Monday, October 18, 2010

Minggu, 21 November 2010: Akhir Tahun Gereja

Ev. 2 Korintus 5: 1-10

(Minggu, 21 November 2010: Akhir Tahun Gereja)

Pengantar oleh Cln. Pdt. Yansen P. Hasibuan, STh

Untuk memahami gagasan Paulus dalam perikop bacaan kita sekarang ini, kita perlu meninjau ulang ayat-ayat sebelum bacaan kita. Dalam 4:2-16a Paulus membeberkan penderitaannya bersama-sama teman-temannya dalam pelayanan. Tetapi ia dan teman-temannya tidak “tawar hati” (ay. 16a). Mengapa bisa demikian? Karena hidup Yesus, yang juga pernah menderita itu, menjadi nyata, atau paling tidak tercermin, di dalam tubuh yang fana dari Paulus dan teman-temannya (ay.11); dan Allah telah membangkitkan Yesus, maka Dia pun tentu akan membangkitkan Paulus dan teman-temannya bersama-sama dengan Yesus (ay. 14). Dengan itu Paulus hendak menyiratkan kepada para pembacanya bahwa mereka menderita demi keselamatan orang-orang Korintus. Lalu dalam penggalan seterusnya (4:16-5:10), Paulus mengulas tema tentang “kemuliaan kekal” (“future glory”) di masa depan, yang merupakan landasan kokoh untuk bertahan dalam penderitaan saat ini. Sebagai pengantar Paulus menulis: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” (4:17)

2 Kor 5:1-10 berisi dua unit yang mengetengahkan pandangan yang kurang lebih sejajar atau paralel. Unit pertama adalah ayat 1-5 dan yang kedua adalah ayat 6-10. Kedua unit di atas masing-masing mencerminkan dua komponen pandangan eskatologis gereja perdana zaman itu. Komponen pertama bersifat kosmik yakni kebangkitan pada akhir masa/sejarah (parousia). Yang kedua bersifat individual yakni tubuh sejati bersama Tuhan. Dapat secara jelas kita ketahui adanya dalam pandangan ini tersirat pengaruh agama Yahudi tentang akan ada peristiwa kosmik di akhir masa/sejarah. Pada saat itulah akan ada kebangkitan orang mati dan pembaharuan kehidupan. Orang-orang Kristen yang meninggal sebelum peristiwa ini berada bersama-sama dengan Tuhan, menanti masa akhir itu.

Perikop bacaan kita (ay. 1-5) memberi tekanan pada dimensi kosmik dari eskatologi yang mempunyai akar pada pengalaman masa kini. Pernyataan “kami tahu” (ay.1a) merupakan pengakuan iman Kristen tradisional: “bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar (RSV: “destroyed”), Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, yang tidak dibuat oleh tangan manusia” (ay 1b). Ungkapan “kemah dibumi” merupakan kosa kata yang mengungkapkan kehidupan di dunia ini (bnd. Yes 38:12; Ams 9:14; 2 Ptr 1:13). Kemah di bumi yang “dibongkar” menyatakan waktu kematian.

Ayat 2-5: kerinduan “mengenakan pakaian yang baru”. Kalau dalam ayat 1 tadi Paulus menggunakan kosa kata bangunan (a.l. ‘kemah’), maka dalam bagian ini ia menggunakan kosa kata pakaian (ay. 2: “mengenakan”). Dalam praktek sehari-hari, sebelum mengenakan pakaian baru, terlebih dulu pakaian lama dicopot. Namun di sini Paulus mengenakan pakaian baru tanpa lebih dulu mencopot pakaian lapisan dalam. Tersirat di sini Paulus mencegah untuk membahas periode telanjang. Jadinya bagaimana kita memaknai pernyataan Paulus dalam bagian ini? Kedua jenis pakaian itu mencerminkan kedua wujud kehidupan kita di masa kini dan di masa datang. Di masa kini “kita mengeluh oleh beratnya tekanan” (ayat 4) dan Paulus tidak bermaksud agar pernyataan ini dimengerti sebagai keluhan, justru ini merupakan suatu pernyataan kerinduan untuk “mengenakan pakaian yang baru tanpa menanggalkan yang lama” (ayat 4). Lalu bagaimana dengan periode “telanjang”? Paulus hanya menyinggungnya sambil lewat. Katakanlah kita berada dalam keadaan telanjang, yakni bahwa kita meninggal dalam periode sebelum kedatangan Kristus kembali. Pakaian lama sudah dicopot, tetapi pakain baru belum dikenakan. Maka kita, toh, “tidak kedapatan telanjang” (ay. 3). Pernyataan Paulus ini ada kaitannya dengan pernyataannya dalam Gal 3:27 “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.” Kerinduan Paulus ada syaratnya, yaitu bahwa seandainya ia dibanggakan dan dijadikan teladan dengan tubuh baru (dengan tiada menderita kematian), maka ia tidak didapati bertelanjang, atau ia tiada mengalami hal dengan tiada tubuh. Rupanya Paulus ngeri ditelanjangkan sebagai yang berlaku pada saat kematian, maka sebab itu ia lebih suka menghindarkan kematian. Hal ini dapat terjadi saja, jika ia masih hidup pada hari kedatangan Tuhan dalam kemuliaan. Pada saat itu ia akan disalutkan dengan tubuh baru dengan tiada menderita kematian itu. Allah yang akan mengerjakan perubahan ini semua, memberi jaminan melalui kehadiran Roh Kudus (ay. 5), bahwa hal-hal itu pasti akan terpenuhi. Istilah “jaminan” dalam bahasa Yunani adalah arrabona dapat diartikan persekot, atau a commercial term meaning a down payment in guarantee that the whole amount will be paid.

