Tuesday, September 14, 2010

Perjalanan Ziarah Ephorus & Rombongan (Makam Pdt. FP. Panggabean "Sultan Malu Panggabean"; Pdt. MH. Manullang "Tuan Manullang"; & Pdt. T.J. Sitorus)

Perjalanan Ziarah Ephorus dan Rombongan
Senin, 23 Agustus 2010


Senin, 23 Agustus 2010, perjalanan ziarah untuk kali pertama Pdt. L. Sitorus, MTh yang juga di dampingi oleh Inang Ephorus, setelah sebagai Ephorus HKI 2010-2015 (dilantik setelah Sinode ke 59 di Brastagi), diawali dengan mengunjungi makam tokoh perintis pendiri dan lahirnya HChB yang kemudian menjadi HKI yaitu makam Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean, di Batu Opat, Pantoan, Pematangsiantar (23/8/2010). Kunjungan ziarah dilaksanakan bersama rombongan yang di antaranya diikuti para pengurus pusat HKI untuk masa pelayanan 2010-2015 seperti Pdt. S. Nainggolan, STh, Pdt. MAE. Samosir, MTh dan St. J. Aruan, SH masing-masing sebagai Majelis Pusat dan juga dihadiri Pdt. J. Simanjuntak, STh selaku Praeses HKI, beberapa pendeta HKI lainnya dan tokoh-tokoh masyarakat di Pematangsiantar. Kehadiran Ephorus dan rombongan disambut hangat dan penuh kekeluargaan oleh pihak keluarga dari keturunan keluarga besar Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Di antaranya Inang St. M. Br. Hutapea (parumaen Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean yang menikah dengan anak bungsu beliau Gr. Posman Panggabean)

Kegiatan ziarah diawali dengan pelaksanaan Ibadah bersama, tepat di depan Makam Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Ibadah langsung dipimpin oleh Pdt. MAE. Samosir, MTh sebagai Liturgis dan Pelayan Firman. Dan untuk memimpin Doa Syafaat dipimpin oleh Pdt. J. Simanjuntak, STh. Dalam Khotbahnya Pdt. MAE. Samosir, MTh mengambil nats Firman Tuhan dari Ibrani 13:7, disampaikan: “Bahwa penderitaan yang dialami para Bapa-bapa Gereja abad I tidak menyurutkan semangat mereka mengabarkan Injil Tuhan Yesus Kristus. Malah oleh kekuatan dan penyertaan Roh Allah yang mereka rasakan, mereka semakin gencar melakukannya hingga pada generasi-generasi berikutnya. Demikianlah semestinya kita saat sekarang ini, perjuangan dan semangat yang dimiliki oleh para tokoh-tokoh gereja kita HKI, seperti Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean dalam menghadapi pelbagai kesulitan dan penderitaan untuk menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan haruslah kita lanjutkan untuk semakin mengembangkan Injil Tuhan lewat kehadiran Gereja HKI.” Ditambahkan beliau, “Kedirian HKI seperti yang kita rasakan saat sekarang ini, semata-mata awalnya hanya didorong oleh semangat Iman kepada Kristus. Bukan oleh banyaknya uang, malah tantangan begitu berat untuk menghambati perjuangan Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean, baik yang datang dari zending dan pemerintahan Belanda. Lewat Firman Tuhan yang menjadi kekuatan dan yang senantiasa membakar semangat mengembangkan Kerajaan Allah di Tanah Batak, yang tertulis dalam Yakobus 22:1, “..untuk menjadi pelaku-pelaku Firman”, Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean akhirnya kemudian berhasil mendirikan Gereja Tuhan yang disebut HChB dan sekarang menjadi HKI pada 1 Mei 1927. Demikianlah, untuk kemajuan Huria HKI sekarang ini, semangat iman yang mendorong para tokoh terdahulu harus tetap dipertahankan dan mendorong kita untuk sama-sama berjuang memajukan HKI sekarang dan di masa yang akan datang”, demikian Pdt. MAE Samosir, MTh (mantan Praeses HKI daerah IV Dakota)


Seusai ibadah, dilanjutkan dengan sambutan dari pihak keluarga Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Pesan yang begitu mendalam diutarakan oleh Inang St. M. Br. Hutapea mengawali sambutannya. Beliau berkisah bagaimana beratnya tantangan yang dihadapi Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean dalam memperjuangkan berdirinya HChB. Namun, sekarang beliau menjumpai kondisi yang memilukan hatinya dari para pelayan HKI, khususnya pendeta yang melayani di HKI Batu Opat, Pantoan. “Sempat beberapa lama Gereja HKI Batu Opat, Pantoan tidak memiliki pendeta yang mau melayani, oleh karena minimnya kesejahteraan yang dapat diberikan oleh jemaat”, demikianlah dikisahkan beliau dengan wajah sedih dan mencucurkan air mata. Ditambahkan lagi, “Saya sering menangis di makam amang ini, melihat kondisi Gereja HKI yang ada di sini”. Dengan penuh harapan, Inang St. M. Br. Hutapea berharap ada perubahan untuk yang lebih baiknya lagi di Gereja HKI Batu Opat, Pantoan. Sebelum mengakhiri sambutannya, Inang St. M. Br. Hutapea juga mengkisahkan asal usul gelar “Sutan Malu” dari Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Dulu, kata beliau, Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean, dapat dikatakan seorang yang pintar dan cerdas, telah banyak tempat di jalani beliau untuk menjalankan tugas di bidang hukum dan pada suatu saat, ada seorang rekan kerja dan sekaligus pimpinan beliau yang menyarankan agar beliau meninggalkan Kekristenan dan masuk agama lain untuk memperoleh kedudukan dan jabatan yang lebih tinggi lagi. Namun, oleh karena keteguhan iman kepercayaannya kepada Kristus Yesus, beliau menolaknya. “Saya MALU meninggalkan agama saya!”, ditirukan oleh Inang St. M. Br. Hutapea Sejak itulah kemudian rekan-rekan sekerjanya menggelari beliau sebagai “Sutan Malu”. Dan kemudian menjadi gelar yang melekat pada diri beliau.” Sambutan dari pihak keluarga kemudian ditambahkan oleh cucu Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean (anak dari Inang St. M. Br. Hutapea) yang mengharapkan adanya renovasi makam dari Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. “Sebagai warga HKI saya sering merasa sedih melihat makam dari ompung saya, banyak orang bertanya, tentang makam Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean, misalnya, “Benar ini tokoh pendiri HKI?, dan dengan berat dan sedih saya menjawabnya. Jadi amang Eporus kami, tolonglah ada pemugaran dari makam opung kami ini (Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean), tidak banyak hanya Rp. 100.000.000,- (seratus juta) saja”, ditambahkan beliau yang kemudian disambut dengan tepuk tangan meriah dan hangat dari para rombongan yang hadir.


Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ephorus HKI, Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh. “Saya senang melihat kekompakkan kita saat ini. Dan, baru sekarang ini saya mengetahui persis tentang gelar Sutan Malu yang dipakai oleh Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Gelar yang disematkan dengan makna yang begitu dalam dari kegigihannya mempertahankan imannya kepada Yesus Kristus. Dan itu, harus kita teladani” diungkapkan beliau dalam mengawali sambutannya. Dalam sambutan beliau, ada beberapa pesan yang disampaikan untuk semua yang hadir dan Gereja HKI secara keseluruhan di antaranya adalah untuk jemaat dan pelayan di HKI Batu Opat, Pantoan, agar melaksanakan kegiatan gereja yakni pada masa buhabuha ijuk (acara gereja menjelang paskah) dan pada 1 Mei setiap tahunnya harus dilaksanakan kebaktian memperingati hari berdirinya HKI di makam Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean. Kemudian ditambahkan Ephorus “Bahwa, ada yang hampir terlupakan sebagai yang juga tokoh HKI lainnya, yakni Guru Posman Panggabean. Beliau adalah tokoh yang memiliki semangat persatuan. Beliaulah yang menjadi inisiator menyatukan HChB, GKB dan HKI pada tahun 1977. Semangat kesatuan ini, pada konteks kekinian HKI, haruslah kita miliki untuk menyatukan gereja-gereja Lutheran khususnya. Saya ingat pesan dari bapak saya Pdt. T.J. Sitorus (Ephorus HKI pertama), untuk menyatukan kembali Huria ke bona na.” ungkap Ephorus. Selain pesan untuk para jemaat dan pelayan di HKI Batu Opat, Pantoan, Ephorus juga berpesan, “Kepada para pendeta HKI yang melayani di HKI Batu Opat, Pantoan, agar jangan kuatir dan takut untuk menjadi pelayan di sini karena kurangnya kesejahteraan. Kita akan bersama-sama untuk memenuhi kesejahteraan para pendeta secara merata”, janji Ephorus. Menanggapi rencana pemugaran yang diharapkan pihak keluarga, Ephorus berpesan, “Sudah bisa dimulai dengan langkah-langkah sederhana untuk memperbaiki makam, misalnya dengan menata makam menjadi lebih indah, menunggu terkumpulnya dana renovasi. Kalaupun harus selesai selama 2 tahun kedepan. Apa yang bisa kita perbuat untuk saat ini meskipun kecil, itu sudah sangat beharga. Dengan memperbaiki makam ini, sebagai pertanda bahwa HKI atau jemaat-jemaat HKI semakin memperbaiki kepercayaannya”. Akhir dari sambutannya, Ephorus mengingatkan kembali bahwa adalah tanggungjawab para jemaat dan pelayan HKI dimanapun berada untuk tidak melupakan tokoh-tokoh Huria HKI, dengan memberikan diri untuk sama-sama berjuang memajukan HKI dengan semangat yang dahulu ada pada para tokoh. Sehingga di seluruh Indonesia, karya Pdt. FP. Sutan Malu Panggabean dapat dirasakan. Boleh berbeda pendapat dan berbeda pendapatan, tetapi harus tetap satu dalam perjuangan dengan semangat iman untuk mengembangkan HKI.


