Tuesday, February 23, 2010

Berta Perjalanan Bina Warga HKI Edisi Februari - Maret 2010

LWF Asia - Pre — Assembly Conference (APAC) Asia Church Leadership Consultation (ACLC) Tanggal 6 - 9 Desember 2009 di Bangkok Thailand.



Kegiatan LWF Asia - Pre — Assembly Conference (APAC) Asia Church Leadership Consultation (ACLC), tanggal 6 - 9 Desember 2009 di Bangkok Thailand dihadiri oleh delegasi missi LWF mitra dan Staf dari 15 Negara yang mewakili anggota Federasi Lutheran se Dunia dan utusan dari Gereja Lutheran di Australia, Bangladesh, Hongkong, India, Indonesia, Japan, Jordan, Korea, Malaysia, Papua New Guinea, Philippines, Singapore, Sri Langka, Taiwan, Thailand (host). Keseluruhan peserta berjumlah 96 orang, termasuk didalamnya dari Indonesia sebanyak 22 orang. Dan peserta dari Gereja HKI sendiri yaitu :

1. Pdt. DR. Burju Purba (Ephorus HKI)
2. Gloria Anita Tambunan (Youth Leader)
3. St. Risna Pasaribu (Chair of Womens Fellowship)

Seluruh peserta ditempatkan di The Ambassador Bangkok Hotel, yang terletak di Pusat Kota Bangkok. Dan pada kesempatan ini, committee menempatkan saya satu kamar dengan peserta perempuan dari Jepang, yaitu Ms. Takemori Yoko (members of LWF Endowment Fund Japan Evangelical Lutheran Church)

Inti dari Konferensi ini didedikasikan untuk berbagi pengalaman dan membayangkan bersama sama sesuai dengan thema General assembly ke 11 LWF di Stuttgart, Jerman pada Bulan Juli 2010 yaitu: "Berilah kami hari ini roti kami sehari hari dalam konteks Asia ("GIVE US TODAY OUR DAILY BREAD"

Beberapa hal yang menjadi Tujuan pertemuan ini yaitu :
  • Mendiskusikan thema Kesebelas Sidang LWF. "Beri Kami pada hari ini roti" khususnya dalam konteks Asia.
  • Memberikan informasi tentang isu-isu Majelis kepada peserta agar dapat memungkinkan mereka untuk memberikan konstribusi bermakna dan berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan dan pekerjaan Majelis.
  • Memperkaya persekutuan gereja-gereja sebagai persekutuan melalui pengalaman saling sharing dan untuk membahas masalah regional dan negara/status gereja gereja anggota.
  • Menyediakan kesempatan bagi gereja-gereja di wilayah untuk merencanakan misi bersama dan pelayanan strategis, dan berbagi sumber daya.
  • Untuk memberikan dorongan baru untuk berbagai pelayanan gereja-gereja, dan untuk mengutamakan perempuan dan pemuda dalam kontribusi dan partisipasi.
  • Mempromosikan kerjasama antara gereja anggota LWF di Asia, dan juga dengan mitra gereja-gereja, misi lembaga dan badan badan oikumenis di kawasan.
Ada banyak Materi yang dibahas dalam pertemuan. Salah satu nya adalah Pembahasan Tema yaitu : GIVE US TODAY OUR DAILY BREAD. Disimpulkan dari pembahasan bahwa implikasi dari kalimat "Berikanlah kami pada hari ini roti " yang paling jelas adalah bahwa perlunya ketahanan pangan. Thema yang menantang untuk mempertimbangkan status "roti sehan hari" di Asia. Disadari bahwa makanan menopang tubuh (phisik) bahkan seperti memelihara roh. Dalam hal ini di asia melihat makanan sebagai sacral, hadiah dari Tuhan dan suatu keharusan untuk hidup dan juga untuk martabat manusia dan harga diri. Pada saat yang sama makanan dikenal juga yang berfungsi sebagai symbol dan alat kekuasaan dan kontrol.

Diakui dan pengalaman menvakitkan bahwa banyak di Asia tidak memiliki makanan yang cukup seperti yang tercermin dalam tingkat gizi buruk dikalangan anak2 yang angka dalam ribuan kematian yang terkait kelaparan diseluruh Asia berdasarkan kebutuhan harian.

Kenyataan yang menyedihkan ini diperparah oleh kenyataan bahwa kelaparan di Asia bukanlah akibat kurangnya produksi pangan di daerah melainkan krisis buatan manusia Seperti korupsi, distribusi yang tidak adil, militerisasi, kolonialisme, utang negara luar biasa, perubahan iklim dan pekerjaan. Dipicu oleh krisis ekonomi diseluruh dunia, yang memiliki dampak pada banyak kehidupan dan negara2 di Asia, kesenjangan antara si kaya dan si miskin terus tumbuh. Sungguh ironis bahwa banyak perempuan dan anak2 kelaparan, makanan dan pemborosan konsumsi meningkat. Lebih jauh lagi, wilayah Asia yang sangat dipengaruhi oleh bencana alam.

