarfat mengantarkan PW HKI Asuhan Stadion dan memberikan salam, serta melambaikan tangan seraya mengatakan "Ingatlah kami anak-anakmu disini mama", dan mengucapkan "Da.... da mama.... Dari wajah paara PW HKI Asuhan Stadion terlihat masih menginginkan kebersamaan dan tidak ingin terlepas dari anak-anak Zarfat. PW HKI Asuhan Stadion memberikan lambaian tangan seraya mengatakan "Selamat tinggal anakku, mama akan mengingatmu dan akan kembali datang bersamamu".

Pembinaan Parhalado se-Resort HKI Resort Lawedesky, Daerah IV Dakota
Thema: "Penatua yang Melayani", 05 Oktober 2009, HKI Lawe Tua
Pada tanggal 05 Oktober 2009 bertempat di HKI Lawe Tua, telah dilaksanakan kegiatan Pembinaan Parhalado se-Resort Lawedesky. Kegiatan Pembinaan se-hari ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar akan tugas dan panggilannya sebagai pelayan Tuhan di tengah-tengah jemaatNya. Dirasakan bahwa semakin banyak para penatua, khususnya di Resort Lawedesky, yang tidak lagi menjalankan tugas dan panggilannya dengan baik. bahkan ntidak sedikit yang kehilangan oriwentasi pelayanan. Hal ini sangat mengganggu jalannya program pelayanan yang telah diaturkan baik di tingkat jemaat maupun resort. Sebagai contoh, kegiatan partangiangan (kebaktian Rumah Tangga), tidak lagi dilaksanakan karena kurangnya tanggung jawab dari parhalado untuk melaksanakannya.

Kegiatan ini menghadirkan 2 pembicara, yaitu Pendeta Resort HKI Lawedesky (Pdt. Riston Eirene Sihotang, S.Si.(Teologi), dan Praeses HKBP Distrik XII Tanah Alas (Pdt. T. P. Nababan, S.Th). Tepat pukul 10 pagi, acara dimulai dengan pembicara pertama Pendeta Resort HKI Lawedesky. Dalam makalahnya yang berjudul "Identitas HKI Dalam Pelayanan", mencoba untuk mengangkat identitas HKI yang perlu dipahami para penatua. dalam identitas, yang ingin dikemukakan adalah pemahaman tentang siapa kita dan apa yang membedakan kita dengan yang lain. tanpa pengenalan diri yang baik, para penatua akan mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya sebagai penajaga iman jemaat di tengah beragam penagajaran yang ada disekitar kita.
Setelah selesai makan siang, para parhalado se-resort Lawedesky mendengarkan pembicara ke dua, Pdt. T. P. Nababan, S.Th. Lewat makalahnya yang berjudul "Tohonan Sintua di huria Batak", diuraikan makna tohonan hasintauon dalam budaya Batak dan juga dari Alkitab (PL dan PB). Berdasarkan penguraian tersebut, diuraikan apa yang menjadi tugas dan panggilan bagi para Penatua di Huria Batak. dalam kesimpulannya, beliau menegaskan bahwa tugas sseorang penatua di huria batak adalah "untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus" (Efesus 4:12). Menasihati, mengkotbahkan dan memberitakan kabar baik atau kehendak Allah, itulah yang menjadi tugas dari penatua dan para [pelayan lain yang menerima tahbisan. semua itu merupakan tugas untuk membangun dan memelihara tubuh Kristus. Kritus lah yang harus dipermuliakan di dalam gereja, bukan pelayanNya.
Kegiatan ini ditutup pasda pukul 15.00 WIB dengan doa oleh Pdt. T.P. Nababan, S.Th. Kegiatan ini sendiri akan berlanjut dengan kegiatan Pelatihan Berkotbah bagi para penatua se-resort Lawedesky, yang dilaksanakan selama bulan Oktober dan November 2009. Diharapkan lewat Pembinaan dan Pelatihan ini, para Penatua se-Resort Lawedesky menjadi semakin dimampukan untuk melayani Tuhan demi kemuliaan NamaNya.


Workshop SYIS Stage 2 North Sumatra

SYIS, adalah singkatan/istilah yang baru terdengar saat ini di dalam aktifitas pelayanan dan rapat-rapat pelayanan secara khusus di Sumatera Utara. SYIS (Sharpening Your Interpersonal Skills) Workshop adalah Lokakarya/Kursus dengan tujuan untuk Mempertajam Kemampuan Interpersonal Para pelayan dan Pekerja Kristen. SYIS ini adalah lanjutan Tahap 1 di tahun lalu (2008) yang terlaksana atas kerjasama GKPI dengan NLM (Norwegian Lutheran Mission) dan ITP (International Training Partners) serta saat ini mamasuki Tahap 2 (2009) yang telah berhasil mempengaruhi kehidupan pengerja Kristen di seluruh Dunia.

Pucuk Pimpinan HKI dengan Surat Tugas pertanggal 04 September 2009 mengutus 3 orang Pendeta HKI untuk mengikuti Lokakarya ini, yaitu : Pdt. Northon Sinaga, STh, Pdt. Edwin JP. Simanullang, STh dan Pdt. Likson Simanjuntak, STh. Lokakarya ini dilaksanakan di Hotel Silintong, Jl. Durian No. 5, Tuktuk Siandong, SAMOSIR pada tanggal 13-18 September 2009.

Pelatihan untuk Mempertajam Kemampuan Interpersonal ini dikembangkan oleh seorang Missionaris dari Wyclife Bible Translator, Dr. Ken Williams, yang juga seorang pemimpin missionaris dan para missionaris dari seluruh dunia.

Peserta Seminar ini sebanyak 22 orang peserta dari berbagai denominasi gereja dan lembaga/organisasi. Mereka ditraining oleh 6 Fasilitator yaitu:

  1. James North yang telah bekerja dengan ”para Navigators” di Jawa selama beberapa Tahun. Dia menikah dengan Janice North. Keduanya memiliki pengalaman sebagai fasilitator SYIS. James North menjadi pemimpin fasilitator dari Seminar SYIS.
  2. Rev. K’Jell Audun Herje bersama dengan istrinya telah menjadi Missionaris dari NLM indonesia sejak Januari 2004. Saat ini dia menjabat sebagai Direktur Wilayah dari NLM Indonesia. Beliau juga pernah mengajar di STT Abdi Sabda Medan. Ia dilatih sebagai fasilitator di Hengchun, Taiwan, Agustus 2007.
  3. Rev. Mangisi SE. Simorangkir ditahbiskan menjadi Pendeta pada tahun 1978. Pernah melayani sebagai Pendeta di Medan, Lubuk Pakam dan Jerman, Gelar MTh diperoleh dari Seminari Lutheran Adelaide, Australia dan DTh dari SEAGST. Saat ini menjabat sebagai Bishop GKPI dan mendapat pelatihan sebagai fasilitator di Hengchun, Taiwan, Agustus 2007.
  4. Nugroho Simson dan istrinya Irwani Simson adalah para Navigator yang bertugas serta melayani di Bandung/Jawa Barat.

Adapun Materi Pelatihan SYIS 2 ini adalah :
A. Sessi : Topik Bahasan

  1. Bagaimana Mengatasi Perusak Hubungan
  2. Mendengarkan Dengan Kasih
  3. Menolong Orang Mengatasi Masalah
  4. Menimba Isi Hati Orang
  5. Menyampaikan dan Menerima Teguran
  6. Menangani Konflik dengan baik
  7. Mengelola Stress
  8. Menjaga Keseimbangan
  9. Menolong Orang Berdukacita dengan benar
  10. Peperangan Untuk Kemurnian Moral
  11. Pilihan Peserta : Membangun Komunikasi
  12. Pilihan Peserta : Membangun Kepercayaan
  13. Menjadi Pendorong Semangat
  14. Integrasi (Menggabungkan Keterampilan dan Pengetahuan)

Para peserta merasa bersyukur kepada Tuhan Sang Raja Gereja dan berterima kasih kepada Pucuk Pimpinan HKI atas pengutusan mengikuti lokakarya ini, karena Pelatihan ini adalah sangat Praktis dan Alkitabiah dengan pendekatan yang sangat menyegarkan. Pelatihan ini juga telah membantu para peserta untuk memiliki sebanyak mungkin sikap yang positif (Positif Thinking) terutama saat menghadapi saat-saat sulit.

Selanjutnya, dengan pelatihan ini, Pucuk Pimpinan HKI mengharapkan kiranya Tenaga Pelayan yang telah mengikuti dan menerima Lokakarya SYIS tahap 2 ini akan bermultiaplikasi dan memberikan energi baru dan Motivasi baru dalam pelayanan di HKI sehingga lebih memaksimalkan pelayanan demi kemuliaan TUHAN Yesus Raja Gereja. Setiap orang harus memiliki kesempatan untuk menghadiri pelatihan ini di lain waktu. Bagi rekan Pelayan - Anggota Jemaat yang berminat mendapatkan copy materi SYIS dapat menghubungi Pdt. Edwin JP. Simanullang, STh di Kantor Pusat HKI, Pematang Siantar.