Sebagai acara penutup, semua rombongan bersama keluarga kemudian makan siang bersama, dan kegiatan ziarah ditutup dengan doa dari Pdt. Surungan Situmorang, STh. (yph)

Perjalanan Ziarah Ephorus dan Rombongan
Kamis, 26 Agustus 2010


Perjalanan ziarah selanjutnya, Ephorus di dampingi Istri bersama dengan rombongan di antaranya Pdt. S. Nainggolan, STh, Pdt. N. Sinaga, STh dan Pdt. K. Sirait, STh, Pdt. F. Simamora, STh dan Pdt. L. Simamora (Pendeta Resort HKI Tarutung Barat), dilaksanakan pada Kamis, 26 Agustus 2010 ke makam Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI sekaligus Pendeta Pejuang HKI, Pdt. MH. Manullang di Tarutung, setelah terlebih dahulu menghadiri acara pengambilan janji dan syukuran Bupati (Bapak Drs. Maddin Sihombing, Msi) dan Wakil Bupati (Bapak Drs. Marganti Manullang) Humbang Hasundutan. Rombongan di sambut hangat oleh keluarga besar di antaranya cucu dari Pdt. MH. Manullang, Amang St. SMT. Manullang (Sintua di HKI Siualuompu), yang kemudian dijamu makan bersama. Di sela-sela makan bersama, amang St. SMT. Manullang banyak berkisah mengenai riwayat dan perjuangan Pdt. MH. Manullang dan yang kemudian diperluas oleh Amang Ephorus.


Sekilas mengenai riwayat dan perjuangan Pdt. MH. Manullang. Tokoh yang memiliki nama lengkap Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang, disapa dengan “Tuan Manullang”, lahir di Tarutung, 20 Desember 1887 dari ayah Singal Daniel Manullang dan ibu Chaterine Aratua br. Sihite, dan meninggal di Jakarta, 20 April 1979 (dimakamkan di Tarutung). Pendidikan beliau Sekolah Raja di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara dan Senior Cambridge School, Singapura, 1907- 1910. Tentang karirnya di antaranya adalah Pendiri dan penerbit surat kabar Binsar Sinondang Batak (BSB), 1906; Guru Sekolah Methodist, 1910; Pendiri organisasi social politik Hatopan Kristen Batak (HKB); Pendiri dan Pemimpin Redaksi surat kabar Soara Batak (1919-1930); Memprakarsai Persatuan Tapanuli (1921) dan Persatuan Sumatera (1922); Kepala dinas propaganda Jepang tahun 1943-1945; Pendeta HKI ditabiskan pada tahun 1940; dan pernah dipenjara di Cipinang 1922-1924 akibat tulisannya menentang penjajah Belanda. Penghargaan yang telah diterima dari Pemerintahan Indonesia pada tanggal 2 Oktober 1967 dianugerahi penghargaan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia.


Pendeta Mangaraja Hezekiel Manullang telah membantu melayarkan suatu perahu, yang didalamnya Batak dan Indonesia menyatu, untuk mengarungi dunia menuju dunia yang baru. Itu perahu, yang dia turut memberi namanya Huria Kristen Indonesia, suatu gereja yang baru, sampai akhir zaman akan laju. Dari dia orang dapat tahu, berpolitik dan berpartai bukan suatu hal yang tabu, pendeta pun bisa menjadi pelaku, asal demi bangsa, kerukunan dan kemajemukan yang menyatu dan kalau perlu menjadi abdi negara pembawa damai yang bahu-membahu. Perjuangan beliau yang sengat dirasakan adalah penolakkannya terhadap aneksasi tanah Batak, suaranya yang menolak penyingkiran orang Batak di tanah leluhurnya, pasti tidak akan pernah redup dan masih relevan hingga sekarang. Dengan semangat beliau, dapat kita katakan sekarang, Tanah Batak adalah milik orang Batak. Register-register yang dibuat Belanda dulu, bukan legitimasi bagi pengusaha maupun pemerintah zaman sekarang untuk mencaplok tanah Batak. Seruan beliau: “ula tanom ulang digomak, ulando” berlaku juga sekarang. Para pemilik modal (kapitalis) tidak boleh menguasai sejengkalpun tanah Batak, tetapi mereka harus membantu orang Batak “mangula tanona” (mengolah tanahnya). Orang Batak tunduk pada pemerintah yang mengayomi tanah Batak, dan bukan yang merampas atau menjajah tanah Batak.

Sebagai seorang yang lahir dalam suatu keluarga ‘pahlawan,’ dan kepahlawanan sang ayah ditingkatkan oleh sang anak. Dengan menonjolkan sang ayah sebagai ‘perwira intel raja Sisingamaraja’ yang didutakan ke Peanajagar dekat Tarutung. Ompu Singal Manullang (melalui pendidikan keluarga) berhasil menanamkan jiwa ‘merdeka’ dalam diri Mangihut Mangaraja Hezekiel Manullang. Dari kecil Pdt. MH. Manullang dipersiapkan mengemban makna nama ‘baptis’ yang diberikan missionaris kepadanya. Karakternya diharapkan seperti Hezekiel di Alkitab, dan sang tokoh diharapkan ‘mengikut’ (mengihut) karakter itu dan nantinya berjuang di tengah bangsanya dengan cara damai tanpa kekerasan; memperbaiki dan mempersatukan bangsanya yang telah ‘berserak-serak’ (seperti di pembuangan). Kemudian dia mendapat nama Mangaraja, suatu nama kehormatan, baik di Angkola, maupun di Toba. Nama itu mendekatkan sang tokoh kepada rajanya (Singa-Mangaraja), tetapi tidak melangkahi rajanya. Dia bisa ‘mangaraja’ tetapi sang raja yang meng-singa (merancang). Nama itu menempatkan dirinya dengan baik di tengah kaum ‘hula-hula-nya’, kaumnya Batak-Toba, dan negeri yang kepadanya dia mengabdi. Nama itu juga, dengan didukung oleh kepintaran yang dimilikinya, memungkinkan sang tokoh dipanggil ‘Tuan Manullang’, yang bermkna lebih hormat dibanding dengan gelar-gelar tuan yang dilekatkan kepada berbagai ‘kakek-moyang’ orang Batak. Nama panggilan ini, yang menjadi semacam ‘identity card’, menyamakan dirinya dengan kaum sibontar mata.


Pdt. MH. Manullang digambarkan sebagai pemuda yang merdeka, gesit dalam belajar dan erat dalam bergaul, suaranya didengar di kalangan kelasnya. Beliau mampu menggerakkan kawan-kawannya untuk ‘demo’ memprotes hal-hal yang dipandang kurang beres menurut ukuran kekristenan yang sudah tertanam dalam dirinya mulai dari rumah dan jemaat yang mendidiknya. Beliau murid Sekolah Anak Raja (SAR) di Narumonda, tetapi mampu juga menguasai ilmu jurnalisme dan cetak-mencetak. Walau tidak tamat, tetapi mendapat bekal menunjukkan dirinya sebagai penggerak yang didorong oleh ketidak-puasannya melihat kondisi bangsanya. Itu yang terjadi pada dirinya setelah dipecat dari SAR, beliau menjadi aktivis, yang berhadap-hadapan bukan dengan pendeta pribuminya, melainkan dengan pendeta Eropa yang memicingkan mata melihat pribumi ingusan. Penerbit BSB menjadi tampilan orang yang berjiwa ‘merdeka’. Orang tuanya, yang berjiwa merdeka, ingin agar puteranya mendapat pendidikan yang sesuai jiwanya, ‘merdeka’, sehingga dia dikirim belajar ke Singapura. Pendidikan Methodist lebih menerampilkannya, tetapi rupanya sanubarinya telah dirasuk ‘kemerdekaan Kristen’ yang diajarkan kaum Lutheran. Dia menjadi perintis beberapa jemaat Methodist di Jawa, tetapi di matanya terpampang ancaman derita yang akan dialami bangsanya, Batak, sewaktu melihat derita penduduk Jawa yang sudah lama dijajah Belanda. Di Jawa dia sudah menyadari perlunya; Pendidikan untuk semua, dan pendidikan harus terjangkau oleh rakyat semiskin apapun. Walaupun dia membawa keluarga ke Jawa, tampaknya panggilan kampung halaman lebih kuat.

Pdt. MH. Manullang menjadi penggerak kesadaran kemerdekaan bangsanya. Sang Tokoh memilih Balige menjadi tempat awal perjuangannya di tanah leluhurnya, dan menjadikan Balige sebagai sentra pergerakannya. Dia memberi contoh, bahwa seorang terpelajar harus dapat menafkahi diri dan keluarganya dengan usahanya sendiri, dan usaha itu dapat dibuat berdampak kemajuan dan menyadarkan bangsa untuk pergerakan nasional. Dia cermat melihat perkembangan situasi dan gerak-gerik penjajah. Semangat ‘kemerdekaannya’ menggelegak, sehingga dia dapat merubah kumpulan koor “Hadomuan” yang dimasukinya/dipimpinnya di Balige menjadi tempat mendiskusikan situasi ‘tanah air orang Batak’ dan menjadi alat yang menyuarakan bahaya yang telah mengancam tanah Batak, dan menjadi gerakan politik yang diberi nama HATOPAN KRISTEN BATAK. Pemimpin gereja di Balige setuju atas gerakan itu sehingga tidak ada keberatan sewaktu pendirian organisasi ini dilakukan tanggal 21 September 1917 di gereja Batakmission Balige. Para Zendeling pada mulanya melihat rencana Belanda mengkonsesi tanah Batak kepada kaum pemilik modal. Itu jelas selagi ketua HKB dipegang oleh guru Polin Siahaan, dan Mangaradja Hezekiel Manullang hanya sebagai wakil ketua. Para Zendeling mulai gusar dan mulai menolak HKB setelah MH Manullang menjadi ketua pergerakan ini pada Kongres HKB tanggal 25-28 Januari 1918. Kegusaran itu dilatarbelakangi oleh pengenalan mereka tentang sang tokoh yang sudah berani mengatakan tidak setuju kepada pendapat Zendeling, sejak dia sekolah di SAR Narumonda. Ternyata HKB berhasil menyadarkan orang Batak, bahwa darah kemerdekaannya harus dipelihara dan diperjuangkan, dan mulai bergerak untuk itu dalam berbagai lini kehidupan termasuk lini kehidupan kegerejaan.


