Thursday, April 03, 2008

Jamita 11 Mei 2008 - PENTAKOSTA


Jamita tu Minggu Pentakosta
Tanggal, 11 Mei 2008
Nats : Bilangan 11 : 24 - 29
Pdt. Happy Pakpahan
Parhobas di Kantor Pusat HKI

Pentakosta & Makna Kontekstual


Pengantar
Pemanggilan Allah kepada seseorang untuk melaksanakan Amanah Allah tidak membuat yang bersangkutan menjadi “ilahi” dan terlepas sisi kemanusiaannya. Kemanusiaan tetap melekat dalam dirinya. Artinya ia tidak memiliki keterbatasan, bisa berada pada posisi ’menyerah’ dan berkeluh kesah. Hal ini bisa kita lihat dalam risalah hidup Musa. Musa sebagai orang yang dipanggil Allah mulai dari mewartakan 10 tulah, hingga memimpin Israel dari Mesir menuju Kanaan ternyata juga adalah manusia biasa yang bisa hampir berputus asa menghadapi kekerasan hati dan sungut-sungut Bangsa Israel (Mis. Bil 11: 12-15). Akan tetapi keluh kesah Musa bukan berorientasi kepada kepentingannya sendiri melainkan berorientasi kepada tugas kepemimpinan yang diembankan Allah kepadanya.
Nah, yang menarik disini adalah keterbukaan Musa kepada Allah. Musa tidak bersandiwara seolah “sangat kuat” dan sanggup-sanggup saja memimpin Israel, melainkan ia mengungkapkan keluh kesahnya secara terbuka. Ia mengkomunikasikan keluhan dan perasaannya kepada Allah. Dan komunikasi menjadi jalan menguatkan dan memandunya. Inilah yang menjadi garis besar Nats ini. Dimana Allah menunjukkan sikap, merespon keluhan Musa. Allah mengambil inisiatif membantu Musa keluar dari persoalannya.