DEPARTEMEN DIAKONIA HKI MEMBERIKAN PELATIHAN PETERNAKAN ORGANIK DI GEREJA KRISTEN PROTESTAN PAKPAK DAIRI (GKPPD) - SIDIKALANG

Program Pengembangan Peternakan-Pertanian-Perikanan secara Organik merupakan salah satu Prioritas Program yang dilakukan pada Tahun Diakonia HKI 2009. Departemen Diakonia melihat sasaran pelatihan secara organik pun tidak hanya mencakup warga jemaat HKI, melainkan kepada seluruh masyarakat dan Lembaga-lembaga Pemerintah - Non Pemerintah yang tertarik pada metode organik.
Pada tanggal 3-4 September 2009 dan tanggal 11 September 2009 Departemen Diakonia HKI atas undangan Pelmas GKPPD, Sidikalang memberikan pelatihan peternakan organik bagi warga jemaat GKPPD. Pelatihan di pusatkan di Kantor Pusat GKPPD, Jl. Air Bersih Sidikalang.
Materi yang disampaikan mencakup :
1. Pemeliharaan Babi Secara Organik
2. Pemeliharaan Ikan Secara Organik
3. Pemeliharaan Ayam Secara Organik
4. Pemeliharaan Lembu Secara Organik
5. Fermentasi Buah-buahan
6. Fermentasi Daun-daunan
7. IMO
Metode pelatihan adalah teori dan praktek yang secara langsung diperagakan di Pelatihan. Disamping warga jemaat peserta kehadiran, turut hadir dalam pelatihan a.l. Sekretaris jenderal GKPPD Pdt. Berutu, Kepala Pengmas GKPPD Pdt. A. Padang didampingi beberapa Pendeta GKPPD.
Kita dukung dan kembangkan pola peternakan-pertanian dan perikanan organik ini. Sebagai bagian dari program menjaga lingkungan dan meminimalisir pemakaian zat kimia pada setiap proses-hasil peternakan-pertanian-perikanan di masyarakat. Dan bagi warga jemaat atau masyarakat umum yang berminat terhadap metode organik, dapat menghubungi Pdt. Tigor Sihombing melalui email dep.diaconia@hki-online.or.id. Selamat Tahun Diakonia..., Salam DIAKONIA !!! (hp)


DEPARTEMEN DIAKONIA KURSUS SINGKAT PETERNAKAN ORGANIK DI MEREK

Pada tanggal 20 Oktober 2009, Pdt. Tigor Sihombing (Ka.Dep.Diakonia HKI), memberikan Kursus Singkat tentang Peternakan Organik kepada Mejelis Resort GKPS Dolok Uluan. Kursus dilakukan di Merek. Hadir dan mengikuti Kursus a.l Pdt. H. Sinaga, STh (Pendeta Resort GKPS Dolok Uluan), Pdt. Jenny Purba (Contact Person JPIC UEM untuk GKPS) dan Majelis Resort GKPS Dolok Uluan.

Hal yang di diskusikan pada kesempatan ini adalah apa itu pola organik, metode dan usaha bagaimana melepaskan masyarakat desa dari ketergantungan zat-zat kimia dalam pertanian, perikanan dan peternakan. Apalagi semakin dirasakan harga-harga zat kimia produksi pabrik seperti pestisida, pupuk semakin mahal dan juga merusak tanah, air dan hasil produksi sendiri. Untuk itu Peternakan, Perikanan dan pertanian sistem organik adalah salah satu solusi, karna disamping tidak membutuhkan produk2 pabrik seperti, hasil pertanian dan peternakan yang jauh lebih sehat karna terlepas dari zat kimia, juga sangat ramah lingkungan. Diakhir kegiatan disimpulkan bahwa pola organik dapat menjadi salah satu pilihan misi Diakonia Gereja dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salam Diakonia. (hp)

RETREAT PERSATUAN AMA HKI PULO MAS JAKARTA
Sesuai dengan program kerja PA HKI Pulo Mas Jakarta tahun 2009, pada tanggal 21 s/d 22 September 2009 telah dilaksanakan Retreat PA HKI Pulo Mas beserta dengan keluarga. Acara ini difasilitasi oleh kel. St. M. Hutapea/ br. Sipahutar dan mengambil tempat di Villa Alta Cisarua Bogor. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan peran PA dalam pelayanan di Jemaat disamping menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan dilingkungan PA sendiri. Rombongan resmi berkumpul dan berangkat dari gereja HKI Pulo Mas Jakarta, Senin 21 September 2009 jam 08.30. WIB dengan menumpang bus, namun ada juga anggota yang langsung menuju lokasi dengan menggunakan kenderaan pribadi.

Hari pertama diisi dengan kegiatan pelatihan Teknik vocal dan dilanjutkan dengan lomba vocal (tenor 1,2 dan bas 1,2). Sesi ini dipimpin oleh St. R. Siregar, SE. Usai makan malam dilaksanakan ibadah malam dengan pelayanan St. S. Marbun, SH (khotbah), St. TM. Hutabarat (liturgist), St. DR. JRP. Hutabarat, SE, MA (doa Syafaat). Ibadah ini juga diisi dengan puji-pujian solis Tasya br. Siregar, koor Ina Sion dan koor PA sendiri. Lebih lanjut dalam khotbahnya dari 1 Korintus 13 : 1 – 5, St. S. Marbun, SH mengulas bahwa kasih sangat perlu untuk dipelihara. Betapa tidak, sepasang suami istri yang pada saat berpacaran kelihatan begitu mesra, namun setelah sekian tahun berkeluarga kemesraan itu dapat surut. Itulah sebabnya keluarga kristiani perlu menyegarkan kemesraan dalam hidup berumah tangga dengan senantiasa meneladani kasih Yesus Kristus. Kegiatan hari pertama ditutup dengan acara bebas “tarik suara’ yang diiringi oleh keyboardist Franz Silaban. Sesi ini sungguh dinikmati oleh para peserta, secara bergantian bernyanyi solo, duet, trio dan berjoget ria s/d jam 24.00 WIB.

Hari kedua, Selasa 22 September 2009 diawali dengan ibadah pagi. Pelayanan khotbah oleh St. Ir. Edward BP. Sitorus, MBA, Liturgist St. Drs. L. Damanik dan doa Syafaat St. Drs. T. Simamora, MM. Dalam khotbahnya dari Matius 5 : 7 (tema : murah hati) St. Ir. Edward BP. Sitorus, MBA menjelaskan bahwa orang yang suka memberi belum tentu orang yang bermurah hati. Seorang pebisnis yang suka memberi parsel kepada para pejabat bukan karena ia murah hati, melainkan untuk menyogok agar bisnisnya lancar. Seseorang yang memberi uang kepada pengamen jalanan bukan karena murah hati, melainkan untuk mengusirnya karena berisik. Suka memberi tidak menjamin seseorang murah hati. Kemurahan hati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain. Berusaha memahami pikiran dan perasaan orang lain, sehingga muncul rasa simpati yang mendorongnya bertindak demi kepentingan orang itu.

Demikian pemaparan pengkotbah yang juga adalah anggota Majelis Ressort itu. Kemurahan hati salah satu buah roh (Gal 5 : 22). Kemurahan hati salah satu penerapan kasih (1 Kor 13 : 4). Kemurahan hati akan membangkitkan rasa syukur (2 Kor 9 :11). Kemurahan hati adalah kunci bahagia (Mat 5 : 7). Kemurahan hati begitu sentral dalam penataan positif psikologis serta pengayaan spritualitas insani. Kemurahan hati terletak di perasaan manusia yang membahagiakan jiwa dan rohnya. Ibadah pagi ini juga diisi oleh koor Ina Sion dan koor PA. Selepas ibadah dilanjutkan dengan olah raga pagi (senam pagi) bersama.

Sesi berikutnya adalah membicarakan kegiatan PA jangka pendek & jangka panjang. Kegiatan PA masih terfokus pada pelayanan koor, namun sudah dimulai dengan kegiatan olah raga bulu tangkis dan catur. Paduan suara (koor) belum maksimal karena keterbatasan anggota dan SDM. Kendala lainnya adalah masalah pengaturan waktu karena mayoritas anggota PA adalah penetua sehingga sering terbentur dalam waktu pelayanan. Sesi ini dipimpin oleh ketua PA Denny Manurung, SE dan bendahara St. Drs. L. Damanik.