Meskipun Pdt. MH. Manullang tidak ikut dalam pendeklarasian tiga gereja mandiri di Sumatera tahun 1927 (Huria Christen Batak/Huria Kristen Batak, Punguan Kristen Batak, dan Mission Batak), tetapi perjuangan/pergerakan yang dirintis beliaulah yang mendorong para pencetus gereja mandiri tersebut mendeklarasikan kemandiriannya. Tuan Manullang masuk menjadi hamba TUHAN di Huria yang sesuai dengan semangat perjuangannya. Jiwa nasionalisnya kemudian ditunjukkannya melalui peranannya menuntun Huria Christen Batak, yang menahbiskannya menjadi pendeta tahun 1940 dan menempatkannya melayani di Siaualompu Tarutung, untuk menyesuaikan diri dengan semangat perjuangan nasional Indonesia. Beliau tahu bahwa HChB merupakan dampak dari demam kemandirian yang sudah tercanang di Tanah Batak, yang sedikit banyak sebagai imbas pergerakan HKB yang pernah dipimpin sang tokoh. Dengan penuh kesadaran beliau menempuh jalan masuk menjadi pendeta di Huria mandiri ini. Beliau tahu banyak pergolakan di huria yang dimasukinya, tetapi dia tidak ikut mencampurinya. Tetapi sewaktu tiba masanya, bersamaan dengan waktu sesudah NKRI diproklamasikan, dia ikut menuntun Huria yang dilayaninya tersebut memasuki ‘suasana’ nasional yang mulai bersinar. Maka walaupun tidak dicatat terlalu banyak tentang peranannya di sinode HChB yang diadakan di Jemaat HChB Patane Porsea tanggal 16-17 Nopember 1946, dapat dipastikan bahwa sang tokoh menuntun Huria mandiri ini (HChB) mengubah namanya menjadi Huria Kristen Indonesia (HKI).

Mungkin semangat itu sebagai pencapaian sementara cita-citanya yang menginginkan adanya Gereja Raya di Tanah Batak atau di Indonesia. Pengalaman dipenjarakan Jepang (1942) dan panggilan tugas di pemerintahan Jepang (kepala dinas propaganda Jepang) tahun 1943-1945 membuat sang tokoh tidak dapat ditempatkan menjadi pendeta yang penuh waktu di resort HKI. Tetapi setiap minggu beliau melayani, berkhotbah di Jemaat HKI di mana beliau berada. Beliau menjadi penopang pucuk pimpinan HKI yang dipimpin oleh Pdt. Thomas Josia Sitorus mulai pada tahun 1946 dalam menghadapi perkaranya dengan FP Soetan Maloe yang terus memimpin HChB yang tidak mengakui keputusan sinode HChB di Patane Porsea. Walaupun berperan sebagai abdi negara di zaman kemerdekaan, Pdt. Mangaradja Hezekiel Manullang terpilih juga menjadi anggota Pucuk Pimpinan HKI tahun 1955-1959 dan 1959-1960. Sewaktu beliau sudah berdomisili di Medan tahun 1950 dan bekerja sebagai patih (sampai pensiun 31 Maret 1958) beliau terus membantu perkembangan jemaat-jemaat HKI Medan. Setelah beliau pindah ke Jakarta agar bersama keluarga puteranya sejak tahun 1967, beliau mendaftar menjadi anggota jemaat HKI di HKI Pulomas yang sudah berdiri sejak 2 April 1967 (gereja HKI tertua di Pulau Jawa), dan kemudian ikut menggerakkan berdirinya HKI Cililitan yang berdiri tanggal 30 Agustus 1970. Beliau menjadi gembala yang menasihati jemaatnya agar utuh bila terjadi riak-riak dalam kehidupan jemaatnya.


Di bidang pendidikan, Pdt. MH. Manullang dapat disebut sebagai penopang untuk kemajuan lembaga pendidikan yang diselenggarakan gereja. Tuan Manullang adalah tokoh yang berpendidikan tinggi dan punya pengalaman pendidikan di luar negeri. Gereja yang dimasukinya juga adalah gereja yang harus mendidik putra-putrinya secara mandiri. Di awal HChB, sekolah-sekolah HChB terkenal sebagai sekolah-sekolah liar (wilde school). Kehadiran Tuan Manullang di pemerintahan Republik ini membuat pengurusan sekolah-sekolah itu menjadi sekolah-sekolah bersubsidi. Sebagai Abdi Negara yang menjalankan misi damai, demi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Dan di zaman mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan sekarang ini, mudah-mudahan cita-cita beliau tentang “Gereja Raya” dapat diterjemahkan gereja-gereja masa kini dalam usaha menyatukan (bahkan kalau perlu melebur) gereja-gereja Lutheran yang ada. Semangat perdamaian di tengah-tengah bangsa, harus ditularkan menjadi semangat perdamaian di seluruh gereja-gereja yang ada, sehingga sekat-sekat denominasi bisa terhapus.

Menjelang masa-masa tuanya dan ujung hidup Pdt. MH. Manullang, oleh Jemaat jenazah beliau diberangkatkan Siwaluompu, sesudah beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir di Jakarta tanggal 20 April 1979, setelah menerima perjamuan Kudus di Rumah Sakit Cikini Jakarta, dan kemudian disambut jemaat HKI bersama semua pendeta HKI di Silindung di Siualuompu untuk memberikan penghormatan terakhir dan menghantar beliau ke tangan Allah Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus. Tanggal 7 Mei 1979, jemaat HKI Siualuompu yang dilayaninya dalam awal kependetaannya (1941/dua tahun setelah jemaat ini berdiri tanggal 7 Mei 1939) memberikan tanda penghormatan dan surat penghargaan atas jasa-jasa beliau dalam membangun HKI. HKI harus melihat akhir hidup sang tokoh, dan terus bergumul untuk melanjutkan cita-citanya. (dikutip dan disesuaikan dari catatan Amang Ephorus, Pdt. L. Sitorus, MTh dalam bedah buku TUAN MANULLANG ditulis oleh Dr. PTD. Sihombing, M.Sc., S.Pd di Jakarta 24 Mei 2008).


Akhirnya Ephorus berpesan diakhir acara ziarah kepada yang hadir dan HKI secara umum untuk mengingat setiap para tokoh-tokoh gereja HKI terdahulu dan bersama melanjutkan perjuangan dan cita-cita mereka. Kegiatan ziarah kemudian diakhiri dengan bernyanyi dan berdoa yang langsung dipimpin oleh Amang Ephorus. Sebagai dokumentasi diikuti dengan foto bersama di depan makam dan dilanjutkan dengan foto bersama dengan keluarga besar di depan rumah yang dulunya sebagai tempat tinggal Pdt. MH. Manullang bersama orangtua dan sanak keluarga lainnya. (yph)

Perjalanan Ziarah Ephorus dan Rombongan
Minggu, 29 Agustus 2010


Bersama dengan rombongan, seusai ibadah dan temu ramah dengan jemaat di HKI Patane, Porsea, pada Minggu, 29 Agustus 2010, Ephorus dengan didampingi oleh Inang Ephorus, kembali melakukan kunjungan ziarah ke makam Pdt. T.J. Sitorus, Ephorus kedua di HChB sejak tahun 1946 – 1978.


Bersama Ephorus juga hadir, Drs. Hulman Sitorus (Mantan Kadis Pendidikan Tobasa), Pdt. S. Nainggolan, STh (Majelis Pusat HKI), masing-masing beserta keluarga, Pdt. C.H. Siahaan, SmTh didampingi istri, dan Pdt. H. Togatorop, STh.


Setelah selesai mengadakan kebersihan di sekitar makam, di dalam pesan-pesannya kembali Ephorus mengharapkan dan mengajak semua pihak yang ada di HKI secara umum untuk mengingat, meneladani dan melanjutkan semangat, perjuangan dan cita-cita dari para tokoh pendahulu di HKI.


Mengenang perjalanan hidup dari Pdt. T.J. Sitorus (11 November 1914 – 5 Oktober 2002), yang tidak lain adalah Bapak (Bapak Uda) dari Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh; Ephorus mengisahkan bahwa perjalanan hidup Pdt. T.J. Sitorus yang dianugerahi delapan anak (5 laki-laki dan 3 perempuan) senantiasa berpedoman pada pesan Firman Tuhan dalam Matius 6:33 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”, (ayat ini kemudian diukirkan pada nisan dari Pdt. T.J. Sitorus). Semasa hidupnya, terlebih di dalam kependetaannya, beliau senantiasa menghidupi Firman Tuhan ini dan mengerjakannya, dan percaya bahwa yang lain (kebutuhan hidupnya) akan ditambahkan Tuhan kepadanya. Beliau tidak pernah mengeluh terhadap kesejahteraan semasa mengemban tugasnya sebagai pendeta di HKI. Dan semuanya nyata dialami beliau, lewat hasil haumanya, Tuhan mencukupkan segala kebutuhan keluarga. Hanya satu yang menjadi kegelisahan beliau, tidak adanya dari anak-anak beliau yang mau untuk melanjutkan sekolah ke sekolah kependetaan. Meskipun, seorang anak beliau akhirnya mau melanjutkan sekolah di sekolah kependetaan, namun menjelang akhir sekolahnya Tuhan berkehendak beda, Tuhan terlebih dahulu memanggilnya. Kejadian ini, yang kemudian membawa istri beliau, E.br. Manurung (10 Juli 1966 – 17 Desember 1984) menjadi depresi berkepanjangan hingga tutup usia. Sebagai pendeta dan orator handal, cukup sedikit yang dapat diperoleh hasil buah pikiran beliau (berupa bahan-bahan khotbah), hal ini disebabkan bahan khotbah yang beliau tuliskan tatkala hendak berkhotbah hanya penggalan-penggalan garis besarnya saja. Meskipun demikian, khotbah beliau tetap kontekstual dengan pesan Firman Tuhan dalam nats yang menjadi bahan khotbah. Bahan Khotbah beliau yang dapat dibaca lengkap, hanya dapat ditemui dalam Almanak HKI untuk Khotbah Tahun Baru. Dalam perjalanan pelayanan dan perjuangan beliau sebagai pendeta di HKI, beliau dikenal sebagai seorang yang berkarisma dan berwibawa yang datangnya dari Tuhan. Beberapa masalah yang pernah ada baik di dalam gereja dan masyarakat, selalu berakhir dengan damai dan baik jika beliau sudah hadir dan memberikan nasehat dan pandangannya. Meskipun, suatu saat beliau pernah diancam ditembak oleh seorang warga jemaat, ketika sedang berkhotbah, namun kemudian dapat berdamai. Dikisahkan Ephorus kepada rombongan yang ikut serta.