Pembahasan Nats dan Relevansi
1. Atas keluh kesah Musa, TUHAN kemudian mengambil solusi agar Musa mengangkat 70 orang tua-tua dalam membantu kepemimpinan Musa, dengan batasan tugas masing-masing. TUHAN menyadari ada keterbatasan jika hanya seorang diri Musa memimpin bangsa Israel. Perlu pembagian tanggungjawab yang tetap berorientasi kepada kehendak TUHAN. TUHAN kemudian membekali ke 70 tua-tua dimaksud, dengan mengaruniakan RohNya.
Lalu atas amanah tersebut, Musa melaksanakan apa yang dikehendaki TUHAN. Diayat 11 diterangkan Setelah Musa datang ke luar, disampaikannya firman TUHAN itu kepada bangsa itu. Ia mengumpulkan tujuh puluh orang dari para tua-tua bangsa itu dan menyuruh mereka berdiri di sekeliling kemah. Musa mensosialisasikan apa yang diterimanya dari TUHAN. Ini merupakan bagian dari Pola kepemimpinan Musa yang bersifat terbuka kepada bangsa yang dipimpinnya. Firman TUHAN bukanlah milik Musa pribadi akan tetapi sebagai satu persekutuan, perlu diketahui oleh bangsa Israel. Sehingga akan membuka
kesempatan untuk bekerjasama bersinergi dalam melaksanakan amanah Firman TUHAN.
Musa secara TOTAL melaksanakan apa yang dimintakan TUHAN, dan TUHAN pun campur tangan. Lalu terjadilah seperti dipaparkan diayat 25: .... turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi. Ke 70 tua-tua Israel menerima Roh Allah. Roh yang menghinggapi mereka adalah roh dari satu TUHAN yaitu Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir.
Lalu ada yang menarik diaparkan pada ayat 26 : Masih ada dua orang tinggal di tempat perkemahan; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Ketika Roh itu hinggap pada mereka — mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat, tetapi tidak turut pergi ke kemah — maka kepenuhanlah mereka seperti nabi di tempat perkemahan.
Walaupun mereka berdua tidak turut pergi ke kemah, akan tetapi Roh Allah tetap turun pada mereka. Pada 27 dikatakan : Lalu berlarilah seorang muda memberitahukan kepada Musa: “Eldad dan Medad kepenuhan seperti nabi di tempat perkemahan. 11:28 Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: “Tuanku Musa, cegahlah mereka!”
Akan tetapi Musa mengantisipasi kebingungan ini dengan berkata diayat 29 Tetapi Musa berkata kepadanya: “Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!”Musa menyadarkan Josua bahwa TUHAN memberikan RohNya kepada setiap orang yang dikehendakiNYa tanpa bisa dicegah oleh manusia. Dan setiap pemberian Roh memiliki Rencana dari Allah.
“Kehadiran Roh Allah kepada Eldad dan Medad yang kemudian membingungkan orang banyak, sehingga merasa perlu dilaporkan ke Musa juga menjadi pergumulan kekinian. Seiring dengan kebangunan Rohani belakangan ini, banyak orang yang mengklaim bahwa kehadiran Roh Kudus dalam ibadah mereka dibuktikan dari dimampukannya mereka “berbicara dalam bahasa-bahasa lain”, ini bagian dari kepenuhan, klaim mereka. Ini membingungkan banyak umat Kristen, sama seperti kebingungan orang banyak melihat Eldad dan Medad. Lantas sebenarnya bagimana ciri atau tanda orang yang menerima Roh Allah ?
Demikianlah Sedini sejarah awal berkembangnya, gerakan Pentakosta telah menghadapi “kebingungan”. Kemudian penekanan akan kuasa Roh Kudus dalam mendatangkan mujizat & kesembuhan patut diterima dengan syukur. Ini bukan berarti hanya melalui aliran Pentakosta sajalah penyembuhan bisa terjadi. Ini klaim yang picik. Mujizat dan kesembuhan ilahi masih terjadi sampai saat ini juga di kalangan aliran non-Pentakosta. Namun, dibalik itu kita perlu waspada agar penerimaan kebenaran gerakan Pentakosta yang menekankan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan Kristiani janganlah sampai dicampur-adukkan secara sinkretis dengan praktek-praktek perdukunan moderen (New Age / Words of Faith) karena hal itu mendukakan Allah (Bandingkan Musa & Harun vs. Ahli Sihir Mesir dalam Keluaran 7-11, dan Filipus, Petrus & Yohanes vs. Simon si Sihir dalam Kisah 8:4-25. Kedua kasus itu menunjukkan kesamaan mujizat supranatural tetapi memiliki sumber berbeda, yang pertama datangnya dari kuasa Roh Kudus dan yang kedua berasal kekuatan alam/roh-roh lain). Yang terpenting ingatlah bahwa bukti bahwa seseorang itu telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya dapat dilihat dari berbagai hal, antara lain, kerinduannya untuk hidup kudus, memuji dan memuliakan Tuhan, menjadi berkat bagi sesama dan bersaksi bagi Yesus, sebagaimana kita baca dalam penegasan Tuhan Yesus pada Kis.1:8, Galatia 6 : 20-22, dll.
Bahasa roh merupakan salah satu kharisma yang diberikan kepada orang-orang tertentu untuk menolong orang lain. Anugerah bahasa Roh pasti akan mendorong orang untuk menyatakan imannya dalam kesatuan dan kerukunan dengan orang beriman lainnya dalam Gereja dan dengan ketaatan penuh pada pimpinan Gereja / hierarki. Kalau tidak demikian, berarti suatu praktek penyimpangan dalam Gereja, atau pun praktek melarikan diri dari realitas kehidupan Gereja / Jemaat. Pemenuhan Roh hendaknya juga suatu bentuk dalam dalam rangka melibatkan diri dalam pembangunan Gereja.
Fungsi kehadiran Roh Allah pada ke 70 tua-tua yang dipilih membantu Musa, menjalankan rencana Allah bagi Israel, maka hal ini sangat sesajar dengan penegasan Yesus yang sangat penting, yaitu turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta dikaitkan dengan KUASA UNTUK BERSAKSI. “Dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi” (Kis.1:8). Tugas menjadi saksi tersebut tentu sangat penting. Rasul-rasul diberi hak istimewa untuk menjadi saksi bagi Yesus. Itu berarti mereka dituntut untuk mengatakan apa yang mereka dengar, lihat dan alami tentang Yesus. Tugas menjadi saksi tersebut sangat berat, penuh resiko dan menuntut harga, termasuk ancaman nyawa! Karena itu, kehadiran Roh Kudus dalam diri setiap saksi sangat mutlak, bukan saja untuk meneguhkan dan memberi keberanian kepada saksi, tapi juga supaya orang yang mendengar kesaksian tersebut dapat diyakinkan (Yoh.16:8).
Maka orang lebih berkesimpulan seperti ini: karunia berbahasa Roh bukan bukti utama kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang; bukti paling utama adalah buah-buah Roh sebagai kesaksian yang hidup. Sebab dalam diri orang-orang yang mengaku memiliki karunia bahasa Roh tapi tidak menampakkan buah-buah Roh dalam kehidupannya, maka hal ini sebuah kehampaan. Santo Paulus pun bersyukur bahwa ia memperoleh anugerah bahasa Roh, tetapi ia tidak suka menggunakannya karena tidak bermanfaat bagi orang lain. Mengapa? Karena orang lain tidak mengerti. “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Kor 14:18-19).