Pdt. M. Lumban Gaol, STh

Ada kondisi keragu-raguan di tengah-tengaha jemaat Korintus. Hal ini dipengaruhi oleh maraknya ajaran sesat yang menggerogoti kepercayaan iman jemaat. Misalnya saja mengenai hari penghakiman dan tidak adanya kebangkitan setelah kematian. Di samping keberadaan ajaran sesat, jemaat juga diperhadapkan dengan tekanan-tekanan yang datangnya dari kehidupan sehari-hari mereka. Untuk itu, Paulus dalam suratnya ini berpesan untuk meneguhkan dan menguatkan jemaat Korintus. Paulus menggambarkan keberadaan manusia di bumi seperti perkemahan. Kehidupan di dunia hanya sementara saja, sama seperti sebuah kemah yang dipakai hanya untuk sementara waktu dan akan dibongkar jika akan berpindah lagi. Kemah menggambarkan kesemtaraan hidup manusia di muka bumi. Banyak ahli juga menggambarkan keberadaan hidup manusia, sama seperti para musafir yang singgah untuk minum air di telaga. Paulus mengingatkan agar jemaat Tuhan fokus untuk memanfaatkan kehidupan yang sementara ini dengan cara hidup yang bekualitas dan yang dapat dipertanggungjawabkan. Hidup bukan sekedar untuk diakhiri dengan kematian, melainkan bagaimana kita mengisi kehidupan dengan sebuah nilai. Dalam ayat 10, istilah baik atau jahat juga dimaknai sebagai bernilai atau tidak bernilai. Hidup yang sementara ini hendaknya bernilai di hadapan Tuhan, untuk memperoleh kesempatan dan tempat di perkemahan kekal yang Tuhan telah persiapkan.

Pdt. MOS. Siahaan, STh

Perikop kita berpesan tentang kehidupan duniawi dan sorgawi. Ketidakpuasan manusia sesungguhnya merupakan sumber dari tekanan-tekanan yang muncul di dalam kehidupannya (ayat 4). Untuk itu, dalam ayat ke 5, oleh keterbatasan manusia, Allah mengambil inisiatif untuk mempersiapkan kita memperoleh tempat di perkemahan yang telah dipersiapkanNya dengan memberikan Roh Kudus melingkupi hidup manusia sehingga manusia dapat bertahan menghadapi tantangan dunia. Dan, semuanya itu akan diperhadapkan di tahta pengadilan dimana setiap orang akan mempertanggungjawabjan setiap perbuatan di masa hidupnya di dunia. Layak tidaknya manusia mendapatkan tempat di perkemahan yang Allah telah persiapkan berdasarkan pada penilaian Allah di depan pengadilanNya.

Hasudungan Siahaan

Dengan pelbagai tantangan dan tekanan yang dihadapai manusia, Paulus menguatkan kita agar kita menghadapinya dengan ketabahan (ayat 6 dan 8), karena Allah sendiri akan turut bekerja bagi kebaikan kita.

Pdt. Happy Pakpahan, Sth

Ada jenis kehidupan yang boleh kita pilih, yakni hidup menderita di dunia dan di surga oleh karena kesalahan dan kelalaian kita semasa hidup ini, dan sebaliknya; hidup menderita di dunia oleh karena kebenaran yang kita pegang teguh semasa hidup dan memperoleh kebahagiaan di surga; dan hidup bahagia di atas penderitaan orang lain dan menderita di surga. Untuk itu, dibutuhkan usaha dalam menjalaninya, terlebih jika kita memilih untuk bertahan dalam kebenaran Kristus yakni menjadi pribadi yang mengenakan “pakaian baru” (ayat 3 dan 4). Di dalam mengikut Kristus haruslah mengenakan pakaian baru yakni karakter dan pribadi yang baru, tidak dapat mengenakan dua pakaian (kepribadian) untuk memperoleh kehidupan surgawi yang Allah telah persiapkan. Dengan pelbagai tantangan hidup, manusia diarahkan untuk hidup dalam berpengharapan di dalam iman kepada Kristus sembari dipanggil untuk ikut serta menterjewantahkan Kerajaan Allah di muka bumi. Bagi kita secara khusus adalah tugas panggilan kita untuk mengimplikasikannya dengan mengkonstruksinya lewat kehidupan bergereja kita di HKI. Pada ayat ke 10, Paulus mengingatkan akan adanya pengadilan Allah, semua kita akan diperhadapkan kepada pengadilan itu, dan segala isi yang telah kita berikan dalam kehidupan ini akan dipertaruhkan di hadapan pengadilan itu. Seperti apa penilaiannya, hanya Allah yang memutuskannya.

Pdt. MP. Hutabarat, Sth

Sama seperti jemaat Korintus, orang Kristen hari ini juga kerap bebicara tentang masalah, tekanan, mengeluh, hingga depresi. Apakah yang membuatnya terjadi? Karena melihat atau tidak melihat, atau karena ada atau diadakan? Semua bersumber dari hati manusia, jika manusia kurang berhikmat maka apa yang dilihatnya akan dapat menimbulkan kecemburuan, iri hati dan menjadi masalah dalam dirinya sendiri. Untuk itu, Paulus mengingatkan kita untuk tidak hanya berfokus pada yang kelihatan saja (ayat 7). Berbahagialah orang yang percaya sekalipun dirinya tidak melihat. Kehidupan kita adalah untuk sementara waktu, diibaratkan seperti kemah yang pastinya akan tiba waktunya untuk dibongkar. Kemah yang diibaratkan Paulus tidak sekedar berbicara mengenai tempat, melainkan hidup dan kehidupan kita. Banyak manusia yang mengalami kekecewaan dari perbuatannya sendiri, baik karena mengandalkan kekuatan dan pikirannya semata, memiliki keingingan yang egois, dan memiliki tujuan hanya kepada yang kelihatan. Oleh Paulus, diingatkan bahwa setiap kehidupan akan dibongkar, oleh karena itu hendaklah hidup dengan berkacamatakan pengharapan. Tidak sekedar menjalani hidup untuk yang dapat dilihat, melainkan juga mempersiapkan diri untuk hidup yang kekal.