Ada satu semangat yang pantas untuk di teladani hingga saat ini dari Pdt. T.J. Sitorus, (yang oleh dorongannya kepada Pdt. Dr. Langsung. Sitorus MTh, kemudian membawa Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh melanjutkan sekolahnya ke sekolah kependetaan pada tahun 1973 dengan cita-cita yang dipesankan untuk membawa kembali huria tu bona na, dan menjadi cita-cita dan perjuangan yang masih terus dikerjakan oleh Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh hingga saat sekarang ini), yakni semangat beliau yang tidak akan mundur atau menyerah untuk mempertahankan yang baik dan benar. Tekadnya adalah untuk menghadirkan HKI hingga dikenal baik di ruang lingkup nasional dan internasional. Kerinduannya untuk keesaan dan kesatuan gereja-gereja yang ada senantiasa menjadi cita-cita luhur dalam perjuangannya. Itulah tugas dari HKI saat sekarang ini yang harus terus diperjuangkan. “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka (Ibrani 13:7)”, pesan Ephorus menutup kisah perjalanan hidup Pdt. TJ. Sitorus.


Kegiatan ziarah di akhiri dengan meletakkan bunga dan doa yang dipimpin oleh Pdt. CH. Siahaan, SmTh. (yph)

Monday, September 13, 2010

Ev. Efesus 5:22-23 (Minggu, 03 Oktober 2010: 18 Set Trinitatis)

Istilah yang dipakai dalam bahasa Ibrani untuk menyebutkan istri dan suami dipakai kata “איש” (is: suami) dan “אישה“ (isah: isteri). Sedangkan untuk menyebut laki-laki dan perempuan cenderung langsung tertuju pada alat reproduksinya misalnya untuk laki-laki dipakai sebutan zakar dan perempuan disebut nebula. Ada pesan khusus yang ingin disampaikan kepada para istri dan suami lewat pesan Paulus kepada Jemaat Galatia dalam nats di atas.


Disebut suami dan istri, oleh Paulus yang dimaksud tidak sekedar hanya hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, melainkan pertemuan pribadi, hakaket, kedirian dan kehormatan yang memiliki setatus yang sama di hadapan Allah. Hubungan suami istri tidak semata-mata didasarkan pada hubungan seks, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu” (lih. Kejadian 2:24-25). Dipakai kata is dan isah untuk menyebut laki-laki dan perempuan (suami dan istri). Diperkuat lagi dengan penciptaan manusia itu sendiri, Adam diciptakan dari debu dan tanah yang kemudian kepadanya dihembuskan nismat hayim, sehingga dia hidup. Dan dari tulang rusuknya dibangun seorang perempuan yang kemudian setelah dibawa kehadapan manusia itu, ia berkata “: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan (isah), sebab ia diambil dari laki-laki (is)” (Kejadian 2:21-23).


Penciptaan menurut tradisi Yahwis, memiliki tedensi kesetaraan suami dan istri dalam segala hal. Bahkan dapat dikatakan satu zat, roh dan semangat. Mengapa? Karena pada masa penciptaan jika diperhatikan tidak ada penghembusan nismat hayim oleh Allah khusus kepada perempuan. Perempuan dibangun lewat dan di dalam kehidupan yang sama dimiliki oleh manusia (laki-laki, Adam). Prisip inilah yang dipegang kuat oleh Paulus dan menjadi nasehat bagi kita lewat suratnya kepada jemaat di Galatia. Namun penting dipahami bahwa peristiwa penciptaan Adam dan Hawa dibarengi dengan perintah taat dan tunduk kepada Allah. Allah bukanlah orangtua yang melahirkan Adam dan Hawa, melainkan Pencipta mereka. Maka, hubungan antara mereka dengan Tuhan tidak identik dengan hubungan anak terhadap orangtuanya di dalam satu keluarga. Jika dalam Kejadian 2:24-25, disebutkan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan orangtuanya untuk bersatu dengan istrinya, bukan berarti berkonotasi Allah menghendaki laki-laki untuk meninggalkan Allah dan bersatu dengan istrinya. Ini tidak melegalkan setiap laki-laki yang ingin menikah dengan perempuan, (khususnya non-kristen) kemudian meninggalkan Tuhan.


Ada yang baru disampaikan Paulus lewat suratnya, di dalam pernikahan yakni di dalam kesatuan hubungan suami dan istri sebagai keluarga, Paulus menegaskan bahwa Kepala dalam rumah tangga atau atas kesatuan itu adalah Yesus Kristus. Dengan demikian, kebersamaan suami dan istri tidak boleh lepas dari ikatannya dengan Kristus (Efesus. 5:23). Dalam Perjanjian Lama, kerap disebutkan bangsa Israel melakukan perzinahan dengan meninggalkan Allah dan pergi menyembah allah-allah lainnya (lih. Ulangan 31:16; Hakim-hakim 2:17; I Tawarikh 5:25; II Tawarikh 21:11). Setiap keluarga yang dibangun, laki-laki yang mengambil perempuan manapun untuk kemudian menjadi istrinya, ia tidak boleh pisah dari Kristus. Sama seperti Kristus sebagai Kepala Jemaat, dalam hubungannya tersebut Kristus sebagai suami dan jemaat sebagai istri. Sebab itu, kesatuan suami dan istri sangat ditekankan memahami kewajiban dan haknya. Istri diharapkan untuk tunduk kepada suami (Efesus 5:22). Ketundukan ini bukan berarti suami dengan segala cara menundukkan istrinya. Jika terjadi penundukan, maka yang ada hanyalah pemaksaan dan ada unsur penindasan. Tunduk dalam pengertian ini adalah berkonotasi kasih dan kesetiaan. Ukuran ketundukkan istri kepada suami, merupakan gambaran ketundukkan jemaat kepada Kristus. Istri menganggap suami sebagai kepala dalam tubuhnya, yang berarti istri tidak dapat melepaskan dirinya dari suami dan begitu sebaliknya. Tidak ada jalan untuk bercerai. Layaknya tubuh, jika kepala pisah dengan tubuh, dan sebaliknya, maka kedua-duanya akan mati, kedua-duanya tidak dapat berfungsi dengan baik, apalagi sempurna. Begitu juga hubungan jemaat dengan Kristus, jika lepas dari Kristus, maka kehidupan jemaat tidak dapat berjalan dengan baik apalagi sempurna. Oleh Paulus, hubungan yang dibangun dalam keluarga, hubungan suami dan istri merupakan gambaran jemaat dengan Kristus. Keduanya harus memiliki keterikatan, dan itulah sumpah atau janji pernikahan, dan janji keselamatan Kristus dengan jemaat. Kristus telah dan mau mengikat dirinya dengan jemaat dan dilakukan dengan kesetiaan., begitu juga dengan hubungan suami dan istri yang telah diikat dalam perjanjian dan sumpah, harus dilakukan dengan kesetiaan. Demikianlah penting adanya ritus pernikahan di dalam GerejaNya, di dalamnya ada janji yang dinyatakan yakni janji Allah dengan pasangan calon suami dan istri dan janji antara sesama pasangan calon suami istri. Disinilah yang dimaksudkan Paulus, istri harus tunduk kepada suaminya, tidak ada konotasi menundukkan atau secara paksa menjadikan tunduk yang diikuti unsur pemaksaan dan penindasan.


Selanjutnya, pada ayat 23, “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”. Oleh Paulus inilah gambaran hubungan suami terhadap istrinya, maka itu berarti suami berfungsi untuk menyelamatkan istrinya. Menyelamatkan berkonotasi dengan tindakan mengampuni dan tindakan memperbaharui hubungan setiap harinya. Sehingga, dosa tidak memiliki ruang untuk merusak hubungan. Tindakan untuk memberi jalan hidup terbaik kepada istri (keluarga) sebagai jalan untuk menikmati hidup surgawi. Itulah sebabnya suami terhadap istri harus selalu bersedia mengampuni dan tiap hari memperbaharui relasi dan memberikan jalan hidup pada istri dan bersama-sama membangun hubungan dengan Tuhan di dalam doa sebagai jalan menikmati hidup surgawi. Kata kunci utama: SUAMI MENGASIHI ISTRINYA, SAMA SEPERTI KRISTUS MENGASIHI JEMAATNYA.


Kata yang digunakan untuk kasih/mengasihi adalah kata Yunani Agape kata kerja Agapao yakni hubungan kasih yang tidak mengharapkan imbalan. Sedangkan kata kasih dalam Ibrani dipakai Ahab. Dalam konteks bahasa Ibrani tidak mengenal perbedaan arti kasih seperti dalam bahasa Yunani. Keempat jenis kasih (Agape, Philia, Eros dan Storge) dalam Perjanjian Baru, tergabung di dalam kata Ahab, kata yang dipakai oleh Paulus ini ingin menerangkan bahwa dalam hubungan suami dengan istri dalam keluarga keempat jenis kasih ini haruslah dimiliki dan menjadi dasar hubungan setiap hari.