2. Musa mengkomunikasikan keluhan dan perasaannya kepada Allah. Komunikasi tersebutlahlah yang menjadi jalan menguatkan dan memandunya. Dimana Allah menunjukkan sikap merespon keluhan Musa. Sejauh ini kita bisa relevansikan bahwa terkadang kita baik sebagai Pendeta, Penetua, Orang Tua, Sintua Sektor dalam mengemban tanggung jawab yang diberikan Allah bisa saja menghadapi tantangan dari orang-orang yang menjadi tanggung jawab pelayanan kita. Anak yang susah diatur ke hal-hal yang baik, lingkungan sektor yang tidak koorporatif dalam pelayanan seperti partangiangan, jemaat yang terlalu banyak menuntut tetapi terlalu pelit bekerjasama, dll. Pertanyaannya apakah keluh kesah ini berawal dari kelalaian kita sendiri atau murni karena kebebalan dari orang yang kita tanggungjawabi. Yang penting, apapun penyebabnya, perlu keterbukaan kepada TUHAN. Keterbukaan kepada TUHAN satu sisi menunjukkan tanggungjawab kita.
Para pelayan dan jemaat Gereja HKI harus mengandalkan bimbingan Roh Kudus dalam Pelayanannya. Roh Kudus itulah yang menguatkan-memandu ditengah kelemahan kita. Pelayanan akan lemah, akan berkelahi, akan bersengketa, akan pecah, akan saling fitnah, akan saling menjatuhkan tanpa kehadiran Roh Kudus.

3. Minggu ini adalah Minggu Pentakosta, TurunNya Roh Kudus. Karya Roh Kudus yang utama adalah memulihkan kemampuan umat percaya untuk saling mengasihi, sehingga hubungan dan komunikasi yang terputus dapat terjalin kembali. Bukankah ini juga yang terjadi ketika Turunnya Roh Kudus yang tercatat dalam Kisah para Rasul 7. Orang yang berkata-kata dengan bahasa berbeda bisa saling memahami dan mengerti. Nah kita relevansikan, bagi orang yang telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya maka dalam keluarga atau rumah-tangga umat percaya diharapkan tidak ada lagi yang melakukan kekerasan dalam berbagai bentuk, baik kekerasan secara fisik maupun kekerasan secara emosional. Tetapi kenyataan justru berbicara lain. Keluarga orang-orang Kristen justru sering terlibat dalam kekerasan fisik dan emosi kepada anggota keluarganya. Mereka yang melakukan kekerasan membutuhkan pencurahan Roh sehingga luka-luka batin mereka disembuhkan.
Karya Roh Kudus bertujuan untuk mendamaikan diri kita dengan Allah dan sesama kita. Itu sebabnya Roh Kudus yang adalah Penghibur dikaruniakan kepada umat percaya agar mereka mengalami damai-sejahtera Kristus yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Di Yoh. 14:27 Tuhan Yesus berkata: “Damai-sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai-sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.
Roh Kudus memberi Pengertian antara yang satu dengan yang lain. Kehidupan kita di antara sesama saat ini sering ditandai oleh kegagalan dalam berkomunikasi dan kesalahpahaman sehingga menimbulkan berbagai konflik dan pertikaian, serta tidak jarang terjadi pertumpahan darah. Walaupun kita seiman, namun tidak jarang kita mengalami kesulitan dan kegagalan untuk memahami “world-view” (pandangan dunia) sesama anggota jemaat kita. Apalagi komunikasi yang kita lakukan dengan orang yang tidak seiman, tidak satu suku/etnis, tidak sama tingkat pendidikan dan tingkat sosialnya akan berada dalam jarak yang lebih lebar dan sulit. Akibatnya hidup kita saat ini sering terkotak-kotak, saling mengucilkan dan mencurigai sesama. Bahkan yang lebih memprihatinkan hubungan di tengah-tengah keluarga juga terkotak-kotak, sehingga hubungan antara suami-isteri sering ditandai oleh kesalahpahaman, pertikaian dan perceraian. Selain itu pada zaman yang modern ini kita masih menghadapi masalah diskriminasi gender kepada kaum wanita, yang mana kaum wanita masih sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Demikian pula hubungan antara orang-tua dan anak mengalami masalah yang makin kompleks. Pada saat kita gagal dalam komunikasi sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan konflik dengan sesama, sesungguhnya kita juga kehilangan perasaan damai-sejahtera. Sebenarnya pengalaman kehilangan perasaan damai-sejahtera merupakan suatu sinyal rohani yang dikaruniakan oleh Tuhan untuk mengingatkan bahwa hidup kita tidak bahagia karena kita telah gagal dalam memahami dan mengasihi sesama kita.