Bersukacitalah dalam pengharapan dan tekun dalam doa. Selama kita di dunia (kemah) ini, itu yang dituntut dari kita untuk tidak jatuh dalam cobaan hidup. Jikapun ada penderitaan dalam hidup ini, haruslah kita kelola untuk menjadi kebahagiaan di kemah yang Allah telah persiapkan. Hidup tidak ada yang otomatis dan instan, semua membutuhkan proses. Sama halnya untuk hidup sukacita di dalam Tuhan, harus melalui sebuah proses yakni dengan menanggalkan beban hidup kita dengan mengedepankan kejujuran dalam tujuan hidup. Dalam ayat 4-5, apa yang hendak diperoleh oleh manusia, bukan karena kekuatan manusia melainkan Allah sendiri yang berkenan. Untuk itu, keluarlah dari hati yang keras dan jangan memelihara karakter-karakter yang buruk dalam diri, pakailah pakaian yang baru di dalam Kristus dengan membiarkan Roh Kudus mendiami diri kita. Rencana Tuhan tidak ada yang rekayasa, semua oleh karena Allah berkenan terjadi dalam kehidupan kita. Maka, tugas di dalam hidup yang sementara ini adalah mengemban setiap pekerjaan dengan penuh sukacita di dalam Tuhan karena kita percaya semua bersumber dari Tuhan, untuk itu kita harus bersama dengan Tuhan agar berhasil. Pada ayat ke 8, Paulus mengingatkan tentang ketabahan. Hasil pecaya adalah ketabahan dan sukacita yang melekat kepada Tuhan. Untuk itu apa yang kita kerjakan dalam kesementaraan hidup ini haruslah memiliki nilai dan berkenan di hadapan Tuhan. Karena pada akhirnya semuanya akan diperhadapkan pada pengadilan Allah, dan Allah yang akan dengan sendirinya menentukan bagi kita kelayakan untuk bersama denganNya kelak berada di perkemahan yang kekal yang telah dipersiapkanNya (ayat 10). Untuk tiu, hiduplah di dalam pengharapan dan bekerjalah tidak hanya untuk memperoleh yang kelihatan, melainkan juga mempersiapkan diri untuk yang lebih besar yakni hidup bersama dengan Kristus dalam perkemahannya.

Cln. Pdt. Yansen Hasibuan, STh

Hari ini adalah penutupan tahun Gereja. Oleh karena itu, hari ini merupakan kesempatan bagi kita untuk melakukan suatu ‘rekoleksi atau retret pribadi’ secara kecil-kecilan, misalnya pergi mengunjungi gereja kita dan berdoa di situ secara khusus, atau ‘mengurung’ diri kita secara khusus di rumah untuk melakukan semacam pemeriksaan batin. Dalam suasana doa kita dapat melakukan review atas ‘kinerja rohani’ kita di tahun lalu. Dari review itu kita dapat menilai apakah kita bertumbuh semakin dekat kepada Tuhan Yesus? Berjalan di tempat? Ataukah semakin jauh dari-Nya? Tujuan dari ‘retret kecil’ itu bukanlah untuk membesarkan hati atau menciutkan hati kita, bukan pula untuk membuat kita dihantui dengan rasa bersalah atas keadaan hidup kita, melainkan untuk membuat evaluasi atas masa lalu kita agar dapat merencanakan masa depan kita dengan lebih baik. Dalam kegiatan seperti ini kita mencoba untuk menilai posisi kita di hadapan Allah. Besok kita akan mulai dengan suatu tahun liturgi baru, suatu saat untuk memulai suatu awal yang segar. Amin. (yph)

(Bahan Renungan Kebaktian Pagi di kantor Pusat HKI yang dipimpin Cln. Pdt. Yansen P. Hasibuan, STh)

Minggu, 14 November 2010: 24 Set. Trinitatis

Ev. Pengkhotbah 11: 1-6
(Minggu, 14 November 2010: 24 Set. Trinitatis)

Pengantar oleh Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh
Nama asli Kitab Pengkhotbah dalam bahasa Ibrani disebut dengan Qoheleth, dasar kata ini adalah Qahal, yang berarti "jemaat". Kata Qoheleth inilah yang diterjemahkan menjadi "Pengkhotbah" yang merupakan fungsi keagamaan. Sedangkan bahasa Inggrisnya disebut dengan Ecclesiastes yang berasal dari bahasa Yunani dalam kitab Septuaginta Εκκλησιαστής. Kata ini berasal dari kata Yunani Εκκλησία (Gereja/jemaat). Artinya tetap saja sama, seseorang yang berkhotbah pada sebuah pertemuaan. Kitab merupakan kumpulan nasehat dan kata-kata hikmat yang disampaikan para pengkhotbah di hadapan jemaat. Isi kitab ini tidak disampaikan sekaligus, tetapi oleh para kolektor/redaktur dipetik dari pelbagai khotbah yang pernah disampaikan pengkhotbah di hadapan jemaat. Kumpulan tulisan ini dijadikan pengajaran bagi orang banyak, khususnya pelajar di sekitar Bait Allah atau Sinagoge. Melalui kitab ini orang Israel diberi pengajaran mengenai hidup yang berkhikmat.

Nama-nama para pengkhotbah tentulah sulit untuk diketahui dan keberadaan Kitab Pengkhotbah merupakan bahan tambahan untuk Kitab Amsal sebagai bahan pengajaran dan pendidikan bagi orang Israel. Kitab Pengkhotbah tidak diketahui kapan selesai ditulis, tetapi redaktur/kolektor mengkaitkannya dengan pengkhotbah yang disebut-sebut anak Daud Raja di Yerusalem (Pengkhotbah 1:1). Oleh karena itu, isi Kitab Pengkhotbah dapat diduga ada sejak Salomo sampai akhir Kerajaan Yehuda dan banyak yang menduga penulisnya adalah Salomo. Tetapi, harus diakui juga, ada bagian-bagian hikmat yang ada di dalam Kitab ini berasal dari zaman sesudah Salomo. Maka, tidak salah dan dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dari Kitab Pengkhotbah ada penyempurnaan mulai dari zaman Salomo sampai Zedekia.

Thema utama Kitab Pengkhotbah adalah kesia-siaan. Menurut redaktur segala sesuatu dipandang sia-sia. Hikmat dan kebodohon juga dipandang sebagai kesia-siaan, begitu juga dengan kekayaan juga adalah kesia-siaan. Banyak kesia-siaan dalam perjalanan hidup manusia. Akan tetapi, Kitab Pengkhotbah juga berisikan mengenai pengajaran hikmat yang benar dan mengajarkan bahwa hikmat melebihi kekuasaan.

