Thursday, December 11, 2008

Editorial Bina Warga Edisi Desember 2008 - Januari 2009


MERAYAKAN NATAL DITENGAH KONDISI EKONOMI GLOBAL YANG TERPURUK

Kondisi ekonomi yang buruk yang terjadi diseluruh dunia sungguh sangat membebani kehidupan. Banyak perusahan terpaksa memberhentikan para karyawannya, bukan hanya perusahan kecil; bahkan Perusahaan Besar dunia. Yahoo sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dibidang komunikasi yang mendunia yang memfasilitasi promosi perusahaan besar dunia bahkan terpaksa mem-phk-kan karyawannya karena kondisi ekonomi ini. Harga TBS (Tandan Buah Segar) sawit, Karet, Kopi dan hasil pertanian lainnya jatuh merosot diluar dugaan yang membuat banyak petani menjerit. Disamping harga pupuk yang melambung tinggi, muncul persoalan baru; pupuk sulit dicari – meski pemerintah telah mengumumkan harga pupuk disubsidi, tetapi para petani kebingungan mencari pupuk, pada hal musim tanam sudah dimulai.
Meskipun harga minyak dunia sudah turun, pemerintah kita masih menunda untuk menurunkan harga BBM dengan berbagai alasan – yang tentunya membuat penderitaan semakin tidak berkurang.
Ditengah kondisi seperti ini – kita akan merayakan Natal dan Tahun baru, yang secara tradisi, khususnya buat kita umat Kristen adalah hari sukacita. Natal dan tahun baru biasanya selalu diwarnai dengan perayaan-perayaan yang dilakukan oleh Gereja, Persatuan Marga, Ikatan Kerja dan STM (Parsahutaon). Masihkah tahun ini; anak-anak kita masih memperoleh pakaian baru untuk merayakan Natal dan Tahun Baru ? dan pertanyaan yang lebih panjang, akankah kesulitan ini akan semakin berkurang di tahun 2009 ? Sebuah pertanyaan matematis yang sulit dijawab.
Kalau kita mencoba menghitung secara matematis tentang kehidupan ekonomi yang telah kita lalui pada hari-hari yang lampau kita pasti akan tercengang. Coba kita hitung keuangan antara pemasukan dan pengeluaran yang kita peroleh. Misalkan saja hanya untuk biaya makan satu keluarga yang rata-rata 4 orang sungguh suatu keajaiban kita masih dapat melalui hari-hari. Kehidupan ini tidak dapat dihitung secara matematika, sungguh suatu rahasia pengasihan ALLAH yang tak dapat terselami.
Disisi lain, kondisi ekonomi yang belum baik ini; bila kita lihat dari sisi iman – baiklah kita pahami sebagai satu proses pendewasaan iman sehingga kita semakin dapat melihat keagungan dan pengasihan Allah yang tetap dan senantiasa membimbing dan menyertai hidup kita. Mari kita belajar lebih dalam apa yang dikatakan dalam kitab Yakobus ”... bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (1:2-4), sehingga kita semakin dapat memaknai arti dari perkataan : Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (I Petrus 5:7).
Jadi meskipun kondisi ekonomi sekarang belum menunjukkan tanda-tanda baik, bukan berarti tidak ada pengharapan. Merayakan Natal, kita disegarkan atas besar kasih karunia Allah dalam kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Meskipun ikat pinggang semakin ketat, merayakan dan memaknai Natal tidak akan terhilang. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh.3:16).
Selamat Hari Natal 2008 dan tahun Baru 2009. (Pemred).