Berbahagialah keluarga yang hidup di dalam hubungan yang didasari ketundukan istri terhadap suami sebagai wujud kasih dan kesetiaannya dan fungsi suami sebagai penyelamat dengan mengedepankan tindakan mengampuni dan memberikan hidup yang terbaik. Jika hubungan suami dan istri dibalut dengan kasih yang demikian, maka akan menutupi banyak dosa, dan tidak akan mengingat-ingat bentuk kesalahan antara suami dan istri untuk memperlakukan satu dengan lainnya. Amin. (yph)


(Bahan Renungan Kebaktian Pagi di kantor Pusat HKI yang dipimpin Ephorus/Bishop HKI).

Ev. Yohanes 8: 1-11 (Minggu, 26 September 2010: 17 Set Trinitatis)

Pengantar oleh Pdt Dr. Langsung Sitorus, MTh

Berangkat dari pasal 7 dapat diketahui bahwa Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem untuk mengikuti Hari Raya Pondok Daun, dan di pasal 8 Tuhan Yesus berangkat menuju Bukit Zaitun. Pada masa Tuhan Yesus keberadaan Bukit Zaitun masih berada di luar Yerusalem, namun sekarang sudah merupakan bagianYerusalem, tepatnya di bagian tengah Yerusalem. Di Yerusalem Tuhan Yesus menyatakan dan bersaksi tentang siapa dirinya (Matius 16:21: “…Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga; Matius 24:8: “Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru”), sebagai kesaksian yang luar biasa dan membuat banyak orang di Yerusalem tecengang dan bertanya-tanya tentang siapa Tuhan Yesus. “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku”(Joh. 7:16). Apa yang diajarkan Tuhan Yesus tidak berasal dari diriNya sendiri, melainkan berasal dari Dia yang mengutus Yesus. Dari pernyataannya Tuhan Yesus tidak mecari kekuasaan dan agar banyak orang menghormatinya. Meskipun kemudian, oleh karena kesaksianNya itu banyak orang kemudian menuduh Tuhan Yesus kerasukan iblis dan semakin banyak yang membenciNya. Mendengar pengajaran Tuhan Yesus, orang bertanya-tanya tentang asal-usulNya. Apakah dari Nazaret atau yang datang dari Surga. Pertanyaan tentang diri Tuhan Yesus semakin diperkuat oleh banyaknya mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus. Sama seperti Musa pada zaman Perjanjian Lama, juga banyak melakukan muzijat dan puncaknya membawa bangsa Israel dapat keluar dari tanah perbudakan Mesir.


Masih dalam masa perayaan hari raya Pondok Daun, Tuhan Yesus kemudian bersaksi bahwa Dialah Sumber Kehidupan,yang kemudian mengundang banyak pertentangan dari kalangan orang Yahudi di Yerusalem. Dan yang menggelikan adalah bahwa yang membela Tuhan Yesus adalah seorang non-Yahudi, Nikodemus. Pertentangan mengenai kehadiran Tuhan Yesus oleh banyak orang, mengarahkan pemahaman mereka kembali kepada Kitab Suci. Mereka diajak untuk kembali memahami Kitab Sucinya dan mencari tahu tentang kehadiran Tuhan Yesus yang diperhadapkan kepada mereka. Hal ini penting bagi mereka, dan juga bagi kita saat sekarang ini. Bahwa, untuk mengenal Tuhan Yesus kita harus kembali kepada Kitab Suci. Pada masa Tuhan Yesus, orang-orang berpegang kepada Perjanjian Lama untuk kemudian dapat mengenal siapa Dia, dan sekarang dengan adanya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita juga harus belajar dan kembali kepada Perjanjian Lama untuk mengenal Tuhan Yesus. Siapa yang mau mengenal Tuhan Yesus, dia harus kembali kepada Perjanjian Lama. Dan, sama bagi agama-agama lain di luar kekristenan, bahwa untuk mengenal Tuhan Yesus, mereka harus belajar dari Kitab Sucinya. Tidak salah bagi kita orang kristen untuk mengajak umat beragama lain untuk mengenal Tuhan Yesus dengan belajar dari Kitab Sucinya masing-masing, meskipun kemudian pengenalan mereka terhadap Tuhan Yesus tidak sedalam pengenalan orang kristen. Artinya, semua yang mau mengenal kehadiran Tuhan Yesus, mereka harus kembali kepada Kitab Suci, baik bagi Kekristenan, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, dan agama-agama lainnya.


Dalam Yohanes pasal 8, oleh Tuhan Yesus sendiri kita diajarkan bagimana menyikapi orang berdosa lewat sikap Tuhan Yesus. Dalam hal ini, Tuhan Yesus diperhadapkan oleh para ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mengenai keberdosaan yang dilakukan oleh seorang perempuan yang telah berbuat zinah (Joh. 8:2). Kembali, untuk menyikapinya kita harus kembali kepada Kitab Suci. Oleh para ahli Taurat dan orang Farisi, mereka kembali kepada ajaran Musa tentang bagaimana semestinya memperlakukan orang yang berbuat zinah, mereka harus dihukum dengan melempari mereka dengan batu (ayat 5). Di kalangan agama Islam dan agama-agama sekitar Timur Tengah pada masa Tuhan Yesus harus dihukum dengan hukuman rajam. Begitu juga dalam Kitab Weda dan Mahabrata, pelaku zinah harus dihukum. Pertanyaan sebelum kita belajar bagaimana menyikapi orang yang berdosa adalah mengapa perbuatan zinah dianggap dosa dan mengapa begitu berat hukumannya? Bahkan dalam Hukum Siasat Gereja HKI, mereka yang melakukannya harus dikenai sanksi atau hukuman.

Pdt. M. Lumban Gaol, STh

Perbuatan Zinah yaitu perbuatan yang secara disengaja dan sadar melakukan hubungan badan (seks) di luar pernikahan. Perbuatan zinah adalah perbuatan yang ditentang keras oleh Allah, hal ini berkaitan dengan kekudusan hidup karena Allah adalah Kudus. Bahkan dalam Perjanjian Lama, konteks kehidupan suami istri dijadikan gambaran terhadap hubungan Allah dengan Bangsa Israel. Allah dan bangsa Israel digambarkan sebagai pasangan suami dan isteri. Ketika bangsa Israel berpaling dari Allah dengan menyembah allah-allah lain yang ada di sekitarnya, maka bangsa Israel telah berzinah di hadapan Allah, dan akan membangkitkan amarah Allah. Oleh karena itulah, mengapa perbuatan zinah dianggap sebagai dosa karena setiap yang berzinah tidak lagi hidup kudus di hadapan Allah dan akan membangkitkan amarah Allah.


Pdt. H. Pakpahan, STh

Berzinah dianggap berdosa karena: Pertama, dengan berzinah yaitu melakukan hubungan seks diluar pernikahan maka pelaku telah mengabaikan prosedur yang seharusnya diikuti terlebih dahulu untuk kemudian dapat melakukan hubungan badan sebagai sepasang suami dan isteri. Dengan berzinah maka pelaku telah menolkan apa yang Allah telah pesankan dan tetapkan. Kedua, dengan berzinah maka, pelaku tidak memiliki pengendalian diri untuk menjadi kekudusan dihadapan Allah, karena Allah adalah Kudus. Ketiga, dengan berzinah maka, pelaku telah mengabaikan tujuan dari seks yang Allah telah anugerahkan bagi manusia. Tujuan seks adalah untuk menggenapi pesan Allah agar manusia beranak cucu (Kejadian 1:28), dengan berzinah maka tujuan seks tidak lagi sesuai dengan perintah Allah. Karena lewat berzinah unsur kehidupan dibuang dengan sengaja. Maka, wajar jika berzinah adalah suatu dosa yang pantas memperoleh hukuman.


Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh

Kepada manusia Allah memberikan berbagai macam nafsu, karena manusia adalah nefeshaya, maka manusia memiliki nafsu. Dari ragam nafsu yang Allah telah berikan nafsu yang terindah adalah nafsu akan seks. Mengapa? Karena, berhubungan dengan nafsu inilah berkat Allah sebagai suatu perintah yang pertama sekali diberikan kepada manusia sebelum manusia itu berdosa yaitu, berkat dan perintah untuk beranak cucu dan bertambah banyak. Nafsu seks adalah harga yang bernilai lebih dari sebuah berlian atau permata. Nafsu seks adalah langkah pertama untuk mencapai berkat Tuhan dan memenuhi perintahnya bagi manusia untuk memiliki keturunan. Layaknya, kita memiliki suatu yang berharga, adakah kita memperlakukannya sesuka hati dan maukah kita memberikannya kepada sembarang orang? Inilah salah satu alasan mengapa berzinah dianggap dosa. Hal ini juga akan berhubungan dengan anak-anak yang dihasilkan dari zinah, apakah dapat dibaptis oleh gereja? Berzinah juga dianggap berdosa karena juga berhubungan dengan hubungan manusia dengan Allah, yang digambarkan lewat kehidupan bangsa Israel dengan Allah, sebagai pasangan suami dan istri. Maka, Allah akan murka jika bangsa Israel berzinah dengan allah-allah lainnya (Lihat dan bandingkan Keluaran 34:15-16; Imamat 20:5-6,10; Ulangan 31:16; Hakim-hakim 2:17; I Tawarikh 5:25; II Tawarikh 21:11). Makanya begitu keras Allah memperlakukan masalah perzinahan, lewat perzinahan maka akan dapat mengganggu dan menghambati berkat Tuhan. Jika seks disalahgunakan maka akan membangkitkan murka Allah. Oleh karena itu, masalah perzinahan harus ditanggapi dengan adanya pendidikan seks di tengah-tenah kaluarga dan masyarakat yang berkesinambungan, mulai dari sang anak berusia kecil, remaja,dewasa, pra pernikahan, pasca pernikahan, dan bahkan sepanjang kehidupan manusia. Sehingga nafsu seks yang Allah berikan dapat digunakan dengan benar sehingga senantiasa dapat membangkitkan dan menjaga gairah hidup manusia.