Sesi terakhir adalah pemahaman tentang Tata Gereja HKI yang dipandu oleh Pdt. H. Simanjuntak, STh selaku pendeta Ressort. Sesi ini dilaksanakan mengingat bahwa masih banyak anggota jemaat HKI yang belum memahami Tata Gereja HKI seutuhnya. Rangkaian acara retreat berikutnya adalah permainan/games dilapangan yang diikuti oleh kaum bapak, ibu dan anak-anak dan dilanjutkan dengan pemberian hadiah kepada para pemenang. Tepat jam 15.00 WIB acara retreat ditutup oleh Pdt. H. Simanjuntak, STh dengan doa sekaligus memberangkatkan peserta kembali ke Jakarta. Selamat melayani!.(St..Ir. Edward BP. Sitorus, MBA)
TELAH BERDIRI PAUD EMMANUEL HKI AMBORGANG
Tahun 2009 yang kita sebut sebagai Tahun Diakonia HKI memotivasi seluruh para pelayan di Resort Amborgang khususnya Jemaat Amborgang untuk lebih meningkatkan pelayanan di Bidang Diakonia. Setelah dilakukan penjajakan sejak tahun 2008, baik anak-anak HKI, masyarakat Desa Sosor Lontung, Pemerintah setempat dan Dinas Pendidikan Luar Sekolah, maka disepakati untuk membuat pelayanan pendidikan di Desa Sosor Lontung yang merupakan desa terbesar di Kecamatan Siempat Nempu yaitu dengan mendirikan lembaga pendidikan bernama PAUD EMMANUEL HKI AMBORGANG. Pada tanggal 13 Juli 2009, bertempat di Gereja HKI Amborgang diresmikanlah PAUD Emmanuel dan dibuka dengan resmi tahun ajaran barn 2009 - 2010 oleh Pdt. H. Hariandja, M.Min. selaku Pendeta Resort HKI Resort Amborgang. Acara peresmian dan pembukaan tahun ajaran baru tersebut dimulai dengan acara kebaktian yang dihadiri oleh para penatua dan warga jemaat, orang tua murid dan para undangan baik para Pendeta HKI di Daerah IV Dakota dan Bapak Camat H.F. Sirumapea, AP, M.Si, beserta rombongan.

Dalam kata sambutan yang mewakili orang tua murid, mereka mengucapkan terima kasih kepada HKl yang berkenan membagikan pelayanan dalam hal pendidikan ke masyarakat Desa Sosor Lontung. Mereka mengharapkan PAUD HKI bisa lebih maju dan berkembang lagi di hari yang akan datang. Kata sambutan dari para undangan, diwakili oleh Pdt. A. Nadapdap, STh. Dalam sambutannya beliau mengucapkan terima kasih kepada HKI yang telah memberikan pelayanan dalam bidang pendidikan di Desa Sosor Lontung. Pdt. Nadapdap mengatakan sebenarnya esensi dari sebuah gereja salah satunya adalah gereja harus turut bertanggung jawab dalam mencerdaskan umat, sambil menerangkan sejarah bagaimana kekristenan masuk ke Sumatera Utara yang dimotori salah satunya dengan berdirinya sekolah-sekolah. Demikian pula Bapak Camat dalam kata sambutannya mengucapkan terimakasih kepada HKI Amborgang yang telah membantu pemerintah dalam hal pendidikan terlebih dalam kemajuan pembangunan untuk anak-anak dl bawah umur baik dalam intelektual dan spiritualnya. Dari 6 PAUD yang ada di Kecamatan Siempat Nempu, hanya 1 PAUD yang berada dibawah naungan gereja yaitu PAUD Emmanuel HKI Amborgang. Bapak Camat, optimis kepada PAUD EMMANUEL karena mempunyai kelebihan dalam hal pendidikan spiritual. Pada saat pengguntingan pita dan pembukaan kunci ruang sekolah (untuk sementara memakai Konsistori Gereja HKI Amborgang), Bapak Camat mendoakan para anak didik PAUD Emmanuel HKI Amborgang angkatan pertama ini kelak menjadi anak-anak yang baik, pandai, dan menjadi para pemimpin yang mengharumkan Desa Sosor Lontung di hari yang akan datang.

Pada tahun ajaran 2009 - 2010, begitu besar antusias orang tua untuk menyerahkan anak­anaknya dididik oleh para tutor PAUD Emmanuel. Hal ini dapat terlihat dengan jumah murid sebanyak 39 orang dari denominasi gereja yang berbeda ( HKI, GKPI, HKBP, GMI, Katolik ). Pihak pengelola PAUD Emmanuel optimis di tahun yang akan datang akan lebih banyak lagi para anak didik yang akan mendaftar karena pada saat ini banyak para orang tua yang menunggu dan menilai perkembangan PAUD Emmanuel. Kami pun memohon kepada seluruh jemaat HKI di manapun berada agar mendoakan dan mendukung PAUD Emmanuel agar dapat terus berkembang. Perlu diketahui oleh kita semua bahwa sampai saat ini sarana dan prasarana pendukung pendidikan masih minim, dimana ruang belajar masih memakai ruang Konsistori Gereja dan sarana permainan anak didik belum tersedia. Kami percaya segala sesuatu yang kita lakukan untuk Kemuliaan Tuhan akan dapat terlaksana dengan baik. ( Pengirim : Pimpinan Jemaat HKI Amborgang St. MR Sihombing )

Pesta Parheheon PA Soli Deo HKI Huta Tinggi
Minggu, 11 Oktober 20009, berjalan dengan baik & sukses.

Kegiatan Pesta Parheheon PA Soli Deo HKI Huta Tinggi Res. Huta Tinggi, yang diadakan kemarin, Minggu 11 Oktober 2009 bertemapt di Gereja HKI Huta Tinggi berjalan dengan baik dan sukses.

Adapun kegiatan di dalam acara pesta tersebut: Perlombaan Membaca Bibel dan Perlombaan Marumpasa, yang diikuti oleh Jemaat se-Resort Huta Tinggi: HKI Huta Julu, HKI Parmonangan, HKI Sampinur. Dalam kesempatan ini, HKi Aek Raja tidak hadir karena mengadakan rapat Jemaat.

Selain Jemaat HKI se-Resort Huta Tinggi, kegiatan pesta juga dihadiri para Undangan Jemaat maupun pribadi. Undangan yang hadir a.l: PA HKI Hutabarat Res. Tarutung Timur I, PA HKI Simanampang Res. HKI Tarutung Timur I, PNB HKI Perumnas Pagar Beringin Res Tarutung Utara, PA Haleluya Singer HKBP Huta Tinggi, PS. Sola Gracia GPP Huta Tinggi, Koor Gabungan GKPI Huta Gurgur.

Kegiatan Pesta Parheheon PA Soli Deo HKI Huta Tinggi didahului dengan Kebaktian Minggu yang dilayani Pdt.T.Sihombing, STh (Praeses Daerah II Silindung-Pangaribuan). dan kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama. Kemudian pelaksanaan perlombaan Membaca Bibel dan Marumpasa yang diselingi dengan lelang.

Adapun pemenang dalam perlombaan Membaca Bibel: Juara I: HKI Sampinur Res Huta Tinggi; Juara II: PA Soli Deo HKI Huta Tinggi; Juara III: Haleluya Singer HKBP Huta Tinggi. Dan pemenang dalam perlombaan Marumpasa: Juara I: HKI Simanampang Res Tarutung Timur I; Juara II: Haleluya Singer HKBP Huta Tinggi; Juara III: PA Soli Deo HKI Huta Tinggi. Masing-masing pemenang memperoleh piala dan uang saku.

Keberhasilan pelaksanaan Pesta Parheheon PA Soli Deo HKI Huta Tinggi ini merupakan buah kekompakan dan jerih parah semua anggota punguan untuk menggalang dana secara swadana, dan juga ikut dibantu oleh para donatur, al.: St. Y.M.Hutagalung, Jkt (berupa sumbangan dana); Ardi Siregar, Jkt (berupa sumbangan pakaian batik sebagai dinas punguan); Eliston Situmorang, P. Siantar (sumbangan dokumentasi video), M.Br.Sinaga, L.Pakam (sumbangan kue bolu tart ultah), dan banyak lagi donatur yg tidak dapat kami sebutkan satu per satu.

Atas peran aktif seluruh anggota dan bantuan para donator, dalam kegiatan pesta ini, PA Soli Deo HKI Huta Tinggi memperdengarkan 5 buah lagu pujian non stop sebagai ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta menyukseskan pesta parheheon ini/ Oleh karena itu, kami atas nama PA Soli Deo HKI Huta Tinggi yang beranggotakan 19 orang, mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah turut serta dalam menyukseskan pelaksanaan Pesta Parheheon tersebut.

Dan hasil dari lelang yang terkumpul dalam pesta tersebut akan disumbangkan ke Majelis Jemaat/ Panitia Bangunan agar dapat dipergunakan untuk merampungkan pembangunan menara Gereja (palas2) HKI Huta Tinggi. Syalom....(cmes-ht/12/10/09)


KEBAKTIAN PADANG PNB HKI AJIBATAPANTAI KASIH SIPOLHA
Untuk mempererat rasa persaudaraan antar PNB HKI Ajibata dan perlunya pembekalan iman pada masa muda, Badan Pengurus Harian Punguan Naposa Bulung BPH PNB HKI Ajibata mengadakan Ibadah Padang pada tanggal 30 - 31 Agustus 09, bertempat di Pantai Kasih Sipolha, Kecamatan Pematang Sidamanik. Tempat itu segaja dipilih oleh BPH PNB HKI Ajibata, karena jauh dari keramaian maupun kebisingan dan sangat cocok untuk tempat ibadah, khususnya kaum muda.
Kegiatan ini sengaja berlangsung 2 hari untuk mengisi hari libur sekolah. Tetapi kegiatan itu hanya diikuti 15 orang anggota, disebabkan beberapa anggota berlibur ke luar daerah. Peserta didampingi Cln. Pdt. J. Sitorus STh yang sedang menjalani masa praktek di HKI Ajibata dan Paniroi PNB HKI Ajibata St. M. Silalahi. Meski hanya diikuti 15 peserta, kegiatan tersbut tetap berjalan lancar dan menarik. Selain Ibadah Padang ada juga kegiatan lain yang sengaja dikemas BPH dalam 2 hari itu, antara lain: Penelahaan Alkitab, permainan, penyalaan api unggun dan keakraban sesama anggota PNB.