Perikop kita berbicara mengenai pedoman-pedoman hikmat (menurut LAI). Pada pasal 11 ayat 1-6 ini kita mendapati isi yang merupakan kalimat hikmat yang berdiri sendiri dan memerlukan tafsiran sesuai dengan isi dan relevansinya kepada kehidupan manusia. Kolektor/redaktur kalimat-kalimat hikmat ini sudah menganggap pentingnya kalimat yang didokumentasikan ini, dan tugas kita adalah menemukan makna yang dikandungnya.

Ayat 1: Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.
Di sekitar kita, khususnya di Israel jenis roti macam apapun jika dimasukkan ke air pasti akan hancur, dan orang akan kesulitan untuk mendapatkannya kembali. Tetapi Pengkhotbah menyampaikan akan mendapatkannya kembali. Apakah sama jika roti dibuang ke tinta atau air comberan? Pasti tidak, karena roti tersebut tidak dapat dimakan lagi. Makna yang ingin disampaikan oleh Pengkhotbah disini adalah tentang pekerjaan dan manusia. Ada pekerjaan yang seharusnya tidak perlu dikerjakan dengan bersusah payah, namun dilakukan dengan bersusah payah. Hal ini tercermin dari roti yang dipakai Pengkhotbah dalam kalimat hikmatnya, bahwa roti yang sudah menjadi barang baku siap makan, tanpa harus dibuat ke air sudah dapat dimakan. Kalaupun diinginkan ke air biasanya cukup dengan dicelup, dan adalah kebodohon jika dengan dibuang ke air, meskipun akan memperolehnya kembali namun dengan waktu yang sangat lama dan memakan banyak tenaga.

Pdt. Jansen Simanjuntak, STh
Banyak warga jemaat yang beranggapan dengan memberi kepada Tuhan lewat gerejaNya, pasti akan memperoleh kembali apa yang diberikannya bahkan berlipat ganda. Sama seperti melempar batu ke gunung, batu itu pasti akan menggelinding kembali ke bawah. Apakah ini juga yang dimaksudkan Pengkhotbah?

Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh
Bisa saja demikian, hanya dibutuhkan proses. Untuk itu, jangan memperlama apa yang bisa dikerjakan dengan cepat, dan jangan menghambati apa yang bisa diperoleh dengan sesegera mungkin dalam kehidupan kita.

Ayat 2: Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi. Mengapa 7 atau 8 tidak kepada semua? Pengkhotbah membayangkan kita memiliki sesuatu yang bisa diberikan dan berguna kepada orang lain. Jadi siapapun orangnya yang memiliki sesuatu yang melebihi kebutuhannya, dipanggil untuk memiliki rasa solidaritas dan bersosial; menderma kepada orang lain. Angka 7 dan 8 menggambarkan bahwa objek penerima tidak cukup yang kita bayangkan saja. Karena di luar itu masih ada lagi yang membutuhkan apa yang kita miliki. Mengapa diwajibkan, karena kita tidak tahu malapetaka yang akan datang, sehingga apa yang kita miliki dan dibutuhkan orang lain tidak sempat dirasakan orang lain. Jadi, orang yang berhikmat benar-benar tahu menempatkan hartanya sebagai fungsi sosial. Harta tidak hanya material, tetapi juga talenta, kelebihan, pikiran, dan apa yang kita miliki dalam hidup ini. Maka, adalah pangilan kita untuk mengelalah apa yang kita miliki menjadi berfungsi secara sosial bagi orang lain.
Ayat 3: Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal terletak. Kondisi yang ada saat sekarang ini adalah pohon yang belum waktunya tumbang, secara paksa dipindahkan ke pusat-pusat industri dan panglong. Pengkhotbah mau mengingatkan kita tentang keberadaan Hukum Alam yang terjadi secara almai dan normal di tengah-tengah peradaban hidup manusia. Ketahuilah, siapa yang secara bijak dan penuh hikmat mengelolanya akan memperoleh sukacita, keberuntungan dan bahagia. Sama seperti barangsiapa yang tahu memuji Tuhan, dia pasti akan menggunakan tenaganya untuk melakukan yang baik. Pengkhotbah memesankan jika pohon tumbang, maka kita tidak perlu bersusah payah mencarinya kemana-mana. Pohon itu akan tetap ditempatnya jatuh, artinya jangan berlaku bodoh untuk mengelola keadaan hidup yang sejalan secara linear dengan alam. Yesus pernah berpesan, kalau padi menguning pasti siap dipanen dan siapa yang terlambat akan mendapati dirinya rugi. Di dunia sekitar kita hidup, banyak hukum alam yang hadir menyapa kita; tugas dan tanggungjawab kita adalah untuk mengelolanya agar mendatangkan berkat dan jangan sampai kita menjadi korban.

Pdt. Jansen Simanjuntak
Orangtua dulu atau nenek moyang kita hidup dengan mengenal dan membaca tanda-tanda alam. Mereka bekerja sesuai “petunjuk” dari alam. Misalnya dengan perpindahan rayap dari tempat yang satu ke daerah yang lain bertanda ada perubahan iklim. Bagaimana dengan saat sekarang ini? Sepertinya manusia semakin jauh dari alam, apakah ini bagian dari indikasi semakin jauhnya manusia dari Tuhan?

St. Raja PS. Aruan, SH, MH
Dengan bergesernya paham manusia, maka mempengaruhi perkembangan teknologi sebagai alat bantu manusia saat ini melakukan pekerjaannya. Misalnya soal perpindahan rayap, manusia sekarang tidak perlu harus mengamatinya baru mengetahui perubahan iklim. Setiap hari manusia sudah dapat mengaksesnya lewat internet dan BMG. Jadi, dengan teknologi modren saat ini manusia sudah dan hampir melupakan hampir melupakan atau meninggalkan tanda-tanda yang ada pada masa lalu. Menurut saya, bukan karena manusia semakin jauh dari Tuhan.

Pdt. M. Lumban Gaol
Kehadiran alam yang bersahabat dengan manusia sudah semakin langka. Keadaan ini terjadi tidak terlepas dari hikmat yang disalahgunakan manusia untuk mengelola alam. Kemampuan manusia tidak lagi untuk mengelola melainkan menguasai demi kepentingan diri sendiri dan kelompok, sehingga terjadi kekacauan alam. Perubahan iklim oleh karena tidak lagi bisa dikelola manusia dengan hikmat akhirnya tidak lagi mendatangkan berkat baginya.

Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh
Saat ini ada penempatan waktu, misalnya Kalender. Tetapi, untuk mengenal Hukum Alam harus melalui alam sendiri. Oleh karena itu, siapa yang dapat mengenalnya akan dimudahkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaannya. Kelemahan kekristenan hari ini sulit membaca hukum alam, dan ini penting bagi orang Kristen untuk bersahabat dengan alam agar lebih berhikmat.

Ayat 4: Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai. Memperhatikan awan dan angin merupakan gambaran yang oleh Pengkhotbah dipakai untuk manusia yang pesimis dan yang baru memulai pekerjaannya dengan menanti-nantikan keadaan terlebih dahulu baik. Awan dan angin adalah gambaran kehampaan dan kekosongan. Maka, siapa berlaku demikian tidak akan pernah menuai dan memperoleh hasil, karena yang menuai hanya mereka yang melihat ladangnya yakni yang berani menghadapi segala kondisi real dalam kehidupan dan senantiasa tetap melaksanakan pekerjaannya. Begitu juga dalam menunaikan pekerjaan pelayanan di dalam Tuhan lewat HuriaNya HKI, melayani harus dimulai meskipun dalam kondisi yang bagaimanapun, tidak pesimis. Maka, pasti akan ada yang dituai. Ingat bagi para pelayan di HKI, jangan menabur angin, jika tidak ingin menuai badai, dan jangan menabur awan jika tidak ingin menuai penolakan dan minimya partisipasi dari jemaat. Begitu juga jangan menangkap yang kosong dari jemaat, tetapi dengan hikmat memilah yang baik dan benar. Lihatlah semangat Nommensen, semangat menabur di dalam Tuhan nyata telah menuai hasil yang dapat dinikmati hingga saat sekarang ini.

Sekjend
Apakah termasuik berangan-angan? Maksud Pengkhotbah yakni mengawali pekerjaan dengan mengasihi pekerjaan itu sendiri. Melihat awan, berarti melihat kehampaan. Perlu diingat bahwa sewaktu Yesus naik ke Sorga yang tampak tidak hanya awan tetapi juga Yesus ada di atasnya, begitu juga yang diberitakan ketika Ia akan datang kembali ke dunia. Pengkhotbah hendak berpesan agar dalam menjalani kehidupan kita harus memiliki tujuan yang benar dan baik, hidup tidak dijalani begitu saja tanpa arah seperti perjalanan awan yang diterbangkan angin.

Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh
Ayat 5: Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu. Pesan Pengkhotbah ini disampaikan ketika itu manusia memang belum dapat dengan menggunakan pengelihatannya sendiri mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim ibu. Beda dengan saat ini, dengan teknologi yang ada gerak angin dan tulang-tulang dalam rahim sudah dapat diketahui dan dilihat. Apa artinya, seperti kerahasiaan jalan angin, seperti itu kerahasiaan jalan dan karya Allah bagi manusia. Berkembangnya teknologi oleh modrenisasi zaman, maka hal yang sama berlaku untuk iman kita. Iman kita harus dimodernisasi agar kita juga dapat lebih berhikmat untuk berjalan seiring dengan perkembangan zaman dan jalan Allah yang ada di dalamnya sehingga kita dapat mengenalnya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa secanggih apapun perkembangan modernisasi zaman, manusia tetap masih belum dan bahkan tidak akan mampu menelusuri kerahasiaan Tuhan. Rahasia kehadiran Allah tidak akan terpecahkan dan itu dizinkan Allah terjadi untuk kebaikan manusia semata. Misalnya, mengenai Trinititas, secanggih apapun peralatan iman kepercayaan kita untuk membedahnya, hasil yang kita dapati adalah kebuntuan dan tidak dapat dipecahkan serta akan tetap menjadi rahasia.

Ayat 6: Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik. Dalam tradisi orang Batak, untuk mengawali masa tanam adalah pada waktu naiknya matahari, yang dipercayai akan turut menaikkan dan menambahkan berkat bagi mereka. Pesan menabur benih adalah awal dari pemerolehan berkat Tuhan untuk yang melakukannya. Mengapa harus dipagi hari? Dalam peristiwa penciptaan, Allah menumbuhkan segala jenis tumbuhan di pagi hari (lih. Kejadian 1). Dan, secara alamiah kecambah yang baru ditanam hanya akan dapat tumbuh subur jika ditanam pada pagi hari. Lewat sinar matahari yang diterimanya, kecambah dapat memperoleh energi dan kebutuhan lainnya untuk masa pertumbuhannya. Jangan beri istirahat tanganmu pada petang hari, oleh Pengkhotbah memesankan kepada kita untuk memberikan diri kita mengisi senantiasa setiap waktu yang diberikan Tuhan untuk mendatangkan sukacita. Misalnya, jika jam selesai bekerja adalah pukul 3.00pm, maka waktu selebihnya hendaklah dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna dan mendatangka sukacita. Artinya kalau kita mau berkarya, maka mulai pagi sampai mata hari lenyappun kita harus tetap berkarnya. Tanamlah firman Tuhan pada bagi hari dan sempurnakanlah di malam hari di dalam doa dan syukur bagiNya. Karena kita tidak tahu apakah yang kita tanam akan berhasil atau tidak, untuk itulah perlu dengan penuh hikmat mengisi setiap waktu dengan bijak. Jika, waktu kita untuk menanam sudah petang, tidak lama lagi maka tanamlah yang sesegera mungkin dapat dituai, sehingga kita dapat merasakan hasilnya. Dan, jika waktu kita masih pagi, masih panjang maka hendaklah kita menanam yang buahnya dapat dipetik dan dirasakan oleh generasi yang akan menggantikan kehadiran kita. Amin. (yph)

(Bahan Renungan Kebaktian Pagi di kantor Pusat HKI yang dipimpin Ephorus/Bishop HKI)

Minggu, 7 November 2010: 23 Set Trinitatis

Ev. Ulangan 4:1-10

(Minggu, 7 November 2010: 23 Set Trinitatis)