Masih mengenai perzinahan yang diperhadapkan kepada Yesus, muncul pertanyaan bagi kita adalah, mengapa yang dibawa dan diperhadapkan kepada Yesus hanya seorang perempuan? Dimanakah temannya yang bersama-sama dengan dia melakukan perzinahan? Dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, sering yang kita jumpai adalah istilah-istilah yang memojokkan perempuan. Misalnya saja adanya istilah perempuan sundal, sedangkan laki-laki sundal tidak ada. Jika memang perempuan itu tertangkap basah (ayat 4, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah”), dimanakah pasangan berzinahnya? Peristiwa ini, menggambarkan adanya penilaian yang berbeda yang diberlakukan kepada perempuan dan laki-laki. Cenderung terjadi perempuan, dijadikan kambing hitam dalam persoalan-persoalan yang timbul di tengah-tengah masyarakat. Khususnya, di kalangan bangsa Yahudi yang memberlakukan perempuan jauh lebih rendah dari perlakuannya terhadap laki-laki.


Kembali, kepada pertanyaan awal diatas, bagaimanakah kita semestinya memperlakukan orang yang berdosa lewat teladan sikap yang ditunjukan Yesus? Dalam ayat 7, Yesus mengajarkan kepada kita mengenai: “siapa yang berhak menghukum?”. Pada ayat 5, para ahli taurat dan orang Farisi menyebutkan bahwa Musa memiliki hak untuk memberikan hukuman, dan sudah tiba waktunya bahwa hanya Yesuslah yang berhak memberi hukuman. Yesus membongkar paradigma bangsa Yahudi dan juga kita tentang menghukum. Oleh Yesus dikatakanNya “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Pernyataan yang menunjukkan hanya Yesus yang berhak memberikan penghukuman, karena tidak seorangpun dari antara manusia yang memiliki hidup yang benar, sehingga berhak untuk menghukum sesamanya.


Bagaimana cara Yesus menghukum? Yesus menghukum tidak seperti Musa atau kebiasaan yang berlaku pada masanya, yaitu dengan menghabisi pendosanya, namun tidak menghilangkan dosa atau pelanggaran itu sendiri. Namun Yesus menghukum dengan menghabisi dosa dan menyelamtkan sipendosa. Itulah perubahan paradigma yang Yesus berikan. Yesus memberikan kesempatan bagi sipendosa untuk memperbaiki hidupnya, sama seperti dosa awal yang dilakukan oleh Adam, Allah tidak menjadikan Adam mati, melainkan memberikan kesempatan baginya untuk melanjutkan hidupnya dengan memperbaiki kasalahannya, hasilnya dapat dilihat bagaimana Adam hidup setia dengan isterinya Hawa dan beranak cucu dan berkembang biak.


Disinilah misi kita, sebagai warga dan pelayan Gereja Tuhan, HKI. Kita juga harus memberikan kesempatan bagi setiap orang yang telah melakukan kesalahan untuk menyadarinya dan bertobat. Ini stratregi pelayanan yang harus dilakukan oleh HKI, banyak warga HKI yang kemudian pindah gereja bahkan agama oleh karena kesalahan yang dilakukannya, misalnya masalah zinah dalam gereja. Ada yang dihukum dengan cara dikeluarkan. Pertanyaan bagi gereja adalah apakah mereka tidak memiliki kesempatan untuk bertobat? Seharusnya gereja memberikan kesempatan itu, seperti yang Yesus katakan kepada perempuan penzinah itu: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ayat 11b). Huria sebagai Tubuh Kristus yang kudus, tidak berdosa, maka diberikan mandat bahwa “apa yang diikat dan yang dilepas dibumi, maka akan demikian diperlakukan di Surga”. Maka, sudah saatnya gereja, khususnya HKI untuk memberikan hukuman bukan atas kehendak sendiri atau kelompok, melainkan atas perintah dan kehendak Allah. Tidak ada pembenaran bagi gereja yang melakukan penghukuman atas warganya tanpa berdasarkan ketetapan Allah, tetapi sesungguhnya gereja diberikan mandat untuk menghukum dosa agar tidak dilakukan kembali (bnd. 1Korintus 4: 1-5).


Pdt. MP. Hutabarat, STh

Mengenai perzinahan merupakan dosa karena tubuh kita adalah milik Allah, tempat bagi Kristus bekerja maka kita harus menjaga dan memelihara tubuh kita (bnd. 1Korintus 6:12-20). Dan iblis bekerja lewat perbuatan zinah yang membawa kita pada kesesatan dan keluar dari pekerjaan dan kehendak Allah, sehingga iblis memperoleh keuntungan atas kita (2 Korintus 2:11). Sedangkan untuk menyikapi keberdosaan yang dilakukan oleh sesama manusia, apa yang dilakukan Yesus adalah teladan bagi kita. Ketika di dalam diri kita tidak ada pengampunan, maka kasih tidak berjalan. Allah adalah kasih, maka kita juga semestinya saling mengasihi lewat pengampunan kita terhadap sesama. Namun, sebagai manusia Kristus kita tidak dapat bersembunyi di dalam kelemahan kita, sehingga kemudian kita kerap mengulang kesalahan dan dosa yang Allah telah beri pengampunan kepada kita. Di dalam Kristus kita menjadi kuat, untuk itu janganlah kita menyerahkan diri kita kepada perbuatan dosa. Meskipun demikian, pengakuan di hadapan Allah akan mendatangkan pengampunan, ada pengakuan maka akan hadir pengampunan.


Pdt. Dr. Langsung Sitorus, MTh

Bagaimana dengan istilah "pergi"? Istilah “pergi” yang Yesus gunakan kepada perempuan penzinah dalam ayat 11b menjadi bagian yang penting bagi kita untuk disimak dan diteladani. Kata “pergi” yang disampaikan Yesus bermakna agar perempuan itu memperbaiki dirinya, berintegrasi dengan dunia yang baru dimana hadir kebaikan, bertobat, dan memulai karya baru yang baik dalam kehidupannya agar tidak terjerumus kembali di dalam dosa yang sama. Inilah bahagian dari paradigma baru yang Yesus berikan bagi kita dalam menghukum orang yang berdosa. Menyelamatkan si pendosa dengan memberikan kesempatan baginya untuk memperbaiki hidupnya, dan melenyapkan dosa yang dilakukan dengan melakukan hal yang baru dalam hidupnya. Sebab dosa sesungguhnya adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia yang tidak tepat pada sasarannya, yaitu sasaran dan tujuan yang Allah kehendaki. Maka, pertobatan adalah kembali kepada rel yang menghantarkan kita pada tujuan Tuhan. Bertobat berarti memasuki jalan salib (jalan via dolorosa), jalan yang dianggap dunia penderitaan, tetapi di dalam iman kita adalah kebahagiaan. Inilah pilihan yang harus dijalani orang kristen, jalan via dolorosa, jalan penderitaan yang merupakan kebahagiaan sesungguhnya di dalam Kristus (Bc. Kis. 9:6; Rom. 8:18; 2 Kor. 4:18; Ibr 2:10 dan 1 Pet. 4:1). Demikianlah, yang dimaksudkan dan diperintahkan Yesus kepada perempuan itu, agar perempuan itu hidup pada jalan yang baru, jalan kehidupan yang meskipun tampak sulit dan berat, namun akan medatangkan kebahagiaan yang kekal baginya. Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Amin. (yph)


(Bahan Renungan Kebaktian Pagi di kantor Pusat HKI yang dipimpin Ephorus/Bishop HKI).

Ev. Amsal 23: 22-26 (Minggu, 19 September 2010: 16 Set Trinitatis)

Sungguh berharga suatu nasehat yang disampaikan kepada kita oleh siapapun orangnya. Sebab nasehat yang kita dengarkan, terlebih berasal dari orangtua adalah sebagai landasan atau dasar bagi kita untuk menjalani kehidupan, dan setiap yang mengabaikan nasehat pasti akan mengalami kesulitan dalam menjalani hidupnya. Sebab, nasehat yang sampai kepada kita tidak lah disampaikan begitu saja keluar dari mulut atau menjadi perkataan yang tidak memiliki arti, melainkan sebuah nasehat keluar dari orang yang lebih bijaksana dari kita. Mengapa nasehat menjadi penting dan dalam nats dingatkan kepada kita untuk memperhatikannya? Ada beberapa hal yang ingin disampaikan Salomo dalam nasehatnya:


Pertama, apa yang keluar dari mulut kita sudah menjadi milik orang lain. Demikian misalnya orangtua terhadap anak-anaknya, setiap hal yang diucapkan oleh orangtua kepada anak, maka akan menjadi milik anak dan kemudian akan menjadi penilaiannya bagi dirinya sendiri, lingkungannya dan juga terhadap keluarganya. Oleh karena itu, kepada kita diingatkan agar tidak sembarangan mengeluarkan perkataan terhadap orang lain, sebab segala yang telah kita keluarkan tidak akan dapat dikembalikan ke dalam mulut yang kita gunakan untuk mengeluarkannya karena sudah menjadi milik oranglain yang mendengarkannya. Disaat kita mengeluarkan kata-kata yang tidak baik dan tidak membangun, atau sebaliknya maka akan digunakan untuk menilai kualitas diri dan hidup kita. Orangtua manapun tidak akan menginginkan kehidupan yang tidak baik terjadi dalam kehidupan anak-anaknya. Oleh sebab itu, orangtua selalu akan memberikan nasehat yang bermanfaat baik bagi kehidupan anak-anaknya. Inilah alasan Salomo menuliskan nasehatnya (ayat 22) agar kita mendengarkan dan bahkan tidak menghina nasehat dari orangtua kita. Sebab nasehat orangtua akan menjadi petunjuk dan bintang kejora yang akan menuntun langkah kita untuk memperoleh hidup yang baik. Jika, selama ini kita mengabaikan nasehat yang sampai pada kita, maka jangan kuatir masih ada waktu untuk memperbaikinya. Berubahlah dan menjadi lebih baik. Misalnya saja, salah satu kelemahan orang batak di antaranya adalah sulitnya untuk mendengarkan nasehat dari orang lain, bahkan sekalipun orangtuanya. Indikasinya adalah tidak jarangnya ditemui orang-orang batak yang telah berhasil kemudian melupakan bona pasogitnya. Perlu kita ingat bahwa apa yang menjadi milik kita saat ini, adalah tidak semata-mata oleh karena usaha kita sendiri, melainkan berkat doa dan kerja keras dari orangtua kita yang telah memberikan bekal hidup bagi kita. Maka, ingatlah nasehat dari orangtua.