Dalam khotbah Kebaktian Padang yang diambil dari nats Matius 28 :19-­20, Cln. Pdt. J. Sitorus STh menekankan pada pemuda/i HKI khususnya PNB HKI Ajibata, janganlah berpangku tangan atau jadi pendengar/penonton yang budiman pada zaman ini, tetapi sekembalinya dari Patai Kasih ini jadilah pewarta kerajaan Allah ditengah keluarga, lingkungan, sekolah serta dimanapun pemuda/i beraktipitas dan jangan pernah takut akan ancaman, hendaklah pemuda/i cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, jadikanlah perkumpulan ini perkumpulan takut akan Tuhan dan jauh dari narkoba, pergaulan bebas serta perjudian. Bagi warga HKI maupun PNB Yang ingin mengetahui kegiatan atau memberikan saran buat PNB HKI Ajibata dapat mengakses Blog PNB HKI Ajibata di pnbhkiajibata.blogspot.com
(Oleh Andi Sirait)

Tuesday, October 20, 2009

Cover Edisi Oktober - Nopember 2009

Editorial, Edisi Oktober - Nopember 2009


Editorial

Masih terbayang kesulitan para saudara kita petani pada musim tanam terakhir ini kebingungan mencari pupuk dan pestisida yang sangat langka dipasar. Tapi syukurlah, Tuhan tidak membiarkan umat-Nya terus dalam kesusahan: akhirnya musim tanam bisa terlaksana. Tapi nampaknya, kesusahan demi kesusahan masih harus kita lewati. Krisis global, masih belum terlewati: bangsa kita dicederai oleh teroris yang meledakkan bom di beberapa tempat. Perhatian kita teralih pada usaha pemerintah untuk mencari para pelaku dan otak pemboman. Belum pupus hangatnya pembicaraan tentang teroris, bangsa kita kembali dirundung malang. Bencana alam di Jawa Timur yang memakan korban jiwa menambah derita bangsa kita. Penderitaan nampaknya belum akan berakhir, bencana alam, banjir bandang di Mandailing – Natal kembali mengukir derita di buku sejarah bangsa yang kita cintai ini.

Kini, musim panen di kawasan Deli Serdang dan Simalungun yang merupakan salah satu Lumbung Padi di Sumatera Utara tampaknya memberikan secercah harapan bagi para petani. Terlupakan sudah, sulitnya dulu mencari pupuk dan kebutuhan bertanam padi, suara serak akibat “mamuro” mengusir burung-burung yang mencoba mendahului panen. Wajah ceria melihat padi menguning, bayangan hasil panen yang memuaskan begitu menggembirakan. Namun apa mau dikata, harga gabah yang rendah mendatangkan kekecewaan, 1 kg gabah hanya di hargai Rp.1.800,- Para Toke Padi berdalih: Gudang mereka tidak sanggup menampung hasil panen karena waktu panen yang bersamaan di berbagai tempat, Gudang Bulog juga penuh.

Pada acara Pelantikan Panitia Sinode HKI yang ke-59 di gereja HKI Lubuk Pakam di acara Minggu tanggal 6 September, Pucuk Pimpinan dalam pengarahannya mengatakan, agar pada penyelenggaraan Sinode ke-59 Panitia mempertimbangkan krisis ekonomi global saat ini: jangan terbeban pada pelaksanaan Sinode ke-58 yang penyelenggaraannya di Hotel bintang 4.

Dalam rapat Majelis Pusat di penghujung tahun 2009 yang digelar pada tanggal 10-12 September, sehubungan dengan persiapan penyelenggaraan Sinode ke-59 Pucuk Pimpinan melaporkan bahwa Panitia Penyelenggara Sinode sudah dibentuk dan dilantik. Dalam Rapat tersebut ditetapkan: Sinode dilaksanakan pada hari Selasa-Minggu, 10-15 Agustus 2010. Mengingat krisis global yang masih berkepanjangan, disepakati bahwa thema Sinode adalah: ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11) dan Sub Tema : HKI turut serta mengupayakan kesejahteraan umat. Thema ini diangkat dari thema dari Sidang LWF yang digelar tahun ini yang merupakan doa buat seluruh umat manusia yang sekarang ini masih dibebani oleh Krisis Global: Krisis Ekonomi. Dalam rapat tersebut juga ditetapkan bahwa Tahun 2010 merupakan tahun Marturya. Oleh sebab itu diharapkan semua program disetiap aras pelayanan HKI menitikberatkan pada bidang Marturya. Sehubungan dengan tahun 2010 merupakan masa periodisasi bagi setiap struktur yang dimulai dari tingkat Pusat sampai ke jemaat, sering menimbulkan ketegangan. Karena itu diharapkan agar seluruh warga jemaat memelihara kedamaian dan ke kondusifan. Mari kita secara bersama-sama berdoa dan turut berperan ambil bagian dalam mengatasi krisis ekonomi global, mensukseskan Tahun Marturya, mensukseskan penyelenggaraan Sinode HKI ke-59. Kiranya, berkat Tuhan terus mengalir dan mengalir bagi kehidupan kita semua. (Pemred)

Bahan Jamita, Oktober 2009

Jamita tu Minggu 17 Dung Trinitatis
Tgl. 04 Oktober 2009.
Nats Evangelium: 5 Musa 16:18-20

“ Ulahon ma Uhum Natigor ”

I. Patujolo

Turpuk on, na marisihon taringot tu na pambangkithon Hatigoran, marhite sian angka ula on ni panguhum, angka pemimpin, dohot angka panuturi. Di son si Musa naeng mangalehon perlengkapan tu sude angka pamarenta dina laho mamarenta dohot hatigoran, jala songoni dina laho paturehon sude angka masalah-masalah na terjadi di angka luat.

Si Musa namanguluhon bangso i mardalan di parhorsihan bertindak do ibana sogon sahalak hakim kepala, alai sude hakim-hakim na asing bertugas songon sahalak na manangani kasus-kasus yang biasa.

II. Hatorangan ni Turpuk

Sian turpuk jamita sadarion, adong 2 hal na naeng diondolhon tu sude halak na memiliki jabatan songon sahalak panguhum manang panuturi, ima:
Di sude angka Luat.
Namarlapatan mai, na gabe jambar huaso ni si Musa ima daerah kota, jala ndang jambarna daerah suku-suku. Alai angka pemimpin na adong di luat i, gabe halak i ma na bertugas di si (19:12). Di bagian na parjolo sian pandohan on, adong do penekanan na so pas tu struktur organisasi sian angka panguhum. Alai adong do na gabe tuntutan hatigoran tu nasida, ima dinalaho mangulahon Uhum ni Debata. Ala dibereng si Musa ma godang do angka panguhum dohot panuturi na so mangulahon ulaonna dohot denggan, jadi ro ma si Musa mangalehon poda tu nasida asa mamarenta di bagasan Uhum ni Debata. Alana sude na adong di diri nasida i, marhororoan do i sian Debata.

Ulaon na denggan, ima mangulahon Uhum ni Debata.

Molo didok mangulahon na denggan, ima mangulahon sude na sesuai tu Parenta ni Debata, dohot sude hata na nunga dilehon ibana sian naposona. Suang songoni ma dipangido si Musa, asa nasida mamarenta manang menyelesaikan sude masalah i secara adil. Isarana mai, molo adong halak na pogos ro tu angka Panguhum mangaluhon sada masalah ala ibana mandapot penindasan, manang kekerasan sian sahalak na mora(rentenir) ala godang utangna tu na mora i . Holan sahali do na pogos on maminjam hepeng sian halak na mora on, alai dibahen na mora i do bunga na tinggi tu ibana. Jala ndang boi di bayar na pogos i utangna i ala nunga magodanghu utang na i dibahen bunga ni pinjaman na. Rodi jabu dohot ladang ni na pogos i pe nunga di jalo rentenir on, ndang adong be arta ni na pogos i.

Laho ma ibana tu panguhum dohot tu angka panuturi, dihatahon ibana ma sude masalah na. Jadi dibege halak na mora on ma, ia halak na pogos on mangalualu tu Panguhum dohot panuturi. Maringkati ma na mora on tu Panguhum jala dilehon na mora on ma hepeng tu panguhum on songon sada silua manang uang tutup mulut. Ala dilehon hepeng na godang tu ibana, laos ndang dibege be sude arsak nang parungkilon ni na pogos i, jala mulak ma ibana.