Untuk mengatasi keadaan diatas, dari Pertemuan kemudian dihasilkan LINK KEDALAM FOKUS AREA PRIORITAS, ARAH DAN SASARAN DARI PROGRAM LWF. Yaitu :
  • Wilayah prioritas yang 1. Strengthen Persekutuan Gereja Gereja Lutheran di Misi. Arab 1.2. Saling pertukaran, pendampingan dan berbagi sumber daya dalam persekutuan.
  • Program Tujuan 1.2.1. Menekan keprihatinan dan tantangan dari anggota gereja­gereja adalah mendengar dan berbicara melalui pertemuan-pertemuan untuk saling bertukar dan belajar.
  • Tujuan program 1.3.1. Kepemimpinan dalam gereja ini dikembangkan lebih lanjut, dengan cara adil clan setara menjamin partisipasi perempuan dan pemuda.
  • Tujuan program 1.4.3. Keuangan dan keberlanjutan structural gereja-gereja anggota lebih efektif.
(St. Risna Pasaribu)



SERUAN HATI PEREMPUAN GEREJA
PRPrG - NOSU, MAMASA - SULAWESI BARAT



Dalam rangka kegiatan Pertemuan Raya Perempuan Gereja, PRA SIDANG RAYA ke XV yang dilaksanakan di desa Nosu, Kecamatan Nosu, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, HKI mengutus perwakilan Lembaga Persatuan Wanita yaitu St. Saurlina Siregar (Ketua III PiP PW HKI) mengikuti kegiatan dimaksud. Berikut saya sampaikan berita kegiatan & hasil pertemuan PRPrG PGI.

Kami, 207 perempuan gereja mewakili 88 gereja yang bergabung di dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) serta 27 PGI-W/SAG dan para undangan yang mewakili Lembaga-lembaga Mitra di dalam dan luar negeri, sejak tanggal 11-16 November 2009 telah bertemu-cakap dalam Pertemuan Raya Perempuan Gereja, PRA SIDANG RAYA ke XV di desa Nosu, Kecamatan Nosu, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Pertemuan Raya ini dapat terlaksana dengan sukses semata-mata oleh dukungan Gereja Toraja Mamasa, khususnya jemaat-jemaat dalam wilayah Nosu, yang telah menopang penyelenggaraan tersebut bukan hanya melalui penyediaan akomodasi dan konsumsi tetapi terutama penerimaan dengan kehangatan hati, keramah-tamahan, dan rasa persaudaraan yang tinggi. Oleh karena itu dengan tulus dan rendah hati kami, seluruh peserta mengekspresikan rasa terimakasih kami kepada: Jemaat-jemaat Gereja Toraja Mamasa yang ada di kawasan Nosu, Panitia Pelaksana PRPrG, Sinode Gereja Toraja Mamasa, Pemerintah Kabupaten Mamasa Kecamatan Nosu terletak pada ketinggian 1600 - 2000 meter dari permukaan laut dan merupakan wilayah yang terletak pada dataran tertinggi dari permukaan laut di Sulawesi Barat. Kabupaten ini terletak di sebelah timur ibu kota Mamasa dan jarak dari Mamasa ke Nosu adalah sekitar 74 km. Kecamatan Nosu yang terkenal dengan hasil pertanian dan peternakannya: kopi, padi, markisa, alpukat, sayur-mayur, ayam, babi, dan ikan air tawar, berpenduduk sebanyak 4.995 jiwa dan terdiri dari 7 desa. Letak Kecamatan Nosu yang dikaruniai tanah yang subur sangat strategis untuk pertanian, peternakan dan perikanan. Namun potensi-potensi alam wilayah ini tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya karena infrastruktur berupa sarana transportasi, kommunikasi dan listrik yang minim. Infrastruktur yang minim ini bukan saja berdampak pada tingkat pendapatan penduduk yang rendah, tetapi juga memarjinalkan penduduk secara sosial maupun politik karena mobilitas penduduk terhambat dan akses kepada informasi tidak memadai.

Selama enam hari kami perempuan gereja secara intensif telah membahas dan memetakan berbagai persoalan strategis dan mendesak di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan bangsa di tanah air serta gereja-gereja di Indonesia. Kami menyadari bahwa negeri kita sedang dalam proses belajar menuju masyarakat yang demokratis, yang menjunjung supremasi hukum, dan menghargai hak asasi manusia. Persoalan-persoalan strategis dan mendesak tersebut di antaranya mengancam kesatuan dan persatuan sebagai sebuah bangsa dan Negara serta .menghambat cita-cita Negara ini untuk menyejahterakan rakyatnya. Persoalan-persoalan strategis dan mendesak yang kami petakan tersebut adalah: menguatnya gerakan fundamentalis secara sistemik, ditetapkannya produk perundang-undangan yang diskriminatif terhadap perempuan, politisasi identitas, pemiskinan, pengrusakan lingkungan oleh invasi kekuatan modal dan teknologi tinggi dan meningginya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya KDRT dan perdagangan perempuan dan anak.