Kedua,
pada ayat selanjutnya, (ayat 24 ff) juga dingatkan kepada kita untuk menjaga nilai-nilai kebenaran, hikmat, didikan dan pengertian. Bahkan oleh Salomo kita dinasehatkan untuk membelinya, jika perlu. Bukan malah menjualnya, atau membiarkannya lenyap dari kehidupan kita.
Banyak sekarang ini, manusia menjual kebenaran oleh karena dorongan kepentingan dan arogansi semata. Sehingga kemudian mengabaikan hikmat, didikan dan pengertian dari orang-orang di sekitarnya. Khususnya, di tengah-tengah lingkup pekerjaan, misalnya di kantor pusat HKI, kita sebagai para pekerja dan pelayan yang ada agar mau mengingat nasehat Salomo ini dalam menjalankan tugas sehari-hari kita. Kita harus mengupayakan agar suasana kantor kita menjadi berkat bagi setiap orang yang datang dan khususnya kita yang setiap hari bertemu. Suasana penuh sapa dan senyum satu dengan yang lain, saling menopang dan bergandengan tangan untuk bekerja bagi Huria Tuhan. Sebab, apa yang kita kerjakan adalah bukan untuk pimpinan, melainkan untuk Tuhan yang memiliki pekerjaan ini. Kita hanya sebagai pekerja-pekerja yang dipercayakanNya untuk mengerjakan pekerjaanNYa lewat HuriaNya HKI. Kita harus berani mengatakan bahwa kuasa Iblis tidak akan menguasai pekerjaan kita di kantor ini dan di dalam Yesus lewat terangNya akan memberkati kehidupan kita dan seluruh warga dan pelayan HKI dimanapun berada. Untuk itu, mari berikanlah hati dan pikiran bersama untuk menata apa yang kurang dan perlu dibenahi dalam kebersamaan kita di kantor. Pekerjaan yang kita lakukan adalah pekerjaan Tuhan, dan kita dipakai untuk menjadi pekerja-pekerjaNya, sebab Allah akan mengasihi setiap orang yang dengan sungguh-sungguh mengasihiNya dengan memberikan yang terbaik dari setiap tugas pekerjaan yang diberikanNya.


Ketiga, open your mind, mari buka pikiran kita, buka mata, lihat sekeliling, apa yang perlu kita benahi dan saling memperhatikan satu dengan yang lain, begitulah hendaknya persekutuan yang dirindukan Tuhan tercipta di antara kita. Amin.(yph)

(Bahan Renungan Kebaktian Pagi di kantor Pusat HKI yang dipimpin Sekjend HKI)

Ev. 1 Korintus 12: 14-27 (Minggu, 12 September 2010: 15 Set Trinitatis)

Isi surat Paulus berikut menerangkan gambaran akan adanya keterkaitan hubungan satu individu dengan orang-orang dan kehidupan di sekitarnya. Walaupun hubungan yang ada memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda, tetapi berbhineka tunggal ika, karena ada satu yang mengalir di tengah-tengah hubungannya yakni Roh Tuhan, meskipun manusia memiliki rohnya masing-masing (Zak.12:1), tetapi Tuhan mengalirkan RohNya pada semua manusia yang padanya Allah berkenan. Keterikatan itu digambarkan seperti tubuh manusia, apakah yang membuatnya terpaut atau bersatu? Ototkah, kerjakah, eksisitensikah atau yang lainnya. Manusia dapat hidup oleh karena adanya darah yang mengalir dalam tubuhnya. Dalam darah manusialah terdapat hidup, (makanya dalam Perjanjian Lama manusia dilarang makan darah), tanpa adanya darah maka manusia akan mati. Demikianlah digambarkan kehadiran Roh Allah di antara manusia. Jika Roh Allah tidak mengalir atau dicurahkan bagi manusia, maka tidak mungkin manusia dapat terpaut atau bersatu. Manusia akan terlepas satu dengan yang lainnya. Apakah yang membuat manusia dapat terpaut atau bersatu? Ada dua hal yakni Roh Tuhan yang dialirkan atau dicurahkan dan Firman Tuhan sebagai makanan rohani bagi manusia.

Mengenai Firman Tuhan sebagai makanan rohani manusia, dijelaskan bahwa jika manusia tidak makan Firman Tuhan, pasti manusia akan menjauh satu sama lain. Manusia tidak akan dapat bersatu, menerima dan hidup berdampingan secara damai terhadap sesamanya manusia. Bahkan disaat manusia dapat makan makanan rohani yakni firman Tuhan, masih ada kemungkinan kesulitan baginya untuk bertautan atau bersatu. Maka itulah salah satu perjuangan kita HKI sebagai gereja reformis untuk melanjutkan perjuangan yang juga telah lama diperjuangkan oleh Martin Luther semasa jamannya yaitu kesatuan gereja Tuhan. Marthin Luther menggerakkan perjuangannya melalui Sola Scriptura yakni hanya oleh dengan Firman Tuhan, sehingga iman (Sola Fide) akan berfungsi untuk menghadirkan anugerah Tuhan yang menyelamatkan secara Cuma-Cuma (Sola Gratia).

Banyak agama yang mengklaim mendapat wahyu Tuhan, seperti Islam yang Nabi Isa (Yesus Kristus) pun mereka kenal dan terdapat dalam Kitab Sucinya, gereja Mormon dengan memakai PL dan PB ditambah dengan catatan mimpi para pemimpinnya sebagai sumber firman Tuhan, agama Yahudi dengan mengakui PL sebagai firman Tuhan, dan Agama Katholik memakai PL, kitab Deutrokanonika dan PB sebagai sumber Firman Tuhan. Dengan keanekaragaman ramuan makanan rohani yang dikonsumsi banyak orang, kemungkinan besar untuk dapat bersatu sangat kecil. Islam dengan gereja-gereja seperti Katholik, Mormon, HKI dan gereja-gereja lainnya yang tergabung di bawah payung PGI (ada 89 anggota dari denominasi gereja yang berbeda) yang menyatakan diri sebagai Tubuh Kristus, yang sama-sama memiliki makanan rohani saja tidak dapat bersatu. Begitu juga dengan pelbagi aliran teologi di Indonesia seperti Lutheran, Calvinis, Menonit, Metodist, Pentakosta, Kharismatik yang telah tergabung di payung PGI dan kemudian mengeluarkan 5 dokumen keesaan gereja, yang diantaranya pengakuan saling mengakui dan saling menerima (jika tidak ada itu maka tidak ada gunanya kehadiran PGI), dan adanya Pengakuan Iman PGI sebagai rangkuman dari 89 denominasi gereja sebagai dokumen iman yang disepakati bersama, namun yang disayangkan sering tidak terpakai untuk menautkan atau menyatukan satu gereja dengan gereja lainnya.Kembali kepada gereja kita HKI, banyak pekerjaan yang mesti kita laksanakan. Untuk itu, Roh Tuhan yang dicurahkan dan mengalir kepada kita (sebagai warga jemaat dan para pelayan) harus kita pahami untuk membangkitkan kita, memfungsikan talenta yang ada, dan yang mendorong kita berfungsi menyatukan Tubuh Kristus yang ada di HKI. Percayalah, HKI tidak akan maju jika tidak mengembangkan talenta yang dimiliki untuk membangun diri, sebab hanya dengan demikian kita dapat bertemu dalam perjuangan yang sama sebagai tanda atau bukti bahwa Roh Kudus mengalir pada kita. Makanan rohani yang kita makan harus dapat digunakan untuk menyehatkan gereja Tuhan, HKI. Salah satu indikasi tidak sehat adalah jika ada anggapan pada kita sebagai warga jemaat dan pelayan bahwa tidak ada hubungan pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing kita dengan yang lain di dalam perjuangan yang sama untuk membangun HKI. Pembedaan dan pembiaran terhadap satu sama lain adalah salah satu bukti kita menjadi tidak sehat sebagai Tubuh Kristus.

Jika kita berpaut atau bersatu maka sikap aku bukan dia terhadap sesama pekerja dalam HKI (yang merupakan sebagai indikasi lain dari tidak menyehatkannya makanan rohani yang kita konsumsi) akan sirna dari kita. Maka tidak ada yang mengatakan, aku sebagai mata dan yang lain sebagai telinga, biarlah mengurusi dirinya sendiri di dalam melaksanakan pekerjaan Tuhan di gerejaNya HKI. Mari fungsikan diri masing-masing sebagaimana fungsinya yang Allah telah berikan lewat setiap talenta yang kita miliki untuk saling menopang dan bersama-sama dan bekerjasama mengembangkan HKI.

Kesadaran terhadap fungsi masing-masing diri, akan mempercepat orang lain untuk berfungsi. Itulah petanda bekerjanya fungsi kita. Maka, juga perlu sekali adanya pembinaan yang sampai ke ranah terbawah hingga tertinggi dalam gereja HKI. Sehingga setiap pelayan mulai dari Sintua, Guru Jemaat, Pendeta dan para pelayan lainnya akan semakin giat memfungsikan diri mengemban tugasnya, begitu juga dengan jemaat.

Andaikata, kita semua satu anggota tubuh apakah akan berfungsi? Tentu tidak. Demikianlah jika hal yang sama terjadi di antara kita sebagai warga dan pelayan HKI, semua memiliki hak dan kewajiban yang sama, sedangkan posisi yang berbeda semata-mata sebagai upaya mensinerjiskan fungsi dari semua pelayanan di HKI. Demikianlah, suatu hari semua organ tubuh melakukan aksi demo karena merasa diperlakukan tidak adil dibandingkan organ perut yang menurut mereka mendapat perhatian berbeda. Tangan, kaki, mulut dan yang lainnya tidak lagi mau bekerja untuk mendatangkan makanan bagi sang perut. Hari pertama mereka menganggap berhasil dan senang telah memberikan pelajaran bagi sang perut, namun berhari-hari berikutnya semua organ tadi mengalami kelemahan dan tidak berdaya oleh karena tidak adanya energi yang dapat mereka gunakan. Kemudian mereka sadar bahwa, meskipun terlihat istemewa, ternyata tugas perut cukup vital bagi keberlangsungan organ yang lain. Akhirnya, mereka menyadari kesalahannya dan mulai melakukan kerja dan fungsi mereka sehingga semua kembali normal.