Jotjot do halak na gabe di paotooto alani hepeng, jala jotjot do jolma na sega ngoluna alani hepeng. Alani i ma ro si Musa pasingothon panguhum dohot panuturi asa mangulahon ulaonna sesuai tu Uhum ni Debata. Angka aha ma na boi diulahon angka panguhum i, ima:
- ndang jadi papeolonmu uhum
- ndang jadi marnida bohi
- ndang jadi jaloonmu silua(susup/suap).
On na ma na ingkon diingot jala diulahaon angka halak na gabe panguhum. Molo nunga diulahon sude na on, ingkon tercipta do kemakmuran di luat i. Jala angka panguhum i pe nunga boi didok gabe pangula dohot pasauthon hata ni Debata tu jolma i.

III. Siparhusorhusoron

Ditingkinta na parpudion, ndang godang be panguhum na tigor ala nunga dilehon tu ibana hepeng laho pamonangkon perkara di pengadilan. Boha do cara na boi taulahon asa ndang be terjadi angka si songon ni?
Ra, taulahon mai dibagasan ngolunta. Boi do hita gabe panguhum na tigor, isarana ma i, molo tu angka natua-tua, jotjot do angka ianakhonna marbadai alani benda-benda kesayanganna dipangke kakakna, jala anggina merasa cemburu ala gumodang do dilehon hepeng tu kakak na on. Molo nunga adong na songon on, ingkon boi do natoras menyelesaikan masalah on, jala didok ma tu ianakhonna, ndang na pilih kasih nasida. Sarupa doholongna dilehon tu anggi dohot kakak na i. Songoni do nang Amanta Debata na dibanua Ginjangi. Ibana do Panguhum na sasintongna. Ibana mamarenta jala manguhum secara adil. Nunga diseahon hosana laho paluahon hita jolma pardosa on, jadi tauba ma sude pangalahonta na so denggan i, asa parjambar hita di harajaon ni Debata. Amin

Ginurithon ni Pdt. Jansen Simanjuntak, STh


Evangelium Minggu Tanggal 11 Oktober
Nats : Yohanes 13 : 12-17
Pdt. Happy Pakpahan
Parhobas di Kantor Pusat HKI


KERENDAHAN HATI

PENGANTAR
Siapakah pemimpin terbesar maupun sepanjang masa ? Siapakah pemimpin yang memiliki pengikut terbanyak di semesta ini? Jawabnya : Tuhan Yesus, Allah yang menjadi manusia untuk menebus dosa manusia. Walaupun masa kehadirannya di dunia sebagai anak manusia yang tidak lama, hanya tiga tahun saja, ia telah diakui sebagai pemimpin terhebat di semesta yang tiada tandingannya ! Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ia itu pemimpin terhebat sepanjang masa ? Dari hasilnya ! Tidak bisa dipungkiri lebih dari milyaran orang didunia telah menjadi pengikutnya. Lantas, dimanakah letak rahasia keberhasilannya ? Ia menerapkan metode kepemimpinan yang melayani atau The Servant Leader. Lihat saja kata "Pemimpin" di dalam Alkitab hanya disebut "enam" kali, sedangkan kata "pelayan" disebutkan lebih dari "sembilan ratus" kali. Hal ini bukannya berdasarkan sekedar teori Dia saja, melainkan telah dipraktekkan di dalam kehidupanNya sendiri. Coba bandingkan, jika semua Raja di sepanjang sejarah manusia ini, pada umumnya mengutus rakyatnya untuk mati bagi mereka, tetapi melalui DIA kita mengenal seorang Raja saja yang mau dan bersedia mengambil keputusan untuk mati bagi ”umatNya” ! Pada salah satu aktifitasnya, Tuhan Yesus, Pemimpin yang melayani, bahkan tidak merasa sungkan untuk mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:3-5). Inilah yang menjadi pembahasan Nats pada minggu ini. Apa latar belakang, dan makna pembasuhan kaki murid-muridNya ini? Kita mulai pembahasannya.

PEMBAHASAN NATS

1. YANG TERBESAR YANG MELAYANI

Peristiwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya ini terjadi pada waktu Tuhan Yesus makan malam terakhir bersama dengan para murid yang dikasihi-Nya. Untuk memahami pembasuhan kaki murid-muridNya ini, kita perlu melihat beberapa peristiwa yang melatar belakangi/mendahului pembasuhan kaki murid-murid ini :
  • Murid-murid Tuhan Yesus bertanya kepada-Nya siapa yang terbesar di antara mereka, setelah mereka mendengarkan pemberitahuan yang kedua mengenai kematian Tuhan Yesus (bnk. Matius 18:1)
  • Ibu Yohanes dan Yakobus meminta kepada Tuhan Yesus agar anak-anaknya duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus, hal itu disampaikan mereka setelah Tuhan Yesus memberi tahukan ketiga kali kematian-Nya kepada murid-murid-Nya (bnk. Matius 20:21). Sebetulnya hal itu adalah keinginan dari anak-anaknya, yaitu Yohanse dan Yakobus (baca Mrk. 10:35-45).
  • Murid-murid Tuhan Yesus terlibat pertengkaran pada sebuah perjalanan perihal siapakah yang terbesar diantara mereka (bnk. Markus 9 : 34). Dan jika kita lihat dalam Lukas 22:24, pertengkaran di antara para murid Tuhan Yesus berlanjut di sekitar meja makan pada saat perjamuan makan yang terakhir mengenai siapakah yang terbesar di antara mereka.
Mengetahui akan hal ini, bukannya berargumentasi, Tuhan Yesus justru menanggalkan jubahNya, mengambil kain dan membasuh kaki murid-murid yang dikasihiNYa. Ini diluar kebiasaan dan tidak disangka mereka. Tidak lazim seorang “Guru” membasuh kaki murid-muridNya.

Untuk memahami apa yang dilakukan Tuhan Yesus ini, mari kita lihat konteks kebiasaan masyarakat waktu itu, bahwa biasanya keluarga-keluarga yang kaya mempunyai budak yang berdiri di pintu untuk menuangkan air dari bejana dan berlutut untuk membasuh kaki tuannya dan kaki tamu-tamu yang kotor dan berdebu, dan mengelap kaki mereka dengan kain lenan. Nah, pada waktu itu diruangan jamuan sebenarnya telah tersedia air dalam bejana dan kain lenan, tetapi tidak disediakan budak untuk membasuh dan mengelap kaki mereka. Tetapi tidak ada satu pun di antara murid-murid Tuhan Yesus yang mau mengambil peran budak untuk membasuh dan mengelap kaki Tuhan Yesus dan murid-murid lain yang kotor. Karena apa? Karena mereka masing-masing terlalu merasa Besar untuk melakukan hal itu, mereka merasa bukan mereka yang layak melakukan itu (bnk. Pertengkaran mereka sebelumnya tentang siapa yang terbesar - Markus 9:34). Tetapi, Yesus melakukan peran yang tidak mau dilakukan oleh murid-murid-Nya.

Lantas apa makna yang diajarkan sang Guru melalui peristiwa itu? Apa pesan rohani yang mau diungkapkan Yesus dalam tindakan itu ( parable in action ) kepada kita saat ini? Kita simak. Dalam budaya Yahudi konteks waktu itu, sifat rendah hati merupakan satu kelemahan. Melihat Yesus, Guru mereka, melakukan tugas pencucian kaki untuk menunjukkan kerendahan hati melalui pelayanan telah memutarbalikkan sepenuhnya sistem penilaian mereka. Para murid diingatkan bahwa tugas dan tujuan mereka sebagai murid-Nya bukanlah prestise sosial, atau gila hormat atau status tentang siapa yang terbesar. Melainkan justru kerendahan hati dan melayani sesama.

Penanggalan jubah oleh Tuhan Yesus itu (tithenai) melambangkan penyerahan nyawanya. Karena dengan menyerahkan hidupnya Dia membasuh (menghapuskan) dosa kita semua. Tindakan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya adalah sebuah pengajaran dan teguran kepada murid-murid-Nya yang terus-menerus bertengkar tentang siapa yang terbesar. Mereka mungkin susah memahami tindakan rendah hati ini, tetapi pelajarannya jelas bahwa konsep ”siapa yang terbesar” berpusat pada : kain/handuk (menjadi pelayan), bukan berada di “pundak”. Jika Guru dan Pengutus mereka rela melakukan pekerjaan yang teramat hina, yang hanya budak non yahudi boleh melakukannya, maka para murid-Nya pun, terpanggil melakukan hal yang sama (bdk. Yoh. 15:20).
Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita telah hidup dalam kerendahan hati? Atau apakah kita merasa terlalu besar untuk melayani orang lain? Misalnya, apakah di rumah tangga dan dunia pergaulan-kekerabatan kita terkadang merasa terlalu besar dan terlalu benar untuk meminta maaf atau mengampuni? Apakah dirumah terkadang kita mengabaikan pekerjaan-pekerjaan kecil karena menganggap kita terlalu besar? Bagaimana di dunia pekerjaan ? Mungkin banyak diantara kita sudah menjadi atasan di pekerjaannya, mungkin ada yang menjadi pemilik perusahaan dengan belasan hingga ratusan pegawai. Kita hidup dalam konsep umum pemahaman bahwa : sudah merupakan satu kewajiban mutlak dari seorang bawahan dimana mereka harus menghormati pimpinannya. Ini membuat anda dalam keseharian menunggu untuk disapa lebih dahulu, menunggu untuk dihormati, tidak ditentang kalimat dan keputusannya, menunggu dibukakan pintu, menunggu dilayani. Dan di pemikiran anda itu sudah terpola dan jika sesuatu terjadi diluar hal itu anda tersinggung atau bahkan cenderung marah. Jika demikian anda belum hidup dalam kerendahan hati yang melayani. Nats mengingatkan mari hidup dengan kerendahan hati dan menjadi berkat melalui pelayanan kita. Sebagai TUHAN yang berkuasa atas segala hal, Tuhan Yesus sendiri tidak pernah memilih kenyamananNya sendiri; melainkan, Ia memilih untuk melayani. Dalam Yoh. 15:12-13, Tuhan Yesus menyampaikan "kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." Demikianlah hendaknya kita orang Percaya kepadaNya. Banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai buah kerendahan hati didunia pekerjaan kita. Salah satu wujud pelayanan sebagai atasan bisa juga diwujudkan dalam bentuk ”pelayanan” mengusahakan agar kesejahteraan bagi bawahan maupun orang disekitar anda juga.