Dalam kerangka membahas, memetakan dan merumuskan strategi untuk menanggapi permasalahan dan tantangan di atas. Pertemuan Raya Perempuan Gereja dituntun oleh tema: TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG (Mazmur 145:9), di mana pengakuan iman pemazmur ini menggambarkan bahwa Tuhan yang kita yakini, pada hakekatnya adalah Tuhan bagi semua orang dan karena itu, kebaikan yang disediakan oleh Tuhan bagi semua orang itu tidak dapat dibendung oleh perbedaan jender, suku, ras, golongan dan agama. Sehubungan dengan pengakuan tersebut, maka gereja-gereja - di dalamnya perempuan menjadi bagian yang sepenuhnya – perlu membangun komitmen bersama untuk menjadikan kebaikan Tuhan dirasakan dan dialami secara nyata dan meluas. Hal tersebut telah diperjelas dalam subtema: BERSAMA-SAMA SELURUH KOMPONEN BANGSA, PEREMPUAN MEWUJUDKAN MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA YANG BERKEADABAN, INKLUSIF, ADIL, DAMAI DAN DEMOKRATIS BAGI SEMUA ORANG.

Dalam terang tema dan subtema Pertemuan Raya Perempuan Gereja 2009, kami menyadari bahwa pembangunan belum memihak kepada rakyat kecil di sebagian besar wilayah di Tanah Air, antara lain realitas kehidupan penduduk Kecamatan Nosu. Bagi kami, ini merupakan panggilan dan tanggung-jawab etis- teologis para perempuan gereja di Indonesia. Oleh karena itu, sebagai elemen masyarakat sipil, kami menyerukan dan mendesak agar:
  1. Sidang Raya ke-XV Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia menerbitkan rekomendasi yang ditujukan kepada Gubernur Propinsi Sulawesi Barat dan Bupati Mamasa untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur transportasi, komunikasi dan listrik di wilayah Nosu, sehingga akses masyarakat terbuka untuk meningkatkan mutu kehidupan sosial, ekonomi, dan politik warga masyarakat.
  2. Sidang Raya ke-XV PGI agar merekomendasikan gereja-gereja anggota untuk melakukan evaluasi dan refleksi atas pelaksanaan Dasawarsa Mengatasi Kekerasan yang akan berakhir tahun 2010. Diharapkan hasil evalusi tersebut akan melahirkan Rencana Tindak Lanjut yang strategis.
  3. Sidang Raya ke-XV PGI mendorong gereja-gereja anggota untuk mengembangkan upaya-upaya untuk mengatasi kemiskinan melalui program penguatan kelembagaan perempuan gereja, pemberdayaan ekonomi yang berperspektif jender serta berpihak pada rakyat dan bumi. Termasuk juga melakukan advokasi kebijakan terhadap program pemerintah di bidang kesehatan agar membuka akses layanan kesehatan reproduksi, terutama di daerah-daerah terisolasi seperti Nosu, dan wilayah lain di Tanah Air.
  4. Sidang Raya ke-XV PGI mendorong gereja-gereja anggota untuk terus-menerus mengembangkan program-program pembinaan warga jemaat yang berperspektif oikoumenis, pluralis, demokratis guna terwujudnya masyarakat majemuk yang berkeadaban, adil dan damai.
  5. Sidang Raya ke - XV PGI mendorong gereja-gereja anggotanya mengambil langkah proaktif dalam memperkuat kapasitas perempuan untuk peningkatan peran dan partisipasi sosial dan politik perempuan gereja dalam masyarakat.
  6. Sidang Raya ke-XV PGI mempercepat penataan kelembagaan Departemen Pelayanan Anak, sebagai tindak-lanjut dari Hasil keputusan Sidang MPL-PGI tahun 2009 di Makassar dan Rekomendasi KONAS Pelayanan Anak tahun 2009 di Bali tentang pemisahan Departemen Anak dari Departemen perempuan PGI.
Sebagai gereja yang meyakini bahwa "Tuhan itu baik bagi semua orang" maka Gereja-gereja harus membangun komitmen bersama untuk mengimplementasikan panggilan dan tanggung-jawab etis-teologisnya agar kebaikan-kebaikan Tuhan dapat secara konkrit dan meluas dialami oleh seluruh rakyat Indonesia. Demikian saya sampaikan, semoga bermamfaat.

Nosu, 15 November 2009
St. Saurlina Siregar peserta dari HKI