Begitu jugalah keterpauatan kita dalam tugas mengembangkan HKI antar sesama pelayan dasn warga. Sederhananya misalnya, bagaimana agar pekerjaan di kantor pusat dapat memberikan kemajuan bagi HKI dan mendatangkan kebaikan bagi kita semua, caranya cukup dengan tidak membiarkan satu sama lain, dan berfungsilah sesuai fungsinya. Jika ada niat untuk membiarkan seseorang bekerja sendirian, maka yang terjadi timbul kemacetan, dan lambat laun mendorong kita untuk mengundurkan diri oleh karena merasa tidak sejahtera, dengan begitu maka si iblis akan tertawa karena gereja Tuhan akan mengalami kemunduran. Maka, jalan yang terbaik adalah mari memfungsikan diri masing-masing dan saling menopang untuk berjuang bersama. Menjadi orang yang bisa diandalkan sehingga dapat kita sebagai HKI dapat berbangga, tetapi tidak menjadi sombong menghadapkan yang lain.

Apa yang harus dilakukan? Tujuan Paulus agar setiap bagian tubuh saling memperhatikan. Begitu juga yang harus kita lakukan di HKI. Prinsip lebih baik saya tidak memiliki untuk menolong orang lain, adalah mentalitas yang harus dibangun. Jika kita masih dapat menolong, tetapi tidak melakukannya berarti kita sudah mendustai diri. Mentalitas ini harus menjadi milik bersama di tengah-tengah kehidupan warga jemaat dan para pelayan HKI, untuk saling memperhatikan dan menopang. Misalnya Jemaat yang kecil perlu diperhatikan oleh jemaat yang besar dan maju, dan jemaat kecil juga perlu memperhatikan jemaat yang besar untuk belajar menjadi jemaat yang besar dan maju. Di kantor pusat HKI misalnya, kita juga harus saling memperhatikan, pekerjaan di sini adalah pekerjaan raksasa. Misalnya dengan pencanangan implementasi sentralisasi yang akan diupayakan tercapai enam bulan kedepan, dan program lainnya. Saling peduli, memperhatikan dan sama-sama berjuang akan mendatangkan berkat dan pertolongan dari Tuhan untuk mewujudkannya. Semua berjalan bukan dengan keterpaksaan, melainkan dengan menyadari dan memfungsikan diri masing-masing sebagaimana seharusnya.

Dialog:


Pdt. Happy Pakpahan, STh

Kebersamaan digambarkan sebagai tubuh. Jika, tubuh sakit maka perlu pemeriksaan yang hati-hati. Tubuh memerlukan pemeriksaan demi keselamatannya. Harus ada tahap-tahapan konkrit. Kantor pusat adalah “tubuh” HKI. Harus ada tahapan-tahapan konkrit untuk pembenahannya. Berbicara mengenai darah atau Roh Tuhan yang dialirkan dan kemudian menggerakkan tubuh dan kita, tidak jarang berorientasi pada “wajah”. Semua anggota tubuh yang lain bekerja untuk wajah, dan sangat jarang kemudian memperoleh perhatian yang sewajarnya. Sehingga tidak lagi proporsional. Semua perlu sehat, agar berfungsi secara proporsional, artinya tidak ada lagi tangan memukul tangan, atau kaki menghina kaki oleh karena terjadinya “korsleting” di bagian otak yang memberi perintah bagi organ tubuh yang lain. Mengenai makanan rohani yang diperoleh setiap orang, sehari ada 24 jam, jika seseorang memperoleh makanan rohani hanya 4 jam, maka lebihnya ia akan diperhadapkan pada banyaknya ajaran “makanan rohani” lainnya. Maka, perlu adanya pembinaan secara emosional dan spritual agar dapat mencernanya dengan dewasa secara iman.


Pdt. S. Hasugian, STh

Hal ini yang selalu kita idam-idamkan, bagaimana peran Roh Kudus yang turut bekerja di dalam kehidupan manusia. Manusia lewat makanan rohani yang diterimanya (Firman Tuhan) dan Roh Kudus yang mengalir pada kehidupannya benar-benar harus disampaikan kepada warga jemaat dan pelayan di HKI untuk menolong mereka melakukan perkerjaannya, dan menyadari Allah lah yang menopang mereka. Terkadang, banyak dari kita sering melupakan memfungsikan diri kita sebagaimana yang Allah telah berikan dalam pelbagai talenta. Sehingga makanan rohani yang dimakan, mendatangkan penyakit, lalu datang kepada Tuhan dan mempertanyakan, mengapa Tuhan? Semua karena gema duniawi lebih di dengar dari pada suara Tuhan. Ini juga terjadi di kehidupan pelayan gereja, sehingga Firman Tuhan tidak tersalur sewajarnya bagi sipenerima. Kemudian kerap menimbulkan ketidakharmonisan antara pelayan dengan warga jemaat. Alhasil, semua menjadi lupa menjalankan fungsinya masing-masing. Demikian juga yang terjadi di tengah-tengah bangsa kita saat sekarang ini. Banyaknya kemiskinan dan kesejahteraan yang tidak merata di tengah masyarakat adalah dampak dari tidak berfungsinya sebagaimana seharusnya setiap elemen bangsa ini.


Pdt. E.J. Manullang, STh

Mengingatkan kita, bahwa barangsiapa yang tidak bekerja tidak pantas untuk makan, dan begitu juga sebaliknya. Di HKI kesenjangan kemapanan dalam pelbagai hal kerap terjadi, dan perlakuan yang tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan juga tidak jarang terjadi. Kita diajak untuk menjadi pribadi yang tidak suka untuk membesar-besarkan masalah, lihatlah akar masalahnya dan berusaha memelimalisirnya sesuai dengan fungsi kita masing-masing. Mari kita pertanggungjawabkan setiap fungsi kita dan menghargai fungsi orang lain.


St. Raja PS.Janter Aruan, Sh, Mhum

Nats ini mengajari kita untuk bagaimana saling menghargai dan mengakui di dalam perbedaan satu sama lain dan secara sadar untuk bersama-sama mengoptimalkan fungsi kita di dalam kebersamaan. Kita disebut menghargai diri kita, jika kita mengenal fungsi dan potensi kita dan mengenal potensi orang lain dengan dapat bekerjasama dengannya. Tentu komunikasi adalah faktor utama keberhasilannya. Makanan rohani dan curahan Roh Allah harus dapat kita komunikasikan secara baik agar tidak menjadi sia-sia. Memiliki prinsip, pintar merasa daripada merasa pintar adalah lebih baik dalam menunjang komunikasi di antara kita rekan sekerja untuk kepentingan bersama yakni HKI yang maju.


St. P. Lubis

Anggota tubuh bermacam-macam, jika tidak saling menolong maka akan rusak dan tidak sehat. Demikianlah juga dengan kita dalam melaksanakan tugas dan pelayanan kita. Tugas kita adalah bagaimana agar fungsi dari masing-masing dapat berjalan dengan baik. Tidak ada pembedaan yang berat sebelah adalah salah satu langkah baik untuk kemajuan bersama di HKI.


Amang Silalahi

Banyak pekerjaan gereja tidak berjalan dan tercapai tujuannya karena tidak adanya kebersamaan di dalam perbedaan yang ada. Kita berbeda, tetapi satu tubuh di dalam Kristus. Misalnya upaya sentralisasi yang sudah dicanangkan mulai tahun 1982, tetapi hingga hari ini tidak terlaksana, mengapa? Karena sesama kita belum terbangun rasa kebersamaan antar pelayan dan warga jemaat.


Inang Br. Simangungsong

Kaki dengan tangan tidak sama, tetapi satu kesatuan dalam tubuh yang memiliki fungsi berbeda. Begitu juga kita para pelayan dan warga jemaat HKI, maka kita harus saling menghargai dan juga mengajari, dan saling bergandengan tangan dalam mengembangkan HKI.


Kepala kita adalah Kristus, maka otomatis otak kita adalah juga Kristus. Jadi, adalah sudah semestinya bagi kita bekerja untuk Kristus. Fungsi kita adalah sebagai suruhan yang dikomandoi langsung oleh Kristus. Di dalam gereja Tuhan HKI, kita bekerja bukan karena adanya atasan atau bawahan, semua adalah pelayan yang dikomandoi oleh Kristus dengan fungsi yang berbeda. Mengenai sakit pada tubuh, ada dua penyebabnya yakni yang datangnya dari dalam tubuh sendiri atau dari luar. Jika dari dalam diri sendiri, kita sendiri harus bangkit berupaya untuk sembuh, dan jika dari luar maka harus dicari tahu penyebabnya dasn bersama melawannya. Khususnya, sekarang ini banyak dan besar tantangan yang harus dihadapi gereja kita HKI dan sebagai pelayan di gereja HKI, untuk itu kita harus meningkatkan mutu dari fungsi kita dan berupaya untuk menghadapinya dengan bersama-sama. Pendisiplinan diri dan kebersamaan adalah salah satu dari kunci keberhasilan kita menghadapi pelbagai tantangan ke depan. Khususnya bagi generasi muda di medan pelayanan HKI yang akan melanjutkan perjuangan HKI. Akhirnya, sebagai anggota tubuh yang sama, mari saling memperhatikan dengan mewujudnyatakan yang terbaik untuk seluruh HKI yang akan menjadi persembahan dan kurban yang manis bagi Kristus Tuhan kita. Amin. Tuhan memberkati kita dan GerejaNya. (yph)