Bagaimana di lingkungan pelayanan – Gereja, apakah kita telah hidup dalam kerendahan hati? Sebagai orang percaya kepada Kristus, kita jangan terjebak dalam memperdebatkan siapa yang terbesar-termulia-terkudus-tersuci. Kita adalah sama-sama Imamat yang Rajani (1 Petrus 2:9). Pendeta bukan lebih besar dari Sintua, Sintua bukan lebih besar dari Jemaat dan sebaliknya. Tohonan yang kita terima bukan untuk memerintah melainkan untuk melayani dengan sebuah tujuan yaitu membawa setiap orang kepada persekutuan yang lebih dekat kepada TUHAN Yesus Kepala Gereja. Demikian juga orang-orang yang merasa telah memberi/menyumbang banyak ke Gereja, orang-orang yang orang tuanya atau ompunya di masa lalu telah memberikan satu atau beberapa hal ke gereja, jangan jadikan itu alasan kita tinggi hati, dan masih hidup di masa lalu dengan terus mengungkit-ungkit semua yang diberi. Justru jadikan semua itu menjadi berkat dengan sikap hidup yang tetap rendah hati dan turut andil dalam pelayanan. Jika semua orang percaya “berlomba” memberikan pelayanan yang terbaik kepada sesama, niscaya akan tercipta sebuah persekutuan yang saling membangun dan menjadi berkat bukan hanya kepada sesama umat, melainkan juga kepada seluruh ciptaan. (bnk.Matt. 23:11 “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.)

KRISTUS TUHAN DAN GURU KEHIDUPAN

Pada ayat 13-15 dikatakan : “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Pada ayat 13 disebutkan urutan : “Guru dan Tuhan”. Tetapi kemudian dalam ayat selanjutnya Kristus mengubah urutannya menjadi “Tuhan dan Guru”. Urutan ini penting, sebab hal itu mencerminkan siapakah Kristus dan bagaimana kita mengikut Dia. Kekristenan ternyata bukanlah sekedar sebuah filsafat yang harus dipelajari terlebih dahulu tetapi adalah tentang seorang Tuhan yang harus ditaati. Jangan terbalik, Dia ingin agar kita pertama-tama bersedia taat, baru kemudian belajar. Bila kita tidak benar-benar menjadikan Dia Tuhan dalam hidup kita, maka Ia bukanlah guru kita. Kata Tuhan yang dipakai di ayat ini di dalam bahasa Yunani artinya ”penguasa tunggal hidup” kita. Kristus adalah penguasa satu-satunya, tidak ada yang lain. Dia adalah Tuhan dan Guru kita.

KEBAHAGIAAN DALAM PELAYANAN
Gereja adalah Tubuh Kristus, dan sebagai anggota Tubuh Kristus dipanggil untuk melayani dengan rendah hati (Mat 20:28, Kolose 3:23-24). Banyak orang salah mengerti tentang tujuan gereja. Orang-orang datang dan mengevaluasi Gereja dengan perspektif apa yang gereja itu berikan/tawarkan kepada mereka, mereka ingin dilayani tanpa melayani. Padalah sebagai Imamat yang Rajani (1 Petrus 2 : 9) adalah tugas kita untuk melayani dan membangun persekutuan di Gereja. Istilahnya : Janganlah kita pergi ke gereja dengan 'sebuah serbet makan', menunggu untuk disuapi makanan; sebaliknya kita pergi dengan 'sebuah celemek', siap untuk melayani. Dari ayat 17 Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa kebahagiaan didapat jika kita melakukan pelayanan kepada orang lain. Akan tetapi, jangan melayani Tuhan yang dilakukan karena terpaksa, rutinitas tanpa memaknai, hal itu bisa membuat kita kecapekan baik secara fisik, emosional dan keuangan. Tetapi baiklah kita melakukan pelayanan dengan iklas dan murni kepada TUHAN, maka kasih karunia Tuhan membuat merasakan kebahagiaan dalam pelayanan (bnk. Ibr. 12:2). Dan jika ada diantara kita merasa segala jerih payah pelayanan kita tidak mendapat penghargaan-apresiasi baik dari orang lain, ingatlah TUHAN melihat segala sesuatu yang kita kerjakan untuk Nama-Nya. Dia melihat setiap kali kita melayani. Mungkin orang lain tidak tahu, mungkin orang lain tidak berterima kasih, tetapi di Sorga, semuanya itu akan dihargai! (Ibr 6:10). Menjadi hamba Tuhan, melayani, itu bukan pekerjaan yang membosankan –tetapi suatu kehormatan. Waktu kita melayani dalam kapasitas kita masing-masing, kita sebenarnya sementara melayani Kristus. Ingatlah, suatu perbuatan kasih untuk melayani orang lain tidak akan merendahkan diri kita.

PENUTUP

Meskipun Yesus adalah Allah yang Maha kuasa tetapi Ia menunjukkan kuasa-Nya melalui kerendahan hati pelayanan. Tidak ada satu pun kelebihan dalam diri kita yang patut kita banggakan jikalau kita membandingkan diri kita dengan Allah. Tetapi seringkali yang terjadi adalah kita terlalu sombong dan membanggakan diri kita. Karena itu, Nats minggu ini mengajak kita untuk berkomitmen hidup dalam kerendahan hati, menjadi pelayan bagi sesama demi kemuliaan TUHAN. Kerendahan hati bukanlah hasil dari perjuangan dengan kekuatan diri sendiri untuk menaklukan “si aku” yang selalu mau menonjol, tetapi adalah hasil penyerahan diri secara total kepada Allah. AMIN.


Jamita Minggu 19 dung Trinitatis

Debata Mandongani Angka Nasinuru-Na
Tgl. 18 Oktober 2009
2 Musa 4 : 10 - 17
Pdt. M. Lumban Gaol, S.Th
Parhobas di Ktr. Pusat


Patujolo:

Disada buku nasinurat ni Max Lucado na berjudul "Temukan ‘Sweet Spot’ Anda" didok ibana, "unang pola holsohon hamu kehalian naso adong di hamu. Unang pola dihaliangi roham angka hagogoon na adong dihalak. Narumingkot, pahehe jala pabangkit ma halobian na adong di ho, laho mambahen nadumenggan bahen di Debata".

Di na jinou ni Debata si Musa laho suruonNa laho mamboan bungkas bangso Israel sian parhatobanan Mesir, ganggu do ibana jala ndang pos rohana atik pe Debata na marsuru. Ganggu rohana atik so porsea bangso i jala ndang manangihon ibana. Ganggu rohana manimbangi hadirionna naso boi gabe uluan (ay.10). Sai marsidalian do ibana asa unang ibana mangulahon parsuru ni Debata, jala dirajumi si Musa do na ummalo hahana si Aron sian ibana, gabe masidalian ibana mandok: Iale Tuhan, ua suru ma manang ise lomo ni roham! (ay14), mambahen tarrimas Debata.

Hatorangan:

Di nasai tongtong dipapisatpisat bangso Misir bangso Israel, asi do roha ni Debata jala di jou ma si Musa naeng bahenon ni Debata laho manguluhon bangso i haruar sian parhatobanan I (2 Musa 2:23-25, 3:10). Alai boha do alus ni si Musa ? Ise ma ahu pola, tung dapothononku raja Parao i, tung paruaronku halak Israel sian Misir? (2 Musa 3:11). Alai dipapos Debata do rohana na donganNa ibana jala nunga dipabotohon nanaeng siulaon dohot sidohononna (2 Musa 3:12-22). Alai sai tongtongtong ganggu roha ni si Musa jala sai maralus tu Debata (2 Musa 4:1). Nang pe songon i, sai tongtong dope denggan alus ni Debata patoguhon jala pahothon rohana marhite namambahen angka tanda (4:2-9). Alai sai tongtong do ganggu roha ni si Musa. Jala sian alus na i ditulahi do parsuru ni Debata na tu ibana. Boasa ? Sai dirajumi ibana na so tau (tidak mampu, tidak sanggup), jala minder (tidak percaya diri) : "Iale Tuhanku, ianggo ahu ndang jolma parhata ahu, nang olat ni nantuari, nang olat ni nantuarisada, nang olat ni dung mangkatai Ho dohot naposom, ai dokdok do pamanganku jala hallang dilangku." (10). Nang pe naung tarrimas Debata, sai tongtong do manganju Debata, jala dilehon do pangurupi di ibana laho manghatahon Hata ni Debata, i ma si Aron hahana i (4:14-16), gabe saut ma si Musa mamboan bangso i haruar sian tano parhatobanan i.