4. Roh Allah dikatakan dalam Perjanjian Baru dengan Istilah Parakletos (bhs. Yunani), arti harfiahnya ialah yang diseru, dipanggil, dimintai tolong. seperti ketika orang yang sedang ada dalam bahaya berteriak “Tolong! Tolong!”. Ungkapan ini sebenarnya kata biasa dalam bahasa Yunani. Siapa saja yang mendengar dan bertindak ialah seorang parakletos. Parakletos juga bisa berarti penghibur yang membesarkan hati. Juga berarti pemberi kekuatan. Apa saja yang dapat menopang orang yang tidak dapat mengatasi keadaan dengan kekuatan sendiri dan oleh karenanya membutuhkan pertolongan secepatnya. Itulah parakletos. Itulah latar pemakaian ungkapan “Penolong” dalam Yoh 15:27. Di situ Yesus mengatakan bahwa yang menanggapi seruan minta tolong tadi itu - Parakletos - diutusnya. Parakletos itu, ditambahkannya, sebagai yang berasal dari Bapa sendiri. Ada dua gagasan baru. Pertama, diutus, artinya dikirim, seperti orang yang diutus menjalankan urusan tertentu. Itulah yang dimaksud Yesus dengan “Penolong yang kuutus”. Tugasnya ialah menjawab kebutuhan orang yang minta tolong, apa saja. Dan Penolong “keluar dari Bapa”. Artinya, pertolongan yang akan diterima orang yang berseru itu berasal dari Yang Mahakuasa yang berperhatian sebagai bapak. Dulu orang Yahudi berseru minta tolong ketika mengalami penderitaan di Mesir. Dan Tuhan mendengar keluhan mereka dan turun untuk menolong mereka dan menuntun mereka ke tanah yang akan diberikanNya kepada mereka (lihat Kel 3:7-10; 6:5-7 Ul 26:5-9). Kekuatan seperti itulah yang dimaksud oleh Yesus sebagai “Penolong yang kuutus dari Bapa”. Ia adalah Roh Kebenaran, artinya kekuatan yang benar, yang bukan dari yang bakal membawa ke tujuan lain, melainkan yang terpercaya.
Roh tidak membuat orang takjub dan takut. Roh tidak membuat kita berkata-kata yang mubazir, yang tidak dimengerti oleh orang lain maksud dan tujuannya. Ia tidak datang membuat manusia pingsan dan tertawa-tawa, memukul-mukul diri. Tetapi ia menolong, menghibur dan menguatkan.
Hal ini bisa kita relevansikan ditengah keadaan zaman sekarang ini. Seiring dengan banyaknya persoalan lintas sektoral kehidupan berbangsa, seperti kesulitan ekonomi, pengangguran, bencana alam, bencana akibat kerusakan alam yang dibuat oleh manusia, kebakaran, dll. Dibutuhkan karya dari orang percaya sebagai orang yang telah menerima Roh Kudus untuk menjadi parakletoi (jamak dari parakletos) menolong orang yang kena musibah, dengan macam-macam bantuan. Ingatlah, dipenuhi dengan Roh berarti dikontrol olehNya sebagai sarana Kasih yang lahir dari Iman (Ef 5:18-20). Haleluyah. (hp,-)