Pengantar oleh Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh

Kitab Ulangan ditulis jauh sesudah Musa meninggal, meskipun banyak yang beranggapan Kitab ini ditulis oleh Musa sendiri untuk mempertahankan keaslian dari beberapa isi yang memang disampaikan oleh Musa sendiri. Namun secara keseluruhan Kitab Ulangan tidak mungkin ditulis oleh Musa, hal ini diperkuat dari keterangan yang dapat diperoleh dalam pasalnya yang ke 34 dalam Kitab Ulangan. Maka, tidaklah mungkin orang yang sudah mati kemudian dapat menulis riwayat tentang kematiannya sendiri. Harus diakui memang bahwa hukum-hukum yang terdapat dalam Kitab Ulangan dapat ditelusuri merupakan hukum-hukum yang diaturkan oleh Musa sendiri. Penting untuk diketahui agar iman kita dikuatkan bahwa kita tidak setuju dengan pendapat ahli Kritik Sastra dan atau para penafsir Historis yang menyatakan Kitab Ulangan secara keseluruhan adalah merupakan produk dari abad masa kerajaan, yakni zaman sebelum Raja Yosia.

Para ahli agama sebelum masa Raja Yosia bekerja untuk mengumpulkan benang-benang tradisi yang hidup dikalangan Israel dan kemudian membuat pengantarnya serta mengdokumenkan hukum-hukum itu dan menyusun akhir dari kisah yang kemudian menjadi satu kesatuan kitab. Tentu semua ini sangat diperlukan pada zaman kerajaan sehingga ada pelengkap yang utuh untuk Kitab Keluaran maupun bagian dari karya Yahwis dan Elohis pada Kitab Kejadian. Kita mengetahui penulisan Kitab Ulangan (Deutronomis) berada pada masa zaman setelah pembuangan dan dikembangkan oleh kaum teolog dan atau para imam yang kemudian menghasilkan Kitab Imamat. Kita bisa menemukan dalam Kitab Imamat ada hukum-hukum yang bisa ditelusuri hingga zaman Musa, walaupun ditulis setelah pembuangan di zaman Ezra dan Nehemia.

Ulangan 4 ditulis dengan kalimat langsung dari Musa, sehingga kita dapat meraskan bahwa yang itu adalah suara dan perkataan Musa sendiri yang menasehati umatnya Israel. Orang bisa mengatakan, “demikianlah yang dinasehatkan Musa dulu”, atau demikianlah redaktur menulis dan merekonstruksi ucapan Musa. Sehingga ucapan-ucapan Musa dalam Kitab Ulangan dapat memperkuat bahwa Musalah penulisnya. Kita percaya bahwa penulis Kitab Ulangan di zaman kerajaan sebelum Raja Yosia mencoba seobjektif mungkin mendokumenkan bagaimana Musa menasehatkan tentang hukum-hukum dan ketetapan Allah bagi bangs Israel. Tidak ada ditemui naskah lain yang dapat menggugatnya, sehingga oleh gereja-gereja saat ini bisa percaya bahwa Kitab Ulangan adalah ucapan Musa yang ditulis oleh Deutronomis.

Bagi kita saat ini, yang penting bukan siapa penulis atau siapa yang menasehatkannya, namun yang lebih penting adalah apa isi dari nasehat itu. Mari kita cari pesan dari nasehat yang terdapat dalam nats ini.

Hasudungan

Pesan Allah kepada kita agar memelihara ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum Allah agar kita hidup bijaksana

Pdt. E. Manullang, STh

Agar kita mengingat hukum-hukum Allah, seperti yang telah dinyatakan kepada Musa di Gunung Sinai (Keluaran 20 dan Ulangan 5). Khususnya hukum untuk mengasihi Tuhan Allah seperti mengasihi diri sendiri.

Pdt. M. Lumban Gaol, STh

Saya lebih tertarik dari ayat ke sembilan, adanya perintah bagi setiap generasi untuk meneruskan setiap hukum dan ketetapan Tuhan ke generasi demi generasi. Hukum dan ketetapan Tuhan tidak hanya perlu diketahui oleh satu generasi saja, melainkan oleh setiap generasi yang ada. Hal ini tentunya berangkat dari tengah-tengah keluarga, orangtua terhadap anak-anaknya. Oleh karena itu, di dalam ayat ketiga juga diingatkan peristiwa baal peor (Bilangan 25), bagaimana perlakuan Allah pada bangsa Israel waktu itu untuk kemudian menjadi pelajaran bagi generasi Isreal berikutnya agar tidak mengulangi kesalahan dan dosa yang dilakukan nenek moyang mereka.

Pdt. MOS. Siahaan, STh

Perintah untuk tidak melupakan ketetapan Tuhan dan meninggalkannya, serta mewariskannya kepada anak cucu kita dalam bentuk pengajaran tentang kehidupan beriman kepada Allah.

Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh

Ada beberapa kata kunci yang perlu untuk kita renungkan dan menjadi pengajaran bagi kita saat ini: 1) Kata waktu sekarang (ayat 1), mulai dari pasal 1 hingga 3, kita menemukan tidak ada peraturan dan hukum-hukum yang disampaikan kepada bangsa Israel. Semua berpautan dengan sejarah yang telah dilewati bangsa Israel. Melihat sejarah itu, maka dinyatakan kepada Israelsekarang! Sekarang memiliki arti waktu kita menghirup udara/nafas, di sini dan saat ini, now. Tuhan menuntut dari kita waktu sekarang, yakni apa yang seharusnya kita lakukan sekarang untuk Tuhan. 2) Dengarlah, mendenar memiliki arti apa yang ditangkap telinga, kemudian masuk ke dalam hati dan pikiran untuk diserap, direnungkan dan dikelola, yang seterusnya tampak dalam wujud tindakan, perbuatan dengan memilah dan memilih yang baik dari yang jahat. Termasuk menambah dan mengurangi pernyataan Allah (ayat 2). 3) Ketetapan dan Peraturan, mulai dari pasal ke 5 dalam Kitab Ulangan diuraikan dan dipaparkan mengenai ketetapan dan hukum-hukum Allah. Hampir semua merupakan hukum dan ketetapan yang masih relevan hingga saat sekarang ini. Dimulai dengan ke sepuluh perintah Tuhan, sama seperti yang terdapat dalam Keluaran 20, hanya latar belakang yang berbeda antara Keluaran dan Ulangan. Ke sepuluh perintah Tuhan itu adalah induk dari semua hukum-hukum Tuhan. Sedangkan hukum-hukum yang disebutkan selanjutnya merupakan jabaran-jabarannya mengenai kehidupan manusia. Orang Yahudi bahkan menjabarkan lebih detail lagi dan puncaknya adalah kedatangan Mesias yang telah digenapi Yesus Kristus. Misalnya, halakah atau jalan (jihad) adalah salah satu penjabaran dari kesepuluh perintah Tuhan. Tetapi orang Kristen menjabarkannya menjadi dua y.i. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 22-37-40). Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menjabarkan ke 10 perintahNya, namun bukan untuk menambah atau menguranginya. “…ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu..” (Matius 28:20). 4) Tanah yang akan didiami, kehidupan kita buka hanya sekedar apa yang ada pada dan untuk diri kita sendiri, bukan soal waktu yang kita rasakan, tetapi lebih besar dari itu semua, yakni tentang bangsa yang kita diami. Beragama tidak hanya berteori dan tidak hanya menyusun peraturan-peraturan untuk agama itu sendiri, melainkan juga harus berhubungan dengan masalah kehidupan bangsa. Negeri yang Allah berikan bagi bangsa Israel adalah negeri yang tidak subur, bebatuan, padang pasir, gersang dan airpun tidak ada. Sangat jauh berbeda dengan negeri yang saat ini kita diami. Akan tetapi, malah negeri ini yang tidak mampu menerapkan peraturan yang adil, benar dan baik. Di Israel peraturan merupakan pertarungan hidup dan mati. 5) Jangan menambahi dan mengurangi (ayat 2), ini dinyatakan karena penulisan Kitab Ulangan masih di masa Perjanjian Lama yang belum ditemukan naskah-naskah lain seperti Kitab Nabi-nabi dan Injil. Orang Israel Utara tidak mengakui dan memakai Kitab Suci selain dari 5 Kitab Musa, sedangkan kitab-kitab lainnya dianggap tidak dianggap bagian dari Kitab Suci; Orang Yahudi tidak menerima Injil sebagai Kitab Suci mereka, hanya kitab-kitab dalam Perjanjian Lama yang dianggap sebagai Kitab Suci; Orang Kristen (protestan) tidak mengakui Kitab Deutrokanonika sebagai Kitab Suci, meskipun Katolik mengakui dan memakainya sebagai Kitab Suci mereka; dan Kristen bersama Katolik tidak mengakui Kitab Suci Gereja Mormon yang berisikan tulisan-tulisan hasil mimpi dari para imam mereka. Melihat kenyataan ini, setiap kelompok agama memiliki cara dan hasil penjabaran tersendiri mengenai perintah Tuhan, dengan kebenaranya masing-masing. Semua mengatakan bahwa mereka tidak menambahi perintah Tuhan. Lalu jika begitu apa sesungguhnya arti dari jangan menambahi yang disampaikan Musa ini? Sesungguhnya yang dimaksudkan adalah jangan menambahi inti dari ketetapan dan ajaran yang Tuhan telah berikan. Misalnya, ketetapan untuk mengasihi Tuhan Allah, tidak dibenarkan jika kemudian ditambahkan dengan dibenarkannya membunuh atau menyakiti manusia lainnya untuk dan atas nama Tuhan. Dan sebaliknya, tidak dibenarkan untuk mengasihi manusia, kemudian melawan perintah Tuhan. Banyak juga tindakan-tindakan yang berusaha mengurai ketetapan perintah Tuhan, misalnya ada gereja yang tidak mengikutsertakan “turun ke dalam kerajaan maut” dalam pengakuan iman rasulinya. Begitu juga para pengarang dogmatis yang membenarkan membaptis orang yang sudah dibaptis, itu berarti mereka telah mengurangi wibawa dan kuasa Sabda Tuhan pada pembaptisan pertama orang itu. Begitu juga jika diantara kita ada yang menganggap dan berpikir bahwa dengan amal dan kesalehannya akan menyelamatkannya dan peroleh hidup yang kekal di Surga, juga telah mengurangi ketetapan perintah Tuhan. Sebab kesalehan dan amal hanya berguna untuk mengasihi sesama manusia, sedangkan untuk memperoleh kehidupan yang kekal hanya di dalam Anugerah dari Allah. Maka, bukan soal menambahi dan mengurangi tulisannya, melainkan dinasehatkan kepada kita untuk tidak menambahi dan mengurangi inti dari ketetapan perintah Tuhan.

Berpegang kepada ketetepan perintah Tuhan, artinya kita juga harus mengetahui perintah itu sendiri. Apa salah satu perintah Tuhan yang melekat pada diri kita yang ada disini?

Inang Marpaung : Dasah Titah ke lima

Inang Togatorop : Dasah Titah ke enam

Inang Simangungsong : Dasah Titah satu

Inang Sihombing : Dasah Titah ke sembilan

Amang Silalahi : Dasah Titah ke enam sampai ke sembilan

Amang Lubis : Dasah Titah ke enam

Pdt. Mos Siahaan : Dasah Titah ke lima

Amang Sekjend : Dasah Titah ke sembilan

Amang Siahaan : Dasah Titah ke lima

Ephorus : Katakan ya, jika tidak hendaklah katakan tidak (Matius 5:37)

Pdt. DR. Langsung Sitorus, MTh

Kita tidak akan mungkin mampu melakukan perintah Tuhan jika kita tidak tahu apa yang kita pegang. Untuk menyikapi perintah Tuhan yang paradoks, maka dibutuhkan pengetahuan untuk dapat menyelami maksud Tuhan dan melakukan yang baik, bisa dengan hasil kajian para teolog atau pengalaman gereja.