Adong do pigapiga na naeng si guruhononta sian si Musa i:

1. Di naung madabu si Musa sian parngoluon nasonang sian anak ni boru si Parao gabe sahalak parmahan mamabahen ibana gabe minder (tidak percaya diri). Kejatuhan Musa dari anak angkat putri Firaun menjadi seorang gembala membuat Musa minder. Namasa di parngoluon ni jolma angka haporsuhon (angka kegagalan) boi do mambahen jolma gabe minder (peristiwa kegagalan seseorang dapat mengubah orang yang percaya diri menjadi minder). Marpardomuan do i tu cara pandang/pola pikir mangadopi angka masalah.

2. Molo ta etong pandohan hata "ahu" (si Musa) di ayat 10, pola adong 4 hali di dok. Hata i patuduhon panghaholongi di diri na marlobian. On ma sada tudutudu ginjang ni roha. Molo lam timbo ego ni sasahalak mambahen ibana gabe ginjang roha manang minder. Pangalaho on mamboan jolma gabe egois: mementingkan diri sendiri jala mangarajumi ndang ringkot halak naasing. Boha do mangatasi i? Asal ma olo dipaimbaru Debata. Pilippi 2:3b-4 mandok : "alai sian toruk ni rohamuna be ma rajumi hamu donganmuna sumurung sian dirimuna! Unang ma na ringkot di hamu be matahon hamu, dohot ma na di dongan!. Paduahon: tabahen ma halak na asing rumingkot sian diri sandiri.

3. Di dok si Musa do naso malo ibana manghatai. Patuduhon na holan hagaleon/hahurangan do sai dipingkiri ibana. Ndang dipardulihon ibana halobian na adong di dirina. Manang dohot pandohan na asing, sai sisi negatip do diparrohahon. Maraleale ma pangalaho sisongon i dohot halak nasai mengkritik, holan mamereng angka na hurang. Di buku "How Full is Your Bucket?" na sinurat ni Tom Rath dohot Donald O. Clifton Ph.D dipatorang disi sada penelitian hurang lobi 30 taon tu 839 pasien di Klinik Mayo. sian penelitian i halak na optimis memiliki resiko yang lebih kecil untuk mengalami kematian dini. Di dok muse, selain memperpanjang usia, emosi positif dapat menyembuhkan rasa sakit, trauma, dan dalam waktu yang lebih cepat. Alani i, unang ma gabe halak na minder molo naeng ganjang umur!

4. Dibaen si Musa do Debata Parholong i gabe Tarrimas. Sikap mider boi do mambahen tarrimas Debata. Dosa do nian namambahen tarrimas Debata. Alani i pangalaho minder boi manait jolma i tu dosa. Boasa ? Nunga ditompa Debata jolma i tumiru Ibana (1 Musa 1:27). Molo minder jolma i hinorhon ni dosa do i (pat. Si Adam dohot si Hawa na martabuni, ala maila, tidak percaya diri, minder tu Debata, 1 Musa 3:8).

5. Ujung na boi do diboan si Musa bangso Israel haruar sian Misir mamolus Laut rara. Gabe boi halak na minder manguluhon bangso nabalga jala mamboan taripar mamolus Laut rara, ala: parjolo, Olo si Musa porsea jala satia (taat) tu Debata nang pe dimulana i minder ibana. Paduahon: olo si Musa mangalangkahon/mangulahon (bertindak) nang pe godang angka hagaleonna. On do kunci utama laho mangatasi keminderan. Alani i , tabolongkon ma sikap minder Ganup angka naporsea dijou Debata laho mangulahon misi sian Debata. Adong be do ulaon dipasahat Debata tu ganup jolma na tinompa Na i, alai ala naung madabu jolma i tu bagasan dosa mamabahen ndang sempurna be jolma i, gabe sega laho mangulahon panjouon i. sude do taruli tu panjouon haluaon, ai dihalomohon Debata do asa dapotan haluaon sandok manisia na tinompa-Na i, marparsaoran na denggan dohot Ibana. Tutu, adong do na tarjou tu ulaon na khusus marpardomuan tu sangkap haluan ni Debata songon na dibaritahon di Bibel i (mulai sian si Adam sahat tu Jesus Kristus, tu angka Sisean nang Paulus)

Sian sudut hajolmaon, marragam be sikap ni jolma i marpardomuan tu panjouon ni Debata:
- Adong do na tung porsea situtu na jinou ni Debata ibana jala mambahen i gabe visi ni ngoluna.
- Adong namarungkil di na jinou ni Debata ibana parsidohot mangulahon Parbarita Naulion i.
- Adong na sai lulu di panjouon ni Debata di ibana
- Adong na so parduli di panjoun ni Debata, jala sai lalap mangolu bahen di dirina sandiri.

Sipahusorhusoron:

"Ai songon piningkiranna di bagasan rohana, songon i do ibana tongon.." (Poda 23:7a)
Manusia akan menjadi seperti apa yang ia pikirkan tentang dirinya. Manang dohot pandohan na asing: bo tarihot jolma alani pingkiranna sandiri, jala pingkiran i boi do nadenggan manang na roa. Trauma na dialami jolma di masa lalu boi membentuk dohot mamabahen dampak tu ngoluna. Aha do bahenonta mambalos na denggan naung binahen ni Debata tu hita ? Na jinou jala sinuru ni Debata si Musa laho mangulahon sada ulaon nab alga na pinasahat tu ibana, andul do pangalusina mambahen jut roha jala tarrimas Debata: "Iale Tuhan, ua suru ma manang ise lomo ni roham!". Si Musa naung taruli godang asiasi jala pangurupion ni Debata saleleng di ngoluna manjua tu panjouon ni Debata laho paluahon bangsona i sian parhatobanan dohot pamisatmisat ni halak Misir. Disangkapi si Musa do pabalihon ulaon i sian dirina. Sai unang ma hita manulahi ulaon na pinasahat ni Debata tu hita, matua sai urupan jala pargogoion ni Debata do hita mangulahon i.
Di ari parpudion, godang jolma na mauas male di hatigoran ni Debata, jala ulaon ni angka naporsea do laho pasombuhon nasida marhita ulaon panghobasionta "Manang ise na manongsong pinggolna maradophon angguk ni na parir, joujou nang ibana sogot, hape ndang adong na mangalusi." (Poda 21:13).

Sibonsiri ni panjouon ni Debata tu si Musa, ima ala haporsuhon ni bangso ni Debata di Misir. Dung i ninna Jahowa ma: Nunga tangkas huida pardangolan ni bangsongku na di tano Misir i, jala nunga hutangihon angguhangguknasida i maradophon angka na pasosaksosak nasida; ai nunga huboto parniahapannasida i. (2 Musa 3:7). Tartaban do bangso Israel di Misir, dipaporsukporsuk. Ndang adong tarbahen nasida so holan joujou tu Debata. Mauliate ma di Tuhanta na so olo manutup sipareonNa di joujou dohot tangiangta.

Diboto si Musa do ulaon si ulaonna i, alai dirimpu do holan ala ni habisuhon dohot gogona sandiri ibana laho mangadopi raja Parao. Nian nunga dipapos Debata rohana: Ala ni umbahen tuat Ahu paluahon nasida sian tangan ni halak Misir, jala paruarhon nasida sian tano on tu tano na denggan jala na lambas, tu tano habaoran ni susu dohot situak ni loba, tu tano inganan ni halak Kanaan dohot Het i dohot Amori dohot Perisi dohot Hevi dohot Jebusi. (2 Musa 3:8). Debata sandiri ro laho mangurupi hita diangka hamaolon na atadopi. Sai tongtong do dihaholongi Debata hita, nang pe sipata gale haporseaonta i: Alai ia Debata, dipapatar do holong ni rohana i di hita, uju pardosa dope hita, ai disi do mate Kristus humongkop hita. (Rom 5:8).

Dijou Debata do hita laho manghobasi Ibana marhita na mangulahon lomo ni rohaNa i. Di jou hita asa rap dohot Ibana magulahon naung sinangkapanNai bahen di portibion, nang marhite mangajari dakdanak (Singkola Minggu), ulaon asiasi, marbarita Nauli, dohot marhite angka ulaon panghobasion naasing. Molo songgop hagangguon dohot losok ni roha, sai luluan do alasan unang niulahon songon si Musa i. Alai di dok Debata do "Ai jadijadianna do hita, angka na tinompa di bagasan Kristus Jesus, asa marulaon na denggan hita; ai angka i do dipature Debata hian, asa taparangehon i." (Epesus 2:10). Boto hamu ma: ndang halak na boi di lului Tuhan i laho pangkeonNa, alai halak na olo do. Sian Debata do nasa hagogoon, hatauon dohot parbinotoan. Amin.