Pada ayat ke 3 di dalam nats, kita diajak untuk melihat perbuatan Tuhan kepada kita pada masa yang telah berlalu dan masa sekarang ini. Pengalaman bangsa Israel pada masa lalu bagi mereka yang mengikuti baal peor memperoleh kematian, sedangkan yang setia kepada Tuhan tetap hidup. Arti setia kepada Tuhan dimaksudkan adalah bahwa siapa yang setia harus berpaut kepada Tuhan, berpegang dan mencantolkan dirinya hanya kepada Tuhan. Bagaimanakah berpaut kepada Tuhan, yakni berpautnya hati kita dengan hati Tuhan dan kasih Tuhan dengan kasih kita. Mari kita bayangkan, bagaimana beratnya salib yang dipikul Yesus namun Yesus dapat mengangkatnya juga dengan perjalanan yang lumayan jauh hingga ke bukit Golgata. Salib dapat diangkat oleh Yesus jika salib dan tubuh Yesus berpaut, menyatu menjadi satu kesatuan sehingga akan menjadi lebih ringan. Sama halnya, dalam kehidupan sehari-hari tatkala kita mengangkat beban (sekarung beras 30 kg) di pundak kita akan jauh lebih membantu daripada ketika kita menentengnya, artinya menyatunya diri kita dengan beban akan sangat membantu kita untuk mengangkatnya. Begitu juga keterpautan kita dengan Tuhan, akan membatu kita dan memudahkan kita untuk melakukan perintahNya. Ingat juga ketika Tuhan menciptakan manusia, setelah dibentuk dari tanah manusia itu tidak langsung hidup, tetapi ketika Tuhan menghembuskan nefes dari hidungnya seketika itu juga manusia itu memiliki kehidupan. Dari peristiwa itu, kita ketahui bahwa ada keterpautan Tuhan dengan manusia sehingga manusia itu dapat hidup. Keterpautan manusia dengan Tuhan juga tampak dari kesegambaran dan keserupaan manusia dengan Tuhan (Kejadian 1 dan 2).

Mulai dari ayat ke enam hingga sembilan kita diajak untuk kembali mengevaluasi tugas pengajaran yang diberikan kepada kita. Ungkapan didaskadho, didaskadhe (pengajaran) oleh keluarga-keluarga bangsa Israel tidak hanya dilakukan secara formal di dalam Sinagoge, melainkan juga diterapkan dalam rumah tangga mereka. Bagaimana dengan yang sudah kita lakukan di tengah-tengah keluarga kita? Gereja mula-mula sudah memulainya dan berhasil membuat buku didakhe, sedangkan untuk HKI selama ini sangat minim akan tanggungjawabnya melakukan pengajaran. Kedepannya dengan bantuan Tuhan kita akan tingkatkan. Lihat saja sekolah-sekolah HKI yang bertutupan oleh karena tidak ada lagi muridnya, dan kemudian gedungnya dibongkar dan dialih fungsikan. Kenapa tidak HKI sudah saatnya untuk membenahinya, misalnya lewat pengadaan Pendidikan Anak Usia Dini di setiap jemaat HKI. Kita harus memulai diri kita untuk mengajar lewat belajar, baik melalui perkataan dan tindakan terhadap orang lain. Dengan begitu kita sudah mengajar sesama kita. Perlu kita ketahui dari ajaran maka akan muncul akal budi dan kebijaksanaan (ayat 6). Hikmat dan bijaksana tidak akan muncul dengan sendirinya, dengan begitu kita dapat secara matang untuk mengarahkan orang kearah yang benar dan baik. Itulah orang yang bijaksana dan berakal budi. Kita mengtahui Musa menginginkan bangsa Israel menjadi bangsa yang besar dan meliki akal budi dan kebijaksanaan. Untuk HKI tidak cukup hanya dengan berpusat pada Pucuk Pimpinan, tetapi semua pelayan dan warga HKI diharapkan untuk mau menjadi pelaku dalam mengajar. Musa saja, harus dibantu oleh 70 orang yang dipilih dari tengah-tengah bangsa Israel untuk membebaskan Israel. Sebagai Huria, HKI akan berkembang jika memiliki integritas. Gereja dan Bangsa yang maju adalah yang berintegritas dan memiliki konsistensi terhadap iman dan ideologi bangsanya. Waspadalah agar ketetapan dan perintah Tuhan tidak lupa dari hidup kita, sebab Tuhan kita Maha Hadir (omnipresent), oleh karena itu kita akan disanggupkan untuk melakukan dan memberikan yang terbaik bagi Tuhan dari setiap waktu (sekarang: disini dan saat ini) yang kita miliki (Matius 28:20b)

Pdt. MP. Hutabarat, STh

Jika perintah Tuhan kita tambahi dan kurangi akan mendatangkan ketidakbaikan bagi kita sendiri. Dan dalam kehidupan yang diberikan Tuhan kepada kita, ada yang telah berlalu, yang masih kita nikmati sekarang dan yang akan datang. Mari kita perhatikan ayat 1-21, kita menemui karya Tuhan bagi bangsa Israel, namun dibutuhkan proses untuk mencapai semua itu. Perlu bagi kita untuk mengetahui bahwa sebelum ketetapan dan perintah Tuhan diberikan kepada kita untuk dilakukan, manusia telah dipersiapkan terlebih dahulu (lihat pasal 1-4 dan masuk ke pasal 5 dst). Untuk itu kita dituntut untuk menjadi pelaku Firman Tuhan bukan sekedar pendengar.

Pdt. DR. Langsung Sitorus

Pada ayat kesepuluh, kita diingatkan akan pentingnya pertemuan, perkumpulan dan persekutuan sebagai wadah belajar dan mengajar di antara kita, seperti saat ini di dalam ibadah yang setiap hari kita lakukan di kantor pusat. Diingatkan kepada kita untuk tidak meninggalkannya, karena lewat perkumpulan sepertinya maka akan terjadi trasfer pengajaran antar generasi ke generasi berikutnya. Semoga Firman Tuhan diberkati bagi kita untuk menghantarkan kita kepada waktu yang disediakan bagi kita bekerja bagi Tuhan dengan tidak mensia-siakan waktu sekarang yang Tuhan telah berikan. Amin. (yph)

(Bahan Renungan Kebaktian Pagi di kantor Pusat HKI yang dipimpin Ephorus/Bishop HKI).