BAHAN EVANGGELIUM
Minggu 20 Dung Trinitatis
Josua 1: 6 – 9
Tanggal, 25 Oktober 2009

“Pir ma Tondim”

1. Marsihohot ma hita di bagasan Hata ni Tuhan i.

Molo dipillit Debata angka naposona, dibahen Debata do surusuruan mangaramotisa, songon jaminan pandonganion ni Debata. Dalan ni Debata patandahon huasona tu sude na tinompaNa i, dipillit Debata do bangso Israel. I ma bangso naum metmet jala na so margogo, alai gabe tarbarita jala margogo ala pamilliton ni Debata. Laho mamasuhi tano Kanaan, mulai sian peristiwa Jeriko disi tung tandap do dipatudu Debata pandonganionNa marhite haroro ni surusuruan. Ndada holan si Josua didongani Debata alai sude angka napinillitna didongani marhitehite surusuruan (Psalm 91:11). Songon i do saluhut halak Kristen na porsea di tingkion tongtong do didongani Debata marhite surusuruanNa di bagasan pardalanan ni ngolunta.

Ndang dipasombu Debata si Josua di bagasan biar sai tongtong do didongani Debata ibana. Ndada holan si Josua na manguluhon bangso i alai Debata sandiri do na maringanan di tongatonga nasida huhut manguluhon nasida di sude ulaonna. Hamonangan ni halak Israel ndada alani hagogoon sinjata, ndada alani hagogoon pardangingon, alai huaso ni Debata na mandongani nasida. Marrupahon sada tanda nampuna ni Debata bangso Israel, tarida do i marhite PatikNa. Patik i marguna do mangaramoti parrohaon bangsoNa, jala gabe ditanda, diboto angka na denggan dohot na roa. Gabe sada sorminan di ganup partingkian di ragam ni pangalaho na maralo tu lomo ni roha ni Debata. Patik i do na manogunogu ganup halak tu lomo ni roha ni Debata. Di bagasan patik i do partinandaan ni bangso i tu Debata huhut mangaramoti habadiaon ni bangso i sian ragam ni haramunon ni portibi on. Patik i do na gabe songon handang na paasingkon bangso i sian sude bangso na di portibi on huhut manogu nasida tu dalan lomo ni roha ni Debata. Alani do didok: “Unang meret buku ni patik on sian pamanganmu, sai pingkirpingkiri ma i arian dohot borgin, asa di radoti ho……..”(ay.8)

Manghaholongi Debata ndada boi holan hata, alai aturan (patik) manghaholongi sian sude ngolu niba do i. Manghahologi sian nasa roha, sian nasa ateate, sian nasa gogo. Lapatanna, mengasihi Tuhan Allah secara lahir batin, dohot marhite parange siganup ari. Ndang boi jolma i marnirpang tu hambirang manang tu siamun pe. Ingkon marsihohot jala marojahan dibagasan patik nang hata ni Debata. Jala laos di bagasan ni i tarida hasatiaon maradophon Debata sitolusada i. Turgas dohot tanggungjawab ni bangso ni Debata i ma manghaholongi Debata sian nasa ateate dohot sian nasa gogona. Tarida do i nang di pamungkaan lapatan ni patik na sampulu i. Didok ingkon dihabiarai rohanta Debata, ingkon holong rohanta di Ibana. Holong ni roha tu Debata do hunci pangulaon patik. Ndada mangasahon gogo ni jolma na tarbatas. Molo jolma i mabiar jala humolong tu Debata asa tu nasa na adong, diajari biar dohot holong na songoni do hita asa boi mangulahon patikNa.

Nasa jolma na targoar siradoti hata ni Debata, paumbukhon ni i do gulmit ni ngoluna tu lomo ni roha ni Debata. Tontu godang do hamaolon laho patulushon i. Ringkot ingotonta, Patik ni Debata dalan sipangkeonta do i laho mangalului dalan haluar sian hamaolon i (sulusulu di naholom tungkot dinalandit). Lapatanna, diigil Debata do peran aktif ni jolma laho mangulahon patikna i. Ai molo dung tiur dalan sidalananta di siala pangurupion ni Debata, ndang na marlapatan gabe so adong hamaolon siadopanta. Alani do dilehon hataNa, patikNa laho manghaholongi hita. Mangurupi huhut mampargogoihon hita laho mangaradoti hataNa.

2. Sai Urupanna jala hamonangan do ujung ni pardalananta.

Mansai borat do ulaon dohot tanggungjawab ni si Josua laho manguluhon bangso Israel bongot tu tano Kanaan. Torop do musu na gogo mangambat nasida di pardalanan ni bangso i. Huhut muse sai tangkang do roha ni halak Israel, godang tuntutan manang pangidoan ni bangso i. Godang serangan sian duru dohot parsoalan di tongatonga ni bangso i di adopi si Josua. Nian nunga adong pengalaman ni si Josua, ai sanga do rap ibana dohot si Musa mamboan bangso i. Alai nang pe songon i di bagasan biar do ibana. Ndang sanggup jala ndang mampu ibana didok rohana manguluhon bangso Israel i. Di hatiha na songon i ma Jahowa mandok tu ibana di turpuk on: “Pir ma tondim………”.

Adong do manang na piga na boi taida sian pandohan i: Parjolo, Ndang di loas Debata naposona di bagasan biar. Sai dipapos Debata do roha ni naposona i paboa na sai tongtong do di dongani jala di urupi bangso i di bagasan pardalanan na. Debata do na mangamudihon pardalanan ni bangsoNa i. Sai na pasupasuon na do naposona i manguluhon bangso i. Paduahon, Debata papirhon tondi ni naposona. Molo tung tahutan naposona i mangadopi ragam ni tantangan na sai mansai godang Debata do patauhon ibana di na laho mangadopi ragam ni hamaolon i. Ndang paloason ni Debata naposoNa, bangsoNa i marmara. Sai na sonang do nasida di bagasan pardalanan ni ngoluna laho mamongoti tano Kanaan. Napatoluhon, Urupan ni Debata do naposoNa, bangsoNa di ulaon napinasahatna. Sandok ingkon digomgomi hata ni Debata do parngoluon ni angka na porsea i arian dohot borgin. Ingkon digomgomi patik i do sandok dagingta on asa sude panggulmiton, parsoranta, ingkon tongtong patuduhon na halak sihaholongi Debata do hita mardalan di bagasan patik ni Debata. Napaopathon, Debata mandongani naposona, bangsona manang tu dia mangalangka. Ndang dipaloas Debata naposona, bangsona i mardalan di bagasan lomona sandiri. Debata do manogunogu, papitahon langka ni angka na porsea i. Sai di patuduhon Debata do dalan sidalanan ni angka na porsea i asa hombar tu lomo ni rohaNa. Dipatongontongon Debata do ngolu ni naposona, bangsona tu aek na tio dohot jampalan na lomak. Sai tu hasonangan do di sangkapi Debata ngolu ni angka n porsea i. Napalimahon, Debata manaluhon musu ni bangsona. Ndang paloason ni Debata bangsona i gabe talu bahenon ni musu na. Sai na ondingan ni Debata do na porsea i sian ragam ni angka musu. Alani i do didok: “Jahowa do marporang humonghop hamu, asal ma hohom hamu” (2 Musa 14: 14). Hamonangan ni na porsea i i ma haoloon, haunduhon mangulahon hata Ni Debata. Molo hohom angka na porsea i jala hata ni Debata dihangoluhon sai na hamonangan do ujung ni pardalanan ni ngoluna. Tung so tatapon ni na porsea i do mara, talu maralohon musu molo mian jala mangolu di bagasan hata ni Debata.

Di partingkian sinuaengon, ise do na targoar naposo ni Debata?. Halak Kristen do naposo ni Debata di tingkion. Ndang holan parhalado, alai sude ruas ni huria na porsea tu Debata. Namardalan do hita di portibion manuju sambulo ni tontinda i ma Surgo hasonangan i. Dipardalanan on, mansai godang do si habiaran, musu sian portibion dohot sian dirinta sandiri. Jotjot do hita mabiar jala tahutan mamereng hinagogo ni huaso ni portibion. Alai songon halak Kristen hita, manjua do hita suruon ni Tuhanta laho pararat hataNa?. Songon pandok ni Debata tu si Josua, songon i do pandok ni Debata tu hita. Asa ndang mnjua, alai naeng ulahononta do ulaonta i tu lomo dohot hata ni Jahowa. Ingkon lam tu toropna do na porsea marhite ulaonta. Tuhanta do mangurupi dohot mandongani hita di siulonta i. Di papir do tondinta asa unang mabiar hita. Tapangke ma gogonta dohot hahipasonta tu lomo ni roha ni Tuhan i. Tapasiding ma angka na so marguna, alai mian ma di patik ni Debata. Huhut benget ma hita molo masa pangunjunan. Haposan do Debata na marsuru huhut mandongani hita. Antong las ma rohanta mangula angka ulaonta, unang di bagasan biar. Debata mandok: “Pir ma tondim”.

Pinatomutomu ni:
Pdt. Eben Hutasoit